Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Diusir


__ADS_3

Fahri, berhenti di perkarangan rumah Rania. Kenangan indah bersama Rania, terlintas di benaknya.


"Aaarghhh....Aku tiba-tiba merindukan mu, Rania". Gerutu Fahri, memukul setir mobilnya.


Bingung entah kemana?Malam semakin larut,hujan deras di luar mobil. "Ya sudahlah,aku pergi kerumah bapak dan ibu". Gumamnya memutar setir mobilnya.


Fahri, menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan sedang. Membela jalan raya, yang di basahi air hujan.


Fahri, menghela nafas panjang dan sampai di perkarangan rumah orangtuanya. Hujan sudah mulai reda, tidak selebat tadi.


Dengan langkah gontai, Fahri memecat bel rumah orangtuanya.


Beberapa detik kemudian,Desi sang kakak membuka pintunya. Mata Desi, menatap tajam ke arah adiknya.


"Bu, ibuuuu....!". Teriak Desi, memanggil ibunya.


"Mbak, ijinkan aku masuk dulu. Dingin mbak,". Pinta Fahri, cengengesan.


"Ada ap sih, Desi? Manggil-manggil segala,". Sahut bu Marni, matanya melihat sesosok pria yang berdiri di ambang pintu.


"Ini bu,anak bungsunya ibu. Entahlah, ngapain mau ke sini lagi? Pembawa sial,". Kata Desi, tersenyum smrik.


"Assalamualaikum, bu". Ucap Fahri, wajahnya nampak kusut sekali.


Bu Marni, menatap tajam ke arah anak bungsunya itu. "Ngapain lagi,kamu ke sini? Belum cukupkah, menyakiti hati orangtuamu ha! Apa belum puas, Fahri! Gara-gara kamu,kita semua sengsara seperti ini". Bentak sang ibu.


"Bu, Fahri mintalah maaf. Sekarang Fahri, sudah menalak Shania. Memang benar bahwa Shania, pembawa sial bu". Kata Fahri, memasang wajah sedihnya.


"Hahahaha.... Percuma Fahri, sekarang sudah hancur berkeping-keping karena mu". Sahut pak Eko, langsung.


"Benar,apa kata bapakmu. Semua ini salah mu, Fahri. Lalu, untuk apa lagi ke sini? Mau menghancurkan kehidupan kami lagi,ha!". Tanya bu Marni, dengan nada tingginya.


"Bu, Fahri benar-benar minta maaf. Aku akan menebus segalanya, besok aku akan pergi menemui Rania dan meminta maaf. Doakan saja, Rania mau rujuk dengan ku". Ucap Fahri, membuat lainnya langsung terdiam.


"Alahh.... Jangan kebanyakan bohong kamu, Fahri. Mana mungkin juga,kamu berani ke rumah pak Harto. Yang ada kamu di usir langsung". Desi, tersenyum sinis ke arah adiknya itu.

__ADS_1


"Baiklah, buktikan ucapanmu itu. Jangan memberikan harapan palsu,jangan berbohong kepada kami". Bu Marni, akhirnya mendukung ucapan anaknya.


"Terimakasih,bu. Tapi, bolehkah aku menginap di sini. Aku tidak ada tempat tinggal,". Pinta Fahri, tersenyum kecil.


"Gak ada,enak aja mau numpang tinggal. Tidak sudi menampung orang yang pelit, tepatnya seperti mu". Tolak pak Eko, langsung.


"Benar, ngapain kami menolong mu ha? Sedangkan kamu, tidak pernah menolong kami. Di saat kami kesusahan,". Sambung bu Marni, tersenyum smrik.


"Bu, ijinkan aku tinggal sementara di sini. Aku mohon, maafkan sikapku kemarin". Fahri, meminta iba.


"Husss... Pergi sana,kamu. Punya mobilkan, tidur aja di dalamnya". Usir Desi,tak segan-segan menutup pintu rumah orangtuanya.


Fahri, mengusap wajahnya dengan kasar. Keluarganya tega memperlakukan dirinya seperti ini,terbuang dan tidak ada artinya.


**************


Besok harinya Rania, menyiapkan berbagai makanan lezat. Karena sudah ada janjian dengan Aldo,sang kekasih.


"Tumben masak banyak,ada tamu kah?". Tanya pak Harto,kepada anaknya.


"Bang Aldo,mau ke sini pah. Loh,papah mau Kemana? Sudah rapi sekali,gak temui bang Aldo dulu". Tanya Rania, tersenyum.


"Baiklah pah, hati-hati di jalan". Ucap Rania,yang di angguki oleh ayahnya. Di rumah besar ini, tidak Rania saja yang tinggal. Melainkan beberapa pelayan juga,dan tukang kebun.


