
Rania dan Aldo, gelabakan karena mendengar teriakkan Fahri.
Rania, langsung berlarian masuk kedalam. Mengubah penampilan dan ekspresi wajahnya, sebelum menghampiri sang suami.
Sedangkan Aldo, senyum-senyum sendiri. Ada rasa kecewa,karena belum apa-apa sudah pergi.
"Kenapa teriak-teriak, mas? Aku lagi di kamar mandi,tadi" ucap Rania, dengan nada kesalnya.
"Lama sekali, mulutku sudah serak memanggil mu". Decak Fahri,duduk santai di sofa.
"Terus,kenapa memanggil ku? Lalu,mas tidak bekerja apa. Jam segini tumben sekali, sudah pulang". Tanya Rania, tidak suka dengan suaminya ada di rumah.
"Kemu kenapa, Rania? Gak suka melihat suamimu,ada dirumah". Fahri, mendelik tajam ke arah istrinya."Jangan-jangan kamu, menyimpan rahasia di belakang ku".
"Loh,kamu ngomong apa sih? Gak perlu menuduhku macam-macam,mas. Gak kaya kamu, munafik". Sahut Rania, hatinya memanas karena tuduhan suaminya.
Fahri, beranjak berdiri dan menuju ke arah dapur. Membuat Rania, gelabakan jadinya. Takut Aldo,masih ada di halaman belakang.
"Awas saja kamu, menyimpan rahasia di belakang ku". Ancam Fahri, calingukan mencari-cari sekeliling dapur. Tak lupa juga, pintu rumah belakang di bukanya.
Rania, bernafas lega karena Aldo sudah tidak ada di sana.
"Mau cari siapa,mas?kaya orang kesetanan". Kata Rania, menyunggingkan senyumnya.
"Ck,awas saja kamu bermain gila di belakang ku". Fahri, merasa sesuatu yang aneh.
"Terus, menuduhku selingkuh? Aku selingkuh sudah pastilah, mencari pria jauh lebih baik. Gak kaya kamu,menikahi wanita cuman beban". Cibir Rania, langsung melenggang pergi.
"Rania! Jangan mengatakan hal tidak baik,kepada Shania. Dia jauh lebih sempurna,di bandingkan kamu". Teriak Fahri, langsung menyusul istrinya ke ruang tamu.
"Yayah...Terserah apa katamu,mas. Mendingan kamu pergi, temui gundikmu itu. Malas sekali aku, berdebat dengan mu yang tidak ada gunanya". Gerutu Rania, menghidupkan televisi.
"Aku ke sini,ada perlu dengan mu. Temani Shania,mencari gaun pengantin besok. Kalian harus sama-sama pergi, Rania. Mas mau istri-istri ku,akur. Membina rumah tangga yang harmonis,penuh dengan cinta. Apa lagi Shania,hamil dan melahirkan. Anggap saja,itu anak mu juga. Toh,suami kalian sama. Masa kamu tidak ingin,anak". Fahri, mendekati istrinya.
__ADS_1
"Iiiiissshhh....Jangan sentuh-sentuh,mas. Aku jijik dengan mu, karena tanganmu sudah menyentuh wanita lain". Rania, menepis tangan suaminya dan menggeser posisi duduk.
" Besok kita pergi sama-sama dengan, Shania. Mas tidak sabar, memiliki istri dua dan akur damai. Beruntung sekali karena memiliki Kalian berdua, pertama cantik sangat yang kedua pintar bekerja". Kekehnya Fahri, mencubit pipi Rania.
Lagi-lagi Rania, mengusap bekas cubitan suaminya. "Jangan sentuh aku,mas. Jijik tau, takutnya ada penyakit menular. Kalau mau pergi,sana pergi. Ogah banget,akur sama dia. Iiyuhhh...". Rania, mengibas-ngibas tangannya.
"Apa yang di katakan suami,harus nurut. Jangan jadi istri membangkang dan durhaka. Mau tak mau, harus ikut". Fahri,terus memaksa istrinya.
"Lebih baik jadi istri durhaka, mas. Di bandingkan harus, menurut perkataan mu". Senyum smrik, Rania.
Fahri, mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Selalu saja, Rania menolak mentah-mentah. "Aaaargghhh.... Istri kurang ajar sekali kamu, Rania". Bentak Fahri, matanya melotot sempurna.
Rania,acuh saja. Tidak memperdulikan suaminya. Dia malah asyik menonton televisi,di bandingkan berbicara dengan Fahri.
************
seperti biasanya, Rania menyiram bunga di halaman rumah. Sambil mengobrol dengan ibu-ibu,di dekatnya.
Sesekali Rania,melirik ke arah Aldo. Yang sudah rapi,entah mau kemana. Jujur saja Rania, tidak rela melihat Aldo sangat rapi.
