
"Orangtuaku sudah mengetahui anak kita,". Ucap Aldo,mencekal lengan Rania.
Rania, tidak menyangka jika dirinya bertemu dengan Aldo. Berani sekali menghalangi jalannya, ketika ingin pergi ke supermarket. Tubuhnya gemeteran sudah, mendengar ucapan Aldo. Dia memberitahu tentang Nick, jika keturunan Barreto. Tubuhnya melemas sudah tidak mampu membayangkan,jika anaknya di bawa dari genggamannya.
"Terserah,aku tidak perduli Aldo. Yang jelas aku tidak ada hubungannya dengan kalian, lepassss..!". Rania, memberontak terhadap Aldo.
Namun apalah daya, kekuatan Aldo jauh lebih besar di bandingkan dirinya.
"Aku sudah menceraikan Rossa,kita harus menikah". Lagi-lagi Aldo, memaksakan kehendaknya. "Keluargaku akan menemui mu, membicarakan tentang cucunya. Kau tidak berhak melarang mereka untuk bertemu,karena Nick ada hak ku".
"Tidak mau,aku tidak bisa menikah dengan mu. Aku sangat membencimu, Aldo! Lepassss...! Jangan seperti ini,". Tegas Rania, tangan sudah memerah karena cengkalan tangan Aldo. "Masalah keluarga mu,aku mengijinkan mereka bertemu. Asalkan jangan di bawa ,karena Nick kehidupan ku Aldo. Jika aku tidak mengenang Nick,di saat kehamilan ku. Lebih baik aku mengakhiri hidupku sendiri,karena kamu sudah menghancurkan segalanya".
Aldo, dengan sigap menahan tangan Rania ke atas kepalanya. Lalu, menghimpit tubuhnya di mobil. Rania, tidak bisa berkutik apapun lagi. Memalingkan wajahnya,agar tidak bertemu dengan wajah Aldo.
"Mau tidak mau, kita harus menikah. Apa kamu menginginkan Nick, tidak memiliki sesosok ayah ha? Pikirkan perasaannya". Kata Aldo,gemes terhadap Rania. " Papahmu, memang pantas di hukum mati. Karena dia sudah menghancurkan negara ini,pikir Rania! Jangan lupa papahmu, melawan negara atas benda haram itu".
"Aku akan mencarikan dia, sesosok ayah. Tetapi,bukan dirimu". Bentak Rania, dengan tatapan tajam. Mulutnya kelu tak bisa berkata apa-apa lagi, ayahnya memang salah besar.
"Tidak akan aku biarkan itu terjadi, Rania. Kamu cuman milikku seorang,paham!". Aldo, menyeringai tajam. Dagu Rania,di cengkraman kuat. "Aku tidak perduli, dengan yang lainnya. Kau paham perkataan ku,".
"Aaaakkhh.... Jauhkan tanganmu, Aldo. Lepassss....! Aldo, Hentikaaaan...!". Rania, berteriak-teriak karena Aldo mencium lehernya dan tangannya menelusuri lekuk tubuh Rania. "Kau sangat posesif terhadap ku,Aldo. Jangan menuruti egois mu, aku tidak mau bersamamu lagi".
Buughhh.....
__ADS_1
"Brengseeekk...!". Tama, langsung membantu Rania. Entah kenapa, tiba-tiba di Kepikiran untuk pulang lebih awal. Matanya tertuju kepada dua orang,yang bertengkar di pinggir jalan sepi. Semakin dekat, ternyata Rania. Tama, langsung gelabakan jadinya. Bisa jadi Rania,di rampok oleh seseorang.
"Kau...Sialan!". Aldo, langsung menyerang Tama membabi buta. Seorang anggota militer, sangat mudah mengalahkan Tama.
Terjadilah pertikaian antara mereka, Rania kalang kabut untuk melerai mereka berdua.
"Hentikaaaan....! Aldo! Tama! Hentikaaaan..!". Rania, melindungi Tama yang tersungkur di semak-semak. Darah segar mengalir di sudut bibirnya, sudah pasti kalah dengan Aldo.
"Aaakkhh...". Tama,meringis kesakitan. Sialan,aku kalah dan mengecewakan perasaan Kak Rania.
"Rania! Menjauhlah dari pria ini,dia ingin memisahkan kita". Aldo, menarik lengan Rania.
Lagi-lagi Tama,mencekal lengan Rania satunya. Dia tidak rela melihat Rania, bersama pria lain. Tetapi,dia kebingungan karena pria di hadapannya kenal dengan Rania.
"Rania,ingat anak kita". Teriak Aldo,sontak membuat Tama kebingungan jadinya.
