Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Baru Sadar


__ADS_3

"Jangan bertele-tele,bu. Sebenarnya, kedatangan kalian ke sini apa? Malah ngelantur kemana-mana,". Gerutu Fahri, telinganya sudah memanas mendengar ocehan ibunya.


"Ibu dan bapak,ke sini. Mau minta uang kepada mu, Fahri. Bahan bangunan di toko, semakin menipis". Ucap bu Marni, langsung membuka anaknya terkejut.


"Loh, kenapa jadi ke Fahri? Makanya bu,pak,jangan terlalu boros. Sekarang apa,uang gak ada dan minta-minta? Ini jadinya Shania,kenapa aku yang mengatur uang bulanan. Takutnya boros, selalu mementingkan gaya hidup. Ujung-ujungnya bikin susah,". Fahri, menatap tajam ke arah istrinya.


Braakkkk....


Pak Eko, langsung menggebrak meja. "Ini semua gara-gara kamu, Fahri. Menikah dengan wanita ini,bapak mertuamu sudah membatalkan pembayarannya. Tidak lama lagi, Rania akan pergi. Hanya 1 pilihannya, tinggalkan benalu ini". Tunjuk pak Eko, dengan suara kerasnya.


"Loh, bapak apa-apaan sih? Tanpa Mbak Rania,mas Fahri gak masalah". Bantah Shania, tidak terima dengan perkataan bapak mertuanya.


"Apa yang di katakan suamiku, memang benar. Kamu itu, berdampak masalah besar". Bu Marni, langsung membentak menantunya.


"Pak,bu, kalian jangan bawa-bawa istriku. Apapun alasannya,aku tidak akan mendatangani surat perceraian itu. Rania,akan tetap menjadi istriku selama-lamanya". Fahri, mengusap wajahnya dengan kasar.


"Fahri,kamu jangan bodoh. Mereka bisa jadi mengancam dirimu, Fahri. Agar mau mendatangani surat perceraian itu,". Pak Eko, mengetahui kelemahan anaknya.


"Hahahaha.... Mengancam menggunakan apa, pak? Apa yang di ancam,mau membunuhku. Ck,mana bisa". Sahut Fahri, tersenyum sumringah.


"Bisa, dengan cara memecat kalian berdua. dan menurunkan jabatanmu di kantor. Jangan lupa Fahri, perusahaan tempat kalian bekerja. Milik teman papahnya, Rania!". Bu Marni, langsung menjawabnya.


Degggg....


Fahri dan Shania, langsung terkejut mendengar ucapan bu Marni.


"Sial.... Aaarghhh....kenapa,aku tidak kepikiran". Gerutunya Fahri, mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


"Mas, bagaimana ini? Jika itu terjadi,kita kehilangan pekerjaan yang gajihnya lumayan besar. Apa lagi,kamu di turunkan jabatannya. Pokoknya,kamu harus mendatangani surat perceraian itu. Gak mau tau,mas". Perintah Shania, sudah gelisah gusar.


"Dengerin apa perkataan, selingkuhan mu. Lihatkan,dia itu cuman benalu dan pembawa sial. Belum lagi kalian punya anak,baru tau rasanya. Karena pengeluaran uang,jauh lebih besar lagi". Bu Marni,geram kepada anak dan menantunya.


"Ck, gara-gara kebodohan mu. Kita semua akan jadi sengsara,mau tidak mau. Berikan uang kepada kami,senilai 100 juta. Mana mungkin kamu tidak memiliki uang sebanyak itu,karena kamu sangat pelit dan tidak suka menghamburkan uang. Ini semua kesalahan kamu, Fahri. Jadi harus kamu tebus,". Kata pak Eko, dengan suara keras


"Gak bisa gitu dong,pak. Semua uang itu, milikku. Minta saja dengan Rania, untuk membujuk papahnya. Bapak dan ibu,yang bodoh bukan aku. Seandainya,papah Rania memberikan modal untuk membeli bahan bangunan. Nah,di situ bisakan tabung hasil keuntungannya. Ini malah hura-hura hak jelas, sekarang apa? Malah bikin susah orang,gak pernah memikirkan masa depannya". Ucap Fahri,dia memang terbilang sangat pelit.


"Dasar pelit,anak durhaka kamu. Apapun yang terjadi kedepannya nanti,kami tidak akan membantu mu. Apa kamu lupa, Fahri? Kami orangtuamu,apa lagi aku ibumu yang sudah melahirkan mu. Membesarkan mu, sampai lulus kuliah. Mendapatkan pekerjaan bagus, jabatan tinggi dari Rania. Sekarang apa,kamu seakan-akan lupa". Bu Marni, tidak percaya dengan anak bungsunya.


