
Sah!
Sah!
Ucap orang bersamaan,ijab kabul sudah selesai dan berjalan dengan lancar.
Akhirnya Rania dan Aldo, resmi menjadi sepasang suami-isteri.
Nick, kegirangan karena orangtuanya bersatu lagi. "Makasih bunda, sudah mau bersama papah". Kata Nick, tersenyum manis.
"Iya,sayang". Jawab Rania, mencubit pipi anaknya.
Bu Ara, tersenyum dan bahagia. Akhirnya mereka berdua, bersatu kembali dalam ikatan pernikahan.
Acara akad nikah,yang di lakukan sederhana. Hanya orang terdekat saja,yang hadir dan menyaksikan.
"Selamat yah,kak". Ucap Dahlia, memeluk erat tubuh kakaknya.
Di kejauhan tampak terlihat Rossa, meneteskan air matanya. Sungguh sakit melihat pemandangan,mantan suaminya menikah lagi.
Baru sekarang dia, menyadarinya bahwa telah jatuh cinta dengan Aldo.
Acara akad nikah sederhana,namun di penuh dengan kebahagiaan.
"Terimakasih, sudah mau menjadi istriku". Bisik Aldo, mencubit hidung mancung Rania.
"Hmmmmm... Makasih, sudah berusaha semaksimal untuk meluluhkan hatiku". Kekehnya Rania, tersenyum manis.
"Apa sih,yang enggak buat kamu sayang. Sudah waktunya, Nick menginginkan adik yang cantik". Bisik Aldo, mengigit bibir bawahnya.
"Huusssstttt... Kondisikan tangan mu,masih banyak orang menyaksikan kita". Gerutu Rania, mencubit perut suaminya itu.
Rania, berbaur dengan teman-teman ibu mertuanya. Bu Ara, benar-benar senang mendapatkan mantu idaman. Tidak seperti Rossa,yang sibuk dengan dunianya. Selalu menolak jika di ajak, untuk bergabung dengan lainnya.
"Cantik sekali jeng, mantunya".
__ADS_1
"Iya, tidak seperti mantumu yang dulu. Selalu ogah banget, bergabung dengan kita-kita".
"Mantu mu yang ini, nyambung kalau di ajak bicarak".
Banyak lagi, ibu-ibu lainnya memuji Rania. Sungguh bu Ara, senang mendengarnya. Tidak salah memilih menantuseperti,Rania. Di tambah lagi,mau melahirkan seorang anak dan tidak memperdulikan tubuhnya. Tidak seperti Rossa, selalu beralasan macam-macam.
**************
Malam harinya, Rania bersandar di tubuh suaminya. Mereka berdua menginap di hotel dan menghabiskan waktu bersama. "Kapan kembali bertugas?". Tanya Rania, membiarkan suaminya memainkan aset pribadi. "Uughhh...". Lenguhan Rania,karena Aldo sudah memainkan jarinya.
"Aku sudah berhenti menjadi agen rahasia, kemarin tugas terakhirku sayang. Ayah, menyuruhku mengurus perusahaan. Lalu, membiarkan mereka menikmati masa tua bersama cucu". Jawab Aldo, tersenyum manis
"Benarkah,sayang!". Rania,merasa senang mendengarnya. Hatinya terasa lega,karena sang suami tidak bekerja terlalu bahaya. "Kamu tidak bohong dan bercanda kan?"
"Hmmmm...Aku tidak bercanda,sayang. Aku benar-benar serius, percayalah". Bisik Aldo,mulai memasukkan miliknya.
Rania, mengulum senyumnya dan merasakan tusukan suaminya semakin dalam. "Aaahhh...Aku percaya dengan mu,sayang. Uughhh....Terimakasih, sudah memahami segalanya. Aku tidak was-was kehilangan mu,ketika bertugas".
"Aaahh... Aku ingin menjadi suami idamanmu, sayang. Selalu ada untukmu dan Nick, apapun akan aku lakukan". Aldo, semakin menghu-jam tu-buh istrinya.
"Hhhmmmpptt....Yeahhh,aku aaahh...Senang sekali, mendengarnya... Ssshhhhttt...". Rania, mencekram lengan suaminya.
1 jam berlalu, Aldo sudah membersihkan dirinya. Lalu,memesan makanan karena perut sudah keroncongan.
"Kapan datangnya,aku laper". Cicit Rania, duduk di pangkuan sang suami.
"Sabar dulu,sayang. Hentikan tangan nakal mu, jangan sampai aku memakan mu lagi". Bisik Aldo, menghentikan tangan istrinya mengelus dada bidang.
