Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Jalan-jalan


__ADS_3

Rania, menghabiskan waktunya dengan Aldo dan Nick.


Aldo,membawa mereka berdua ke taman binatang. Terpancar di wajah Nick, penuh dengan kebahagiaan yang tiada duanya.


"Terimakasih, sudah membawa kami jalan-jalan". Kata Rania, tangannya sedari tadi di genggam oleh Aldo.


"Apa sih,yang tidak? Demi anak dan orang yang aku,sayangi". Aldo, mengecup punggung tangan Rania.


"Ck, gombal terus". Sungutnya Rania, terkekeh.


"Aku tidak gombal, sayang. Karena aku, benar-benar mencintai kalian berdua". Aldo, tiba-tiba mencium pipi Rania dan mendapatkan cubitan.


"Kamu itulah yah, nyebelin banget. Tempat umum,masih bisa mencium ku". Bentak Rania,pelan dan matanya melotot.


Dering ponsel Rania, berbunyi. Tertera nama Tama, langsung di rebut oleh Aldo. "Tidak boleh, mengangkat telpon darinya. Mengganggu saja,".


Rania, tersenyum manis dan cengar-cengir. "Hmmm... Nanti marah,jika aku bersama Tama. Di balas Tama,tau rasa".


"Menyebalkan sekali,bocah itu. Ingin sekali aku menghabisinya, mengganggu kesenangan kita saja". Bisik Aldo, mengigit daun telinga Rania.


"Auukk...Jangan macam-macam,". Gerutu Rania, mencubit pangkal paha Aldo dan memulasnya. Sudah pasti cubitan dari Rania,membekas kebiruan.


"Aaaakkhh... Sakiiitttt...". Aldo, meringis kesakitan. "Sialan, cubitan kamu bisa meninggalkan bekas loh".


"Gak apa-apa, kamunya sendiri yang cari gara-gara". Kekehnya Rania, mendekati anaknya bermain dengan burung-burung.


"Papah,sore nanti pergi ke pantai yuk". Rengeknya Nick, mengubah wajahnya menjadi seimut mungkin.


"Baiklah, apa sih yang gak". Aldo, mengacak-acak rambut anaknya.


"Horeee...Ke pantai,ke pantai, makasih papah". Nick,merasa senang mendengarnya. kegirangan loncat-loncat, tidak sabar main pasir dan air.


"Kau selalu menuruti kemauannya, nanti jadi manja". Sahut Rania, menggeleng kepalanya.


"Tidak apa,manja anakku juga". Kata Aldo, tersenyum sumringah dan memainkan kedua alisnya.


Rania, tersenyum manis dan melihat anaknya bermain dengan Aldo. Memang benar bahwa Nick, menginginkan orangtuanya utuh. Hari-harinya di penuhi dengan cinta dan kasih sayang, dari orangtuanya.

__ADS_1


Lalu, bagaimana dengan perasaannya? Di sisi lain,ada sesosok Tama yang merindukan setiap saat. Aldo maupun Tama,bisa membahagiakan Nick. Apa lagi Tama,sejak bayi sampai sekarang menjaga Nick.


Rania,menjadi delima di buatnya. Memilih salah satu, sudah pasti akan ada yang terluka dan tersakiti.


****************


_Dalam mimpi Tama_


"Kenapa pesan dan telpon ku, tidak di angkat? Kamu bisa beralasan apapun, untuk menjauhi Aldo sebentar. Aku sangat merindukanmu,kak Rania". Tama, langsung menyusul ke sebelah rumah dan menemui Rania. Hatinya gembira saat Rania,pulang ke rumahnya. Tapi, Nick tidak ada bersamanya.


"Maaf, aku sibuk dengan Nick. Lagipula aku tidak membalas pesan dan mengangkat telpon dari Aldo. Ketika bersamamu, berlaku adil lah aku". Jawab Rania, membiarkan Tama memeluk tubuhnya.


"Hmmmm.... Sangat sakit, menjadi kedua rupanya. Kak Rania,malam ini tidur di sini kan? Apakah kak Rania, melakukan itu kepada Aldo". Tama, memberikan kode agar Rania paham.


"Tidak Tama,". Jawab Rania,memang benar bahwa dia tidak melakukan hubungan intim. Walaupun tidur 1 ranjang,saling berpelukan. Sekedar ciuman mesra, tidak lebih.


Mendengar jawaban Rania,ada senyum merekah di bibir Tama. "Terimakasih, tidak melakukan itu". Bisik Tama, mengelus lembut paha mulus Rania.


Rania,baru saja selesai mandi dan cuman handuk menutupi seluruh tubuhnya. Mata Tama, tertuju pada dada Rania ada jejak Aldo.


"Kenapa,dia memberikan jejak di sini? Tidak boleh,aku harus menghapusnya". Tama, langsung sigap memberikan jejak di dada Rania.


"Uughhh....!". Lenguhan Rania, terdengar merdu. Membuat Tama, ingin lebih dan lebih. Tetapi,dia tidak boleh kelewatan batas. "Jan-jangan Tama,aahh... Hhmmmmpptt..". Entah keberanian mana,Tama mengelus di bagian bawah Rania.


