
Rania, semakin mengantuk mendengar ocehan mertuanya. Entah, sampai kapan selesai? Sudah ingin berleha-leha di atas ranjang. "Bu,mas Fahri gak ada di sini. Kalau menemuinya, silahkan ke rumah pelakor itu".
"Kami tidak mencari, Fahri. Tetapi,kami mencarimu karena ada urusan". Jawab pak Eko, sedikit kesal dengan menantunya. Beruntung sekali,sang istri tidak bertanya-tanya lagi.
"Terus,ada perlu dengan ku. Waw...!Tumben sekali,pak,bu". Kekehnya Rania, tersenyum kecil.
"Sebenarnya,ibu dan bapak mau meminta bantuan kepada mu. Berharap kamu bisa membantu kami,karena kami masih mertua mu". Kata bu Marni, berharap sang menantu membantunya.
"Eee... Meminta bantuan, kepadaku? Gak salah nih,". Rania, terheran-heran mendengarnya. Merasakan hawa tak enak jadinya.
"Rania,bahan bangunan kami sudah menipis. Jadi,kami membutuhkan modal usaha. Tolonglah, bantu kami". Pinta pak Eko, dengan suara pelan.
"Loh, bukankah papah sudah memberikan modal dan lumayan besar. Lalu,hasil jualan dan keuntungannya mana? Masa gak ada, jangan-jangan untuk urusan lain". Rania, terkejut mendengarnya. Mereka kemanakan ujungan hasil penjualan,yang di modali papahnya.
"Rania,kamu kan tahu. Hasil penjualan bahan bangunan, sudah pasti untuk kebutuhan sehari-hari. Cuman itu, mata pencarian kami untuk bertahan hidup". Sahut bu Marni, dengan tatapan sinis.
"Hasil penjualan keuntungannya,pastilah banyak.Sebisa mungkin untuk putar modalnya. Maka dari itu ,jangan suka menghamburkan uang segala. sekarang malah gelabakan jadinya. Mentang-mentang di modali oleh papah, tapi mau memanfaatkan kebaikannya". Decak Rania, tersenyum manis.
"Menantu kurang ajar kamu, percuma memiliki menantu kaya. Tetapi, sangat pelit kepada kami! Ck,awas kamu Rania". Bentak bu Marni, emosi meluap-luap sudah.
"Minta saja dengan, mas Fahri. Atau dengan gundiknya itu,ck. Coba saja jangan cari gara-gara, kemungkinan kalian enak-enak menikmati kebaikan papah". Sindirnya Rania,tiba pak Eko menghidupkan sebatang rokok. Ada rasa mual, perutnya seperti di aduk-aduk. Saat mencium aroma rokok, yang dihisap oleh bapak mertuanya.
"Ueekkk...Ueekkk..." Rania, langsung berlarian menuju ke arah dapur.
Sontak membuat bu Marni, terkejut mendengar menantunya mual-mual. "Rania, mual-mual pak. Apa jangan-jangan, menantu kita hamil. Ini berita bagus pak, otomatis Fahri dan Rania tidak bisa bercerai". Senyum smrik terpampang di sudut bibirnya.
Uuuekk.... Uueeekk....
"Astaga,kenapa perutku mual-mual". Gerutu Rania, terasa lemas tubuhnya.
"Rania, kamu gak papa? Kok, mual-mual. Apa jangan-jangan, kamu hamil? Ayo,kita cek sekarang". Bu Marni, menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Mendengar ucapan ibu mertuanya, Rania memijit pelipisnya. "Hamil?Masa sih,jika aku benar-benar hamil. Anak ini Pastilah,anak bang Aldo. Aku yakin sekali ini,tapi tidak boleh diketahui oleh siapapun". Gumam Rania,bisa gawat nantinya.
__ADS_1
Ceklekk....
"Rania,pasti kamu hamil. Barusan kamu, mual-mual. Sekarang juga kita,harus cek kandungan". Bu Marni, nampak kegirangan jadinya.
"Aku sudah cek bu,kata bidan cuman masuk angin". Alibi Rania, seketika wajah ibu mertuanya berubah menjadi masam.
"Yahh.... Kirain kamu hamil,ibu sudah senang sekali. Jika kamu hamil pasti Fahri,akan menceraikan istri barunya". Kata bu Marni, tersenyum kecil.
"Mana mungkin aku hamil,bu. Sudah lama tidak berhubungan badan dengan,mas Fahri. Itupun hampir 2 bulan,kalau aku memang hamil. Palingan anak dalam kandungan ku, bukan anaknya. Perceraian pastilah,terjadi". Jawab Rania, biarkanlah berkata seperti itu.
"Alahhh...Ibu,mana percaya kamu selingkuh. Kamu Menantu ibu,yang baik" kekehnya bu Marni, mendekati menantunya.
