
Tama, sudah resmi menjadi tunangan Kanaya. Begitu juga dia di angkat menjadi manager,mengurus hotel milik calon mertuanya itu.
Kenaikan jabatannya tinggi mengubah dirinya senang,ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Bu, bagaimana kabar Nick? Pasti dia sudah besar dan masuk sekolah paud". Kata Tama, membayangkan Nick dan Rania.
"Tama, jangan mengungkit mereka lagi. Kamu sudah memiliki tunangan, bagaimana jika mereka mengetahui bahwa kamu masih memikirkan Nick dan Rania? Semuanya pasti Sirna, Tama. Bersyukur sudah memiliki jabatan bagus, dan calon istri". Bu Yati, memperingati anaknya. Kehidupan mereka sekarang,jauh lebih baik dari dulu.
Bu Yati, tidak mau kehilangan semuanya. Tidak memikirkan perekonomian sehari-hari,karena anaknya memiliki gajih yang lumayan besar.
"Bu, Nick dan Rania sudah sebagian dari kehidupan kita. Kita yang salah, sudah berbuat jahat. Aku menyesali perbuatanku dulu, ingin sekali menemui mereka dan meminta maaf". Tama,masih merasa bersalah dengan Rania.
"Sudah-sudah jangan membahas ini lagi,ibu tidak suka Tama. Biarkanlah berlalu pergi,kamu tidak salah apapun. Sedangkan Rania, sudah mencampakkan perasaan mu. Jangan sampai membuat ibumu, kecewa dan malu". Bentak bu Yati,yang geram kepada anaknya. Apa benar,Tama belum bisa melupakan Rania? Aduhh... Anakku kena pelet apa dari, Rania?.
"Bu,apa salahnya kita meminta maaf kepada Rania dan Nick. Detik ini juga,aku merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, meminta maaf apa salahnya bu?". Tama, kebingungan jalan pikiran sang ibu. Kenapa ibu, tidak mau bertemu dengan Rania? Apa segitunya membenci mereka,sama aja ibu sudah kelewatan batas.
"Stop,Tama! Jangan melakukan aneh-aneh,bisa jadi keluarga Kanaya berpikir macam-macam. Bilang saja kan,kamu merindukan janda anak satu itu. Ck, buang perasaan mu itu jauh-jauh". Sang ibu, sudah marah padam.
Tama, menghela nafas beratnya. Mau bagaimana lagi,sang ibu tidak menyetujui idenya. "Baiklah,bu. Masalah pernikahan ku dengan, Kanaya. Kami serahkan kepada kelian,yang lebih tuanya".
Tama, beranjak dari tempat duduknya dan masuk kedalam kamar.
Bu Yati, tersenyum sumringah karena sang anak tidak menolak perjodohan ini. Malah menyetujui pernikahan, menyerahkan semuanya.
Tama,membuka laci dan mengeluarkan album foto. Dimana beberapa foto kebersamaannya, Rania dan Nick.
__ADS_1
Air bening menetes di sudut matanya, sungguh kenangan indah yang tidak bisa di lupakan.
"Kak Rania,aku sangat merindukanmu. Cintaku padamu, tidak mampu aku hapus di hati ini. Sangat dalam kak Rania, semoga bahagia dengan pria pilihan kakak". Gumamnya Tama,lalu menghapus air matanya.
Tama, mengambil beberapa benda kenangan indah bersama Rania. Niatnya untuk disimpan ke kardus,lalu di letakkan di gudang.
Takut jika Kanaya, tiba-tiba datang untuk berkunjung ke rumahnya. Melihat kenangan indah bersama Rania, takutnya terjadi masalah besar nantinya.
***********
Pagi harinya,Tama sudah sampai di hotel dan masuk ke ruang kerjanya.
Sesekali berkeliling hotel, sekedar untuk melihat-lihat dan menyapa pengunjung lainnya.
Banyak yang iri dengan Tama, sudah naik jabatan. Lalu, bertunangan dengan anak pemilik hotel tersebut.
Namun mereka tidak berani, sebab Tama calon mantu pemilik hotel ini.
"Ini pak, laporan yang diminta". Seorang berparas cantik, postur tubuhnya bak gitar spanyol. Memperlihatkan belahan dada dan pangkal paha mulusnya.
