
"Tama, cukup! Jangan berbicara apapun lagi, Rania sudah menjelaskan semuanya kepada ibu". Bantah bu Yati, sudah tidak sanggup melihat Rania di marahi habis-habisan oleh Tama.
"Apa? Jadi selama ini,ibu diam. Tidak memberitahu kepada ku,aku kecewa dengan ibu". Bentak Tama, dadanya naik turun mengontrol dirinya. "Apa gara-gara dia, seorang wanita. Aku tahu sekali,jika ibu menginginkan seorang anak perempuan".
"Tama,ibu tidak salah. Aku yang meminta untuk merahasiakan semuanya,karena ini tidak wajar kamu ketahui. Lagipula aku menceritakan dulu, waktu kamu masih sekolah". Kata Rania, menatap lekat ke arah Tama.
"Tama! Hentikan jangan membuat Rania, lebih sakit hati lagi. Sudah cukup dia, menanggung beban selama ini. Kita tidak ada hak, untuk menghakiminya. Nak, ceritakan semuanya kepada kami. Kenapa ayahnya Aldo, memisahkan kalian? Jangan ada yang di tutupi,". Pinta bu Yati, mengelus lembut punggung Rania.
Rania, mengangguk pelan dan menarik napas dalam-dalam. Sudah saatnya dia, tidak akan menutup apapun dari mereka.
Tama, awalnya sangat kecewa berat dan mendengar cerita Rania. Hatinya terasa tidak tega, sekarang dia paham apa yang terjadi.
Rania,menangis kesegukan di pelukkan bu Yati. Menumpahkan rasa sesak di dadanya, berbagi apa yang di bebankan selama ini.
Tama, masuk kedalam kamar dan merenungkannya. Untuk waktu dekat, kemungkinan tidak se akrab dulu lagi.
Ceklekk....
Rania, membuka kamar Tama dan mendekatinya di pinggir ranjang.
Tangannya menyentuh lengan, Tama. Sang empunya acuh saja, tidak menoleh ke arah Rania.
"Maafkanku,Tam. Bukan maksudku untuk membohongi mu, asal kamu tahu saja. Aku tidak ada niatan untuk kembali kepadanya, walaupun dia ayah kandungnya Nick". Kata Rania, tertunduk sedih. "Tam, bicaralah dengan ku. Jangan mendiami seperti ini,aku tahu jika kamu marah dan kecewa".
"Keluarlah dari kamarku,jangan mengajak berbicara apapun lagi". Tama, langsung mengusir Rania.
"Baiklah,aku pergi Tam. Maaf, sudah membuat mu marah". Akhirnya Rania, keluar dari kamarnya.
Rania, membawa Nick ke rumahnya yang masih terlelap tidur.
[Besok ada seseorang menjemputmu dan
Nick].
Sebuah pesan masuk, tertera tidak ada nama pengirimnya. Tetapi,dia tau pesan dari siapa.
__ADS_1
"Huuuff....Ada apa dengan ku? Hatiku sakit sekali, melihat perubahan Tama. Tidak mungkin aku jatuh cinta dengannya, Aaarghhh....". Rania, frustasi karena memikirkan perasaannya sendiri.
***********
Besok paginya, sesuai dengan pesan dari Aldo. Rania dan Nick,di jemput oleh seseorang.
Tama,cuman mengintip di sela-sela tirai. Ada rasa tidak rela Rania dan Nick,jatuh ke pelukan Aldo. Tangannya mengepal erat, menampar dinding kamarnya. Tidak memperdulikan tangannya memar dan berdarah.
Rania dan Nick,pamit pergi dulu. Sebenarnya enggan menuruti kemauan Aldo, tetapi bu Yati memberikan nasehat untuknya.
Lebih baik di pertemukan langsung dengan ayahnya kandung Nick, daripada menundanya lagi.
"Hore....!Nick,gak sabaran bertemu dengan Papah. Makasih bunda, sudah menemukan papah". Nick, sangat bahagia mendengar ucapan ibunya.
Rania, tersenyum sumringah dan mengelus pucuk kepala anaknya. Apapun yang dilakukan untuk kebahagiaan, sang buah hatinya. "Yang pintar yah, bersama papah nanti".
"Oke,bunda". Jawab Nick, mulutnya terus-terusan ngoceh tak jelas.
************
Rania dan Nick, sudah sampai dan di sambut hangat oleh orangtuanya Aldo.
Rania, sempat terharu melihat momen indah itu. Tetapi,dia berniat untuk tidak bersama Aldo lagi. Luka di hatinya sangat sulit untuk di sembuhkan, walaupun pak Giro meminta maaf.
