
"Mbak,kita memiliki suami sama. Apakah to bisakah, mengurusnya sama-sama". Akhirnya Shania, berani bersuara.
"Eee.... Sudah mulai berbicara, aku kira kamu bisu loh". Ledek Rania, tersenyum smrik.
"Rania,aku mohon kepadamu. Jangan membuat keributan lagi,ayo kita masuk kedalam rumah". Kata Fahri, melemahkan suaranya.
"Mas,apa kamu lupa ha? Sampai kapan pun, tidak sudi gundikmu masuk kedalam rumah ku. Ingat itu,mas. Lalu,apa masalahnya ha? Kita berbicara di teras,bilang aja kamu malu. Itu sudah resiko mas,menikah lagi. Masih untung ibu-ibu lainnya, tidak menjambak rambut gundikmu ini". Rania, menunjukkan jarinya ke wajah Shania.
Fahri, mengusap rambutnya ke belakang. Malu itulah yang di rasakannya,banyak sepasang mata tertuju kepadanya.
"Mas ayo, kita pulang saja. Mbak Rania, membenci kedatangan kita". Shania, tidak tahan di permalukan lagi.
"Pergilah mas, ikuti perintah gundikmu ini. Kalau mau kesini,jangan lagi bawa dia. Jijik aku, melihat kalian berdua". Kata Rania, tersenyum smrik. "1 lagi mas, sampai kapan pun. Aku tidak mau mengubah perjanjian kita,jika tidak mau. Silahkan talak aku, sekarang juga".
"Cukup! Sampai kapan pun,aku tidak akan menceraikan mu". Teriak Fahri, matanya memerah manahan amarahnya.
"Mas...". Shania, melonjak terkejut mendengar teriakkan suaminya. Sudah pasti menjadi pusat perhatian, orang-orang sekitar.
"Ck, terserah kamu mas. Sana pergilah, bawa pelakor di samping mu itu". Rania, menatap sinis ke arah madunya.
"Ayo, kita pulang. Dasar istri durhaka kamu, Rania. Sore nanti barang-barang ku,akan di kirim ke sini. Karena tempa tinggal Shania, sempit. Tolong bereskan semuanya nanti,jangan ngelunjak seperti kemarin".
"Hahahaha....Aduh mas, istri kamu ini memang beban. Aku heran sekali dengan mu,mas. Menikah dengan seorang wanita,jauh beda dengan ku. Apa sih,yang kamu lihat dari gundikmu ini. Jika barangmu nanti datang,palingan aku buang atau di sumbangkan. Jijik sekali aku, menyentuh dan membereskannya". Jawab Rania,ogah membereskan milik suaminya itu.
"Astaga Rania! Lalu,apa gunanya kamu jadi istri ha? Apa-apa tidak mau, menuruti perintah ku. Oh,apa kamu ingin sekali. Aku tidak belanja bulanan, untuk makanmu sehari-hari ha? Mau seperti itu,". Fahri, benar-benar geram kepada istri pertamanya.
"Benar mas, berikanlah dia pelajaran. Bulan ini,jangan belanja bulanan untuk mbak Rania. Rasakan itu,gak bisa makan apapun,". Shania, langsung ikutan.
"Silahkan mas, lakukanlah hal itu. Tanpa belanja bulanan mu,aku tidak mati kelaparan nantinya. Apa kamu lupa,aku anak siapa?". Kekehnya Rania, memainkan rambutnya. Lakukanlah mas, sampai 3 bulan. Jika itu yang kamu lakukan,maka jatuh talak 1.
__ADS_1
"Aaaarrgghh....Awas kamu, Rania. Jangan macam-macam kamu, apa lagi meminta uang kepada papah. Dimana letak harga diri, sebagai seorang suami". Bentak Fahri, rahangnya mengeras seketika.
"Resiko mas,karena kamu tidak mau memberikan nafkah uang. Jadi siap-siap saja, melawan papahku. Oh,apa lagi orangtuamu tidak dapat kepercayaan lagi. Papahku, sudah terlanjur kecewa dengan mereka". Kata Rania, duduk santai di kursi.
"Hahahaha.....Hahaha...".
Tetangga Rania, tertawa terbahak-bahak. Mereka semua menonton pertikaian mereka, Rania malah senang melakukan hal ini.
Dengan hati kesal, Fahri dan Shania meninggalkan perkarangan rumahnya.
ibu-ibu lainnya, memuji keberanian Rania. Tidak mau kalah dengan suami dan istri barunya.
