Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Pilihan


__ADS_3

Pak Giro, menodongkan pistol kepala Rania di bagian belakangnya. "Berhenti berjalan,atau aku tembak". kata pak Giro, dengan pelan.


Rania,yang sudah diselimuti rasa takut dan berhenti berjalan. Tidak aku, harus menuruti perintahnya. Rania, kamu tenang dan jangan gegabah. Semua ini demi anakmu,jangan melakukan kesalahan.Batin Rania, mengingat buah hati di dalam perutnya.


Aldo dan pak Harto, sontak terkejut melihatnya.


Seorang ayah,mana mungkin melihat anaknya tersakiti.


"Ayah....!". Aldo,syok berat melihat sang kekasih di genggaman ayahnya


"Tidaaaakkkk....Jangan tembak anakku, tolong lepaskan dia. Aku mohon Giro,". Teriak pak Harto, menggeleng kepalanya.


Air bening mengalir di kedua pipinya, seorang ayah tidak tega kehilangan anaknya.


"Papah...!". Lirih Rania, terduduk lemas. Pak Giro,masih menodongkan pistol kepadanya.


"Maafkan papah,nak. Maaf,". Kata pak Harto,tak berani memandang wajah anaknya.


"Aku tidak bisa menyalahkan papah,demi kebahagiaan keluarga dan memberikan kehidupan layak. Papah, rela melakukan pekerjaan haram ini. Maafkan Rania,pah. Tidak pernah memikirkan tentang papah,yang selalu mementingkan kebahagiaan keluarga". Kata Rania, tertunduk.


"Tidaaaakkkk.... Semua ini, salah papah nak. Maafkan papah, pergilah dari sini. Papah, sangat yakin sekali. Mereka akan membebaskan mu,". Pinta pak Harto, menoleh ke arah Aldo.


"Bang Aldo,kenapa berbohong kepadaku? Sudah sejauh ini,aku baru mengetahuinya. Alasannya apa,bang?". Rania, membuka suaranya untuk sang kekasih.


"Ini pekerjaan ku, Rania. Siapapun, tidak pernah tau dan termasuk kamu". Jawab Aldo, dengan tegas.


"Aku akan membebaskan diri mu. Asalkan kamu, tidak pernah mengusik kehidupan Aldo". Tegas pak Giro, menekan pistol di kepala Rania.


"Ayah, jauhkan pistol di kepala Rania". Pinta Aldo, dengan wajah gelisah.


"Diam kamu, Aldo. Atau aku pecahkan kepala mantan kekasih mu ini, ingat janji mu". Bantak pak Giro, menekan pistolnya lagi. "Aku akan membebaskan mu, Rania. Asalkan kalian berdua berpisah dan tidak menjalin hubungan lagi".


Rania, mendongakkan kepalanya dan tersenyum smrik. "Ini adalah terakhir kalinya,kita saling bertemu dan berbicara". Rania, tiba-tiba mengeluarkan pistol di pinggang dan menembak.


Dooorrr ... Doorrr...Dorrr...


"Raniaaaa....". Teriak Aldo, terkejut dengan keberaniannya.


"Aaaakkhh...Aaaa...Aaa..". Pak Harto,menjerit kesakitan dan tak bernafas lagi.

__ADS_1


Aldo dan lainnya, tidak percaya dengan tindakan Rania. Dia menembak ayahnya sendiri,hingga tewas!.


"Aaaaaaaa......". Teriak Rania, sekeras mungkin. Dia melakukan hal ini, demi membalaskan dendam atas kematian ibunya.


Kematian sang ibu,bukan karena takdir. Melainkan ayahnya sendiri, membunuhnya. Ketika sang ibu, mengetahui pekerjaan ayahnya dan ingin melaporkan ke pihak berwajib. Akan tetapi,pak Harto langsung mencegah dan mencekiknya. sampai sang istri,tak bernyawa lagi.


Setelah menembak ayahnya, Rania berjalan ke pintu luar. Tidak ada satupun yang mencegahnya, termasuk pak Giro dan Aldo.


Aldo, memandang iba kepada Rania yang menangis penampilan acak-acakan, bagaimana nasip anak mereka yang masih di dalan kandungan Rania.


"Suatu hari nanti,jika kita bertemu secara tidak sengaja. Anggap saja kita, tidak pernah saling kenal". Ucap Rania, menghilang dari balik pintu.


Aldo, meneteskan air matanya dan mengepalkan kedua tangannya. Ada rasa sesak di dada, ingin memeluk erat tubuh Rania. Sesosok yang selalu di rindukannya, setiap detik itu. Aldo,luruh ke bawah dan bertumbuh pada lututnya.


Mengingat kembali tentang janji ayahnya, mengurungkan niatnya dan membiarkan Rania pergi. Aldo,mengusap wajahnya ke belakang dan membenci dirinya sendiri.


