Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Beberapa Tahun Kemudian


__ADS_3

5 Tahun kemudian.


"Nick, mandi sayang!". Rania, memanggil anak semata wayangnya sudah berumur 4 tahun. Wajahnya sangat persis dengan Aldo, seandainya di pertemukan mereka berdua. orang melihatnya pertama kali, sudah memastikan ayah dan anak.


Kehidupan Rania,di selimuti kebahagiaan bersama anak dan tetangganya bu Yati. Nick Rivano, itulah nama yang di berikan Rania kepada anaknya.


Hari-harinya di penuhi warna, dengan canda tawa Tama. Tama, anak tetangganya itu selalu memberikan kekonyolan terhadap Rania.


Nick, sangat dekat dengan Tama. Selalu bermanja-manja dengannya, dia bekerja di perusahaan. Seringkali membawa Nick,jalan-jalan dan bermain-main.


Rania, memiliki supermarket besar. Usahanya selama ini, sudah memiliki beberapa cabang. Disitulah dia, memenuhi kebutuhan sehari-hari dan anaknya. Terkadang Tama,tak segan-segan membantu tetangganya itu. Apa lagi bu Yati, seringkali memasak untuk Rania dan merawat Nick.


Bu Yati, sudah menganggap Rania sebagai anaknya. Nick, sudah dianggapnya sebagai cucu tersayang. Di saat Nick,sakit parah. Bu Yati,sigap membantu merawatnya.


"Nanti dulu bund,mau nunggu om Tama pulang". Jawab Nick,duduk manis di teras rumah.


Sudah 5 tahun ini, Rania masih menyandang status jandanya. Tidak ada kepikiran untuk menikah,masih menikmati suasana berdua dengan anaknya.


"Anak bunda,yang paling tersayang. Mandi yuk, setelah mandi dan berpakaian rapi. Pasti Om Tama,datang dan senang melihat keponakannya sudah rapi". Rania,menarik hidung mancung anaknya.


"Hmmmmm...Om Tama,janji pagi tadi. Bakalan membelikan Nick, mainan pesawat". Kata Nick, tersenyum manis.


"Iya, Om Tama mana mungkin ingkar janji. Ayo,kita mandi sekarang". Rania, langsung membawa anaknya ke kamar mandi


Rania,merasa kasian terhadap anaknya. Yang kurang kasih sayang, dari seorang ayah. Apa lagi anaknya, menanyakan dimana sang papah? Hatinya terasa teriris-iris, mendengar pertanyaan sang anak.


Rania, memeluk erat tubuh anaknya. Air bening mengalir di pipinya,di lubuk hati yang mendalam. Belum sepenuhnya, melupakan seseorang yang pernah di cintainya dulu. Apa lagi anaknya sangat mirip dengan Aldo, semakin susah melupakan sang mantan kekasih.


"Maafkan Nick,bund. Sudah membuat bunda, menangis". Nick, menghapus air mata sang ibu. "Nick,janji tidak akan bertanya tentang papah lagi".


"Terimakasih, Nick. Suatu hari nanti,kamu paham sayang". Rania, mencium seluruh wajah anaknya. Maafkan bunda,nak. Papahmu masih ada,belum saatnya kalian bertemu. Seberapa besar aku menyimpan darah daging bang Aldo, namanya ikatan darah. suatu hari nanti, pasti akan bertemu.


Beberapa menit kemudian, Nick sudah berpakaian rapi dan ke sebelah rumah.


Setiap hari dia, selalu menunggu Tama pulang bekerja.

__ADS_1


"Cucu nenek, sudah rapi dan wangi lagi. Mau makan,biar nenek suapin". Tanya bu Yati, langsung di angguki Nick.


"Nek, kenapa Om Tama belum pulang? Biasanya,jam segini pulang". Nick, memasang wajah cemberut.


"Kenapa,yah? Apa jangan-jangan,om Tama sedang sibuk. Mengambil lemburan,atau di marahin atasannya". Jawab bu Yati, sudah pasti anaknya melakukan kecerobohan.


Nick, sangat lahap menyantap makanan yang di suapi oleh bu Yati. Begitu juga bu Yati, merasa senang dengan kehadiran Rania dan anaknya. Tidak kesepian sendirian, seperti dulu.


"Assalamualaikum,bu!". Ucap Tama,baru pulang.


"Om Tama..!". Nick, langsung berlarian ke arah Tama dan meminta di gendong."Om,kenapa baru pulang? Nick, khawatir dengan Om. Takutnya di marahi bosnya,Om".


"Hehehehe.... Maafkan Om,yah. Om tadi ada kesibukan penting di kantor, makanya telat. Lihatlah, Om belum membelikan pesawat terbang untuk Nick". Jawab Tama, menarik hidung mancung keponakannya.


"Tidak apa,Om. Asalkan Om pulang,". Nick, meminta turun dari gendongan. Lalu, mendekati bu Yati minta makan lagi.


