
"Kak Ranai,kenapa?". Tama, langsung panik jadinya.
"Tidak apa, Tama". Jawabnya Rania, tersenyum. "Pergilah,katanya mau gym tadi. Nanti telat loh,". Kekehnya
"Yakin,gak papa nih? Takutnya kenapa-kenapa,kak Rania. Jadi gak semangat gym nya". Tama, duduk di samping Rania.
"Gak papa,sana pergilah. Sekalian cari pacar kek,betah amat sendirian". Ledek Rania, mencubit lengan Tama.
"Aauukk....Sakit kak,males cari pacar. Kalau ada acara,kan kak Rania ada". Jawab Tama, cengar-cengir tidak jelas.
"Eleehh...Maunya banget sih,kamu ngajak aku. Apa lagi status janda dan punya anak 1,apa kata orang lain jika mengetahuinya? Pastilah kamu jadi bahan pembicaraan mereka,". Kata Rania, melirik ke arah Tama.
"Gak papa, lagipula aku tidak ikut makan dan menumpang hidup sama mereka kak. Yang penting aku senang,". Jawab Tama, cengengesan.
Rania, memandang lekat wajah tampan Tama. 5 tahun lebih bersama,penuh canda tawa dan mengisi hari-harinya. "Tama, usiamu sudah tidak muda lagi loh. 25 tahun, sudah waktunya mencari pasangan".
Rania, menggenggam jemari tangan Tama yang sudah menganggap adik kandungnya sendiri.
"Kalai aku menginginkan kak Rania, bagaimana?". Tanya Tama, mendelik ke arah Rania.
Degggg....
Rania, mengerut keningnya dan mencerna ucapan Tama. "Jangan ngaco, Tama. Aku sudah menganggap dirimu, sebagai adikku sendiri. Usia kita terpaut 5 tahun,gak pantas". Bantah Rania, menggeleng kepalanya.
Raut wajahnya Tama, langsung berubah. Terdengar hembusan nafasnya,membuang muka ke arah lain.
"Kenapa,kamu marah? Aku lebih tua darimu,Tama. Mana mungkin aku bersama berondong seperti mu, tidak pantas". Kata Rania, menyunggingkan senyumnya.
"Lalu,kak Rania meremehkan ku? Mentang-mentang aku lebih muda, tidak mampu menyeimbangi kak Rania". Tama, menyipitkan bola matanya dan menarik pinggang Rania ke dalam pelukannya.
Wajah mereka saling pandang, cuman berjarak beberapa inci. Rania, mengerjapkan bola matanya. Apa yang telah di lakukan,Tama. Kenapa,dia tiba-tiba berubah agresif?.
Tangan kekar Tama, mencekram kuat pinggang Rania. Badannya tinggi besar, postur tubuh yang berotot. Karena Tama, sangat menjaga bentuk tubuhnya dan seringkali melakukan Gym.
"Tama,apa yang kamu lakukan? Ja-jangan seperti ini". Rania,gugup sekali. Biasanya Tama, tidak seperti ini.
"Aku cuman membuktikan,jika aku pantas bersama kak Rania". Bisik Tama, hembusan nafas terasa di daun telinganya.
__ADS_1
"Eee...Tapi, tidak seperti ini juga. Lepaskan Tama, apa kata ibumu nanti? Jika kita seperti ini,sama saja melakukan kesalahan besar". Tangan Rania, menahan dada bidang kokoh Tama. Kancing kemejanya sudah terbuka dua,susah payah meneguk air liurnya.
"Tidak masalah kak, ibu lagi arisan. Cuman kita berdua loh,di rumah ini". Bisik Tama,lagi. Apakah seperti ini,ketika dekat dengan wanita yang kita sukai? Aaaargghhh...Ada apa dengan ku,kenapa tiba-tiba seberani ini? Berharap kak Rania, tidak marah.
"Tama, jauhkan wajahmu dari telingaku". Pinta Rania, daerah paling sensitifnya. Jantungnya berdegup kencang,diam dan tidak bergerak sama sekali.
************
Semenjak kejadian itu,Tama seakan-akan menghindari Rania. Berangkat pagi,tanpa sarapan. Bahkan pulang kerja malam, agar menghindari Rania.
"Aku malu,". Lirih Tama, menceritakan kepada temannya Nado,Digo dan Hery.
"kalau kamu memang menyukainya, kejarlah. Ngapain menghindari kak Rania,pasti merasa bersalah karena kamu tiba-tiba berubah". Kata Nado, temannya berpihak kepada Tama yang menyukai tetangga sebelahnya.
