Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Resepsi


__ADS_3

Ballroom hotel di penuhi para tamu undangan pernikahan. Dimana Tama dan Kanaya, mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran.


Sepasang suami-isteri yang sah, beberapa menit yang lalu. Tama, sudah mengucapkan ijab kabul dengan lantang.


Sepasang pengantin duduk di pelaminan,yang sangat indah dan mewah. Orang mengira bahwa mereka berdua saling mencintai dan bahagia tiada duanya.


Akan tetapi Tama dan Kanaya,nampak biasa saja. Mereka berdua berpura-pura, tersenyum manis. Ketika para tamu undangan naik ke atas pelaminan dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.


"Sangat lelah,aku tidak menyukai resepsi pernikahan". Gumam Kanaya, sudah merasa pegal-pegal di bagian kakinya. Belum lagi menggunakan gaun pengantin, lumayan berat.


Tama,melirik sekilas ke arah istrinya. Yang tengah membenarkan gaunnya, kesusahan untuk duduk di pelaminan. Dia langsung sigap membantu Kanaya,sontak menjadi pusat perhatian orangtuanya.


Kanaya, terkejut atas perlakuan Tama. Tumben sekali dia perhatian kepadanya, apakah ini semacam akting saja.


"Terimakasih,". Lirih Kanaya,yang malu-malu dan membuang mukanya.


"Jika ada sesuatu,minta bantuan lah kepadaku. Jangan sungkan Kanaya,karena kamu tanggung jawabku sepenuhnya". Ucap Tama, kata-katanya mampu menghangatkan hati Kanaya.


Kanaya, mengangguk kepalanya dan menyambut uluran tangan tamu-tamu undangan.


Degggg...


Tama, menatap tajam ke arah tamu undangan yang baru datang. Jantungnya berdegup kencang, tangannya mengepal kuat.


"Tama,kamu kenapa?". Tanya Kanaya,karena suaminya tiba-tiba diam seperti patung.


Hingga akhirnya kanaya, menangkap ke arah sepasang suami-isteri dan seorang anak kecil. Di sinilah Kanaya, mengerti tentang suaminya. "Jangan-jangan wanita itu,yang di cintainya". Gumam Kanaya,ada rasa sesak di dadanya.


Rania dan Aldo, langsung ke atas pelaminan. Tak lupa Nick,di gendongan ayahnya.


Rania, tidak menduga mendapatkan undangan pernikahan dari rekan bisnis suaminya. Dia terkejut siapa mempelai pria, ternyata Tama.


Aldo, yang masih ada rasa dendam kepadanya. Sengaja membawa Rania dan Nick,ke resepsi pernikahan Tama.

__ADS_1


Tama,mulai mengontrol dirinya dan mengubah ekspresi santai. Ketika Kanaya, menggenggam jemari tangannya. "Kamu bisa kok, melupakannya". Bisik Kanaya, dengan suara lembutnya.


"Rania, Nick, kalian datang". Bu Yati, langsung menyambut kedatangan mereka lebih dulu. Menatap lekat ke arah Aldo,memang mirip dengan Nick.


"Selamat bu Yati,atas pernikahan Tama". Ucap Rania, tersenyum manis. Nick,juga mencium punggung tangan bu Yati. Yang sudah di anggap neneknya, waktu dulu.


"Nick, kangen sama nenek. Maaf, Nick marah waktu dulu". Kata Nick, tertunduk sedih.


"Tidak apa,nak. Sana ucapkan selamat, untuk om Tama. Dia sangat merindukan mu,". Bu Yati, tersenyum dan was-was takut terjadi sesuatu nantinya.


"selamat atas pernikahan kalian berdua, terutama kamu Tama". Ucap Aldo, merangkul pundak Rania dan Nick di gendongannya.


Tama, yang berusaha mengontrol dirinya jangan sampai membuat kesalahan besar. "Terimakasih,".


Kanaya, memandang Rania mulai ujung kepala sampai ujung kakinya. Tidak ada spesial dari Rania, malahan jauh lebih tua dari suaminya itu.


"Selamat atas pernikahan mu,Tama dan Kanaya. Nick, ucapkan selamat untuk Om". Ucap Rania,suara khas lembut. Yang di rindukan Tama,selama ini.


"Selamat yah, Om dan Tante". Nick, tersenyum sumringah.


Tama,yang memandanginya tanpa berkedip sekalipun. Hatinya memanas melihat keluarga yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan.


***************


Malam harinya Tama, merenung sejenak. Mengingat kembali tadi siang, sudah lama tidak bertemu dengan Rania. Akhirnya bertemu lagi, sungguh menyayat hati dan pikirannya.