"Bi,aku mau ke atas dulu. Tolong siapkan semuanya". Pinta Rania, sebelum pergi ke atas. Apa lagi,kalau bukan siap-siap untuk menyambut kedatangan sang kekasihnya.


Hampir setengah jam berlalu, Aldo sudah sampai di kediaman Rania. Salah satu pelayan, mempersilahkan duduk di ruang tamu.


Aldo, calingukan melihat sekeliling kediaman orangtuanya Rania. Berlahan-lahan berjalan ke sana kemari, seakan-akan mencari sesuatu. Matanya tertuju pada sebuah foto keluarga, mengerutkan keningnya.


Tiba-tiba saja, dia menghubungi seseorang. Tak lupa diam-diam memotret foto-foto keluarganya, Rania.


"Sayang, akhirnya kamu datang. Aku kangen sekali". Ucap Rania, malu-malu kucing.


"Kamu memang cantik sekali, sayang. Aku kangen sekali,". Aldo, memeluk kekasihnya itu. "Aku suka dengan fotomu masa-masa kecil, lihatlah sangat imut sekali".

__ADS_1


"Iiiissshhh....Mana ada imut,itu momen yang memalukan. Kata papah, cocok di abadikan. Di abadikan sih,tapi gak seperti itu juga. Masa foto yang kecebur got,di abadikan". Sungutnya Rania, sebuah foto dimana masa kecilnya. Dimana dirinya menangis, berlumuran lumpur got.


"Hahahaha.... Sangat lucu,sayang. Karena ini adalah momen sangat langka, pantesan aja papahmu mengabdikannya". Kekehnya Aldo, ingin sekali menerkam bibir Rania.


Tetapi Rania, menggeleng kepalanya. Takutnya ada pelayan yang melihat,yang ada malu. "Mau makan sekarang,atau nanti?". Tanya Rania, mengalihkan pandangannya.


"Hmmmm... Pengen banget,aku memakan kamu sayang. Apa lagi, sudah lama dimanjakan oleh mu". Bisik Aldo, mengigit bibirnya.


"Iihh...Bang Aldo, mesum". Bisik Rania, membulatkan matanya.


"Hahahaha....Aku mesum cuman dengan mu,sayang". Aldo, menangkup wajah kekasihnya itu. Tak lupa mengecup bibirnya, dengan lembut.


"Ayo,kita kamarku. Ada sesuatu yang aku perlihatkan kepada mu,". Ajak Rania,menarik lengan kekasihnya.


"Jangan salahkan aku,jika hilaf. Kamu loh,yang ajak berduaan". Bisik Aldo, pasrah mengikuti langkah kekasihnya.


"Bang Aldo, selamat ulangtahun. Ayo,aku akan memberikan sebuah kado spesial untuk mu". Rania, tersenyum sumringah. Membuat Aldo, penasaran dengan ucapannya.


"kado? Baiklah,aku sangat penasaran sekali. Apa kado yang kamu berikan,sayang?". Aldo, tersenyum dan matanya tertuju kemana-mana.


Rania,nampak heran melihat kekasihnya. Tumben-tumbenan menggunakan kacamata, biasanya tidak. "Bang, tumben sekali memakai kacamata? Biasanya tidak,tapi aku baru tau".


"Eeehh...Tadi lupa melepaskan kacamata, biasanya mau mengajar di kampus. Selalu menggunakan kacamata,mataku sedikit minus". Jawab Aldo, tersenyum manis.


Tibalah di depan pintu kamar Rania,dia membukakan pintu dan masuk kedalam kamar. Sontak membuat Rania, gelabakan karena mendapatkan ciuman mendadak.


Also, dengan rakusnya ******* bibir sang kekasih. Tak lupa melepaskan kancing kemejanya, ciumannya semakin agresif.


"Bang, berhentilah". Pinta Rania, melepaskan ciumannya. Nafasnya memburu sudah, gairah sudah memuncak.


Aldo, mengatur nafasnya yang memburu. Mengusap lembut bibir sang kekasih,yang basah akibat ciuman brutalnya. "Kenapa berhenti,sayang? Aku sungguh merindukanmu,".


"Huusssstttt...Aku juga bang,tapi aku ingin memberikan kado spesial untuk mu". Bisik Rania, melangkah kakinya ke arah laci.


Detak jantungnya berdegup kencang, akankah siap memberitahu tentang kehamilannya. Rania, berbalik badan dan tersenyum manis.

__ADS_1


Aldo,yang mendekati dan mengelus rambut Rania. Mata mereka berdua saling pandang, penuh dengan cinta.


"Ini adalah kado untuk mu, sangat spesial".Rania, memberikan 1 kotak hadiah di atasnya sebuah fita berwarna merah.


__ADS_2