Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Besan


__ADS_3

Pak Eko dan bu Marni, terkejut melihat kedatangan ayahnya Rania. Merasa yakin sekali,ada sesuatu yang tidak beres.


Pak Harto, menemui besannya di toko bangunan tiga pintu itu. Sudah pasti membahas sikap lakunya, Fahri.


"Duduk dulu,besan". Pak Eko, mempersilahkan duduk di kursi.


"Tidak perlu,pak. Kedatangan saya ke sini, ingin membicarakan tentang menikahnya Fahri. Kenapa kalian tidak memberitahu kepada,saya? Apa jangan-jangan,kalian bersekongkol ha! Kalian ini orangtuanya, Fahri. Begitu mudahnya memberikan restu kepadanya,". Tegas pak Harto, dengan tatapan tajam.


"Pak Harto,saya dan lainnya. Sudah melarang Fahri, untuk menikah lagi. Tetapi,dia nekad melakukannya. Apa lagi mendapatkan restu dari, Rania. Kami sudah melakukan semaksimal mungkin, untuk melarang Fahri". Nyali pak Eko, langsung ciut menghadapi besannya.


"Iya,pak Harto. Mana mungkin kami, melakukan hal itu. Sedangkan kami, banyak berhutang budi dengan anda. Walaupun kami, melarang keinginannya. Fahri,tetap nekad". Sahut bu Marni, semoga saja besannya itu memaafkan kesalahan mereka.


"Ck,kalian tidak becus menjadi orangtuanya. Didik anak itu,harus tegas. Saya tidak sudi memiliki menantu seperti, Fahri. Yang tidak bisa bersyukur atas semuanya,kalau bukan karena menikah dengan anak saya. Mana mungkin Fahri,naik jabatan. Sudah di atas,malah lupa yang di bawah". Gerutu pak Karto, rahangnya berkedut-kedut.


"Pak Harto,jangan ikut campur dalam rumah tangga anak-anak kita. Sedangkan Rania, baik-baik saja. Tanpa mengamuk-ngamuk seperti wanita lainnya,dia santai malah liburan. Itupun kata Fahri, seakan-akan Rania biasa saja. Otomatis Rania, menerima semuanya dengan ikhlas". Pak Eko, tidak mau kehilangan besan yang kaya raya ini.


"Benar,pak. Fahri, sudah berjanji untuk adil terhadap istri-istrinya. Kami jaminannya, Rania akan bahagia". Bu Marni, sudah ketakutan mendengar ucapan ayahnya Rania.


"Kalian tau apa,ha? Rania,memang seperti itu. Dia tidak mau membesarkan masalah, walaupun bersikukuh menghentikan suaminya. Tetapi saja kelakuan anak kalian, semakin menjadi-jadi. Lalu,saya tidak tahu apa-apa tentang bu marni menjelekkan anak saya? Di saat anak saya, tidak hamil-hamil. Anda,malah menyudutkannya. Oh, tenang saja bu Marni. saya mendapatkan kabar ini,bukan dari mulut Rania. Melainkan mulut-mulut orang lain,". Pak Harto, sudah menahan kesabarannya. Tapi, untuk kali ini tidak.


"Maafkan kelakuan saya,pak. Bukan maksud saya, seperti itu". Bu Marni, tertunduk.

__ADS_1


"Pak Harto, saya sudah menasehati kelakuan istri saya. Kami berjanji untuk tidak menjelekkan, Rania. Kami sangat menyayangi Rania, tidak mau kehilangannya". Pak Eko, berusaha membujuk besannya.


"Ck,saya permisi dulu. Saya sudah bertekad bulat, mengurus surat perceraian Rania. Tidak sudi memiliki menantu,kurang ajar. Bikin malu keluarga, lebih baik berpisah dengan anak saya". Tegas pak Harto, langsung membalikkan badan dan melangkah pergi.


Pak Eko dan bu Marni, memohon-mohon kepada besannya. Agar sang besan, tidak melakukan apapun dalam rumah tangga anak mereka.


Pak Harto, tidak memperdulikan permohonan mereka. Seorang ayah mana yang tega, melihat anaknya di perlakukan seperti itu? Sungguh pak Harto, sangat kecewa dengan besannya.


"Bagaimana pak,besan kita benar-benar? Biasanya pak Harto, bertamu selalu ramah. Membawakan oleh-oleh untuk kita, setelah dari luar negeri. Sekarang pak Harto, marah besar. Mana Fahri, jalan-jalan keluar negeri. Sudah pastilah,besan kita tambah marah". Ucap bu Marni, gelisah gusar.


