
"Halo,bu. Ada apa yah?". Tanya Rania, melalui teleponnya. Pagi-pagi buta sekali,bu Yati menghubunginya.
Sudah pasti menanyakan uang arisan,enak sekali mau memanfaatkan kebaikan ku. Rupanya mereka baik,ada maunya.Batin Rania.
(Halo,nak Rania. Bisa tidak transfer sisa uang arisan,ibu bakalan bayar kok. Maaf, sudah merepotkan mu). Ucap bu Yati, dengan nada suara lembutnya.
"Halo,bu! Hal-halo! Bu,bu!". Kata Rania, seakan-akan sinyal putus.
(Lah,halo Rania! Rania, dengar ibu? Halo!halo!)
Tut... Tut....Tut...
Panggil telepon sudah di akhiri Rania, terpaksa mematikan jaringan ponselnya.
"Apa lagi sih? Mengusik ketenangan ku saja,". Gumamnya Rania, beberapa deretan pesan dari Tama. Basa-basi mencari Nick,sok kangen dan ini,itu.
Tetap saja Rania, tidak mempercayai mereka lagi. Hatinya sudah terlanjur kecewa berat, dengan bu Yati dan Tama.
Tak lupa juga, Rania memperkerjakan PLN untuk memutuskan aliran listrik ke rumah bu Yati. Enak saja, numpang ngait tak bayar sedikitpun. Apa lagi tidak di huni, biarkanlah gelap gulita jadi sarang setan.
Sudah cukup, selama ini dia baik. Namun,di balas dengan kepedihan. Gara-gara cinta Tama,tak di balaskan mereka berdua berubah benci,lalu ingin memanfaatkan kebaikannya.
Bagi Rania, mereka salah lawan. Karena dia bisa melakukan apapun, kemungkinan besar. Tama,akan kembali ke sini lagi. Sungguh di sayangkan,membuang pekerjaan enak dan menerima pekerjaan belum tau asal usulnya.
**********
"Apa? Kamu di tipu, Tama. Kok bisa, jelaskan semuanya". Pinta bu Yati,sok mendengar ucapan sang anak.
"Kata teman Tama,mau jabatan manager keuangan. Harus mengeluarkan uang 100 juta,jadi Tama mau aja. Eee... Baru bekerja dan memiliki jabatan bagus, tau-taunya perusahaan di ambang kebangkrutan. Sekarang perusahaannya di tutup bu, bagaimana ini? Aku sudah kehilangan uang, dengan jumlah banyak". Tama, tidak menduga seperti ini.
"Astagfirullah,Tama! Kamu memang bodoh yah,maunya di tipu karena jabatan. Kamu harus menuntutnya,Tama. Agar uangmu Kembali,sama saja temanmu menipu". Bentak bu Yati, langsung.
__ADS_1
"Tidak bisa bu,karena ada perjanjian di atas kertas hitam putih". Jawab Tama,yang lesu.
"Aaarghhh... Sekarang apa,Tama? Uang lenyap, pekerjaan tidak ada. Lalu, bagaimana kita makan? Mikir Tama,". Bu Yati, menatap tajam ke arah anaknya.
"Kita balik lagi ke kak Rania,cuman dia membawa keberuntungan kita. Kak Rania,bisa memasukkan Tama ke perusahaan lama". Cuman itu,jalan satu-satunya di benak Tama.
"Huuuu... Untung masih ada seseorang yang kita andalkan,Tama. Cepat kita berisap-siap untuk pergi,apa perlu kamu menikah dengannya". Kata bu Yati,sontak membuat Tama terkejut.
"Mana mungkin bu,kak Rania tidak menyukai Tama. Karena usia kami berbeda,mana di anggap sebagai adik lagi". Jawab Tama, dengan wajah masam.
"Ibu,punya ide cemerlang. Kalau tidak dapat secara baik-baik, bagaimana dengan cara licik?". Senyum smrik,bu Yati.
"Sial,aku lupa bu. Yah,aku bisa melancarkan aksi ku". Akhir Tama, menyetujui ide ibunya. Rania,kau akan menjadi milikku seutuhnya. Ini adalah balasan karena menolak cintaku mentah-mentah, rasakannya balas dendam ku.
***************
Sore harinya Rania,di kejutkan dengan sebuah mobil di perkarangan rumahnya. Dia baru saja, mengambil Nick dari kediaman orangtuanya Aldo.
"Hai, Rania! Aaha... Apakah dia, anaknya Aldo". Tanya Fahri, menatap intens ke arah Nick. "Rania,aku minta maaf kepada mu. Atas ucapan ku kemarin, mengejek-ejek mu sebagai penjaga kasir. Rupanya supermarket besar itu,milikmu yah".
