Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Markas


__ADS_3

Rania,yang diam-diam masuk kedalam mobil ayahnya. Dia ingin tahu,kemana tujuan sang ayah selama ini.


Hampir 3 jam perjalanan, akhirnya sampai juga. Sungguh mengerikan bagi Rania, tempat persembunyian ayahnya untuk penyeludupan benda haram itu.


Di sebuah hutan yang jauh dari pemukiman warga,ada sebuah gedung besar di tengah-tengah hutan dan aliran sungai yang luas.


Rania, berusaha tenang dan mengendap-endap masuk kedalam gedung besar tersebut. Berharap tidak ketahuan oleh siapapun,ada beberapa orang dengan pakaian khusus.


Rania, cepat-cepat masuk kedalam ruangan. Dia kebingungan mencari sesuatu, ruangan apakah ini.


"Ayo, cepat ganti baju. Kita sudah di tunggu bos besar,". Ucap seorang wanita, mengejutkan Rania.


Jantungnya berdegup kencang, napas tak beraturan. "Baik". Jawab Rania, langsung mengenakan baju khusus yang sama. Tak lupa memasang masker dan penutup kepala.


Dia mengikuti langkah wanita di hadapannya, apa yang di kerjakan.


Rania, calingukan melihat sekeliling ruangan. Sungguh sangat luas dan besar,dia menuruni anak tangga. Rupanya di bawah sudah banyak orang-orang, yang mulai bekerja.


Ada yang menimbang, memasukkan benda ke dalam plastik. Apakah mereka menimbang narkoba dan membungkusnya,batin Rania. Berusaha untuk santai dan jangan gelagat mencurigakan.


Tangannya gemeteran memegang narkoba pertama kalinya di tangannya, untuk di bungkus secepat mungkin. Air matanya luruh sudah,masih tidak percaya ayahnya memiliki pekerjaan seperti ini.


"Cepat-cepat kerjakan semuanya,jangan lamban". Teriak seorang, sepertinya bertugas untuk mengawasi mereka.


Pak Harto, keluar dari pintu dan bersama lainnya. Sepertinya rekan kerja,ayah Rania. Ada suara gelak tawa,dan terbit senyum smrik.


Semakin sesak lah dada Rania , mengalihkan pandangannya. Tak sanggup menatap ayahnya, memiliki pekerjaan haram seperti ini.


Doorrrr....


"Aaaaaa....Aaaaaa...". Orang-orang sekitar berteriak dan berhamburan kemana-mana. Ketika mendengar suara tembakan, menggelegar.


Doorrr.....Doorrr...

__ADS_1


Narkoba berhamburan kemana-mana, terkena tembakan. Rania, langsung bersembunyi di bawah meja. Dia sangat ketakutan, bibirnya gemeteran sudah.


Adu tembakan menjadi-jadi,teriakan semakin ricuh. Rania, menutup kedua telinganya dan semakin ketakutan.


Matanya tertuju kepada sang ayah, melalui celah sedikit. Pak Harto, dengan sigap adu tembak dengan polisi atau lainnya.


Dooorrr..


"Aaaargghhh....". Pak Harto, terkena tembakan di lengannya.


"Papahhh...!". Teriak Rania, memejamkan matanya dan menangis kesegukan.


Pak Harto, bergegas berlarian ke mana-mana. Rupanya anak buah pak Harto,kalah dengan anggota khusus secara langsung menyergap markas besar penyeludupan benda haram tersebut.


Melihat anak buah pak Harto,kalah dan melarikan diri. Para anggota khusus lainnya, bergegas untuk menangkap mereka sebelum melarikan jauh.


Keadaan mulai tenang, tetapi satu persatu di tarik paksa untuk berkumpul di ruangan tersebut. "Aaaaa... Lepasssss...Lepass". Rania,di tarik dan di suruh duduk di lantai bersama dengan lainnya. Anggota militer lainnya, mengawasi mereka dengan senjata lengkap.


Beberapa menit kemudian, sungguh pemandangan mengerikan.


Anggota militer lainnya, langsung membuka topeng masing-masing. Seorang pria tengah mendekati pak Harto,lalu membuka topengnya dan tersenyum sumringah.


Degggg....


Semakin sesak lah dada Rania,siapa pria itu. Siapa lagi kalau bukan Aldo,ayah dari anak yang di kandungnya.


Suara pelatuk pistol, terdengar oleh Rania. Ketika Aldo, menodongkan pistol ke arah ayahnya. "Bagaimana pak Harto,aku sudah kehilangan kesabaran atas perbuatanmu. Sudah beberapa kali,aku memperingati mu untuk tidak bertransaksi dengan benda haram dan penyeludupan senjata. Tetapi,kamu abaikan begitu saja. Lalu, bagaimana dengan Rania? Seorang ayah, memiliki pekerjaan haram dan kotor seperti ini". Tegas Aldo, menyeringai tajam.


