
"Rania, bantu aku siap-siap. Mana mungkin mempelai pria, datangnya terlambat. Kamu sih,kenapa gak bangunin aku pagi-pagi? Apa sih, kerjaan kamu?".
Fahri,bangun jam 6 lewat. Itupun dia,belum bersiap-siap untuk pergi ke rumah orangtuanya Shania. Beberapa panggilan telepon masuk,yang tak sempat di angkat Fahri.
Rania,bodo amat dengan suaminya itu. Malah dia senang, melihat dang suami gelabakan.
Fahri, mengenakan kemeja berwarna putih dan celana panjang hitam. Tak lupa peci hitam,di atas kepalanya.
"Bagaimana Rania, penampilan ku saat ini? pasti kamu terpesona,kan!". Fahri, memainkan kedua alisnya turun naik.
Rania, menyunggingkan senyumnya. Menatap suaminya,mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku bakalan terpesona,mas. Jika bang Aldo, tapi ini kamu. Pengen muntah rasanya,aku melihat.Batin Rania, tersenyum kecil. "Iya,mas". Jawabnya.
"Hahahaha....Benarkan apa,kataku. Jika kamu terpesona dengan ketampanan ku ini,mau cium boleh kok. Sebelum aku pergi ke rumah orangtunya,Shania. Beberapa hari ini,kita tidak bertemu. Tau sendirikan pengantin baru,mau bulan madu ke luar negeri". Kedip mata Fahri, dengan pedenya. Rasakan kamu, Rania. Aku yakin sekali,hatimu memanas karena cemburu.
Rania, tersenyum dan mengangguk. Sebisa mungkin memasang wajah sedihnya, seakan-akan dia terluka parah. Padahal Rania,tengah kegirangan karena tidak bertemu sang suami. Bisa jadi menghabiskan waktunya, bersama sang kekasih.
"Tenang saja, Rania. Setelah selesai bulan madu,aku akan pergi ke sini. Siapa tahu,butuh kehangatan dalam kerinduan mu". Kata Fahri, menyisir rambutnya ke samping.
Uwekkk....Dalam hati Rania, ingin sekali muntah yang sebenarnya.. "Gak perlu mas,karena di surat perjanjian kita. Aku tidak akan memberikanmu, nafkah batin. Yang ada aku jijik,mas. Takutnya kena penyakit menular,". Tolak Rania, tersenyum smrik.
"Ya sudah,kalau tidak mau. Gak masalah bagiku, karena ada Shania melayaniku". Sahut Fahri, dengan entengnya.
"Bagus,mas". Rania, mengacungkan jempolnya. "Ingatlah perjanjian kita,jatahmu ke rumah ini cuman 3 jam. Itupun di kala siang hari,".
"Iya,aku ingat kok. Malah bagus lagi,aku banyak waktu bersama istri baruku". Fahri, melirik sekilas ke arah istrinya. Ada rasa janggal dengannya,kenapa Rania tidak sedih? Biasanya melihat suami menikah lagi, sudah pasti istri sah meraung-raung menangis. Bahkan ada mogok makan, melabrak pelakor. Sedangkan Rania,dia santai-santai saja. Malahan memberikan jatah waktu, lebih banyak untuk madunya.
"Kenapa bengong,mas? Cepat sana pergi, nanti di kira Shania gak jadi akad nikah". Rania, membuyarkan lamunan suaminya.
__ADS_1
"Eee...Iya,iya. Pulang jangan malam, Rania. Kabari aku jika kamu ada di rumah,biar aku gak was-was. Salam dulu sama aku nih,jangan kangen yah." Fahri, mengulurkan tangannya.
Dengan lemah lembut, Rania mencium punggung tangan suaminya. "Hmmm...Aku doakan semoga acaranya lancar,tanpa ada hambatan apapun". Rania, ekspresi biasa saja. Seakan-akan tidak ada masalah apapun,karena dia tidak mencintai sang suami.
Duh...Gimana caranya,aku berekspresi sedih. Ini semua demi meyakinkan perasaan,mas Fahri. Batin Rania, berpura-pura menghapus air matanya dan memalingkan wajahnya.
Tentu saja, Fahri berpikir macam-macam. Ck, pura-pura tidak sedih. Bisa saja,aku pergi ini kamu menangis meraung-raung. Batin Fahri, melirik ke arah istrinya.
Rania, mengantar suaminya ke depan pintu mobil. Melambaikan tangannya, seperti seorang patah hati.