"Ini semua gara-gara, Fahri. Segitu cintanya kah, dengan wanita itu. Aaarghhh.... Biasanya kalau kita kekurangan uang, pasti pak Harto membantu. sekarang apa,bu? Semuanya sudah hilang,kita harus menghubungi Fahri. Agar dia membujuk,Rania untuk tidak bercerai". Pak Eko, langsung mengambil ponselnya dan menghubungi anaknya.


Bu Marni, tergesa-gesa meninggalkan toko bangunannya. Pulang kerumah dan mengajak anaknya, untuk ikut kerumah menantunya itu.


"Sip,bu. Bujuk rayu Rania,jangan sampai lolos dari kita". Perintah pak Eko, sambil menghubungi anaknya.


(Assalamualaikum,pak. Ada apa telpon, tumben?) Tanya Fahri,di sebrang telpon sana.


"Fahri,gawat-gawat. Papah mertuamu, sudah mengetahui pernikahan mu lagi. Pak Harto, sudah mengurus surat perceraian. Secepatnya pulang,kamu bujuk Rania. Jangan sampai Rania, lepas dari kita". Kata pak Eko, keringat membasahi keningnya.


(Apa? Tapi,kenapa Rania tidak bilang kepada ku? Jika papahnya datang, aaarghhh... Baiklah pak,kami akan segera pulang).

__ADS_1


Mendengar perkataan anaknya,pak Eko merasa lega sudah. "Duhh... Sama saja,aku kehilangan pundi-pundi uang". Gumamnya.


************


"Mas, kenapa kita beres-beres? Bukankah masih ada 3 hari lagi,kita pulang". Shania, kebingungan dengan suaminya.


"Kita harusnya pulang hari ini juga, papahnya Rania datang. Beliau sudah mengurus surat perceraian,aku dan Rania". Jawab Fahri, memasukkan pakaian ke dalam koper.


"Apa?aku gak mau pulang mas. Aku ingin menikmati sisa bulan madu kita, biarkanlah kalian bercerai. Toh,masih ada aku". Shania, tidak menyetujui dengan ucapan suaminya.


"Oke,kalau kamu tidak mau. Yah, silahkan. Yang penting aku pulang,lalu membujuk Rania. Jangan sampai kami bercerai,karena aku sangat membutuhkan dirinya". Tegas Fahri, tidak memperdulikan istrinya merajuk.


"Mas,kamu kenapa sih? Gak bisa lepas dari wanita mandul itu,apa coba kelebihannya. Pokoknya kita gak boleh pulang, sebelum waktunya habis". Shania,geram dengan suaminya. Selalu mengutamakan istri pertamanya, begitu berarti kah? Sampai-sampai takut kehilangan, Rania.


"Ya sudah,aku bisa pulang sendiri. Karena Rania, berarti bagiku dan keluargaku. Karena papahnya Rania, pundi-pundi uang untuk keluarga ku. Selalu membantu kesusahan,aku menikah dengan Rania. Makanya jabatan ku naik,mana mungkin anak seorang pebisnis cuman staf kantor biasa. Aku tidak mau kehilangan, Rania. Jika itu terjadi, pundi-pundi uang keluarga hilang. Termasuk aku,bisa kehilangan jabatan. Apa lagi,aku menikah lagi. Pemilik perusahaan tempat kita bekerja, milik teman papah mertuaku. Apa kamu tidak takut,ha? Jika papahnya Rania,memecat kita berdua. Mau makan apa, Shania? Kita harus bisa, membujuk Rania dan papahnya". Fahri, menjelaskan semuanya kepada sang istri.


Mendengar ucapan Fahri, membuat Shania syok berat. menggeleng kepalanya, tidak mau menjadi miskin lagi. "Baiklah mas,kita pulang. Aku akan membantu mu membujuk,mbak Rania". Shania, terpaksa harus mengalah untuk pulang.


"Baguslah,apa lagi Rania anak pertama pak Harto. Sudah pasti memiliki harta warisan terbanyak,kita bisa menikmati hartanya. Bisa jadi aku dan kamu, tidak bekerja lagi. Cuman ongkang-ongkang kaki di rumah,uang terus mengalir deras.


Shania, tersenyum merekah karena tidak sabar mewujudkan perkataan suaminya. Rupanya Rania,anak orang kaya raya. Baguslah,aku tidak sia-sia menikah dengan mas Fahri.

__ADS_1


__ADS_2