Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Visum


__ADS_3

Dengan hati kesal, Rania berniat untuk melakukan visum. Sebagai bukti kuat, karena Fahri sudah melakukan kdrt terhadapnya. Membiarkan bibirnya masih keluar darah, tidak memperdulikan tatapan tetangganya itu.


30 menit kemudian Rania sampai di rumah sakit,tepat sang adik bekerja.


Ada beberapa panggilan telepon dari Aldo dan suaminya.


Rania, tidak menghiraukan panggilan suaminya. Malah membalas pesan dari Aldo, sambil menunggu sang adik.


[Apa ada sesuatu yang terjadi,aku mendengar kamu menutup pintu rumah sangat keras?].Bang Aldo.


[Mas Fahri, menampar wajah ku. Karena aku,menyebut istri barunya pelakor]. Balas Rania,ada rasa nyeri di sudut hatinya. Baru kali ini,ada seorang pria menampar wajahnya.


[Apa? Kurang ajar sekali,dia menampar wajah mu!Baiklah,aku akan pulang dan menemui sayang].


Ada senyuman mengambang di bibir, Rania.


[Tidak perlu,bang. Aku sekarang berada di rumah sakit, untuk melakukan visum. Biar memiliki bukti kuat,atas perlakuan kdrt dari mas Fahri]. Jawabnya Rania, beruntung ada yang peduli dengannya.


[Baguslah,kamu memang pintar sayang. Secepatnya kamu ceraikan dia, takutnya Fahri semakin menjadi-jadi kepadamu. Tidak pantas dirimu untuknya,sayang].


[Iya,bang. Sudah dulu , adikku datang].


"Astagfirullah,bibir mbak!". Dahlia,adik kandung Rania. Terkejut melihat sudut bibir Kakaknya memar dan ada bercak darah. Ketika Rania, membuka masker.


"Tidak apa, Dahlia. Mbak minta tolong sama kamu,jangan sampai papah tau. Mbak mau melakukan visum, sebagai bukti kdrt mas Fahri". Kata Rania, tersenyum kecil


"Aku setuju mbak, lebih baik pisah. Tenang saja,aku tidak akan memberitahu kepada papah. Apa papah tau,kalau bang Fahri menikah? Masalahnya,papah tidak ada mengatakan apapun kepadaku". Dahlia,merasa iba kepada kakaknya.


"Untuk saat ini,papah memang tidak tahu. Apa lagi,papah masih di luar negeri. Gak tau, bagaimana jadinya Lia? Jika papah tau,". Rania,belum menceritakan apapun kepada ayahnya.


Karena Fahri, diam-diam menikah. Tanpa memberitahu ayah mertuanya, begitu juga kedua orangtuanya yang bungkam.


Pak Eko,masih memikirkan hal sama. Bagaimana caranya, memberitahu sikap Fahri kepada besannya? Bisa jadi, dua keluarga akan menjadi musuh.


Bu Marni, sangat ketakutan saat ini. Sangat yakin sekali,akan kehilangan menantu sekaya Rania.

__ADS_1


"Dek, tolong simpan hasil visumnya mbak. Takutnya mas Fahri, tiba-tiba merebutnya". Pinta Rania, akhirnya sudah selesai melakukan visum.


"Iya,mbak. Bakalan aku simpan,malah senang jika Mbak pisah.Sudah cukup Mbak, merasakan sakit hati yang mendalam. Aku selalu mendukung,apa keputusannya". Kata Dahlia, memeluk tubuh kakaknya.


Rania, langsung pamit pulang ke rumah. Ingin beristirahat sejenak, kepalanya nyut-nyutan sudah.


************


"Aaarghhh....Maunya apa sih, Rania? Kenapa aku tiba-tiba, memikirkan dirinya? Mana telpon dan pesanku, tidak di balas." Gerutu Fahri,di dalam kamar mandi.


"Mas,jadi berangkat gak sih? Nanti kita terlambat, loh". Teriak Shania, mondar-mandir tak karuan.


Ceklekk....


Kamar mandi terbuka lebar, terlihat wajah masam Fahri.


"Ngapain lama-lama di kamar mandi,mas? Ayo,kita berangkat bulan madunya. Aku gak mau batal karena kamu,mas. Pergi ke Paris untuk bulan madu, adalah impian kita dulu." Sungutnya Shania, sudah geram sikap suaminya.


"Iya,kita berangkat sekarang". Fahri, menuruti kemauan istrinya. Di hatinya tidak rela meninggalkan, Rania. Apa kabarnya nanti, sedangkan sekarang mereka bertengkar.


Tiba di bandara pesawat, beruntung mereka tidak terlambat. Tidak lupa mulut Shania, selalu ngoceh.