"Iya,gak seperti anak ibu kan! Selingkuh di belakang ku, wanitanya bukan selevel dengan ku". Rania, tersenyum smrik dan kembali ke ruang tamu.
Bu Marni, mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali, menampar wajah menantunya itu. Seakan-akan dirinya, menyombongkan dirinya.
"Ya sudahlah,apa yang kamu katakan. Intinya kamu harus membantu ibu,kami membutuhkan modal usaha". Pinta bu Marni,lagi. "Jangan pelit sama mertua, Rania".
Sudah cukup ayahnya, membantu mereka selama ini. Nyatanya mereka, tidak tau diri dan terang-terangan menyakiti perasaan Rania.
pak Eko dan bu Marni, memutuskan untuk pulang ke rumah. karena usahanya, sia-sia saja. Dengan hati dongkol mereka berdua pulang dan meninggalkan perkarangan rumah menantunya.
************
"Apa iya,aku hamil". Gumam Rania, langsung pergi ke luar rumah. Mengunjungi bidan yang tidak jauh dari rumahnya,karena penasaran ingin di periksa.
Cukup lama Rania, berbicara dengan bidan bu Eka. Dia memang belum ada datang bulan, hampir 2 bulan.
Bu Eka,mulai mengecek perut Rania. Ekspresi wajah bu bidan, membuatnya gelisah dan was-was.
"Hmmmm... Sepertinya,kamu benar-benar hamil. Tapi, usia kandungannya kira-kira 3 mingguan ini. Kalau mau akurat lagi, lebih baik USG. Lebih jelas lagi, Rania". Kata bu Eka, tersenyum.
Ada buliran air bening,jatuh di sudut mata Rania. Benarkah,dia memang benar hamil? Berharap ini, benar-benar nyata dan tidak mimpi.
__ADS_1
"Terimakasih,bu. Besok aku akan USG,". Raut wajah Rania terlihat senang dan tersenyum sumringah.
Setelah selesai, Rania pamit pulang ke rumah. Tidak sabar melakukan USG besok hari, sambil memegang perutnya masih rata.
Rania, langsung mengunci pintu rumahnya. Untuk melanjutkan tidur siang, matanya semakin mengantuk.
Dia menatap langit-langit kamarnya, memikirkan sesuatu. "Jika aku benar-benar hamil, berarti ini anak bang Aldo. Cuman dengannya aku, bercinta. Seandainya bang Aldo, meragukan anak ini. Yah... Tidak masalah sih, tapi bagaimana dengan mas Fahri? Aaaarrgghh....Aku harus merahasiakannya, sebelum mas Fahri mendatangani surat perceraian itu".
Tanpa berpikir panjang lagi, Rania memejamkan matanya dan larut dalam mimpi.
************
Rania, terganggu dalam tidurnya. Ada sesuatu yang aneh, merasakan ada sesuatu yang bermain di bawah sana.
"Hhhmmmpptt.... Ssshhhhttt...". Desis Rania,entah itu mimpi atau tidaknya. Tetapi, merasakan sesuatu yang nyata.
Rania, langsung sadar dan duduk. "Bang Aldo, astaga....". Dia syok berat,karena Aldo sudah melepaskan celananya.
"Kenapa bangun,hmmmm...? Tidurlah,lalu rasakan sensasinya." Bisik Aldo, langsung menyambar bibir ranum Rania.
"Aaahhh....Aaahhh... Hhhmmmpptt...". Des-ah Rania,ketika Aldo semakin mempercepat kocokan jarinya.
"Aaahhh....Aaahh... Ayo, mende-sah lah sayangku. Hhmmpp...." Racau Aldo, menyemangati Rania. Tak lupa melepaskan bajunya,dan bra.
Glekkk...
Aldo, langsung melahap dua melon silih berganti. Tangan satunya,masih aktif di bawah sana. Rania, menggeleng kepalanya dan menikmati permainan sang kekasih.
"Uuooghh....bang, hmmpptt....". rintih Rania, ingin di masukan oleh Aldo.
"Baiklah,aku akan melakukannya. Tidak sabar untuk menghujam tubuh indah mu ini, sayang. Kamu cuman milikku,hanya milikku". Bisik Aldo, sambil mengarahkan benda tumpul berurat itu.
"Aaahhh..... Sssshhhttt...". Benda tumpul berurat itu,masuk sepenuhnya di dalam. Aldo, merasakan miliknya di remas-remas nikmat. Membiarkan beberapa detik dulu,baru dia mempercepat gerakkannya. Sungguh gila, Aldo bermain-main dengan istri tetangganya. Selalu candu dan di rindukannya, setiap detik.
__ADS_1