
Malam harinya Rania, sudah menginjakkan kaki sebuah ballroom hotel.
Semua tamu undangan berdatangan, untuk memenuhi ballroom hotel. Sangat mewah dan megah.
Rania,nampak gugup dan merangkul lengan Tama. Dari kejauhan tampak serasi, seperti sepasang kekasih.
Tama,merasa gugup dan jantungnya berdegup kencang. Rania,memang cantik di tambah dengan polesan make up tipisnya.
Sangat pas gaun pesta yang melekat pada tubuhnya, sungguh Tama bertambah percaya diri dan mendekati teman tim kerjanya.
"Aku gugup, Tama. Belum pernah aku, merasakan pesta semewah ini". Bisik Rania,mengulum senyumnya. Tinggi badannya,cuman di pundak Tama.
"Hehehehe... Santai aja,kak. Ayo, kita ke sana". Kekehnya Tama, tersenyum kecil.
Teman tim kerjanya Tama, memang mengenali Rania. Seringkali ke rumah Tama,lalu bermain dengan Nick. Terkadang Rania,membuatkan minuman dan cemilan.
Biasanya memenuhi teras rumah bu Yati, kebersamaan mereka begitu hangat.
"Wahhh...Kak Rania,cantik sekali. Aku pangling melihatnya". Nado,memuji Rania.
"Benar sekali, kira gadis mana tadi? Eee... Rupanya kak Rania,". Sahut Digo, tersenyum.
"Coba aja tadi gadis lain, kemungkinan sudah kami goda. Ini kak Rania,mana berani kami. Takutnya bu Yati,membawa sapu kepada kami". Timpal Hary, mengedipkan mata sebelahnya.
"Hahahaha.... Hahahaha...". Mereka berlima tertawa renyah, begitu Rania tersenyum kikuk.
"Tapi,aku berusaha keras untuk membujuknya datang. Terus,mana pasangan kalian? Katanya, membawa pasangan masing-masing". Tanya Tama,mendelik ke arah temannya.
"Oh, pasangan kami tengah sibuk semua". Jawab Nado,hanya alibi semata. Mereka bertiga sengaja mengatakan, bahwa membawa pasangan masing-masing. Agar Tama, membawa Rania ke pesta ini.
"Masa sih,aku tidak percaya". Sahut Rania, menyipitkan bola matanya.
"Hehehehe...Kak Rania,bawa minum dulu. Pasti panas di perjalanan,". Digo, mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Huuu...Bilang aja,mau mengalihkan pembicaraan kak Rania". Sungutnya Tama.
Tepuk tangan terdengar dari para tamu undangan, rupanya pemilik perusahaan telah tiba.
Rania,melihat dari kejauhan tidak jelas. Apa lagi, terhalang para tamu.
__ADS_1
"Terimakasih,atas kehadirannya. Pada malam ini,saya CEO dari perusahaan Barre.Sungguh malam hari yang indah,para tamu undangan yang terhormat. Ada juga para tamu undangan,dari pekerja perusahaan. Aku sangat berterimakasih,atas kinerja karyawan di kantor. Tanpa kerja keras kalian, perusahaan ini tidak ada apa-apanya. Aku sangat berhutang budi dengan kalian,satu kali lagi. Selamat menikmati pesta ulangtahun perusahaan dan semoga kedepannya menjadi lebih baik". Sang pemimpin perusahaan, mengangkat segelas air.
Para tamu undangan mengikuti juga, mereka bertepuk tangan lagi dan bersorak-sorai gembira.
"Ayo,kita sedikit ke depan kak. Agar kak Rania,bisa melihat siapa CEO perusahaan tempat ku bekerja". Kata Tama,di iringi dengan lainnya.
"Baiklah". Jawab Rania, menyetujuinya karena penasaran. Ada senyuman manis di sudut bibir Rania,ketika matanya tertuju kepada pemimpin perusahaan Tama.
Degggg
Senyum itupun memudar, ada raut wajah yang sulit di artikan. Seorang pria duduk di kursi roda, tersenyum lebar dan berbincang hangat dengan orang lain. Ada seorang wanita, mendorong kursi rodanya.
Seorang pria gagah dan kekar, wajahnya sangat tampan. Sudah pasti Rania, mengenalinya. Siapa lagi kalau bukan Aldo, bersama keluarga besarnya. Rupanya pak Giro, menggunakan kursi roda.
Ada seorang wanita cantik, menggandeng tangan Aldo. Tersenyum manis,penuh dengan canda tawa bersama.
Rania, terdiam dan membeku seketika. 5 Tahun sudah, mereka tidak pernah di pertemukan. Pada hari ini, mereka di permukaan kembali.
Tama, mencoba menyadarkan Rania yang diam dan menatap lurus ke depan.