"Terimakasih, Nia". Kata Tama,yang cuek dan dingin. Membuat Nia,merasa kesal jadinya. Ck, berpakaian kurang bahan. Bertelanjang bulat pun,aku tidak nafsu. kecuali Rania, langsung aku terkam habis-habisan tanpa jeda
"Pak Tama, capek gak? Aku bisa ko ,pijitin,biar gak pegal-pegal". Kedip mata Nia,yang nakal. Tama, sangat susah di taklukkan dan di goda. Apakah karena ini,anak bos jadi menyukainya. Sangat menantang sekali,aku menyukainya.
"Keluarlah,aku sedang sibuk. Lanjutkan pekerjaan mu,". Tama, langsung mengusirnya tanpa menoleh ke Nia.
__ADS_1
Nia, mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali beraksi,agar Tama mendapatkan masalah besar.
Ceklekk...
Pinta terbuka lebar, terlihat sesosok wanita yang manis dan tatapan mata tajam ke Nia. Astaga, kenapa nona Kanaya datang? Gawat darurat ini,aku harus secepatnya pergi.Batin Nia,gugup dan gelisah gusar.
"Misi pak Tama dan nona Kanaya". Nyali Nia, langsung ciut dan cepat-cepat pergi.
Tama, menoleh ke arah Kanaya dan menghela nafas panjang. Kenapa dia ke sini? Apakah ada sesuatu, astaga apa lagi.Batin Tama, masih menatap dingin ke arah Kanaya.
"Tunggu!". Kanaya, mencegah langkah kaki Nia. "Tolong yah,mulai besok berpakaian yang sopan. Jangan kurang bahan seperti ini,mau saya pecat". Tegas Kanaya,dia termasuk ada hak di hotel ini. Ck, berpakaian seperti ini. Mau menggoda atasan mu,salah lawan Nia. Karena Tama,bukan pria seperti itu. Tapi,aku tidak mudah untuk mempercayai akal bulusnya ini. Takutnya aku masuk ke dalam jebakan,lalu tidak bisa berkutik apapun.
Nia, yang sudah ketakutan. Dia langsung menundukkan,lalu mengangguk pelan. "Baik nona,akan saya ubah penampilan besok".
"Bagus,saya liat besok paginya. Ingatlah,saya memantau kinerja kalian semua. Cuman kamu dan Mira, seringkali bandel di bilangin. Ya sudah, pergi sana".Tegas Kanaya, tersenyum kecil.
Nia, mengangguk dan melangkah kakinya lebar-lebar. Secepat mungkin, menghilang dari pandangan Kanaya
Kanaya,beralih pandangannya ke arah pria yang sibuk bekerja. Dia duduk di depan Tama,cuman berhalat meja kerjanya.
"Kenapa pesanku, tidak di balas? Segitunya kah, mengabaikan ku dan memilih bekerja". Kata Kanaya, dengan santainya. Menyebalkan sekali, aku yang lebih dulu menghubunginya. Sama saja harga diriku,rendah di matanya. Apa jangan-jangan,dia tidak tertarik sedikitpun terhadap ku. Apa kekurangan ini,jadi penasaran dengan wanita yang sudah mencuri hati Tama?.
"Aku bekerja atas ayahmu,soal pesan dari mu. Akan aku balas nanti, jika aku selesai bekerja". Jawab Tama, menatap intens ke arah calon istrinya. Menghindari mu adalah sebuah anugerah untuk ku,Kanaya. Takut sekali aku berhadapan dengan mu, pertama anak bos,kedua takut melakukan kesalahan. Karena aku bisa kehilangan semuanya, menyeramkan sekali.
"Ck,aku menghubungi mu karena sangat penting. Kalau tidak, ngapain aku buang-buang waktu mengirim pesan kepada mu" decik Kanaya, menyunggingkan senyumnya. Untung saja,aku masih bisa berlagak sombong. Jangan sampai image ku, hancur di matanya.
__ADS_1
"Lalu,apa maksud kedatangan mu? Ada yang ingin aku bantu,hemmm!". Tanya Tama, melihat gerak-gerik Kanaya yang tengah gugup sekali. Sok belagu sekali dia, menatap wajahku tidak mampu. Tangannya gemeteran, kemungkinan besar jantungnya berdegup kencang. Apa jangan-jangan,dia tidak pernah dekat dengan pria dan berduaan dalam 1 ruangan.
Tama, tersenyum smrik dan berniat untuk mengerjai Kanaya. Lagi-lagi Kanaya, bersikap biasa saja. Padahal dia, sangat gugup sekali dan memalingkan wajahnya ke arah manapun. Agar pandangannya, tidak bertemu dengan Tama.