
Hari ini Rania, bertemu dengan Aldo di sebuah taman. Tidak seperti biasanya, bertemu cuman 4 mata.
"Kapan tugasmu selesai? Jangan lama,bukan aku merindukanmu. Tetapi, Nick akan mencarimu dan aku kebingungan harus jawab apa? Pastilah dia berpikir kamu, pergi meninggalkannya lagi". Rania, menatap intens ke wajah Aldo.
Rania, terkejut mendengar penjelasan Aldo. Yang akan pergi karena tugas,harus di selesaikan. Yang parahnya adalah, tidak tau kapan selesainya. Ini adalah misi sangat berat untuknya, semoga tidak terjadi apa-apa.
"Aku tidak tahu, sampai kapan? 1 yang aku harapkan, menikah dengan pria lain. Jangan Tama,aku mohon. Jika tidak mau, tunggu aku. Aku tahu Rania,selama ini cuman aku menganggap dirimu sebagai kekasih. Dalam lubuk hatimu yang paling dalam, apakah aku di anggap?". Ucap Aldo, memandang lurus. "Aku tidak yakin, dengan keselamatan ku".
Degggg...
Ada perasaan aneh di sudut hatinya, Rania. Entah kenapa,dia tidak menyukai ucapan Aldo. Seakan-akan dia, ingin meninggalkan Rania dan Nick selamanya.
"Aldo,kamu baik-baik saja kan. Tolong jangan berbicara seperti itu, ingat anak.Maaf,aku tidak bisa menjawab perasaan mu. Kembalilah dengan selamat,jika mau menjadikan aku sebagai istri mu". Rania, menyentuh punggung tangan Aldo. Apa lagi yang kamu sembunyikan,Aldo? Tidak puaskah, dengan semuanya. Kau pergi dan nanti kembali lagi. "Kamu seakan-akan meninggalkan ku lama,". Rania, tertunduk sedih.
"Yah... Aku baik,jaga Nick. Aku berusaha keras melindungi diriku,biar pulang dan melihat mu dan anak kita. Sampai ketemu lagi, Rania". Pamit Aldo, tersenyum. "Oh, satu lagi". Aldo, mencium kening Rania."Terimakasih, atas waktunya selama ini. Aku sangat bahagia Rania, selama 1 bulan ini. Kau menghabiskan waktu bersama ku dan anak kita. Jaga dirimu baik-baik,aku doakan semoga mendapatkan suami yang baik. Doakan saja Rania, semoga aku cepat selesai tugasnya. Maaf,".
Rania, menatap kepergian Aldo dan menumpahkan air matanya. Mulutnya kelu tak bisa berkata apa-apa,dulu memang benar dia menginginkan Aldo pergi jauh dari hidupnya. Namun,ketika Aldo pergi dan ada sesak di dadanya.
Hujan deras dan petir menggelegar seisi alam. Rania, cepat-cepat pulang dan kasian kepada anaknya.
Di tepi jalan raya, terlihat Aldo masih mengawasi Rania. air bening mengalir deras di pipinya, sungguh perpisahan sangat menyakitkan. Demi kebahagiaan Rania,dia rela melakukan apapun. "Maaf, aku janji ini adalah tugas terakhir ku. Tunggu aku sayang,".
Walaupun Nick,di jaga oleh bu Yati dan Tama. tetapi saja, kepikiran sang buah hati. Rania, merasakan perubahan dari Aldo dari beberapa hari yang lalu. Yang tak mau jauh-jauh darinya, semakin lengket.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Rania menangis kesegukan dan mengingat kepergian Aldo. Seperti inikah rasanya, tinggalkan pergi. Apakah Aldo, merasakan sesakit ini. Ketika Rania, pergi jauh dari kehidupannya.
*********
Malam harinya Tama, mengajak Rania mengobrol dengannya.
"Apa? Kok bisa,kamu di pindahkan ke kota lain". Rania, terkejut mendengarnya. Ada senyuman kecil, terbit di sudut bibirnya.
Tama, menceritakan tentang dirinya di pindahkan ke perusahaan lain. Membuat Rania, gelabakan akan kehilangan Tama juga. Yang lebih sedihnya adalah Tama, memboyong sang ibu. Sungguh hati Rania, sakit sekali. Harus berpisah dengan bu Yati, sudah di anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. Yah, mungkin itu yang di rasakan Rania. Jika dia tidak mengetahui akal busuk mereka, kali ini pura-pura sedih.