Aldo, menggendong sang buah hati. Air matanya tumpah Sudah, tidak menyangka sebesar ini anaknya sudah. Rasa bersalahnya kepada Rania, semakin besar.
Pak Gito, benar-benar malu terhadap Rania. Sudah memisahkan mereka berdua,tengah mengandung cucunya. Di lubuk hatinya,merasa bahagia memiliki seorang cucu yang di inginkan selama ini. Begitu juga sang istri, sangat bahagia di raut wajahnya.
"Ibu, ingin sekali Kalian bersama dan membina rumah tangga. Maafkan sikap Aldo,yang tidak bertanggung jawab". Bu Ara, benar-benar malu atas sikap anaknya.
"Maafkan aku,bu. Tidak bisa kembali, seperti yang di inginkan ibu.Maaf,". Kata Rania, tersenyum kecil.
Bu Ara, tidak bisa memaksa kehendaknya. Apa yang dikatakan Rania,memang benar. Lukanya terlalu dalam,tapi masih bersyukur karena bisa bersama dengan cucunya.
Aldo dan ayahnya, tengah asyik bermain dengan Nick. Begitu banyak mainan,di belikan untuk sang cucu.
__ADS_1
Nick, tidak mau jauh-jauh dari Aldo. Selalu duduk di pangkuan ayahnya, sampai tertidur pulas.
Aldo, dengan sigap membawa anaknya ke dalam kamar dan diiringi oleh Rania.
"Terimakasih,". Kata Rania, setelah Aldo meletakkan anaknya di atas ranjang.
"Baru pertama kali bertemu, sudah sedekat itu dengan ibuku". Kata Aldo, duduk di samping Rania. "Rania, menikah dengan ku". Aldo, menggenggam jemari Rania.
"Maafkan aku,Aldo. Aku tidak bisa,". Jawab Rania, menundukkan kepalanya.
"Apa karena bocah itu, hmmmm...". Tanya Aldo, mengangkat dagu Rania.
"Dia menyukai ku,Do. Aku juga tidak tahu, bagaimana perasaan ku? Kami cukup lama dekat,karena sering bersama. Bisa jadi ada benih-benih cinta, yang tumbuh". Jawab Rania, bingung dengan pilihannya.
Mendengar ucapan Rania, membuat Aldo frustasi dan mengusap wajahnya dengan kasar. "seminggu lagi,aku akan pergi. Ada misi harus di selesaikan,".
Aldo, beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya. "Semoga kamu bahagia Rania,jika dia yang kamu inginkan. Pilihlah dia,jika sampai menyakitkanmu dan menyia-nyiakanmu. Hubungi aku, untuk mengambil mu".
Rania,diam dan tidak berkata apa-apa. Bayangan Aldo, menghilang di balik pintu. Derai air matanya luruh sudah, perasaannya tidak menentu seperti ini.
************
Malam harinya Rania dan Nick, bermalam di kediaman orangtuanya Aldo. Karena Nick,mau tidur bersama ayah.
Jangan di tanyakan lagi, bagaimana perasaan Tama? Mondar-mandir tak karuan, pikirannya berkecamuk kemana-mana. "Aaarghhh....Kenapa belum pulang,jam segini? Apa jangan-jangan Rania dan Nick, bermalam di sana. Lalu, apakah Rania mengulangi cinta mereka dan tidur bersama,".
Tama, mengacak-acak rambutnya dan masih terngiang-ngiang dengan ucapan Aldo. Tanpa ba-bi-bu lagi, Tama mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan perkarangan rumah.
Dia menemui temannya yang nongkrong di kafe, biasanya enggan untuk bergabung.
"Apa?". Ucap bersamaan Hery,Nado dan Digo. Ketika mendengar cerita dari,Tama.
"Wahhh.... Bahaya ini,Tama. Bisa jadi cinta lama bersemi kembali,". Kata Nado, tersenyum kecil.
"Lalu,kamu menyerah begitu saja? Lupakan Tama, wanita banyak di luar sana. Kamu kalag saing,karena pria itu adalah ayah kandungnya Nick. Sudah pasti kak Rania, memilih dia di bandingkan kamu". Sahut Nado, sontak mendapatkan tatapan tajam dari Tama.
__ADS_1
"Tapi, Rania bilang kepadaku. Dia tidak mau balikan dengan mantan kekasihnya itu, apakah aku bisa mempercayai ucapannya? Takutnya aku di bohonginya". Tama, langsung menekuk wajahnya. Belum apa-apa sudah di patahkan hatinya, oleh seorang janda anak satu.
Tama, tidak tahu sama sekali. Kapan perasaan itu, muncul dan mencintai Rania. Padahal dirinya, sudah menganggap seperti kakaknya sendiri.