Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Keluarga Suami


__ADS_3

Hampir 1 jam perjalanan, akhirnya Rania sampai di rumah mertuanya.


Kedua orangtuanya Fahri dan kakaknya, menyambut kedatangan mereka berdua.


Tak lupa beberapa oleh-oleh, membuat kakak iparnya tersenyum sumringah.


"Masuk,masuk,". Kata pak Eko, bapak mertuanya Rania.


"Langsung ke dapur aja, Rania. Bantu-bantu di sana,". Perintah sang ibu mertuanya,yang langsung di angguki Rania.


Si susul oleh kedua kakak iparnya,tak lupa ibu mertuanya. Sekaligus membawa oleh-oleh untuk mereka, tentunya membuat iri orang sekitar.


Ibu mertuanya, mengadakan syukuran dengan menu soto ayam.


"Rania,kamu sudah ada tanda-tanda isi?". Tanya bu Marni, mertuanya Rania. Lagi-lagi pernyataan itu, membuat moodnya hancur berkeping-keping.


"Belum ada,bu. Mas Fahri,gak mau ikut cek kesuburan. Kalau Rania, jelaslah subur dan ibu sendiri menyaksikan langsung". Jawab Rania, tersenyum manis. Apa yang di katakannya, memanglah benar.


"Heran sekali,kamu gak kerja. Masa belum isi, lihatlah mbak sudah hamil lagi". Sahut Desi,kakak ipar pertama.


"Makan yang sehat-sehat, Rania". Timpal Alia,kakak ipar keduanya.


"Jangan di tanyakan lagi,soal makan sehat. Mas Fahri, langsung membelikan semuanya". Jawab Rania, langsung.


"Jangan menyalahkan anakku, Rania. Mana mungkin Fahri, memiliki kesalahan. Kami ini sehat-sehat saja,". Bu Marni,menebak jika menantunya mencurigai Fahri.


"Hmmmm...Iya,bu". Jawab Rania, sangat malas berdebat dengan ibu mertuanya.


Acara syukuran berjalan dengan lancar,tak lupa kakak iparnya selalu menyindir Rania tak kunjung hamil-hamil.

__ADS_1


Rania, menjadi pusat perhatian ibu-ibu dan lainnya. Membuat dirinya langsung geram, karena di sudutkan terus-terusan.


"Mas Fahri,kamu cek kesuburan pokoknya". Kata Rania, menahan amarah yang sudah menggemuruh di dadanya.


"Jangan ngaco kamu, Rania. Aku sehat-sehat saja, ngapain harus di periksa". Bantah Fahri, langsung.


"Huusssstttt... Rania,jangan ngomong sembarangan. Mana mungkin, anakku tidak subur". Sahut ibu mertuanya.


"Sudah, sudah,jangan membuat keributan gak jelas. kita doakan saja, semoga Rania cepat hamil. Emangnya kehamilan itu,ajang lomba". Bentak pak Eko, melerai keributan.


Semua orang langsung terdiam, tidak berani membantah perkataannya.


"Aku mau pulang saja,mas. Gak kuat terus ribut sama,ibu". Pinta Rania, mengambil tas dan beranjak berdiri.


"Fahri,bawa istri mu pulang. Kasian istri mu,sana. Bu,jangan selalu menyudutkan Rania. Jangan ada lagi, mengungkit kehamilan". Tegur pak Eko, tentu sang istri tak menjawab apapun.


Rania,masih beruntung mendapatkan belaan dari bapak mertuanya. Selalu menengahi pertikaian antara mereka, tidak menjadi keributan terus berlanjut. Sunyi senyap, sepanjang perjalanan. Tidak ada pembicaraan, antara Rania dan suaminya.


Seperti biasanya, pagi-pagi Rania menyiapkan sarapan paginya. Kali ini dia,cuman sebentar menyiram bunga di halaman. Setelahnya masuk kedalam, sontak membuat Aldo keheranan melihatnya.


Di meja makan, tidak ada pembicaraan juga. Sama-sama terdiam membisu, sesekali Fahri melirik ke arah istrinya.


Jika ada pertikaian antara Rania dan ibu mertuanya. Fahri, cuman mendiamkan saja. Ujung-ujungnya Rania, memulai membuka suara dan meminta maaf .


Untuk kali ini, Rania tidak mau mengalah lagi. Bodo amat,jika mereka tidak saling tegur. Baginya malah bagus lagi, hemat energi pula.


Sebelum Fahri, berangkat kerja. Kali ini ada yang berbeda,karena Rania tak kunjung mencium punggung tangannya.


Takut terlambat masuk kerja, akhirnya Fahri memutuskan berangkat. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya,karena Rania cuman diam dan diam.