"Makan yang banyak,biar sehat. Nenek, senang melihatnya kamu makan lahap". Bu Yati, tersenyum sumringah.


Rania,baru datang dan tersenyum ke arah mereka. "Biar aku buatkan teh,". Katanya,kepada Tama.


"Makasih yah,kak. Jadi merepotkan,". Kekehnya Tama, memainkan kedua alisnya.


"Oh,ada rapat sebentar kok. Besok malam,ada acara pesta ulangtahun perusahaan. Temanin aku yah,kak". Pinta Tama, tersenyum.


"Biar ibu, yang jaga Nick". Sahut bu Yati, langsung.


"Iya,bunda. Pergilah dengan om Tama,gak papa di tinggal sama nenek". Kata Nick, tersenyum.


"Ayolah, temanin aku kak". Rengeknya Tama, terkadang manja dengan Rania. Tubuhnya lebih tinggi dan besar dari, Rania.


"Aku tidak janji,yah". Jawab Rania, meletakkan teh panas di meja. Tepatnya di hadapan, Tama.


"Yah...Jangan dong,kak. Masa aku berangkat sendirian,teman lainnya sama pasangan semua". Sungutnya Tama, memasang wajah masam.


"Nick,mulai lagi tuh ngambeknya". Sindir bu Yati,kepada anaknya.

__ADS_1


"Besok pagi Nick, belikan permen untuk Om Tama. Biar gak ngambek lagi,nek". Sahut Nick, cekikikan tertawa.


"Lalu, kenapa kamu tidak pergi dengan pasangan saja? Masa denganku,jauh lebih tua darimu". Ucap Rania, sambil mencomot sepotong kue.


"Yah...Usia kita beda 5 tahun saja,kak. Ayolah, mau yah. Aku mana punya kekasih kak,gak ada wanita yang aku taksir". Tama, membujuk Rania.


"Oke, asalkan kamu membelikan gaun untukku". Rania, menyetujui ajakan Tama. Aku sudah lama tidak pergi ke pesta, tidak salahnya menyetujui ajakan Tama. Apa lagi selama ini,dia sudah banyak membantuku.


"Gampang,". Jawab Tama, tersenyum sumringah. Asyik,kak Rania mau menerima ajakanku. Kenapa,kau sesenang ini yah? Aaaarrgghh.... Bodo amat,mau mandi dulu.


*************


Benar sekali,Tama benar-benar membelikan gaun pesta untuk Rania. Gaunnya sangat cantik dan anggun. Sangat cocok untuknya,pas melekat pada tubuh indahnya.


Rania, selalu menjaga tubuhnya itu. Masih terlihat sangat muda, ada yang tidak percaya sudah memiliki anak.


Terkadang teman kerjanya Tama, seringkali ke rumah. Demi melihat Rania,janda cantik dan seksi.


"Wahhh...Bagus sekali, warnanya navy. Makasih Tama, sudah membelikannya". Rania, tersenyum dan malu-malu kucing.


"Apa sih,yang gak buat kakak. Pakailah untuk malam ini,aku yakin sekali. Kak Rania,paling cantik di pesta nanti". Kekehnya Tama, memuji Rania.


"Kamu bisa aja, memuji ku". Rania, refleks memukul bahu Tama.


"Aauu... Kebiasaan deh, wanita itu selalu memukul. Kak Rania,gak kepikiran untuk menikah lagi? Sudah lama loh, menyandang status janda". Tanya Tama, penasaran.


Rania, tercengang mendengar dan tersenyum. "Soal itu,gak kepikiran lagi".


"Oh,apa kak Rania masih mencintai mantan suaminya kakak. Lalu,apa pernah bertemu lagi?". Tanya Tama, sangat suka bergosip ria.


Rania, menggeleng kepalanya. "Tidak pernah,aku juga tidak perduli dengannya".


"Masa sih,kak? Lalu, bagaimana dengan Nick? Sedalam-dalamnya menyembunyikan Nick, pasti akan bertemu dengan ayah kandungnya". Kata Tama, dengan Nada pelan.


Rania,menghela nafas beratnya dan menatap ke arah Tama. "Aku bisa apa,Tama? Namanya ikatan darah,mana mungkin memisahkan mereka. Asalkan dia tidak membawa Nick,dalam dekapan ku".

__ADS_1


"Tenang saja,kak. Aku memiliki seorang teman pengacara dan melakukan apapun untuk mendapatkan hak asuh anak. Mana mungkin,Tama membiarkan keponakannya di rampas. Apa perlu Tama, tampar habis-habisan. Enak sekali pria itu,mau mengambil Nick. Tidak mengetahui bagaimana,kak Rania berjuang sendirian?". Tama, tidak rela melihat Rania bersedih.


Mendengar ucapan Tama, tersenyum sumringah. Bersyukur karena dekat dengan bu Yati dan anaknya Tama.


__ADS_2