"Tidaaaakkkk...Jangan beritahu kepadanya,aku terpaksa melakukan hal ini. Aku, aku terpaksa". Pak Harto, sudah tak berdaya lagi. Mulutnya keluar darah segar, membuat Rania tak tega melihatnya.


"Yah... Terpaksa karena uang,bukan? Atau bekerjasama dengan mafia, lainnya. Maaf pak Harto,mafia yang di percaya kerjasama dengan Anda. Dia sudah mati bersama anak buahnya,". Sambung seorang pria,ayah kandungnya Aldo.


"Sama, anda dan anak buah lainnya yang berada di sini. Akan hangus terbakar,bersama benda haram ini". Sambung yang lainnya.

__ADS_1


Rania,masih terdiam dan mendengarkan perkataan mereka. "Papah, Rania sangat mencintai papah. Tetapi,kenapa papah seperti ini? Papah, sudah menghancurkan segalanya". Gumam Rania,dalam isak tangisnya.


Yang lainnya meraung-raung meminta ampun,agar tidak di bakar hidup-hidup. Meminta Kesempatan untuk hidup lagi.


"Aldo, kau ingin membunuh calon papah mertuamu sendiri ha! Apa jadinya,jika Rania mengetahui semuanya". Ucap pak Harto, tersenyum smrik. "Hahahaha...Kau diamkan, tidak bisa berbuat apa-apa. Rania, akan membencimu seumur hidupnya".


"Pak Harto,anda jangan menang dulu. Aku cuman menjalankan kewajiban negara,apa yang aku lakukan maha benar. Seorang penyeludupan benda haram,harus di basmi. Tidak bisa di beri ampun, karena dia akan berulah lagi". Aldo, sudah memikirkan secara matang. "Aku akan menjelaskan semuanya, tidak ada kebohongan apapun. Jika Rania, memaafkan aku. Aku berjanji untuk menjaganya,jika tidak. Maaf, kemungkinan aku tidak akan pernah menjaganya lagi".


"Bagaimana jika awak media mengetahui,siapa penyeludupan benda haram ini. Sudah pastilah,anak pak Harto menjadi kena imbasnya". Sahut pak Gito, tersenyum smrik.


"Lapor, komandan! Semua tugas sudah di laksanakan, seluruh gedung di sirami dengan minyak bensin". Ucap salah satu dari mereka.


"Bakar semua narkoba itu,tepat di hadapan mereka semua. Senjata-senjata yang lainnya,siap di angkut dan di amankan". Perintah Aldo, dengan wajah sangarnya.


Byurrr....Byurrr....


Setumpuk narkoba nilainya sungguh fantastis,kini terbakar di hadapan mereka secara langsung.


"Tidaaaakkkk.....!". Teriak pak Harto, pundi-pundi uangnya hangus terbakar begitu saja.


Anggota militer lainnya, tertawa terbahak-bahak. Apa lagi misi mereka, selesai dengan baik.


"Sekarang giliran Anda,pak Harto". Aldo, meletakkan pistol tepat di bagian kepala ayahnya Rania.


"Tidaaaakkkk.....!". Rania,tak sanggup melihat keadaan ayahnya. Membuka masker wajah, menatap tajam ke arah ayahnya dan Aldo.


"Rania..". Ucap bersamaan pak Harto dan Aldo, mereka berdua terkejut melihat sesosok Rania. Yang berdiri di kerumunan anak buahnya,pak Harto.


"Aku benar-benar kecewa dengan, papah! Selama ini, papah bekerja benda haram. Apa papah, pernah berpikir panjang dan ingat mamah dan kami. Selama ini papah, memberikan makanan haram untuk kami. Aku kecewa dengan papah, bisa-bisanya memiliki pekerjaan haram". Teriak Rania, dengan derai air matanya. Terduduk lemas di lantai, tangisnya pecah sudah.


Seisi ruangan tersebut, hening seketika. Cuman ada tangisan Rania,yang lainnya terdiam.


Pak Harto, menundukkan kepalanya. Merasakan gagal menjadi sesosok ayah, bagi anak-anaknya. Apa lagi Rania, mengetahui pekerjaan haramnya. Bertahun-tahun di jalankan dan di simpan.

__ADS_1


Rania, menghapus air matanya dan beranjak berdiri. Dia mulai berjalan mendekati ayahnya, Aldo angkat tangan untuk membiarkan saja.


Yang lainnya waspada terhadap Rania, takutnya terjadi sesuatu nantinya.


__ADS_2