"Mau ke rumah orangtua, Aldo. Mumpung libur gak ngajar,bu." Jawab Aldo, matanya melirik ke arah Rania.
"Owalahhhh....Kira mau ngedate sama pacar, soalnya rapi sekali". Kekehnya bu Yanti.
"Hahahaha...Mana ada,bu. Lagi pula masih jomblo, mana ada yang mau sama duda". Jawab Aldo, cengengesan.
"Jangan ngomong seperti itu,siapa tau aja ada yang mau. Iyakan Rania,kamu pasti terpesona dengan ketampanan Aldo". Sahut ibu lainnya, sontak membuat Rania terkejut..
"Eee...Kenapa, bawa-bawa aku? Ada-ada saja,". Rania, tersipu malu-malu.
"Apa-apa,kalian! Enak saja,mau mendekati istri ku dan duda karatan ini." Sahut Fahri,baru keluar dari rumah. sedari tadi, mendengar pembicaraan mereka.
"Mas jangan ngomong aneh-aneh,deh". Tegur Rania, langsung. Suaminya seringkali, bermasalah dengan tetangganya ini.
__ADS_1
"Eeee... Istri sibuk dengan pekerjaan rumah, suaminya sudah rapi. Untung saja, Rania cantik alami. Apapun keadaannya, tetap cantik". Kata bu Tari, tetangganya.
"Rania,hari ini suamimu libur berkerja. Terus, kenapa Fahri sudah rapi". Tanya bu Tutik,yang suka kepo.
"Katanya sih,mau cari gaun pengantin. Biasa buat gundiknya, besok mau menikah katanya. Mana mau bawa-bawa aku,bu. Meminta ku untuk alur dengan madu, sudah jelas aku ogah". Jawab Rania, walaupun Fahri terkejut mendengar ucapan istrinya.
"Jangan mau Rania,sama aja kamu di manfaatkan oleh buaya darat". Sahut ibu lainnya,membela Rania.
"Enak sekali, menyuruh akur dengan gundik. suami kurang ajar, tidak memperdulikan perasaan istri". Timpal ibu, lainnya.
Rania, tersenyum smrik. Mendengar ucapan ibu-ibu,yang berkata pedas untuk suaminya.
Rahang Fahri mengeras seketika,mau tak mau secepatnya harus pergi. Matanya tertuju pada Aldo, rupanya mau pergi juga. Jadi tenang meninggalkan istrinya,di rumah.
"Rania,kenapa kamu mau bertahan? Kasian kamu, cantik-cantik di sia-siakan". Tanya bu Tutik, langsung.
"Mau gimana lagi,bu. sesuai amanah Alm.ibuku. Kecuali Fahri, menceraikan dan bisa lepas darinya. Tidak mau mengecewakan ibuku,di sana". Jawab Rania,ini cuman akal-akalannya saja.
"Kami yang sabar, Rania. Semoga saja, suamimu cepat sadar". Banyak ibu-ibu lainnya, bersimpati kepada Rania.
Rania, merasa senang mendapatkan perhatian tetangganya.. setelah selesai menyirami bunga-bunga, barulah dia bersiap untuk mandi.
"E'ehmmm....". Terdengar deheman pria,di ambang pintu dapur.
Rania, langsung terkejut melihatnya. "Bang Aldo, ngapain ke sini? Bukankah bang Aldo,mau kerumah orangtuanya Abang".
Jujur saja, Rania terpesona sixpack perut Aldo. Saat ini Aldo, tengah bertelanjang dada. Rania,menangkup wajahnya dengan tangan. Begitu berat godaan tetangga. Mubazir untuk di abaikan, begitu saja.
Aldo, cengengesan melihat wajah Rania yang sudah memerah seperti tomat masak. "Mau pegang,hemmm.... Pegang lah, sesuka hati mu". Bisik Aldo,tak lupa mengigit daun telinga Rania.
"Aaah....Kamu!". Rania, terkejut dengan keberanian Aldo. Bulu halusnya meremang berdiri,ada desiran aneh menjalar di sekujur tubuhnya.
"Kenapa, Rania? Aku tahu,kamu curi-curi pandang ke arah ku". Bisik Aldo, lagi-lagi menciumi telinga Rania.
__ADS_1
Jujur saja, Rania menikmati hembusan nafas Aldo. Tepatnya di daun telinganya, ingin lebih dan lebih.
Aldo, memberanikan diri untuk mengecup bibir Rania. Awalnya kecupan,kini berubah jadi ******* lembut. Lama-kelamaan, berubah menjadi agresif. Sontak membuat Rania, kesusahan untuk menyeimbangi ciumannya.