Kanaya, memandang suaminya merokok di balkon dan memandang ke atas langit yang sudah gelap gulita. Tanpa ada bintang yang bersinar, seperti hatinya gelap tanpa ada penerangan.


Tama, melirik sekilas ke belakang. Sang istri sudah selesai mandinya dan berbaring di atas ranjang.


Dia masuk dan menutup pintu balkon kamar, mendekati tempat tidur. "Mau aku pijit-pijit kakinya?". Tanya Tama, teringat istrinya kelelahan tadi siang


Kanaya, membulatkan matanya dengan sempurna. Mendengar ucapan sang suami,dia langsung menutupi seluruh kakinya dan menyisakan ke atas dada. Apa yang di katakannya? Apa jangan-jangan,kode untuk melakukan hal itu. Astaga! Apa aku kebobolan malam ini juga.Batin Kanaya,susah payah meneguk salivanya.

__ADS_1


Teringat dengan kejadian di ruang kerja,Tama. Dia mengira Tama,akan menciumnya. Nyatanya dia membuang sesuatu yang menempel di rambut, sungguh memalukan baginya.


"Oh, tidak perlu". Kanaya, langsung menolak dan menggelengkan kepalanya. Jantungnya berdegup kencang, napas tak beraturan. Ketika Tama,terus memandang wajah dan mendekati tubuhnya. "Kamu mau ngapain?". Tanyanya dengan gugup sekali.


"Kenapa kamu bertanya, Kanaya? Kita ini pengantin baru,malam pertama adalah sesuatu yang di nantikan oleh pengantin baru". ucap Tama, mencium rambut panjang Kanaya.


Glek!


Kanaya, menggeleng kepalanya dan kebingungan harus berbuat apa. Dia salah menilai Tama, rupanya dia mesum juga. "Aku,aku belum siap". Jawabnya Kanaya, dengan sejujurnya.


"Untuk apa siap-siap, kita cuman nyicil untuk membuat cucu. Sesuai keinginan orangtua kita loh, menunggu siap kapan? Mumpung mereka masih ada,takutnya kamu nyesal". Tama, menyunggingkan senyumnya.


Hening tidak ada jawaban dari Kanaya, akhirnya Tama merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


Kanaya, merebahkan tubuhnya dan memegang erat selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang, napas tak beraturan. Sangat gugup sekali,ini adalah pertama kalinya bersama pria di atas ranjang.


"Yakin,gak mau?". Tanya Tama,dia sengaja untuk mengerjai istrinya itu. Yang sok jual mahal kepadanya, seperti mainan baru baginya.


"Mesum". Gumam Kanaya, tangannya sedikit gemetaran. Takut sang suami, tiba-tiba menerkam dirinya langsung.


"Oh, jadi kamu menilai ku seorang pria mesum. Baiklah aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu, bagaimana seorang pria mesum?". Senyum smrik Tama, melepaskan baju dan melemparnya.


"Tama,kamu..!". Kanaya,yang gelabakan melihat suaminya sudah bertelanjang dada. Tangannya sudah di cekal Tama, tak akan kabur kemana pun.


"kenapa,kamu ketakutan? Bukankah kamu mengatakan aku pria mesum, enak sekali kamu menuduhku sembarangan. Aku tidak terima, lebih baik aku buktikan langsung". Kata Tama, sudah di atas tubuh Kanaya.


"Tama,aku minta maaf kepada mu. Bisakah kamu,jangan di atas tubuh ku. Plisss...". Pinta Kanaya, tangannya di kunci di atas kepala. Memberontak pun, tidak ada artinya lagi.


"Nanti dulu,aku ingin bersenang-senang". Bisik Tama, tepat di daun telinga kanaya.


"Aahh...". pekik kanaya,ketika Tama mengigit telinganya. Bulu halus seketika meremang, hembusan nafas Tama terasa di lehernya. "Aahh...Tama". kanaya, tidak menduga bahwa suaminya memberikan jejak di lehernya.


"Biar orangtua kita mempercayai, bahwa kita tengah bercinta. Mende-sah lah Kanaya,karena mereka tengah menguping di balik pintu". Bisik Tama, melancarkan aksinya. Agar kanaya,lebih mendalami suara desa-hannya.

__ADS_1


"Tapi, kenapa kamu melakukannya benaran. Bukankah katamu, bohongan semata". Kanaya, kebingungan dengan sikap suaminya Sudah melepaskan bajunya, terlihat bungkusan dua melon bergelantungan. Menutupi aset pribadinya itu,semakin memerah wajah Kanaya.


__ADS_2