Milik Tama, sudah menegang dari tadi. Dia langsung berhenti membelai lembut milik, Rania. Sadar akan kesalahannya, menatap sendu ke wajah Rania. Gairahnya sudah di ubun-ubun, ingin di tuntaskan.


"Maaf, tidak sepantasnya aku melakukan hal itu". Lirih Tama, menutupi tubuh Rania dengan selimut.


Rania,malah cengengesan mendengarnya. Sungguh menyiksa diri Tama,karena ngilu menahan gejolak nafsunya. "Duduh....Kasian sekali Jono,". Kini Rania,menjahili Tama dengan memegang burungnya masih terhalang celana.


"aaarghhh....Kak Rania,kau tega sekali kepadaku". Tama, bertambah frustasi karena Rania.


"Anggap saja, pembalasan dariku. Aaakkkhh...". Rania, langsung menutup wajahnya. Karena Tama, sudah melorotkan celana dan memperlihatkan sebuah benda tumpul berurat menjulang tinggi.


"Tanggung jawan kak, sudah berani pegang-pegang". Tama,malah mengocok miliknya dan menggoda Rania.


"No! Aku tidak mau, pergi sana ke kamar mandi. Tuan putri sabun citra, sudah menunggu". Kekehnya Rania, tersenyum dan menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


Dengan langkah gontai, Tama memasang celananya dan masuk kedalam kamar mandi. "Oouhhh....". Lenguh Tama, mengeluarkan Lahar panas di kamar mandi.


Lagi-lagi tengah malam, Tama mendekap erat tubuh Rania. Malam ini adalah jatah Tama, tidur bersamanya. Walaupun cuman ciuman dan pelukan, tidak melakukan lebih.


"Janga-jangan...Tama,aahhh...Kam-kamu.. Hhhmmmpptt... Tidaaaakkkk... Oouhhh...". Rania,cuman menggunakan daster dan ****** *****.


Sangat mudah bagi Tama, memainkan lidahnya di bawah milik Rania. "Keluarkan semua cairannya,aku tahu sekali. Kamu tersiksa karena ini, janji tidak melakukan lebih". Bisik Tama, memasukkan jari tengahnya.


"Aaahh...Tamaaaa...Ouhh...". Rania, menggelinjang keenakan. Sebagai seorang janda, tentu haus belaian.


Tama, menuntun tangan Rania dan meminta bantuan untuk mengocok miliknya.


Rania, sudah kalang kabut karena nafsu dan mau apa yang di inginkan oleh Tama. Sudah pasti Tama, memberikan servis full untuk sang kekasih.


"Oouhh..... Mende-sah kak,aku suka sekali". Tama, semakin semangat memaju mundur jarinya.


"Ooouugghh.....!". Lenguhan panjang, Rania dan mendapatkan pelepasan. Mengatur nafasnya yang tersengal, sungguh luar biasa baginya.


Tama, menggesek miliknya dan menghimpit kedua pangkal paha Rania. Lalu, memainkan perannya sampai pelepasannya.


Tama, sungguh tidak percaya dengan kelakuannya seperti ini. Untungnya Rania, tidak marah asalkan tidak dimasukkan ke dalam.


"Jangan Tama,pliss...Aku mau pergi,". Rania, syok apa yang di lakukan oleh Tama. Mengangkat kedua pahanya,duduk di meja rias. Terpampang jelas miliknya,yang kemerahan.


Tama,yang sudah berselimut gairah. langsung ngemut milik Rania, dengan lahapnya. Sang empunya, sudah merem melek tak bisa berkata apa-apa lagi.


Triiiiiiingggg.....!


"Aaaarrgghh....". Tama, terbangun dari tidurnya. Terkejut mendengar alarm berbunyi, sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Rupanya enak-enakan dengan Rania, sekedar mimpi indahnya saja. Alhasil celananya basah, beruntung dia tidak tidur bersama Rania


Tama, cepat-cepat membersihkan diri. Setelah selesai, langsung ke sebelah rumah dan melihat Rania memasak.


"Setelah selesai sarapan,ke sana lagi?". Tanya Tama, hatinya menahan rasa cemburunya. Rania, mengangguk kepalanya dan tersenyum


"Lalu,mana waktu untuk ku? Bukankah,kita sudah jadian. Aku juga menginginkan kak Rania, bersama-sama".


"Maaf,aku tidak bisa membalas cintamu Tam. Aku sudah menganggap dirimu, sebagai adik. Waktu itu, kamu mencium ku anggap saja tidak pernah terjadi apapun". Tegas Rania,mana mungkin dia bermain-main dengan pria lain.

__ADS_1


"Apa karena Aldo,aku tidak pantas untuk kak Rania?". Hati Tama,terasa sakit mendengar ucapan Rania. Sungguh cintanya di tolak mentah-mentah, sorotan matanya memerah manahan amarahnya.


__ADS_2