
Tama, membawa Nick ke sebuah Mall. Sesuai janjinya akan membelikan mainan pesawat terbang untuknya.
Tama dan Nick,sibuk dengan memilih mainan beberapa pesawat terbang. Nick, kebingungan yang mana di pilih. "Bagus-bagus yah,Om. pengen jadi pilot pesawat,swiisss...swiisss....". Nick, memainkan pesawat terbang ke udara.
Pelayan toko mainan tersenyum, melihat tingkah laku lucu Nick. Sudah pasti Tama, membelikan mainan pesawat terbang yang menggunakan remote control.
Pak Giro dan istrinya, tengah berkeliling mall. Untuk membeli sesuatu, sebelum pulang ke kota asal mereka.
Mata pak Giro, tertuju kepada Tama dan seorang anak kecil. Dia berniat untuk mendekatinya,karena Tama salah satu karyawan kantor yang terbaik di perusahaannya.
"Tama,". Pak Giro, memanggil namanya.
Tama, langsung menoleh ke belakang karena dia tengah berjongkok memilih mainan. "Pak Giro dan bu Ara.Selamat siang,pak,bu". Tama, membungkuk badannya untuk memberi hormat kepada pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Dia terkejut dan tidak menyangka,akan bertemu dengan pak Giro dan istrinya.
"Lagi apa, Tama? Siapa anak ini". Tanya pak Giro, menatap intens ke arah bocah di samping Tama. Wajahnya sangat tidak asing baginya, mulutnya kelu untuk bertanya.
"Wajahnya sangat mirip dengan Aldo, lagi kecil". Bisik sang istri, membuat pak Giro terkejut.
"Oh,dia Nick pak. Keponakan saya,". Jawab Tama, tersenyum sumringah. Tama, kamu harus rileks dan santai. Jangan sampai membuat kesalahan apapun,ingat itu.
"Oh, sangat tampan sekali". Kata pak Giro, melihat istrinya mendekati Nick dan berjongkok. Sangat mirip dengan Aldo, seandainya... Tunggu dulu,apa jangan-jangan. Tidak mungkin,tidak!. Batin pak Giro, beribu-ribu pertanyaan di benaknya.
"Siapa namamu,sayang. Panggil saja,oma Ara". Tanya bu Ara, mengelus lembut kepala Nick. Ya Tuhan, sangat mirip dengan Aldo. Kapan aku akan menimang cucu? Betapa bahagia aku, memiliki seorang cucu seperti ini.
Nick, memandang wajah Tama dan mendapatkan anggukan
"Nick,omah". Jawab Nick, dengan suara lembutnya.
"Nama yang bagus,pas denganmu yang tampan. Wajahmu sangat mirip, dengan anak Oma masih kecil seusia mu. Siapa nama ibumu,nak". Tanya bu Ara,ada perasaan aneh yang di rasakan bu Ara. Hatinya bergetar dan ingin berlama-lama dengan Nick.
"Nama bunda Rania, Oma". Jawab Nick, tersenyum.
Degggg....
Pak Giro, langsung paham dengan ucapan bocah itu. Rania,siapa lagi kalau bukan mantan kekasih anaknya. Apa lagi Tama,bersama Rania malam itu.
__ADS_1
"Rania!Apakah wanita yang bersamamu itu,Tama?". Tanya pak Giro, langsung. Jika benar sekali, berarti dia adalah cucuku. Iya, tidak salah lagi. Lalu, apakah Aldo mengetahuinya? jika dirinya memiliki seorang anak, mungkin perasaan ku saja mirip.
"Benar pak,kami tetanggaan. Tapi, sudah di anggap seperti kakak sendiri. Lalu Nick, sudah saya anggap sebagai keponakan". Jawab Tama, dengan sejujurnya.
Pak Giro, semakin syok mendengarnya. Ada air matanya menetes, tetapi langsung di hapus. Benar sekali,dia cucuku. Iya,cucuku. Aldo, harus mengetahui kabar gembira ini. Batin pak Giro, tidak sabar memberikan informasi tentang ini.
Tama,bisa diam dan tidak bertanya apapun. Karena pak Giro, atasannya dan takut membuat kesalahan. Loh,kenapa pak Giro menangis? Apa terharu melihat Nick dan menginginkan seorang cucu.Batin Tama, kebingungan.
Bu Ara, tengah sibuk memilih mainan untuk Nick. Terdengar canda tawa bersama,ada beberapa pernyataan untuk Nick.
Nick,yang lancar berbicara dan paham. Dengan senang hati, menjawabnya. Membuat bu Ara, bertambah gemes dan memeluk erat tubuhnya Nick.