"Bunda,siapa dia?". Tanya Nick, menatap tak suka dengan Fahri.
"Tidak penting nak, musuhnya papah". Jawab Rania, melongos melewati Fahri.
"Pulanglah om,jangan sampai papah memukuli Om yang sudah mengganggu bunda". Kata Nick, tersenyum kecil.
"Ck,bocah kecil". Gumam Fahri. "Sungguh miris yah,didikan kamu Ran! Lihatlah,dia berbicara seperti itu kepada yang lebih tua".
"Anakku cuman berbicara seperti itu, dengan kamu saja. Toh,pulang sana dih... Takutnya aku di katai pelakoooorrr....Ogah banget, menggoda kamu. Gak ada seleranya,kucing pun enggan mendekati". Ejek Rania, menyunggingkan senyumnya.
"Sialan kau Rania, masih untung aku ke sini untuk bersilahturahmi. Kita sebagai mantan, jangan saling membenci. Siapa tahu, kita masih berjodoh nantinya". Kekehnya Fahri, tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Hahahaha...Kau lucu sekali,mas. Jujur saja nih,aku menyesal pernah menikah dengan mu. Dihh.... Kepedean sekali,kamu". Rania, menggeleng kepalanya.
"Bunda, Nick masuk kedalam dulu". kata Nick,yang di angguki sang ibu.
"Aku memperhatikan gerak-gerik mu,mana Aldo? Apa jangan-jangan dia, sudah mati. Lalu, kamu jadi janda". Fahri, memainkan kedua alisnya.
"Oh, suamiku lagu tugas. Biasalah mau membahagiakan istrinya,mau jalan-jalan ke luar negeri". Jawab Rania, dengan sombongnya. "Karena bang Aldo, selalu mewujudkan impian istrinya. Gak seperti mantan dulu, sudah pelit dan perhitungan lagi".
Lagi-lagi Fahri,menelan ludahnya dan mengusap wajahnya. Rupanya Rania, tidak melupakan kesalahannya dulu.
"Di tambah lagi,sok selingkuh dan poligami". Sambungnya Rania, tersenyum smrik.
"Cukup! Jangan mengungkit masa lalu, Rania". Fahri,tak sanggup mendengarnya lagi.
"Oh, tidak bisa dong mas. Lihatlah,aku selalu di bilang mandul. Nyatanya memiliki anak, mengandung di rahimku selama 9 bulan lebih". Bentak Rania, mengeluarkan unek-uneknya. "Jangan-jangan kamu,yang mandul. Ouups.... Kecoplosan".
Dada Fahri, semakin menjadi-jadi mendengar ejekkan Rania. "Diam!Jaga ucapanmu, Rania". Bentaknya keras.
"Pergi! Jangan pernah ke sini lagi,mau aku mengeluarkan semua kekuranganmu ha? Tidak tahu diri,". Rania,tak kalah nyaringnya dan menjadi pusat orang lain.
Dada Fahri,turun naik menahan emosinya. Berlalu meninggalkan kediaman Rania,yang menatapku dengan tajam.
Rania,menghela nafas lega. Akhirnya mantan suaminya itu, sudah pergi. Bertahun-tahun lamanya, tidak bertemu. Kenapa tiba-tiba muncul kembali,apa yang di rencanakan?. "Aldo, pulanglah. Sudah hampir 2 bulan, tidak ada kabar dan tanda-tanda kedatangan mu". Gumamnya Rania, merindukan sosok pria yang di cintainya selama ini.
Apa lagi buah hatinya, selalu menanyakan keberadaan ayahnya. Lagi-lagi Rania, menjawab berkerja di jauh dan merantau.
"Bunda,kalau papah pulang nanti. Kita jalan-jalan ke pantai yah,biar bisa main air dan pasir". Cicitnya Nick, memeluk ibunya.
"Hmmmm... Doakan papah, cepat pulang yah. Bisa jalan-jalan kemana-mana nantinya,". Rania, mengelus lembut pucuk kepala anaknya.
"Hore...Mau main di Timezone juga,sama papah. Gak sabaran bund,". Nick,merasa senang dan tidak sabar menunggu momen indah itu.
__ADS_1
Pulanglah Aldo,anak kita sudah merindukan mu. Aku juga merindukanmu,Ya Tuhan. Tolong jaga dia, jauhkan dari marabahaya apapun. Batin Rania,air matanya luruh sudah. Berharap Aldo, secepatnya datang. Perasaannya tiba-tiba tidak tenang, gelisah gusar jadinya.