
Tama, memandang wanita di hadapannya. Dia akan di jodohkan dengan seseorang wanita,bernama Kanaya seorang PNS. Ibunya,terus mendesak agar menikah dan membangun rumah tangga. Jangan terus-terus memikirkan Rania,yang sudah berbahagia itu.
Wanita itu, memandang intens ke arah Tama. Ada tatapan mata,yang sulit untuk diam artikan.
"Yakin,mau menerima perjodohan ini? Aku liat sih,kamu tidak ada kekurangan apapun. Serba oke,wajah, postur tubuh, apa sih pekerjaan mu?". Tanya Kanaya,dia terus di desak orangtuanya untuk menikah. Dari gerak-geriknya sangat menarik, tidak seperti pria lainnya. Jelas sekali wajahnya,dia bersifat dingin. Lalu, kenapa dia bersifat dingin? Pasti ada sesuatu yang di sembunyikan, sangat menarik.
"Aku cuman bekerja,di hotel orangtuamu". Jawab Tama,mendengus dingin. Jujur saja dia tidak tertarik sedikitpun, terhadap wanita di hadapannya ini. Astaga, apakah dia seorang wanita baik-baik. pakaiannya sangat minim dan kurang bahan. jauh beda dengan Rania,sial aku terus mengingat namanya.
Rupanya sang ibu, berteman dengan ibu kandungnya Kanaya. Tiba-tiba saja, orangtuanya menjodohkan anak-anak mereka.
"Oh,terus kamu mau menikahi ku?". Tanya Kanaya,yang suka plin-plan. Jika tidak mau,aku berusaha keras untuk mendapatkan dirimu.
"Terserah kamu saja,aku tidak nuntut apapun". Jawab Tama, dengan dingin. Aku cuman mengikuti alurnya saja. Jika ini memang terbaik,aku buktikan sendiri bisa tanpa Rania. Aku bisa melupakan dia, mencintai wanita lain.
Meskipun pernikahan itu terjadi, mungkin membutuhkan waktu lama untuk menerima Kanaya. Karena dia tidak bisa melupakan, Rania.
"Oke, kita jalani dulu gimana kedepannya? Aku menggiring kedua orangtuaku saja". Jawab Kanaya, tersenyum kecil. Sangat menarik,aku menyukai postur tubuhnya. Apakah dia sering Gym? Oh,jangan bilang ada sixpack perutnya. Sial,aku tidak sabar untuk menyentuhnya.
"Kamu punya pacar?". Tama,mulai bertanya kepada calon istri itu. Walaupun benar punya kekasih, baginya bodo amat dan tidak penting.
Kanaya, menggeleng kepalanya. "Lalu,kamu sudah punya pacar?". Kini dia balik bertanya, kepada Tama. Jika benar kamu memiliki pacar,aku berjanji untuk membuat mereka putus.
"Tidak ada, aku perlu waktu untuk membuka hatiku. Jujur,aku masih mencintai seseorang yang sudah menikah dengan pria lain. Maaf, lagipula kita menikah bukan berdasarkan cinta". Tama, tidak menutupi kebohongannya. Setidaknya aku jujur dari awal, takutnya menjadi sebuah penyesalan di akhir.
__ADS_1
"Oh, tidak masalah soal itu. Yang penting aku tidak lelah, mendengar pertanyaan kapan aku menikah. Intinya kita sepasang suami-isteri bahagia, tepat di hadapan orangtuaku". Tegasnya kanaya, tersenyum smrik. Tenang saja,aku bisa melupakan perasaan mu kepada wanita itu. Apapun caranya kau akan bertekuk lutut kepadaku,lalu takut kehilangan ku.
"Oke,tenang saja aku berusaha melupakan cinta pertama ku itu". Sahut Tama, menyetujui ide kanaya. Huuuff....Maaf,aku tidak janji. Mungkin lama melupakan perasaan ini,maafkan aku Kanaya.
Kanaya, cekikikan tertawa mendengar ucapan Tama. Apakah benar,yang di katakannya? Justru kanaya, malah tertantang untuk menaklukkan hati Tama. Dia penasaran sekali dengan wanita itu,yang bisa mencuri hati Tama.
"Astaga,jangan bilang kamu tidak pernah pacaran?". Tebak Kanaya, langsung di angguki Tama. "Hahahaha..Hahahaha...Tama,kau lucu sekali. Apa jangan-jangan,kamu masih perjaka".