***************
Shania, menghempaskan bokongnya di sofa. Wajahnya berubah menjadi masam, matanya melirik tajam ke suami. "Lihatlah apa yang dilakukan,mbak Rania? Dia sudah mempermalukan kita,masih mau mempertahankan hubungan kalian".
"Iiissshhh.... Menyebalkan sekali, mbak Rania. Aku yakinkan sekali, orang kantoran pasti mengetahui tentang kita. Terus,mau jawab apa mas?". Shania, kebingungan jadinya. Sudah pasti tim kerjanya, mengolok-olok dirinya sebagai pelakor.
"Itu semua resikonya, Shania. Bukankah,kamu meminta untuk di nikahi ha! Apa lagi membuat acara pernikahan segala, Sok-sokan cuman akad nikah. Nyatanya tersebar juga,aku kira cuman nikah di KUA. Langsung beres lalu,aman juga". Gerutu Fahri, sudah pasti mendapat teguran dari atasannya.
"Mas kan tahu,aku anak satu-satunya. Mana mungkin kedua orangtuamu, mengadakan acara cuman sederhana. Apa kata orang-orang sekitar,mas?". Jawab Shania, kepalanya nyut-nyutan memikirkan masalah ini.
Baru saja menikah 3 hari, kepalanya hampir pecah. Selalu ada masalah dan masalah,belum lagi mengerjakan tugas rumah dan lainnya.
*************
Rania, menyantap 1 bungkus nasi kuning. Pagi-pagi Aldo, membelikan untuknya.
"Makasih bang, sudah membelikan aku nasi kuning". Ucap Rania, tersenyum manis.
__ADS_1
"Hmmmm... Jangan lupa di makan, menghadapi kehidupan di awali sarapan. Bukan harapan, Rania". Kekehnya Aldo, tersenyum manis.
"Iiissshhh...Bang Aldo,bisa aja". Rania, menjadi malu-malu kucing.
"Nah,apa yang di katakan nak Aldo memang benar. Apa lagi kehidupan mu, Rania. Sungguh aku tidak sanggup,". Sahut bu Etty.
Saat ini Rania, tengah bersantai dengan ibu-ibu lainnya. Kebetulan sekali, Aldo ingin membeli sebungkus nasi kuning. Lalu,dia membelikan 1 untuk Rania.
"Hehehehe.... Bakalan aku habisin ini, palingan cuman sebentar lagi. Pastilah suamiku datang ke sini,". Kekehnya Rania.
"Suami seperti itu,gak perlu di ladeni Rania. Semakin kamu ladenin,dia semakin ngelunjak. Aku yakin sekali, suamimu sudah di cuci otaknya oleh pelakor itu". Timpal bu Yanti.
"Tenang saja, ibu-ibu. Masih banyak stok sabar,hehehe...". Kata Rania, pamit pulang dan menikmati nasi kuning pemberian ayang.
Sesampai di dapur, Rania langsung menyantap makanannya dengan lahap. Aldo, tidak bisa ikut makan bersama. Karena dia, buru-buru berangkat ke kampus dan mengajar.
"Enak sekali kamu, Rania. Selagi ini, sudah sarapan. Nasi kuning lagi,siapa yang memberikan mu uang?". Fahri, tidak menyukai istrinya berbelanja tanpa sepengetahuan darinya. Apa lagi, tidak menggunakan uangnya.
"Kamu nanya,mas?". Rania,bodo amat dengan tatapan tajam suaminya.
"Rania,aku ini suamimu. Katakan sejujurnya, darimana uang untuk membeli nasi kuning ini ha? Jangan macam-macam dengan ku,". Fahri, langsung mencekram lengan istrinya.
Rania, langsung menghempaskan tangan suaminya itu. "Apa kamu lupa,aku anak siapa? Sudah Pastilah,aku memiliki uang yang banyak".
"Astaga, jangan bikin malu Rania? Sudah cukup masalah aku menikah lagi, sekarang menambah masalah lagi. Apa kamu puas, melihat ku mati karena banyak pikiran". Dada Fahri,naik turun sudah.
"Alhamdulillah,aku senang sekali. Jika suamiku mati, tidak perlu mengurus surat perceraian. Malahan aku, mendapatkan uang hasil melayat jenazah mu mas". Rania, tersenyum sumringah.
"Aaarghhh.....Kamu!". Fahri, ingin sekali mengacak-acak wajahnya Rania. Akan tetapi,di urungkan niatnya. Karena Rania, sudah mengangkat tangan ada pisau tajam mengkilat.
__ADS_1