"Benar sekali,jangan nyerah seperti inilah. Badan gede doang,masa takut maju demi cinta". Goda Digo, cengengesan.
"Takutnya, kak Rania masih mencintai mantan suaminya. Buktinya kak Rania,betah sampai sekarang tidak nikah". Sahut Hery.
"Tidak tau,aku tiba-tiba bersalah dan malu. Seharusnya,aku tidak melakukan apapun kemarin. Lancang sekali memeluknya, untuk tidak hilaf". Kata Tama, tertunduk sedih.
Teman-temannya saling pandang, kebingungan dengan sikap Tama.
Biasanya Tama, berbincang hangat dengannya. Namun kali ini tidak lagi, biasanya Tama yang menemui Nick. Tapi kali ini,Nick yang ke sebelah rumah.
"Bunda, kenapa yah? Akhir-akhir ini,Om seringkali lembur terus". Nick,merasa tak senang jika Tama lembur kerja.
"Tidak apa,sayang. Namanya bekerja,kita harus apa? Suatu hari nanti,kamu paham kok". kata Rania, mengelus lembut pucuk kepala anaknya.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam, Nick sudah mulai mengantuk dan sudah lama menunggu kepulangan Tama.
Setengah jam berlalu, Rania menidurkan sang buah hati.
Suara mesin mobil terdengar, berarti Tama sudah pulang.
Rania, bergegas keluar kamar dan ke sebelah rumahnya. Terlihat bu Yati, sudah tidak ada. Tumben sekali beliau,jam segini tidur duluan. Biasanya menyambut kedatangan Tama, menyiapkan makanan malam dan tidur.
Degggg....
__ADS_1
Mata Tama, tertuju kepada Rania tersenyum manis.
"Mau makan Tama? Biar aku siapkan,". Tanya Rania, tersenyum manis.
"Tidak kak,aku sudah makan di luar. Tadi aku menghubungi ibu, karena makan di kantor". Jawab Tama,tanpa melihat ke arah Rania.
"Oh,mau aku buatkan kopi atau teh". Tawar Rania, lagi.
"Tidak kak, terimakasih. Aku mau mandi,lalu tidur". Jawab Tama, melongos melewati Rania.
"Tama,ada apa dengan mu?". Rania, mengikuti nya masuk kedalam kamar.
"Lebih baik kak Rania,keluar dari kamar. Takutnya ibu, salah paham dengan kita. Bukankah itu,yang kak Rania ucapkan". Tama, melepaskan cengkalan Rania.
"Tam,aku merasa bersalah dengan sikapmu berubah. Aku,aku merasa tidak nyaman. Cuman masalah itu,kamu marah kepadaku". Rania, menatap intens ke wajah Tama.
"Cuman masalah? Ini soal perasaan kak, maaf sekarang aku mulai cuek. Karena ingin melupakan perasaan ini, untuk kedepannya. Berbicaralah seperlunya saja," Kata Tama, mengambil handuk dan keluar dari kamar.
Rania, langsung melangkah pergi ke rumahnya. "Maaf, sudah membuat mu marah". Gumamnya, merasa sedih atas perubahan Tama.
**********
Pagi harinya,Tama menyempatkan diri untuk bermain-main dengan Nick.
"Kenapa lembur terus,Tama? Kasian Nick, mencarimu". Kata bu Yati, meletakkan teh panas di hadapan anaknya.
"Bagaimana lagi,bu? Namanya juga pekerjaan,". Jawab Tama, menghirup teh buatan ibunya. Maafkan aku dengan cara ini,bisa melupakan perasaan ku kepada kak Rania.
"Gak papa,nek. Pagi-pagi kan Nick, bisa bermain dengan Om Tama". Sahut Nick, selalu memahami segalanya.
"Keponakan om,memang pintar. Hari minggunya kita bisa bermain lagi, ketika om libur". Tama, mengacak-acak rambut Nick. "Ya sudah,om berangkat kerja dulu. Jangan nakal yah,".
"Iya,om".
Nick, mencium punggung tangan Tama. Begitu juga Tama, mencium wajah Nick dan pamit kepada ibunya.
Rania, berdiri di teras rumahnya sendiri. Melihat kepergian Tama, semakin hari semakin dingin sifatnya. "Serba salah, cinta tidak bisa di paksakan Tama". Gumamnya.
__ADS_1
Bahkan Tama, tidak menoleh sama sekali ke arahnya. Mobilnya semakin jauh,hilang di pandangan Rania.