Sontak membuat Tama, memalingkan wajahnya ketika mendengar ucapan Kanaya. Dia sangat terbuka,dan plin-plan mengatakan hal yang tidak-tidak. Astaga,dia benar-benar mengatakan hal itu? Apakah Kanaya, seorang wanita liar. Batin Tama, tiba-tiba bergidik geli.
"Hahahaha... Hahahah...Zaman sekarang masih ada pria perjaka? Waw... Haruskah aku memberikan kamu, penghargaan yang tinggi". Lagi-lagi Kanaya, mengejek dirinya.
"Kau seorang wanita, tidak pantas berbicara seperti itu. Kalau aku perjaka,lalu kenapa ha? Lantas, kau masih perawan begitu. Perawan atau tidak,aku tidak perduli". Ucap Tama, rahangnya mengeras seketika dan tatapan sangat mengerikan.
Membuat kanaya, bergidik ngeri melihatnya. "Aku tidak perawan lagi". Ucapnya langsung memalingkan muka. Maaf,aku berbohong demi menguji mu.
Kanaya, terheran-heran dengan kelakuan Tama. Sangat menarik baginya, tidak pernah bertemu dengan seorang pria seperti Tama.
****************
"Bagaimana tadi, pertemuan dengan Tama?". Tanya pak Jhon,ayah kandungnya Kanaya.
"Sangat menarik,ayah. Aku menyukai karakter dirinya, sangat menarik dan menantang". Jawab Kanaya, cengengesan.
__ADS_1
"Berarti kami tidak salah dong, untuk memilih calon suami untuk mu". Sahut bu Mini,sang ibu.
"Hmmmm...Kami menyetujui perjodohan ini. Terserah saja,kapan menikahnya? Aku dan Tama, menyerahkan semuanya kepada kalian". Kata Kanaya, tersenyum manis.
"Mas,kamu dengarkan perkataan anakmu. Rupanya anak kita, tidak sabar untuk menikah lagi. Semoga saja, secepatnya mendapatkan kabar baik setelah menikah". Kekehnya bu Mini,yang sudah tak muda lagi.
"Mamah,apan sih! Gak seru jadinya,aku cuman mewujudkan keinginan kalian. Masalah kabar baik itu,apa mah?". Tanya Kanaya,di akhir kalimat perkataan ibunya tidak mengerti.
"Itu, memberikan kami cucu". Sahut pak Jhon. Sontak Kanaya membulatkan matanya sempurna.
"Apa? Cucu! Astaga,ayah,mamah. Kami menikah karena perjodohan. Memerlukan waktu lama, untuk saling mencintai. Mana mungkin kami, langsung melakukan itu". Kata Kanaya, tersipu malu-malu.
"Jangan menunda-nunda Kanaya,umur kami tidak muda loh. pengen nimang cucu,". Bu Mini, tersenyum dan mencubit pipi anaknya.
Kanaya,jadi gelisah gusar jadinya. Tidak masalah memiliki anak lebih cepat, tetapi apa Tama mau? Itulah masalahnya, karena ada anak yang memperkuat hubungan mereka nanti. Takut wanita yang di cintai Tama, tiba-tiba datang dan merampasnya kembali.
"Kanaya, setelah menjadi seorang istri. kamu harus bisa melayani suamimu, sepenuh hati. Walaupun kalian berdua, tidak saling mencintai. seiring waktunya berjalan tumbuhlah benih-benih cinta, diantara kalian. Mamah, sangat yakin sekali. Tama, bisa memperlakukan dirimu dengan penuh cinta". Bu Mini, menasehati anaknya.
Kanaya, mengangguk kepala dan berharap Tama seperti yang di katakan ibunya. Walaupun dia, tidak yakin sekali. Sebab Tama,masih mencintai wanita lain.
"Makasih mah, sudah menasehatiku. Semoga saja ini adalah pernikahan ku, seumur hidup. Seperti ayah dan mamah, selalu harmonis setiap hari". Kekehnya Kanaya, tersenyum sumringah.
"Tama, seorang pria bertanggung jawab. Pastilah dia tidak akan mengecewakanmu,nak". Sahut pak Jhon, tersenyum.
__ADS_1
Kanaya, seorang anak yang beruntung terlahir di keluarga yang kaya raya. Serba tak ada kekurangan,namun dia tetap rendah hati.
Dering ponselnya berbunyi, tertera nama seorang pria. Lalu, mengangkat telpon dan meninggalkan orangtuanya. "Oke,besok kita bertemu dengan teman lainnya. Aku tidak janji, membawa calon suamiku. Karena dia bersikap dingin,". Kata Kanaya.