"Anak kita? Maksudnya apa,kak". Tanya Tama, penasaran. Anak? Apa-apa ini ha,apa yang di katakan anak pak Giro? Apakah ada sesuatu yang di sembunyikan,kak Rania.
"Aldo,jangan berkata apapun. Aku bisa menjelaskan semuanya, pergilah. Aku mohon, Aldo". Pinta Rania,memelas. Ya Tuhan,jangan sampai Tama salah paham. Lantas bagaimana aku menjelaskan nanti? Sial.
"Asalkan kamu tahu,bocah. Nick, anak ku dan Rania. Walaupun kami tidak menikah, tetapi pernah saling menghangatkan. Aku membuat Rania,terus mende-sah di bawah Kungkungan ku. Sangat puas atas servis,yang aku berikan. Kau,mana mampu bocah". Ucap Aldo, tersenyum smrik.
"Apa? Katakan kak,itu bohong,". Tanya Tama, menggeleng kepalanya dan masih tidak percaya. Sungguh terkejut mendengar ucapan, Aldo. Matanya tertuju kepada Rania,yang diam membisu.
__ADS_1
"Hahahaha....Kenapa diam, Rania? Apa kamu tidak melihatku betul-betul,bocah! Aku dan Nick, sangat mirip. Nick, cucu tunggal pemilik perusahaan Barre. Tempat kamu bekerja, bocah". Aldo,puas membongkar rahasia Rania. "Sebelum Rania, bercerai dengan suaminya. Aku dan dia, bermain-main sampai hamil dan lahirlah seorang Nick".
Aldo, sengaja berkata seperti itu. Karena ingin membuat Tama, membenci Rania. Ini adalah kesempatan emas, untuk mendapatkan Rania.
"Tama,aku bisa jelaskan semuanya". Tangan Rania, langsung di tepis oleh Tama. "Aku mohon,apa yang di katakan olehnya memang benar. Tetapi,dia malah pergi dan menuruti perkataan ayahnya. Aku mohon,jangan membenci ku". Pinta Rania,air bening mengalir deras di kedua pipinya.
"Aku benar-benar kecewa dengan mu, kak. Jangan sentuh aku, tidak menyangka sifat kak Rania seperti itu. Kenapa tidak jujur,kak? Apa salah aku dan ibu,selama ini rupanya kami di bodohi. Kak Rania bilang,jika Nick anak mantan suaminya kakak. pantesan sekali,aku tidak asing dengan wajah Nick. Selama ini, kebaikan kami di manfaatkan olehmu saja". Tama, langsung pergi meninggalkan Rania yang sudah menangis kesegukan.
"Aldo,kamu puas ha! Puasss..!". Rania, mendorong tubuh Aldo dengan tatapan benci sebencinya. "Tama dan ibunya, sesosok berarti dalam hidupku. Sekarang apa, kamu menghancurkan segalanya. Aku benci kamu, Aldo". Rania, sesekali menampar dada bidan Aldo. Meluapkan amarahmya, walaupun Aldo diam saja dan membiarkan.
"Ayolah,apa yang aku katakan memang benar. Apa yang salah Rania,". Aldo, tersenyum smrik. Lalu, memeluk erat tubuh Rania. Ketika Tama, melewati mereka berdua. Ada senyuman smrik, sudah memanasi perasaan Tama.
Tama, mencekram kuat setir mobilnya. Ada perasaan berkecamuk kemana-mana, hatinya terasa teriris-iris melihat pemandangan itu. Pantesan saja, Rania tidak menikah selama ini. Rupanya masih mencintai mantan kekasihnya itu, sekarang Tama sudah paham. Akhirnya dia,di kecewakan oleh cinta.
"Kurang ajar sekali kamu, Aldo. Belum puaskan, menyakiti ku ha? Sampai sekarang kamu,membuat semuanya berantakan". Bentak Rania, akhirnya dia benar-benar kehilangan Tama. Selama ini menemaninya,dalam suka duka.
"Dia tidak pantas untuk mu, Rania. Bocah ingusan itu,". Aldo, lagi-lagi menghimpit tubuh Rania. Dengan siga mencekram dagunya,lalu menerkam bibir Rania dengan rakus. Aldo,menguasai seluruh mulut mantan kekasihnya itu.
Lengan kekarnya sangat mudah menahan Rania, menekan tengkuk leher agar memperdalam ciuman mereka.
setelah puas berciuman dengan Rania,dia melepaskan dan menjauhkan dirinya. "Ingatlah Rania,kamu cuman milikku." Tegas Aldo, menyeringai tajam.
Rania, tersandar di mobilnya dan menangis kesegukan. Tidak sanggup melawan Aldo, tenaganya tidak ada apa-apanya baginya.
__ADS_1
Bergegas pulang ke rumah, ingin bertemu dengan Tama dan memberikan penjelasan kepadanya.