
Plakk...
Sebuah dokumen terhempas di atas meja.
Randy Barreto,atasan Fahri sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Matanya menatap tajam ke, Fahri.
"Akhir-akhir ini, pekerjaan mu sangat menurun. Kenapa,bisa kamu jelaskan? Jika kamu memiliki masalah besar,di luar perusahaan ini. Jangan kamu campur aduk,dalam pekerjaan. Sekarang apa, membuat ku kecewa dengan hasil kinerja mu". Tegas pak Randy, menatap Fahri yang tertunduk.
"Maaf,pak Randy. Saya usahakan untuk memperbaiki semuanya dan tidak mengecewakan anda". Jawab Fahri, akhir-akhir ini tidak fokus bekerja. Karena kepikiran mantan istrinya, yang berlibur ke kemana-mana.
"Aku berikan kesempatan lagi,jika tidak. Berisap-siaplah untuk turun jabatan,". Kata pak Randy, sontak membuatnya gelabakan.
"Jangan pak,saya janji akan berubah dan tidak mengecewakan anda. Saya akan berusaha semaksimal mungkin, untuk memperbaiki semuanya". Fahri, meminta iba kepada atasannya.
"Baiklah, aku beri kesempatan lagi. Keluarlah dari ruangan saya,ingat jangan ingkar janji. Karena ini, jabatan mu di pertaruhkan. Banyak yang lainnya, memiliki kinerja yang bagus-bagus". Tegas pak Randy, sebelum Fahri pergi.
"Baik pak,saya permisi dulu ". Jawab Fahri, mengangguk kepala dan pergi dari ruangan atasannya.
"Fiuuhhh....Aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini,karena akan kehilangan segalanya". Gumam Fahri, kepalanya nyut-nyutan sudah.
Fahri, melewati karyawan kantor lain. Termasuk rekan kerjanya dulu, sebelum naik jabatan.
Mereka semua menatap tajam ke arah, Fahri. Ada ukiran senyum di bibir mereka, seakan-akan senang dia mendapatkan teguran dari atasannya.
Shania,masuk kedalam ruangan pak Randy. Begitu gugup dan ketakutan. Pasti ada sesuatu yang tidak beres,dia terbilang kurang konsentrasi dalam bekerja.
Pak Randy,sama menegur Shania. Memberikan kesempatan lagi,karena kinerjanya sangat turun drastis.
*************
"Apa yang di katakan ibuku, memang benar! Jika kamu pembawa sial, buktinya setelah kehilangan sesosok Rania. Aku mendapatkan teguran dan jabatanku,di pertaruhkan. Seisi kantin membicarakan ku, mereka berlomba-lomba untuk mengganti posisiku". Kata Fahri,kepada Shania yang tengah memasak.
__ADS_1
"Cukup! Jangan salahkan aku,mas. Kamunya aja, tidak karuan bekerja. Pikirkan mu itu, cuman Rania dan Rania". Bentak Shania,yang kesal.
"Huuu.... Jangan sampai aku, kehilangan pekerjaan ini. Sial,aku pasti di tertawakan oleh Rania". Gerutu Fahri, mengepalkan tangannya.
"Apa kamu sudah ada tanda-tanda kehamilan, Shania? Seharusnya,ada kan". Tanyanya, mendelik ke arah Shania.
Shania, menoleh ke arah suaminya."Tidak ada mas, bahkan aku tidak menunda kehamilan". Jawabnya.
"Mana mungkin, Shania! Apa kamu memiliki kesalahan,ha? Masa sampai sekarang masih belum ada,kamu jangan membohongi ku". Bentak Fahri, rahangnya mengeras seketika.
"Mas,aku tidak berbohong kepada mu. Apa perlu memeriksa kesuburan ku,ha? Jangan harap mas, aku mau. Kecuali dirimu sendiri, ikut memeriksa kesuburan. Jangan sama akan aku, dengan Rania". Jawabnya dengan lantang.
"Jangan bawa-bawa aku, Shania. Sudah pasti aku sehat dan tidak memiliki kesalahan. Kamunya aja, pasti ada sesuatu yang salah. Makanya kamu, tidak ada tanda-tanda kehamilan. Kalau ada masalah juga, berarti kamu dan Rania sama. Iya, sama-sama mandul dan menyusahkan saja". Gerutu Fahri,mendelik tajam ke arah suaminya.
"Mas,aku lelah terus-terusan seperti ini. Aku tantang kamu,mas. Ayo,kita sama-sama periksa kesuburan. Jika kamu tidak mau, pergilah dari rumah ini. Aku juga menyesal sudah menikah dengan mu, sudah pelit mana perhitungan sekali". Ucap Shania, tidak memperdulikan tatapan nyalang dari Fahri.
