
Rania dan Nick,keluar dari mobil. Matanya tertuju sebelah rumahnya, sebuah mobil Tama.
"Bunda,itukan mobilnya Om Tama". Nick, menunjukkan jarinya ke halaman rumah bu Yati.
"Iya,nak. Sepertinya mereka datang,atau berlibur ke sini". Jawab Rania, calingukan.
Tama,yang baru keluar dari rumah dan tersenyum sumringah. "Nick!". Lalu, menghampiri dan memeluknya.
Begitu juga bu Yati, keluar dari rumah tergopoh-gopoh. "Apa kabar Rania? Lama kita tidak bertemu,".
"Om sama nenek, ngapain ke sini lagi? Aku marah loh,sama kalian". Ketusnya Nick, melepaskan pelukan Tama.
"Astagfirullah, Nick! Jangan berbicara seperti itu, tidak baik nak. Maafkan mereka yah, sudah meninggalkan Nick. Lihatlah om Tama dan nenek Yati sudah datang kembali". Rania, membujuk anaknya.
"Sudahlah bund,aku mau mandi. Gatal-gatal habis main pasir bareng opa tadi". Nick, melongos melewati Tama dan bu Yati.
Rania,cengir kuda mendengar ocehan anaknya. "Oh, maafkanlah kelakuannya Nick. Dia masih marah atas kepergian kalian,maaf bu, Tama".
"Alahhhh... Itu pasti ajaran neneknya, biasalah orang kaya raya. Mana ada ucapannya yang benar,". Sahut bu Yati, langsung.
"Bu,jangan menuduh macam-macam. Kita yang salah sudah meninggal kan , Nick. Wajarlah dia marah besar terhadap kita,". Tama, langsung membantah perkataan ibunya.
"Ngomong-ngomong nih,kapan kalian datang? Maaf, apa kalian berlibur ke sini". Tanya Rania, penasaran.
"Dua jam tadi kak,kami akan tinggal di sini. Hehehehe.... pekerjaan di sana to cocok,jadi resign". Jawab Tama, berbohong.
__ADS_1
"Benar sekali, Rania. Malahan Tama, tidak memiliki pekerjaan apapun. Apakah bisa,mencarikan pekerjaan untuk Tama? Kalau dia tidak berkerja,mau makan apa kami? Pliss...". Bu Yati, meminta bantuan kepada Rania.
"Oh,soal itu gampang nantinya. Insyaallah, akan aku carikan pekerjaan untuk Tama. Kamu juga, berusaha mencari juga". Kata Rania, sebenarnya malas membantu bu Yati. Jika Tama, tidak memiliki pekerjaan. Sudah pasti di manfaatkan oleh mereka, sungguh memuakkan baginya.
"Terimakasih,kak Rania. Cuman kak Rania, bisa membantu ku". Kata Tama, tersenyum manis.
"Makasih banyak, Rania. Maaf,kami merepotkan kamu lagi". Sahut bu Yati, tersenyum."Tapi,kenapa rumah ibu jadi padam yah? Rumahnya kamu, hidup lampunya".
"Oh, sebenarnya petugas PLN untuk memutuskan aliran listriknya. Jadi bu Yati,isi listrik sendiri yah. Baru lampunya nyala,". Jawab Rania, tersenyum kecil.
"Apa? Kok bisa Rania,aisss...". Bu Yati, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Rania,merasa risih dengan tatapan Tama. "Tama, isikan token listrik untuk ibu. Mau kalian gelap-gelapan,hmmm...".
"Eeee ....Iya kak,". Jawab Tama,gugup sekali berhadapan dengan Rania. Karena dia, tidak bisa melupakan tetangganya ini. "Kak Rania, semakin cantik aja".
Tama, mengusap wajahnya dengan kasar. Pergi ke supermarket terdekat, untuk mengisi token listrik dan bahan sembako keperluan rumah. Tak lupa bu Yati, pergi mengikuti anaknya.
3 keranjang belanja,terisi penuh oleh bu Yati. Bahan dapur dan keperluan kamar mandi, semuanya pada habis belum lagi beras 1 karung.
Mata Tama, terbalalak melihat nominal struktur belanjaan yang mencapai 5 juta. Susah payah meneguk salivanya, mengusap tengkuknya dengan tangan.
Sedangkan uang pegangan cuman 50 juta, harus berhemat. Apa lagu belum mendapatkan pekerjaan,lalu menunggu gajih 1 bulan.
