
2 jam perjalanan, akhirnya sampai di tempat tujuan.
Aldo,membawa Rania ke hotel dekat pantai.Udaranya sangat sejuk dan nyaman.
Rencananya mereka akan, berjalan-jalan di sore hari pinggir pantai. Menikmati suasana berdua,tanpa ada mengganggu mereka.
"Wahhh... Sangat indah,bang!". Rania,membuka pintu balkon. Terpampang jelas pemandangan,ke arah laut.
"Baguslah, kalau kamu suka". Aldo, memeluk kekasihnya dari belakang. "Aku sangat mencintaimu, Rania". Bisiknya, dengan suara serak.
Sentuhan Aldo, memabukkan bagi Rania. Tak mampu menolaknya, sama-sama menginginkan sentuhan.
Berlahan-lahan Aldo, membaringkan sang kekasih di atas ranjang. Tanpa melepas pelukan dan ciumannya.
Satu persatu pakaian terlepas,dari tubuh mereka. Sama-sama bergairah yang sudah memuncak,apa lagi mendengar desa-han sang kekasih.
Gila, ini memang gila bagi Aldo. Bercinta dengan istri tetangganya,tak memperdulikan status Rania.
Begitu juga Rania, tidak memperdulikan jika dirinya masih berstatus istri orang.
Hampir 1 jam, mereka berdua saling memberikan kehangatan. Melepaskan hasrat yang terpendam, penuh dengan cinta dan kelembutan.
"Di dalam,aaahh...Apa di luar? Tentukan,sayang". Lirih Aldo, hampir menuju puncaknya.
"Ssshhhttt...Hmmm... Dalam aja, sayang...Aaahhh..". Des-ah Rania, matanya merem melek menikmati permainan Aldo.
Aldo, tersenyum sumringah karena Rania mengijinkan lahar panasnya keluar di dalam. Berharap Rania,bisa hamil. Lalu, tidak akan lepas darinya.
Mereka berdua ngos-ngosan mengatur nafas, Aldo ambruk di samping Rania. Memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah, Rania.
Sedangkan Rania, sudah memejamkan matanya. Sungguh gila permainan dari Aldo,yang belum pernah di dapatkan dari suaminya. Menutupi seluruh tubuh polosnya.
"Rania,apa kamu meminum penunda kehamilan? Maaf,aku kebablasan". Aldo, memeluk erat tubuh Rania yang polos.
"Tidak,bang. Sudah lama aku, tidak melakukan hubungan dengan suamiku". Jawab Rania, membenamkan wajahnya di dada bidang Aldo.
"Benarkah? Pantesan aja, sempit mengigit. Aku harap, jangan lagi bermain dengan suamimu. Siapa tau aja, bibit unggul ku membuat mu hamil". Kekehnya Aldo, mencium kening Rania.
__ADS_1
"Hmmmm.... Aku tidak sudi, melakukan hal itu. Apa lagi bekas istri mudanya,jijik bang. Aku sangat lelah, biasanya cuman sebentar dengan suamiku. Tapi,beda dengan Abang". Kata Rania, malu-malu kucing.
"Ini adalah pertama kalinya,aku melakukan ini. Biasanya menggunakan sabun,saat memandang tubuhmu yang indah ini. Itupun aku melakukannya, sambil membayangkan kita bercinta". Bisik Aldo, lagi-lagi membuat Rania malu. Wajahnya sudah memerah merona,ada rasa senang di hatinya.
"Bang, aku harap. Abang,cuman bermain dengan ku saja". Pinta Rania, mendongakkan kepalanya ke atas. Mereka berdua saling pandang, penuh dengan cinta.
"Itu pasti,sayang. Karena milikku,cuman tegang dengan mu saja". Bisik Aldo, mengigit bibir Rania.
"Ha? Jangan berbohong,bang". Rania, nampak tak percaya dengan ucapan Aldo.
"Seriusan, sayang. Aku kira, diriku impoten. Karena milikku tidak bangun, bahkan gairah tidak ada. ketika waktu itu, menyentuh tanganku. Ada desiran aneh menjalar ke seluruh tubuh ku,malah yang di bawah tegang. Di situlah aku sadar, cuman dirimu obatku". Ucap Aldo,dia mengatakan yang sebenarnya.
"Benarkah?". Rania,merasa senang mendengarnya.
"Mau lagi,". Bisik Aldo,tanpa ba-bi-bu lagi. Langsung beraksi, menelusuri setiap lekukan tubuh Rania.
Lagi-lagi Rania,terbuai dengan permainan Aldo. Suara desa-han menggema seisi kamar hotel, keringat bercucuran membasahi tubuh mereka.
************
"Hoaaammm....". Rania, mengerjapkan bola matanya. Matanya tertuju pada balkon kamar hotel, terlihat Aldo tengah bersantai dan menerima telpon dari seseorang.