Beberapa menit kemudian, seluruh markas penyeludupan benda haram itu. Hangus terbakar bersama anak buahnya,pak Harto. Teriakan meminta tolong, terdengar nyaring, lama-kelamaan menghilang. Kobaran api, menyelamatkan nyawa mereka semua.


*****************


Ceklekk.....


Dia membersihkan dirinya, tidak ada tangisan lagi. Sekarang dia,membuka lembaran baru.


Rania, menghilangkan jejak tentang Aldo. Membakar kenangan indah bersama, ponselnya di hancur berkeping-keping. Berjanji tidak akan pernah, mengingat sesosok pria itu.


Setelah selesai, Rania meringkuk di atas ranjang. Air matanya mengalir deras, meratapi kepergian orang yang di sayanginya.


************


1 minggu kemudian , Rania menjual hotel milik orangtuanya dan membagikan kepada sang adik. Dia sering diam dan tidak banyak bicara.


Dahlia,yang masih terpukul apa yang terjadi menimpa di keluarganya. Mencoba sabar dan ikhlas. Mengikuti perkataan yang di katakan oleh, Rania.


Rania, menjelaskan semuanya dan memperlihatkan CCTV dan buku diary sang ibu.


Cctv yang memperlihatkan adegan sang ayah, membunuh ibunya dan percakapan selama ini di rahasiakan antara kedua orangtuanya.


Mereka berdua berjanji, untuk menjalankan hidup masing-masing. Rania,akan pindah kota dan berniat untuk membuka usaha sendiri.

__ADS_1


Sedangkan Aldo, diam-diam memperlihatkan Rania dari kejauhan. Enggan untuk menemuinya, karena Rania terlanjur membencinya.


Suatu hari, Aldo melihat keanehan di kediaman Rania. Rumahnya sangat sepi dan di gembok.


Di sinilah Aldo, kehilangan jejak Rania. Baginya sangat mudah untuk menemui Rania, tetapi dia membiarkan begitu saja. "Maafkan aku, Rania. Semoga saja,anak kita tumbuh sehat dan cantik seperti dirimu. Maafkan aku, tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak akan mencari keberadaan mu,demi kebaikan bersama. Aku yakin sekali, suatu hari nanti. Kamu akan di pertemukan, seorang pria yang sangat mencintaimu dan menjagamu". Gumam Aldo, memutar setir mobilnya dan meninggalkan kediaman Rania.


Aldo,bukan pria bejat yang meninggalkan seorang kekasih tengah hamil muda. Tetapi,demi keselamatannya dari genggaman ayahnya. Jika terus-menerus melawan ayahnya,sama saja kehilangan Rania dan anaknya.


***************


Semua warisan dari orangtuanya, sudah laku terjual. Waktunya Rania, pergi dari kotanya dan pindah ke kota lain.


Menempuh perjalanan 6 jam, menyetir mobil sendiri. Tanpa ada sopir pribadi,karena dia ingin melakukan sesuatu dengan sendirinya.


Rania, tersenyum sumringah dan matanya tertuju pada sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Rumah yang di impikan selama ini, membina rumah tangga harmonis. Namun kali ini, sangatlah berbeda dengan yang di impikannya.


"Selamat datang di rumah baru kita, sayang". Kata Rania,mengelus rambut perutnya


"Wahhhh... Sudah datang, tetangga baru kita". Ucap seorang wanita,yang keluar dari rumah.


"Eee...Iya,bu". Jawab Rania, tersenyum.


"Panggil saja bu Yati,ini anakku namanya Tama". Bu Yati, memperkenalkan diri dan anaknya.


"Oh, panggil saja Rania". Kata Rania, mengangguk kepala. Mata Rania, tertuju kepada anak bu Yati. Yang masih berseragam sekolah. Tersenyum manis dan memperlihatkan lesung pipinya.


"Kakak,mana suaminya?kok sendirian aja,bawa koper cuman dua". Kata Tama, sepertinya dia pria ceplas-ceplos.


"Tamarin,jaga omongan mu itu. Jangan asal berbicara aneh-aneh, maafkan anakku nak Rania". Pak Yati, langsung melototkan matanya ke arah sang anak.


"Tama Saputra,bu. Bukan Tamarin,". Sungutnya Tama, dengan wajah cemberutnya.


Rania, tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa,bu. Aku seorang janda, sudah bercerai 2 bulan yang lalu. Ada kok buktinya,". Rania, tersenyum manis.


"Ya sudah,kamu istirahat dulu. Satu lagi,jangan di ladeni anakku ini. Kerjaannya cuman bikin rusuh aja". Kekehnya bu Yati,di angguki Rania.


Rania,masuk kedalam rumah barunya dan merasa nyaman sekali. Pikirannya plong,tanpa ada beban yang berat.

__ADS_1


__ADS_2