"Mau bagaimana kak,namanya pekerjaan. Ibu,akan ikut bersama ku. Maaf,aku pergi meninggalkan kak Rania dan Nick". Tama,berat hati meninggalkan mereka berdua.Sejauh ini,dia tidak mengetahui kepergian Aldo.
"Tidak apa,Tama. Makasih atas waktunya bersama kami,jangan lupa selalu menghubungi kami nanti". Kata Rania, mendukung kepergian Tama.
"Oh, hubungi aku yah. Jika mau main ke sini, takutnya aku gak ada". Jawab Rania, langsung.
"Hemmmm... Maafkanku kak, soal cinta memang tidak di paksakan. Semoga aku bisa melupakan perasaan ini, mencintai kak Rania sudah terlanjur dalam". Ucap Tama, mengulum senyumnya.
Rania,meremas baju dan kebingungan harus berbuat apa-apa. "Maafkan aku,Tama. Bukan maksudku apa-apa,tapi demi kebaikan bersama". Maafkan aku, tidak bisa membalas cintamu. Aku tidak bisa mencintaimu,lebih dari seorang adik. Entahlah, perasaan ini beda jauh dengan Aldo.
"Yahh.... Semoga saja,kak Rania menikah dengan pria lain. Berharap jangan Aldo". Tama, mengangguk pelan dan menahan air matanya. Sangat sakit cintaku di tolak mentah-mentah, entah kenapa aku tiba-tiba membenci kak Rania? Aku berdoa kepada Tuhan, berharap kak Rania dan Aldo tidak bersama. Aku tidak rela mereka bahagia di atas penderitaan ku, seharusnya lebih sakit dari yang aku rasakan ini
***********
__ADS_1
Tiba waktunya Tama dan bu Yati bersiap untuk pergi. Bu Yati, menangis kesegukan dan memeluk Rania. Entah itu tulus,atau modus saja.
Begitu juga Nick,menangis dan marah kepada Tama. "Om jahat kepada, Nick. Nenek juga, meninggalkan Nick". Bentaknya, langsung masuk kedalam rumah.
"Tenanglah saja,bu. Biar aku yang bicara soal ini, pasti amarah Nick cuman sebentar". Rania,mengelus lembut lengan bu Yati.
Tama,yang sudah duluan masuk kedalam mobil. Tidak ada kata pamitan kepada, Rania. Dia tiba-tiba sibuk dengan ponselnya,atau untuk menghindari tatapan Rania.
Rania, melambaikan tangannya melepas kepergian mereka. Mobil Tama, hilang di pandangannya. Barulah dia masuk kedalam rumah, menghampiri anaknya yang merusak mainan pemberian Tama.
"Astagfirullah,apa yang kamu lakukan Nick? Kenapa, merusak mainan pemberian Papah dan Om Tama". Rania, terkejut melihat anaknya yang mengamuk-ngamuk.
"Mereka jahat bunda,papah dan Om Tama. Mereka meninggalkan kita, tanpa memperdulikan perasaan ku". Nick, menangis dan memeluk erat tubuh ibunya.
"Sabarlah nak, mereka berdua pergi karena pekerjaan". Rania, membujuk anaknya.
"Tidak,bunda! Papah dan Om Tama, berbohong kepada kita. Nick, tidak mempercayai ucapan mereka lagi". Bantah Nick, langsung.
"Nick,jangan berbicara seperti itu! Tidak baik sayang,kamu tidak pantas berpikir macam-macam. Jika kamu sudah besar nanti,kamu paham semuanya. Kenapa papah Aldo dan om Tama pergi. Mereka berdua pergi, karena pekerjaan sayang". Rania, terkejut mendengar ucapan anaknya. Seakan-akan anaknya sudah berpikir dewasa, mempercayai jika kepergian Aldo dan Tama tidak akan kembali lagi.
"Hiks....Hiks...Huu...Huu... Mereka jahat bunda,papah pergi lagi. Om Tama, pergi juga. Hiks... Hiks... Nick, tidak memiliki papah lagi". Nick, menangis kesegukan.
Kepala Rania, sudah nyut-nyutan memikirkan tentang semuanya. Jika benar mereka berdua, pergi meninggalkan dirinya dan Nick. Lantas, bagaimana lagi? Haruskah berakhir sudah,fokus menghidupi dirinya dan sang bua hati.
__ADS_1
Matanya tertuju pada Nick,yang menangis dan memasukkan mainan ke dalam wadah. Mulutnya tak henti-henti mengoceh, membenci Aldo dan Tama. Hati Rania, terasa teriris-iris melihat anaknya sedih.