Pak Giro dan lainnya, menatap ke arah Rania. Tak kalah terkejutnya, begitu juga dengan Aldo. Sesosok wanita yang dirindukan selama ini, muncul di depan matanya.
"Rania..!". Gumam Aldo,pelan. Tetapi, sempat di dengar oleh wanita berdiri di sampingnya.
Rania, langsung tersadar dan memalingkan wajahnya. "Tama,aku,aku tidak apa". Rania, berusaha tegar dan tidak terjadi apa-apa. Astaga,aku benar-benar tidak menyangka. Jika bertemu dengan mereka lagi, rileks Rania. anggap saja,kau tidak pernah mengenali mereka.
"Syukurlah,aku kira kenapa tadi? Bikin takut kami aja,". Kekehnya Nado.
"Bisa-bisanya nanti kami semua, terkena imbasnya bu Yati". Kekehnya Digo, tersenyum
Rania dan lainnya,mulai menjauhkan diri dari hadapan mereka. Sebisa mungkin untuk menetralkan pikirannya, berkecamuk kemana-mana.
"kak Rania,kenapa?". Tanya Hery, mencurigai gerak-geriknya.
"Biasalah,aku tegang karena pertama kali ke pesta". Bisik Rania, mendekati Hery.
Daei sudut lainnya, Aldo menahan rasa api cemburunya. Karena Rania,di kelilingi pria lain. Apa lagi melihat dia, bergandengan tangan dengan salah satu pria tersebut.
Seorang wanita cantik, membuyarkan lamunannya dan membawa ke arah lain.
__ADS_1
"Tama". Kata seorang pria,di belakang mereka
Degggg....
Rania, terkejut dan jantungnya berdegup kencang. Rupanya pak Giro, menghampiri mereka. Sebisa mungkin Rania, berekspresi biasa saja dan membuang muka ke arah lain.
"Selamat malam,pak Giro". Tama, membungkuk badannya kepada CEO perusahaan.
Mata ekor pak Giro, melirik ke arah Rania. Memang benar saja, Rania sok tidak mengenalnya."Selamat malam juga, Tama. Ada yang aku bicarakan dengan mu, tetapi bolehkah wanita di samping mu ikut".
Tama, langsung melirik ke arah Rania. Kenapa atasannya, memintanya untuk membawa Rania?Yang lainnya juga, keheranan jadinya. "Oh,bisa...."
"Aku tidak mau,Tama. Aku permisi dulu,mau ke toilet". Pamit Rania, beranjak pergi meninggalkan mereka. Berjalan dengan santai,tidak memperdulikan tatapan orang-orang sekitar. Aldo, sedari tadi tak henti-hentinya memandang kecantikan wanita yang di sayanginya itu.
Nado, Hery dan Digo. Mereka semua saling diam dan melirik-lirik saja.
"Besok saja kita bicarakan,saya permisi dulu". Kata pak Giro, nampak terlihat kecewa.
"Baik,pak". Jawab Tama, tersenyum. Menatap kepergian atasannya itu, bergabung dengan rekan bisnis lainnya
Sedangkan Rania, menangis kesegukan di toilet. Dadanya terasa sesak, seakan-akan tidak mempercayai apa yang di lihatnya.
Tok....Tok...Tok...
Mendengar ketukan pintu toiletnya, Rania langsung menghapus air matanya. "Iya, sebentar". Kata Rania, merapikan penampilan yang tak sempurna tadi.
Ceklekk....
"Aaaaakkkkhh....". Rania,yang membuka pintu toilet dan di dorong paksa oleh Aldo. Tangan kekarnya, langsung mengunci Rania dan menghimpit tubuh. "Lepassss.....". Bentak Rania, nafasnya ngos-ngosan. Wajah mereka saling bertemu dan berjarak beberapa inci saja. Secepatnya Rania, memalingkan wajahnya.
"Sudah lama sekali,kita tidak bertemu. Wahai, mantan kekasihku". Bisik Aldo, tepat di telinga Rania.
Bulu halusnya Rania,meremang berdiri seketika. Hembusan nafasnya, sangat terasa. Rasa gugupnya, menguasai dirinya dan berusaha untuk santai.
"Waw... Tubuhmu masih seperti dulu, sangat sensitif terhadap hembusan nafas ku. Siapa pria tadi, apakah suamimu?". Tanya Aldo, tersenyum smrik.
"Bukan urusanmu, Aldo". Tegas Rania, menatap tajam ke arah mantan kekasihnya.
Aldo, mengerutkan keningnya. Ketika Rania, menyebut nama dan tidak menggunakan kata Abang. "Aldo? Mana yang dulu memanggilku,bang Aldo? Rania,mana anakku".
__ADS_1
Degggg....
Mulut Rania,kelu tak bisa berkata apa-apa. Kepalanya menggeleng pelan, dia ketakutan karena Aldo akan merebut anaknya.