Plakkk...
Fahri, langsung naik pitam dan menampar pipi mulus istrinya. "Kurang ajar sekali kamu, berbicara seperti itu ha! Mulutmu itu, perlu dididik keras".
"Baiklah,aku pergi dari rumah sempit ini. Tak sudi rasanya menyisakan uangku untuk memberimu makan". Bentak Fahri, beranjak pergi ke kamar. Tak lupa memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam koper.
Shania, menatap lekat ke arah suaminya dari ambang pintu. "Ck,talak aku mas. Sebelum pergi dari sini,kita cuman nikah sirih".
Fahri, langsung menoleh ke arah istrinya. Ketika Shania, berkata seperti itu.
"Mulai sekarang kita bukan suami-istri lagi,aku talak kamu Shania! Itukan yang kamu mau,mana ada pria lain yang menginginkan seorang wanita mandul". Decak Fahri, menyelonong pergi dan keluar dari rumah Shania.
"Aku terima mas,talakmu". Gumamnya, bayangan Fahri menghilang di balik pintu rumah.
Tangisannya Shania, langsung pecah dan bersandar pada dinding. Hatinya sangat sakit,di perlakukan seperti ini. Setidaknya dia, mencari aman dulu.
__ADS_1
"Mas Fahri,memang bodoh sekali. Lihatlah,aku sudah mengambil surat-surat mobilnya. Besok aku akan menjualnya,tak lupa juga kartu Atm-nya di tanganku. Beruntung sekali,aku mengetahui PINnya. Anggap saja, mengobati rasa sakit ku mas". Gumam Shania, tersenyum sumringah.
***********
Sedangkan Rania,tengah menikmati liburannya. Hari ini dia pulang ke rumah, ayahnya. Sementara untuk tinggal di sini, menghabiskan masa Iddah nya.
"Kamu yakin, dengan ucapanmu nak? Setelah selesai masa iddah mu,lalu menikah dengan Aldo". Tanya pak Harto,kepada anaknya.
"Iya,pah. Apa ada msalah,". Tanya Rania, menatap wajah ayahnya.
"Hahahaha...Papah, sudah pasti setuju nak. Apa sih, yang tidak untuk anak papah. Sedangkan ayahnya Aldo,teman bisnis papah". Pak Harto, tersenyum kecil.
Rania, memeluk erat tubuh ayahnya. "Makasih banyak,pah". pak Harto,mengelus lembut pucuk kepala anaknya.
"Rania,mau istirahat dulu. Lelah, baru pulang liburan". Kekehnya Rania, mengulum senyumnya.
"Baiklah, istirahat sana. Ingatlah,jangan memikirkan mantan suamimu itu". Kata pak Harto, langsung di angguki oleh Rania.
"Tuan,lusa kita ada pertemuan penting. Apakah, tidak ada kendala". Tanya seorang pria, pengawal pribadi pak Harto.
"Kita harus hati-hati,Jangan sampai ada seseorang yang mengetahui rencana kita. Beritahu yang lain, untuk berhati-hati dalam operasional ini. Termasuk mata-mata itu,bisa gawat nantinya". Kata pak Harto, tersenyum kecil.
"Baik,Tuan. Kami permisi dulu,". ucap pengawal pribadinya,pamit pergi.
"Roy, tunggu dulu! Cari tahu,siapa agen rahasia itu. Takutnya dia akan membongkar rahasia kita,". Perintah pak Harto, langsung di angguki anak buahnya.
Sedangkan Rania, samar-samar mendengar pembicaraan ayahnya di atas. "Agen rahasia? Memangnya papah, menjalin bisnis apa? Bodo amat,yang penting papah baik-baik saja. Bisa jadi,banyak saingannya papah. Namanya juga bisnis, menyeramkan sekali". Gumamnya Rania, menepis kecurigaan terhadap ayahnya.
[Aku kangen sayang, biasanya ke sebelah rumah. Aku bisa memeluk dan mencium mu].
Rania, tersenyum manis. Ketika membaca pesan dari kekasihnya itu, sampai sekarang masih menyimpan rahasia kehamilannya.
__ADS_1
[Aku juga,bang. Besok temuiku aku di rumah,ada sesuatu yang aku katakan. Ini sangat sepesial untukmu,bang]
Balas Rania, berniat untuk memberitahu kehamilannya. Tepat di hari ulangtahun sang kekasih,ini adalah kado spesial untuknya. Rania