"Ayo,kita pulang. Dasar anak durhaka, tidak Sudi rasanya mengakuinya anak. Sangat perhitungan sekali,belum apa-apa sudah sombong. Ayo,kita pulang bu". Pak Eko dan istrinya, beranjak berdiri.


"Astaga,apa yang kalian katakan ha? Aku tidak bermaksud apa-apa,". Fahri, terkejut mendengar ucapan orangtuanya.


"Sudahlah mas, mereka sok belagu banget. Biarlah mereka pergi,". Cegah Shania, tersenyum kecil.


Fahri, mengusap wajahnya. Kedua orangtuanya, terlihat sangat marah padam.


"Mas, kamu kenapa sih? Gelisah sekali, melihat mereka pergi. Lagian kita gak numpang makan dan minum,di tempat orangtuamu". Tegur Shania, memasang wajah masam.


"Aku memikirkan kedua orangtuaku, Shania. Baru kali ini, orangtuaku berkata seperti itu". Jawab Fahri, berniat menyusul orangtuanya. Tetapi,sang istri langsung mencegahnya.


"Tidak perlu di pikirkan,mas. Lambat laun berjalan, marah mereka pasti reda". Shania,membujuk suaminya.


"Iya,kalau aku membujuk mereka sekarang ini. Sudah pasti ujung-ujungnya,mau uang". Fahri, sudah menerkanya seperti itu.


"Itu pastilah mas, mereka licik dan suka drama". Sahut Shania, tersenyum smrik. Apapun terjadi, mereka tidak akan pernah mendapatkan uang dari suamiku.

__ADS_1


***************


Benar saja, selepas dari rumah Fahri. Sekarang kerumahnya, Rania.


Rania, menyambut kedatangan kedua mertuanya itu. Padahal lagi enak-enak tidur,karena badan pegal-pegal.


"Lama sekali membukakan pintu rumah, ngapain aja?". Tanya bu Marni,duduk di sofa empuk milik menantunya.


"Oh, biasalah. Nonton film,lalu bobo cantik". Jawab Rania, meletakkan dua gelas minuman teh panas.


"Kerjaan mu,tidur mulu. Gak mau cari kerjaan, mumpung belum punya anak". Usul pak Eko, menghirup teh buatan menantunya.


Rania, cengengesan mendengar ucapan bapak mertuanya. "Gampang kok, tinggal minta sama papah. Apapun pasti dapat pekerjaan, misalnya mengelola salah satu hotel milik papah".


"Eee... Iiissshhh....Kamu memang menantu ibu,yang hebat". Bu Marni, tersenyum manis.


"Masa sih,bu? Biasanya juga,ibu selalu mengejek dan menyudutkan diriku. Apa lagi, belum hamil-hamil. Tapi, semenjak mas Fahri selingkuh dan sampai saat ini. Aku dan mas Fahri, tidak pernah tidur 1 ranjang. kemungkinan besar,dalam beberapa hari akan datang surat perceraian". Rania, dengan santainya mengatakan hal itu.


Mendengar ucapan Rania, membuat kedua mertuanya gelabakan. "Rania, tidak bisakah kamu berdamai dengan madumu. Apa salahnya,suami memiliki istri dua". Bu Marni, menenangkan hati menantunya.


"Untuk apa lagi,bu. Aku bertahan dengan mas Fahri,dia sudah mengkhianati pernikahan kami. Sungguh tak sudi,bersama pria seperti itu. Di luaran sana bu,masih banyak pria yang menerimaku. Apa ibu mau,berdamai dengan madu? Seandainya bapak mertua, menikah lagi". Kini Rania, mendelik ke arah pak Eko.


Pak Eko, langsung memalingkan wajahnya dan berekspresi biasa saja.


"Rania,jaga ucapanmu! Jangan jadi kurang ajar kamu, suamiku tidak seperti yang kamu katakan". Bentak bu Marni, mendelik ke arah suaminya. "iyakan,pak. Kamu tidak main-main di belakangku?". Tanyanya,bu Marni kepada pak Eko.


"Eeehh....Iya,mana mungkin bapak main-main dengan mu. Rania,jangan mengada-ada segala. Sama saja,kamu mempengaruhi pikiran istriku". Pak Eko, langsung meninggikan suaranya.

__ADS_1


Rania, menyunggingkan senyumnya. Ada sesuatu yang di rencanakan, membuat pak Eko gelisah gusar. Buah jatuh, tidak jauh dengan pohonnya. Kecuali di pinggir jurang dan hanyut ke sungai,bisa jadi sifat anaknya berbeda.


__ADS_2