"Cuman segini barangnya, mencapai 5 juta. Ibu,kenapa gak minta sama Rania? Biasanya minta sama dia,tanpa mengeluarkan uang sebesar ini". Gerutu Tama, mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
"Bodoh! Kita baru datang loh, jangan seenaknya memeras dia sekarang. takutnya ketahuan tau, seperti dulu lah. Perlu berbulan-bulan pendekatan,sisanya gampang". Sahut bu Yati, membereskan belanjaan tadi.
"Sekalian bu,minta uang juga. Uang aku pasti berlahan-lahan menipis,mana gak ada pekerjaan lagi". Tama, kebingungan jadinya. Dulu saja dia memiliki pekerjaan bagus, tetap Rania tidak mau. Sekarang malah jadi kere, sudah pasti minder.
Tama, menyesali perbuatannya karena kehilangan pekerjaan. Berniat untuk pergi menghilang rasa cinta kepada, Rania. Malah uangnya hilang begitu saja, iming-iming dengan jabatan. Nyatanya perusahaan sudah di ujung kebangkrutan,menyesal karena tidak mengetahui dulu asal usul perusahaan tersebut.
"Aku harus memiliki kak Rania, walaupun tidak bekerja lagi. Uang tetap mengalir,tanpa kekurangan apapun. Kak Rania, memiliki supermarket besar dan ada cabangnya. Sudah pasti aku,di olok-olok teman sekolahan begini". Tama, mengusap wajahnya dan frustasi karena memikirkan uang.
Hari-hari Rania, selalu mengirim pesan kepada Aldo. Walaupun ceklist centang 1, berarti WhatsApp nya tidak aktif. "Kenapa aku serindu ini, kepadamu Aldo?". Gumamnya pelan, sambil menepuk bokong menidurkan anaknya.
Nick, tersenyum kecil. Ketika mendengar gumaman sang ibu, sudah pasti untuk memberitahu kepada papahnya nanti pulang.
Rania, beranjak dari tempat tidur. Tenggorokan terasa kering, menuju ke arah dapur. Matanya tertuju pada pintu belakang rumah,bu Yati. Mengendap-endap mendekati, sepertinya ada sesuatu yang di bicarakan ibu dan anak itu.
"Bu, pokoknya taruh obat tidur ke makanan kak Rania. Setelah itu,dia tak sadarkan diri. Ini adalah kesempatan emas, untuk melecehkannya untuk mengancam dia. Jika kak Rania, menikah dengan ku. Otomatis kita bakalan hidup enak,aku juga tidak capek-capek kerja. Cintaku Kepadanya, tidak bertepuk sebelah tangan. Karena kak Rania, menjadi milikku seutuhnya". Ucap Tama, merencanakan ide gilanya.
"Gampang Tama,ibu dukung perkataan mu. Dia belum tau, bagaimana memiliki mertua kejam. Ibu, benar-benar benci sama dia. Soal duit arisan,malah itung-itungan seperti itu". Bu Yati, tersenyum smrik.
"Setelah kak Rania,berada di genggaman tangan kita. Semua aset kekayaannya, harus jatuh ke tangan kita. Apa perlu kita usir dan mengubah dirinya gelandangan saja. Sok belagu sih,nolak cintaku mentah-mentah". Tama, sudah di selimuti amarahnya.
"Benar sekali nak,kamu bisa menikah dengan seorang wanita dan bukan janda seperti dia. Mana punya anak juga,kenapa kita gak kepikiran dari dulu? Huuu...Jadi nyesal, coba aja dari dulu Tam. Kemungkinan besar,kita hidup enak dan berlimpah kekayaan". Bu Yati,menghela nafas panjang.
Tama,juga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa baru sekarang,dia kepikiran?. "Tidak apa bu,ada kesempatan lagi". Kata Tama, tersenyum sumringah.
Rania,syok berat dan menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya luruh sudah, berusaha untuk tidak bersuara sedikitpun.
__ADS_1
mengetahui rencana busuknya Tama,dia bergegas ke rumah. "Apapun alasannya,aku tidak akan memakan pemberian mereka. Ini tidak boleh terjadi, bagaimana dengan Aldo? Aku tidak menduganya, mereka senekat itu. Ya tuhan, terimakasih atas pertolongannya. Sekarang aku tahu,apa rencana liciknya". Gumam Rania, langsung memusut dadanya.
Tak lupa Rania, menutup pintu belakang dan menguncinya dengan gembok. Takutnya mereka semakin nekat, langsung mengamankan aset-aset berharganya.