"Badanmu sangat kekar, suamiku. Sungguh menggoda diriku, ingin menyentuhnya". Kata Rania, tersenyum dan membuat jejak di leher suaminya.
"Ssshhhhttt.. Jangan nakal sayang,yang bawah sudah tegang". Aldo, merasakan istrinya berubah agresif dan membuka pengaman celananya. Lalu, menonjol tegak benda tumpul berurat itu.
Hap....
"Oouughh.... Rania, kamu! Aaahhh... Terusssss...". Aldo,merem melek menikmati permainan istrinya. Miliknya separo dalam mulut Rania. Melayang ke mana-mana, ketika Rania maju mundur kepalanya.
__ADS_1
Rania, tersenyum dan menjilati seperti es krim yang enak. Aldo, mencekram rambut istrinya. "Aaahhh....Kenapa berhenti,sayang".
Rania, mengusap bibirnya itu. "Ada bel berbunyi, mungkin makanan kita datang". Bisik Rania, sontak membuat Aldo frustasi jadinya.
"Aaarghhh... Sialan, tunggu sini. Aku yang menghampirinya,". Aldo, langsung ke arah pintu dan benar saja pesanan makanan yang datang.
Sedangkan Rania, cekikikan tertawa melihat tingkah suaminya yang frustasi. Karena gai-rah sudah di ujung tanduk, tetapi harus di tunda dulu.
Mereka berdua makan bersama, penuh dengan kebahagiaan. Saling menyuapi, satu sama lainnya.
"Sayang,ini bekas apa?". Tanya Rania, sebuah luka di bagian punggung suaminya.
"Oh, bekas tembakan sayang. Gak sempat untuk menghindari,". Jawab Aldo,di belakangnya ada tato tengkorak. Tangan halus Rania, membelai tato tengkorak tersebut.
"Kenapa,harus ada tato? Mana tatonya,serem. Kenapa gak wajahku aja,katanya cinta". Kekehnya Rania.
"Hahahaha....Kamu ini ada saja, gara-gara kamu yang menikah dengan pria lain. Aku langsung kepikiran, untuk membuat tato di belakang tubuhku". Ucap Aldo, tersenyum.
"Eee... Gara-gara aku,yah. Maafkan aku dulu,sayang". Rania, mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah suaminya.
Rania dan Aldo, menikmati masa-masa indah bersama. Akhirnya Rania, mendapatkan kebahagiaan yang tak pernah di gapainya. Bagaimana dengan Tama, apakah dia bisa melupakan cinta pertamanya? Mampukah, mencari pengganti dihatinya dan menjadi lebih baik lagi. Ikutin terus perjuangan Tama, melupakan perasaan kepada Rania.
Tama,keluar dari rumah sakit. Keadaannya sangat memperihatinkan, sungguh memalukan baginya.
Tama, merenungkan kembali masa-masa indah bersama Rania. Sekarang dia benar-benar kehilangannya,apa lagi rumah dis sampingnya di jual. Barang-barang milik Rania,di bawa oleh orang lain.
Sampai detik ini, Rania tidak pernah menemuinya lagi. Bahkan di rumah sakit, tidak ada rasa iba kepadanya.
"Tama, kamu harus cari kerjaan. Bagaimana hidup kita,jika kamu nganggur terus-terusan". Bentak bu Yati, sudah kesal kepada anaknya.
Tama,menghela nafas panjang dan mengangguk kepala. "Iya,nanti Tama cari kerjaan kok. Untuk sekarang aku, ingin memulihkan kondisi ku. Mana mungkin aku bekerja, seperti ini".
"Iya,jangan lama-lama. Mau makan apa kita,kamu itu anak laki-laki. Sudah sewajibnya membahagiakan ibu,ini semua gara-gara kamu. Coba saja, tidak pindah dan resign. Ibu,mau kehidupan kita seperti dulu". Tegas bu Yati, merindukan masa-masa dulu. Yang tidak pernah kekurangan apapun, matanya tertuju ke sebelah rumah.
Tiba-tiba saja Kepikiran Rania dan Nick, sudah lama tidak bertemu. Bu Yati,menduga jika mereka sedang bahagia dan hidup di rumah mewah. Tidak seperti dirinya dan Tama,masih dalam kesusahan.
__ADS_1
Token listrik tiba-tiba berbunyi, membuat bu Yati kesal. "Mana uang buat beli token listrik, gak dengar apa ha? Bunyi terus dan menjerit-jerit meminta di isikan".
Tama, mengeluarkan selembar uang berwarna merah. "Ini bu,jangan di habiskan. kita harus hemat dulu". Pinta Tama,sang ibu berdecik kesal.