
Di meja makan, mereka bertiga tengah duduk santai. Di hadapan masing-masing,1 piring nasi goreng.
Fahri, mengepalkan tangannya dengan erat. Hatinya memanas karena melihat duda karatan,makan bersama mereka. Tepat di meja makan biasanya, cuman ada dia dan sang istri. Namun kali ini, sangat berbeda. Karena Aldo,ada di antara mereka berdua.
Di bawah meja makan, Rania mengelus-elus kaki Aldo. Ada senyuman kecil, di sudut bibir masing-masing.
Sedangkan Fahri, mengusap wajahnya dengan kasar.
Braakkkk....
"Puas dengan semua ini, Rania!". Fahri, menggebrak meja makan. Membuat Rania dan Aldo, terkejut seketika.
Byuurrr.....
Rania,malah menyiram segelas air ke arah suaminya. "Tidak sopan santun,apa mas lupa? Di meja makan ini,ada bang Aldo".
Dada Fahri, naik turun mengontrol dirinya. "Cukup Rania! Aku tidak sanggup melihat ada pria lain,di antara kita."
"Belum seberapa kok,mas. Malahan aku ingin sekali, bercinta dengan pria lain. Biar kita impas sama-sama,". Kata Rania, tersenyum manis.
"Rania...! Jangan kurang ajar kamu,". Fahri, membentak keras kepada istrinya. "Kamu masih berstatus istri ku, Rania. Jangan menguji kesabaran ku,".
"Baiklah, bagaimana jika aku menghajar istri barumu itu? Apa jadinya,seisi kantor mengetahui jika kalian menikah. Apa jangan-jangan, jabatan mu turun". Rania, melirik ke arah Aldo.
Sedangkan Aldo, tengah asyik melihat mereka berdua.
"Awas kamu, Rania! Kali ini,kamu menang. Awas kamu,". Tunjuk Fahri,ke arah istrinya. Berlalu pergi meninggalkan mereka berdua,di meja makan.
"Hahahaha....Hahahha..." Terdengar gelak tawa Rania dan Aldo, menyukai kekesalan Fahri.
'"Huuuff... Untung aku masih sabar, Rania. Ingin sekali aku, memberikan bogem mentah sebagai kado pernikahannya". Aldo, memeluk erat tubuh Rania. "Jujur saja,aku terkejut mendengar ucapan mu tadi. Apalah daya,aku pasrah dan mengikuti kemauan mu".
Rania, menarik hidung mancung kekasihnya. "Hmmmm...Aku tadi sempat ragu, untuk melakukannya. Biar dia tau rasa lah,sayang".
__ADS_1
"Bahkan suamimu, meninggalkan kita berduaan. Jangan salahkan kita,mau ngapa-ngapain". Senyum smrik, terpampang di sudut bibirnya. Aldo, melepas kancing kemejanya dan menyambar bibir Rania.
***************
Sedangkan Fahri, menumpahkan rasa kesalnya dan memukul setir mobil. Dia sudah sampai di perkarangan rumah, Shania.
"Mas bantuin aku, beresin barang-barang kami ini". Kata Shania, menghentakkan pinggulnya.
"Kamu bereskan semuanya, bukankah itu tugas istri". Jawab Fahri, melongos masuk kedalam.
"Iiiihhhh....Gak bisa gitu, dong. Masa semuanya, harus aku. Enak banget dong,mbak Rania gak ngelakuin apapun. Setidaknya,mas bawa ke sini dan membantu aku". Gerutu Shania, sudah gerah membereskan barang suaminya.
"Jangan malas, Shania. Cepat bereskan,aku sakit kepala". Fahri, menepis tangan istrinya.
"Menyebalkan sekali,". Gumam Shania,dia memiliki ide cemerlang. Meminta bantuan kepada tetangganya, untuk membereskan semua ini. Tak apa keluar uang, asalkan tidak capek-capek.
Fahri, menggeleng kepalanya. Melihat kelakuan Shania,suka malas-malasan. Tidak seperti Rania, apapun di kerjakan sendiri.
************
"Mas,kita beli rumah yah. Besar rumahnya, seperti milik mbak Rania". Pinta Shania, tersenyum manis.
Mendengar ucapan sang istri, Fahri menghentikan makannya. "Gak ada, emangnya kenapa dengan rumah ini? Buang-buang uang, saja".
"Gak bisa gitu dong,mas. Kamu harus adil terhadap istri-istrimu,masa rumah Mbak Rania jauh lebih besar. Yah....Di bandingkan punyaku ini,gak masalah aku minta lebih". Kata Shania,yang geram dengan suaminya.