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar oleh, Rania. Akan tetapi,tak di hiraukan olehnya.
"Yes...Mau jalan-jalan dan shopping dulu,buat apa nangis-nangis gak jelas. Mendingan bawa happy,". Gumam Rania, langsung berisap-siap untuk pergi.
Beberapa menit kemudian, taksi online sudah datang. Barulah Rania, keluar dari rumah.
"Heran sama kamu, Rania. Mau-maunya punya madu kalau aku,sih ogah". Sahut ibu lainnya.
"Coba saja aku, seperti dirimu. Behh... Bakalan aku hajar habis-habisan,atau mengusak acaranya". Kata bu Selma.
"Bener banget, sedangkan kamu santai-santai aja. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa, segitunya kah kamu mencintaimu suamimu?". Tanya bu Tutik.
Rania, melempar senyuman termanisnya. "Hahahaha.... Ngapain juga sedih-sedih,bu. Sekarang aku mau shoping dan jalan-jalan. Malas sekali meladeni pelakor itu, buang-buang tenaga aja".
"Nah,benar kata Rania. Buat apa juga,membuang energi dan waktu. Nyatanya sang suami tetap menikah, mendingan refreshing untuk membuang pikiran". Bu Rt, langsung menyetujui perkataan Rania.
"Asalkan uang bulanan tercukupi yah, Rania". sambung ibu, lainnya.
__ADS_1
Para tetangganya tidak tahu menahu soal rumah tangga,Rania. Selama menikah dengan Fahri,mana pernah memegang uang bulanan.
"Permisi dulu,mau refreshing membuang stress". pamit Rania, langsung masuk kedalam mobil.
Rania,sengaja pergi jauh untuk menghindari mata-mata suaminya. Sudah pasti sang suami, tidak memberikan kebebasan kepadanya.
Tepat di sebuah mall, Rania turun dari mobil. Benar saja,ada mobil yang mengikuti dirinya. Melenggang masuk ke dalam mall,lalu berbelanja pakaian. Setelah selesai, barulah ke kamar mandi untuk bergantian pakaian.
Penyamaran sudah selesai, Rania bergegas meninggalkan mall dan masuk kedalam mobil Aldo.
"Fiuuhhh.... Untuk saja aku,cerdas. Sudah aku katakan,jika suamiku tidak akan membiarkan ku bebas". Ucap Rania,melepas topi.
"Baguslah jika mereka kehilangan jejak mu,aku yakin sekali sayang. Suamimu itu, bakalan gelisah tak karuan. Sudah pasti merusak mood istri barunya,malam pertama yang gagal". Kekehnya Aldo, mengelus rambut Rania.
"Hmmmm...Biar tau rasa,bang. Ck,malam pertama dari hongkong. Sudah pasti mereka berdua, seringkali begituan. Aku pernah melihat ada jejak yang di buat Shania,di tubuh suamiku. Sejak saat itu,aku enggan melayaninya". Ucap Rania, teringat jejak di tubuh suaminya. Membuat dirinya jijik dan muak, selalu memberikan alasan kuat.
"Benarkah, jadi sudah lama tidak melakukan itu?" Tanya Aldo, tersenyum smrik.
"Eee....Itu,hmmmm...Kita mau kemana?". Rania, mengalihkan pembicaraan mereka.
"Tenang saja,aku akan membawa mu ke tempat yang indah. Sumpah! Aku benar-benar nekad melakukan ini,membawa istri orang. Apa lagi tetangga ku sendiri,". Kekehnya Aldo, menggenggam jemari tangan Rania.
"Sama,bang. Aku senekat ini, bermain api di belakang suamiku sendiri. Sungguh mengerikan,apa yang kita lakukan". Rania, menggeleng kepalanya. Sejujurnya dia masih tidak percaya,apa yang di lakukan.
"Bercerailah, Rania. Selepas masa idah,aku akan menikahi mu". Mendengar ucapan Aldo, sontak membuat Rania terkejut. "Kenapa,kamu tidak percaya? Aku janji Rania, tidak akan melepaskan diri mu lagi. Sudah cukup 1x aku kehilangan dirimu,kali ini tidak."
Rania, memalingkan wajahnya dan berpikir sejenak. "Berikan aku waktu,bang. Ada sesuatu yang aku rencanakan, maaf".
__ADS_1
"Baiklah, Rania. Aku akan menunggumu, sampai kapan pun". Aldo, mencubit pipi sang kekasih. Tidak memperdulikan,jika kekasihnya adalah istri orang.