Rania, memutuskan untuk diam dan tidak mau mengganggu. Matanya tertuju pada jam dinding, sudah menunjukkan pukul 3 sore. Mereka berdua, melewatkan makan siang.
"Sudah bangun,sayang. Mau mandi,atau jalan-jalan?". Tanya Aldo, mendekati Rania.
"Mau mandi,lalu makan. Tenaga ku terkuras habis, olehmu". Jawab Rania, tersenyum manis.
"Mau mandi bareng, boleh". Kedip mata Aldo, sontak membuat Rania terkejut mendengarnya.
"Gak,mau mandi sendiri aja. Takutnya main lagi,gak sanggup bang". Tolak Rania, bangkit dari ranjang.
Aldo, terkekeh geli mendengarnya. "Makasih,sayang. Untuk hari ini,".
Rania, tersenyum dan mengangguk kepala. Menghilang di balik pintu kamar mandi,membuka kran shower dan membasahi tubuhnya. Sejenak Rania, termenung dan berpikir. Entah kenapa, tidak rasa sesal apa yang di lakukan tadi.
Seakan-akan tidak terjadi apa-apa,tanpa memikirkan rumah tangganya. "Kenapa aku, semakin yakin untuk berpisah dengan suamiku. Apakah bang Aldo, benar-benar tulus dengan ku. Jika main-main saja, tidak masalah. Anggap saja, sebuah pelampiasan semata". Gumam Rania, menaruh rasa curiga kepada kekasih gelapnya.
__ADS_1
*************
Rania dan Aldo,tiba di restoran. Mereka menikmati makan bersama,ada canda tawa dan gurauan. Sungguh pasangan romantis dan serasi,bagi orang-orang melihatnya. Padahal mereka tidak tahu saja, jika sang wanita berstatus suami orang.
Sejak kapan bang Aldo,suka kepiting? Apa bang Aldo,mulai menyukai kepiting. Batin Rania,heran melihat Aldo. "Bang Aldo, sangat lahap menyantap kepiting. Sejak kapan bang Aldo, menyukainya? Bukankah dulu, tidak suka". Tanya Rania, penasaran.
"Hmmmm.. Semenjak kehilangan mu,apa yang tidak aku suka. Akhirnya aku rubah, menjadi suka". Jawab Aldo, dengan santainya.
Rania, mengangguk kepalanya. "Maafkan Rania,bang. Karena kepergian ku, dulu".
Aldo, menggenggam jemari tangan Rania dan tersenyum. "Tidak apa,sayang. Cukup 1 kali,aku kehilangan mu. Kali ini tidak akan pernah,".
Rania, mengulum senyumnya. Ada tetesan air bening, mengalir di kedua pipinya. Secepatnya, Aldo menghapus air matanya.
"Rania,berpisahlah dengan suamimu. Lalu, membina rumah tangga bersama ku. Jangan menyiksa dirimu, dengan amanah alm.ibumu". Ucap Aldo,membawa Rania ke dalam pelukannya.
"Kok,jadi mewek sih. Seharusnya,kita tengah bahagia bang. Ayo, selesaikan makannya. Setelah ini, baru ke pinggir pantai. Sudah lama kita, tidak bermain di pantai". Rania, berubah ekspresi wajahnya menjadi bahagia.
Selesai makan bersama, mereka berdua menuju pinggir pantai. Berjalan-jalan bergandengan tangan, menikmati suasana berdua.
Aldo, membawa Rania ke dalam air. Menyiksa kepala mereka, tidak tenggelam. Saling berpelukan dan berciuman, kebetulan suasana pantai sepi. Mereka bebas melakukan apapun,tanpa ada orang yang mengganggu kesenangan mereka.
**************
Hari mulai senja, Rania dan Aldo sudah meninggalkan hotel. Tidak mungkin mereka bermalam di sana,karena Rania tidak ijin kepada suaminya.
"Makasih atas waktunya,sayang". Aldo, mencium punggung tangan Rania.
"Sama-sama, bang. Sudah melepaskan rinduku dan kenangan indah kita dulu". Kekehnya Rania, tersenyum manis.
Rania, tidak menyangka jika tetangga barunya adalah mantan kekasihnya dulu. Sempat di tinggalkannya,karena menikah dengan Fahri.
Rania, sangat merindukannya. ketika pertama kali,siapa tetangga barunya.. Akan tetapi, bersikap biasa saja. Seakan-akan, mereka berdua tidak saling mengenal.
Semakin terkejutnya adalah Aldo, semakin nekat menemuinya di dalam rumah. Beruntung sekali, Fahri sudah berangkat kerja. Rania,yang tidak bisa berbohong apa yang di rasakan. Langsung luluh dalam pelukan mantan kekasih,yang tidak bisa di lupakan atau di gantikan.
Begitu juga Aldo, sangat mencintai Rania. Rela menjadi kekasih simpanannya, berharap dia bercerai dengan suaminya.
__ADS_1