"Shania,bisa diam gak? Gak enak terdengar oleh orang lain,". Tegur Fahri, langsung.


"Gimana aku gak marah,kamu selalu diam? Emangnya ada apa,sih?". Tanya Shania, moodnya benar-benar hancur sudah. Ada apa sih? semenjak menikah dengan ku,mas Fahri berubah. Apa jangan-jangan, memikirkan Rania? Huuu.... Menyebalkan.


"Hussssttttt.... Aku capek,mau tidur". Jawab Fahri, memejamkan matanya. tidak memperdulikan raut wajah sang istri cemberut.


*************


Cup...


Aldo, mengecup bibir Rania yang lembam.


"Sungguh aku ingin sekali,memukul wajahnya itu. Berani sekali, menampar wajah wanita yang aku cintai". Kata Aldo, menatap lekat manik-manik mata kekasihnya.

__ADS_1


"Jangan,bang. Biarlah,aku yakin sekali bahwa mas Fahri menyesal apa yang di lakukannya. Lihatlah,dia beberapa kali menelpon dan mengirim pesan. Ogah banget,membalas dan mengangkat telponnya". Rania, memperlihatkan ponselnya.


"Kenapa, Rania? Kamu takut kita ketahuan,hmmm...Jangan takut sayang, sedangkan dia terang-terangan menikahi mantannya. Lepaskanlah dia, Rania!". Pinta Aldo,pangkal paha Rania menjadi bantalnya.


"Bukannya aku takut,bang. Gak mau,di pandang murahan oleh orang lain. Apa jadinya, aku memiliki suami berselingkuh dengan tetangga. Begitu juga dengan bang Aldo, menjalin hubungan terlarang. Taukan aku ini masih istri orang?". Tanya Rania, langsung di angguki olehnya.


"Terus,mau begini-begini aja hubungan kita. Bagaimana pun,kita menyembunyikan sesuatu? Pasti akan terbongkar,sayang." Aldo, mengecup bibir Rania.


"Besok papahku datang, sudah waktunya membicarakan tentang mas Fahri menikah lagi. Takutnya papah,marah besar terhadap orangtuanya mas Fahri. Bingung mulai ceritanya,darimana?". Rania, kebingungan. Wajahnya berubah sedih dan banyak pikiran.


"Jadi kangen sama papahmu,dulu merestui hubungan kita. Sayangnya,mamah mu tidak". Kata Aldo, tersenyum kecil. "Apa perlu aku yang mengatakannya? Siap sedia, untuk dirimu". Kekehnya.


"Itu usulan yang tidak baik,bang. Takutnya papah,malah mencurigai kita lagi. Doakan saja, semoga otakku lancar. Heheheh...". Rania, cengengesan jadinya.


"Lapar,gak?". Tanya Aldo, langsung di angguki Rania. "Oke,aku akan masak untuk tuan putriku". Aldo, mengecup punggung tangan Rania.


Sontak saja Rania, terkejut dan menahan malunya. Dengan sigap Aldo,mengambil bahan-bahan di kulkas. Berniat untuk memasakkan makanan, sangat spesial untuk sang kekasih.


************


Akhirnya Fahri dan Shania, tiba di hotel. Shania,tak sabar untuk jalan-jalan dan berbelanja.


"Halo, bagaimana dengan istri ku? Apakah dia,ada Keluar dari rumah atau tidak." Tanya Fahri,kepada anak buahnya. Yang memantau rumah Rania,dari kejauhan.


(Istri bos,ada di rumah tuan. Tidak pergi kemana-mana).


Mendengar ucapan anak buahnya, Fahri tersenyum sumringah. Karena sang istri, tidak kemana-mana. Langsung mematikan telponnya dan menemui istri barunya itu.


"Mas, besok kita jalan-jalan yah! Aku ingin berbelanja sepuasnya, membawa oleh-oleh banyak. Biar para tetangga, semakin iri dan kepanasan". Cicitnya Shania, bergelut manja.


Fahri, menggaruk-garuk pelipisnya. Sebenarnya,dia enggan untuk menghambur-hamburkan uang. "Belilah seadanya Shania,aku gak mau keluar uang lebih banyak lagi. Baru beberapa hari, sudah habis 100 juta. Sudahlah,jangan membeli macam-macam. Aku paling tidak suka menghamburkan uang,demi masa depan".


"Mas, kenapa kamu pelit? Bukankah,mas memiliki gajih besar. Jangan bikin malu, mas". Shania, langsung kesal jadinya.


"Tidak, belilah seperlunya saja. Kalau tidak mau, silahkan belanja dengan uang mu sendiri". Bentak Fahri, menatap tajam ke shania. Tentu saja nyali Shania, langsung ciut.

__ADS_1


__ADS_2