Sekarang pak Giro,yakin sekali. Jika Nick anak Rania dan Aldo. Wajahnya sangat mirip, tidak di ragukan lagi.
Hati pak Giro, merasa teriris-iris melihat istri dan bocah itu langsung dekat. Padahal mereka beru pertama kali bertemu, Itukah yang dinamakan nenek dan cucu. Ada aliran sedarah, walaupun tidak pernah bertemu. Tetapi, ikatan batinlah yang kuat.
"Tama, pilihkan beberapa mainan kepada keponakan mu.Biar saya yang akan membayarnya,anggap saja bonus kerjamu selama ini". Tegas pak Giro,masih memandang ke arah istrinya.
Mendengar ucapan pak Giro, sontak membuatnya terkejut. "Tapi,pak...".
Tama,yang sudah ketakutan. Langsung mengangguk kepala, memilih beberapa mainan yang di sukai Nick.
"Tidak mau, Om. Maunya 1 aja,kata bunda jangan serakah. Apa lagi Nick,cuman suka mainan ini aja. Cari uang susah Om, seperti om Tama lembur terus". Tolak Nick, tersenyum.
Pak Giro dan bu Ara, senang mendengar ucapan Nick. Tidak seperti anak kecil lainnya,suka ini dan itu.
Tama, tersenyum kecil dan tidak nyaman dengan pak Giro. Huuuff... Semoga saja,pak Giro tidak menyalahkan aku.Batinnya ketakutan.
"Tidak apa Tama,saya paham kok". Kata pak Giro, mengetahui jika Tama merasakan tidak nyaman.
"Terimakasih,pak". Tama, membungkuk badannya dan bernafas lega. Takutnya pak Giro, marah besar Kepadanya.
"Nick,mau Oma belikan pakaian?". Tanya bu Ara, mencubit pipi gembulnya.
"Gak Oma,karena baju Nick banyak". Jawab Nick, tersenyum. "Om, kita pulang yuk. Gak sabaran,mau main. Tapi, mampir sebentar untuk beli ayam goreng kriuk-kriuk". Rengeknya Nick, mengubah wajahnya seimut mungkin.
__ADS_1
"Astaga, wajahmu sangat imut". Bu Ara,yang gemes dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajahnya Nick.
Akhirnya Tama,pamit pulang dulu. Jujur saja, jantungnya berdegup kencang napas tak beraturan. Yang di hadapannya adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja,takut melakukan kesalahan.
Bisa jadi dia akan kehilangan pekerjaannya, bagaimana ke depannya nanti. Mencari pekerjaan dan gajih lumayan besar, sangat susah sekarang.
Sedangkan pak Giro dan bu Ara, menatap kepergian mereka. Ada rasa tidak terima, baru sebentar bertemu lalu berpisah.
****************
"Huusssstttt....". Tama,menaruh telunjuknya di bibir Rania."Nick,baru tidur kak. Dia kecapean tadi,habis mainan".
Aroma maskulin Tama, tercium oleh Rania. Ada desiran aneh menjalar ke seluruh tubuh, apa lagi mereka sangat dekat.
Degggg.... Degggg
Suasana hening seketika, mereka berdua saling pandang. Apa lagi Tama, seorang pria yang beranjak dewasa.
"Maaf,aku tidak tau". Kekehnya Rania, mencairkan suasana tegang.
Tama,yang cengengesan dan menggaruk-garuk kepalanya tidak gatal. "Gak papa,kak. Ya sudah, Tama mau pamit dulu. Biasa mau Gym dengan teman-teman, sudah ada janji". Kedip matanya.
"Oke,deh". Jawab Rania, tersenyum manis."Tama, makasih banyak yah. Sudah ada waktu untuk Nick, membawanya jalan-jalan. Berapa uang yang kamu, bayar untuk membelikan mainan? Biar aku menggantikan uangnya".
Tama,yang terkejut karena Rania mencekal lengannya. "Eee... Tidak perlu kak,tadi di bayar sama bos. Kebetulan sekali, ketemu beliau. Katanya bonus,dari kinerja ku selama ini".
Degggg....
"Bos? Siapa Tama?". Rania, sudah menduga bahwa pak Giro atau Aldo. Rasa takutnya muncul kembali.
"Pak Giro,kak". Jawab Tama, tersenyum. Rania, terduduk lemas dan bersandar pada dinding. Beruntung sekali Tama, memegang tubuh Rania dan tidak jatuh.
**************
Selamat Hari Raya ,Minal aidzin walfaizin.
__ADS_1
Mohon maaf lahir dan batin,para pembaca setia ku 🥰🥰🥰