"Aku mana pernah membelikan rumah untuk, Rania. Rumah itu, hadiah dari papahnya. Harus kamu ketahui, Shania. Aku mana pernah memberikan dia uang bulanan,karena aku mengatur segalanya. Termasuk di rumah ini, aku yang mengaturnya". Tegas Fahri, membuat Shania syok berat.
"Apa? Gak mau,mas. Pokoknya,kamu harus memberikan uang sebesar 5 juta kepadaku. Itupun setiap bulannya, untuk keperluan bahan dapur. Beda lagi mas,". Bantah Shania, langsung. Dia baru tau,jika suaminya sangat pelit.
"Enak saja,aku kerja keras dan capek. Mana mungkin kamu, ingin menikmati uangku. Kamu bisa menikmatinya, dengan masak belanjaan yang aku beli". Fahri, mengusap wajahnya.
"Mas,kamu ngomong apa sih? Kamu wajib memberiku nafkah uang,". Shania, menggeleng kepalanya.
__ADS_1
"Gak ada,enak aja. Kamukan kerja, dapat uang sendiri. Enak saja,mau uangku. Jangan ngelunjak Shania, sedangkan Rania tidak mempermasalahkan hal ini. Malah dia, enteng saja. Asalkan bahan dapur dan kulkas, berisi penuh. Intinya aku, tidak membuat anak orang kelaparan". Fahri, meninggalkan istrinya yang masih mematung.
Shania, terduduk lemas di lantai. Tidak menyangka sikap suaminya, sangat pelit. "Aku harus mencari jalan lain,awas kamu mas". Gumamnya, mengepalkan tangannya dengan erat
***************
Besok harinya, Fahri membawa Shania ke rumah istri pertamanya.
"Ngapain kalian ke sini,? Sudah berani kamu,mas. Membawa gundik mu,ke rumah ku". Rania, menyilang tangannya di depan. Tentu saja,dia tidak membiarkan madunya masuk kedalam rumah.
"Huuuuu....Pelakor, tidak tahu malu....".
"Zaman sekarang mah, pelakor terang-terangan. Gak ada rasa malu dan takutnya".
"Sekarang pelakor, semakin menjadi-jadi. Dasar murahan...".
"Pengen deh, mengacak-acak wajahnya itu. Yang sok polos dan lugu".
"Duhh...Geram sekali,sama pelakor".
Banyak cibiran ibu-ibu lainnya, menyaksikan Fahri membawa Shania ke rumah Rania.
"Rania,kenapa pintu rumahnya di kunci? Ayo, kita masuk. Malu di lihat orang-orang sekitar dan Shania kasian mendengar ocehan mereka". Fahri, terheran kepada istri pertamanya. Karena Rania, langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Oh,jadi kamu malu mas? Lalu,kasian kepada gundikmu ini ha! Hahahaha.... Lucu sekali kamu,mas. Kalau malu dan kasian, ngapain kamu nikahin dua ha? Asal mas tahu,aku tidak sudi dia masuk kedalam rumah ku". Tegas Rania, dengan tatapan tajam.
Shania, mempererat memegang tangan Fahri. Wajahnya tertinggal, merasakan teramat malu. Kurang ajar sekali, Rania. Dia benar-benar mempermalukan diri ku. Awas kamu, Rania!.Batin Shania, melirik tajam ke arah Rania.
"Tidak bisa begitu dong, Rania. Aku mohon,jangan ngelunjak seperti ini. Kita bicarakan baik-baik,soal perjanjian kemarin. Adik madumu, keberatan dengan tugas kewajiban sebagai istri melayani suaminya. Maksudku, menyiapkan keperluan seorang suami. Apa lagi Shania, bekerja dan ingin hamil. Takutnya mengganggu kesehatannya,". Kata Fahri, tersenyum kecil.
"Oh,kalau gak mau capek-capek. Silahkan cari pembantu,toh uangmu banyak mas. Heran mau punya anak,tapi gak mau keluar uang. bagaimana nantinya mas,anakmu minta beliin susu formula dan Pampers? Gitu aja sudah pelit,". Bentak Rania, tersenyum smrik.
Shania,sedari tadi cuman diam. Apa yang di katakan Rania, memanglah benar. jika suami mereka, memang pelit masalah uang. Bukan cuman pelit, tetapi sangat perhitungan sekali.
__ADS_1
Rania, sudah menduganya karena adik madunya menyesal sudah menikah dengan pria pelit dan perhitungan. Jangankan istrinya, kedua orangtuanya saja. Dia tidak mau memberikan uang, sungguh mengerikan.