__ADS_1


Rania,menyikap tirai dan melihat suaminya sudah pergi. "Huuuff.... Akhirnya pergi juga,malas sekali berhadapan dengan pria seperti itu". Gumamnya, berlalu menuju ke arah dapur. karena cucian sudah menanti, sedari tadi untuk di jemur.


Rania,menjemur pakaian di halaman belakang. Tidak memperhatikan ada seorang pria, berjalan mendekatinya. Siapa lagi kalau bukan Aldo,menatap intens postur tubuh Rania di balik dasternya yang selutut.


Susah payah Aldo, meneguk salivanya. Membuang wajahnya ke arah lain, tiba-tiba di jadi gemes terhadap istri tetangganya itu.


Tiba-tiba Rania, berbalik badan dan menabrak tubuh Aldo. "Astagfirullah,bang Aldo!".


Hampir saja Rania, terjatuh ke tanah. Beruntung sekali Aldo, sempat menahan tubuhnya. "Maaf,bang. Maaf,aku tidak tahu ada orang di belakang". Jantungnya berdegup kencang,apa lagi Aldo masih memegang lengannya.


"Maafkan aku,karena diam-diam ingin mengejutkan dirimu. Eee...Malah berbalik badan ke belakang,maaf aku memegang mu". Aldo, cengengesan dan melepas tangannya. Padahal dia enggan, melepaskannya. Jika bisa langsung di bawa ke dalam pelukan dan menikmati setiap kehangatan.


"Gak papa,bang. Malahan aku ingin berterimakasih, coba saja gak di pegang. Kemungkinan aku sudah jatuh ke tanah,yang ada sakit". Rania, tersipu malu-malu. Mimpi apa,sih? Di pegang sama duda,mana masih pagi. Fiks,malas mandi akunya.


"Eee...Jadi gak papa,kalau aku pegang-pegang". Bisik Aldo, tepat di telinga Rania.


Wajah Rania, semakin memerah. Susah payah meneguk air liurnya, menoleh ke samping. Wajah mereka sangat dekat, cuman beberapa inci. Deru nafas masingmasing, terasa di kulit wajah. Rania,meremas baju dasternya.


Aldo,menelusuri wajah Rania.Matanya terhenti di bibir ranumnya Rania, sungguh menggairahkan dirinya. Ingin sekali mencicipi bibir istri tetangganya, itu.


Sedangkan Rania, sudah terhipnotis dengan pesona ketampanan Aldo. Matanya mulai terpejam,saat deru nafas tetangganya semakin terasa. Sudah pasti, Aldo mendekati wajahnya.


Dering ponsel Aldo, membuyarkan lamunan mereka. Sontak membuat mereka berdua,jadi malu-malu dan salah tingkah. Berusaha untuk tidak terjadi apa-apa,di akhiri dengan cekikikan tawa.


"Maaf,aku masuk dulu Rania. Mau siap-siap, untuk berangkat ke kampus. Takutnya para murid,ngambek telat datang". Kekehnya Aldo, tersenyum.


"Bang Aldo, semangat untuk mengajarnya". Kata Rania, dia juga bergegas masuk kedalam rumah. Takut ada seseorang yang melihat mereka berduaan,bisa jadi masalah besar nantinya.


Rania, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Kejadian tadi, masih terngiang-ngiang di otaknya. Ingin sekali mengulanginya lagi,dan lebih dari itu. "Aaaarrgghh.... Apakah aku,jatuh cinta dengan tetangga ku. Sumpah aku,aku belum pernah merasakan sesuatu seperti ini. Astagfirullah, kualat kamu Rania". Gerutunya, kegirangan loncat-loncat dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


Jangan ditanya lagi, bagaimana Aldo? Sepertinya Rania, merespon dengannya. Sebagai seorang pria, pasti melakukan hal yang tidak terduga. Tidak sabar mencicipi bibir Rania, sangat menggodanya itu. "Aaarghhh....Apa jadinya aku jatuh cinta dengan istri tetangga,". Aldo, mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Matanya terbayang-bayang, dengan wajah Rania.


Tidak seperti biasanya, Aldo lebih semangat berangkat ke kampus untuk mengajar. Banyak mahasiswinya, terpesona dengan ketampanannya. Ada yang berani mengatakan cinta secara blak-blakan, akan tetapi ditolak Aldo. Saat Aldo, menikah waktu itu. seluruh mahasiswinya,patah hati secara bersamaan. Tidak rela dosen mereka menikah, dengan wanita lain. Apa lagi Aldo terbilang dosen,yang lemah lembut.


__ADS_2