Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
kecelakaan


__ADS_3

Di sore hari, Rania menikmati secangkir jus jeruk di sebuah kafe.


Menenangkan pikiran dan hatinya, sedang tidak baik-baik saja. Mengabaikan panggilan kekasihnya dan perkataan ayahnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Mulai darimana, seharusnya aku meminta bantuan kepada seseorang. Tapi,siapa? Sedangkan aku, tengah hamil". Gumam Rania, matanya tertuju pada segelas jus jeruk yang sudah habis.


Dia beranjak berdiri dan pergi meninggalkan kafe. Tiba dia parkir mobil, tangannya di cekal oleh seseorang.


"Rania, kenapa tiba-tiba menghindari ku?". Aldo, langsung merangkul pinggang kekasihnya itu sangat di rindukannya.


"Lepassss....Jawab pertanyaan ku dulu,kemana selama beberapa hari ini? Lalu,apa yang kamu lakukan. Lantas, kenapa membohongi ku ha? Aku benar-benar kecewa kepada,bang. Katanya seorang dosen, nyatanya kamu tidak mengajar di kampus itu. Jawab bang,apa bisa? Ck, tidak bisa kan". Rania, menatap tajam ke arah Aldo. Kebingungan karena Aldo, mengetahui keberadaannya. Sedangkan dirinya, sengaja bersantai di pinggir kota.


"Sayang,aku minta maaf soal itu. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya, untuk saat ini. Plisss....Beri aku waktu,sayang". Aldo, berusaha memeluk tubuh Rania.


"Jangan sentuh aku,bang. Sebelum kamu tidak menjelaskan semuanya,jangan harap ada pernikahan di antara kita". Tegas Rania, menepis tangan kekasihnya.


"Rania, plissss...Jangan membuat ku, sedih. Ingat anak kita, sayang". Aldo,masih berusaha tenang.


"Anak? Sedangkan kamu, tidak jujur kepada ku bang. Asal kamu tahu,aku menyesal sudah memberitahu tentang kehamilan ini". Kata Rania, menatap tajam ke arah Aldo.


"Rania, maafkan aku....".


"Cukup,bang! Aku tidak mau mendengar alasan mu,lagi. Apa jangan-jangan,dia bukan ayahmu. Bisa jadi, banyak yang kamu bohongkan dari ku. Aku kecewa kepada mu,bang. Sakit hatiku, sangat sakit". Rania, menepuk dadanya dan deraian air matanya luruh.


"Rania,jangan seperti ini! Aku mohon, sayang". Aldo, tengah kebingungan saat ini. Sikap sang kekasih, berubah begitu saja.


Rania, langsung masuk kedalam mobil dan tidak memperdulikan teriakan kekasihnya.


Aldo, langsung cepat-cepat menyusul kekasihnya dan mengikuti dari belakang. "Sial, Rania..!!".


Rania, menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Begitu juga Aldo,yang sangat khawatir dengan keadaan Rania. Apa lagi, tengah mengandung buah hatinya.


Bruaakkkkkkk....

__ADS_1


Ciiiiittt.....


Rania, merem mobilnya karena mendengar sesuatu yang di tabrak.


"Bang Aldoooo....!". Teriak Rania, sekeras mungkin.


Mobil Aldo, tertabrak mobil lain. Ketika dirinya, melanggar lampu merah.


Keadaan Aldo, tidak sadarkan diri. Beruntung tabrakan tersebut, tidak terlalu parah.


Rania, berlarian mendekati kekasihnya dan meraung-raung histeris.


Aldo, langsung di larikan ke rumah sakit terdekat.Darah segar mengalir deras di kepala,dan lainnya.


Rania,tak henti-hentinya berdoa agar sang kekasih selamat. Ada rasa bersalah di benaknya, gara-gara mengejar dirinya sang kekasih kecelakaan


***********


Hampir 1 jam, Rania menunggu di luar UGD. Karena Aldo, masih di tangani oleh dokter dan tidak ada keluar.


"Kenalkan saya ayah kandungnya Aldo Barreto, gara-gara kamu anak saya kecelakaan". Tegas seorang pria, yang sudah tak muda lagi. "Oh,kamu tidak tahu nama saya. panggil saja Pak Giro Barreto.Pulanglah sana,jangan temui anakku lagi".


Degggg....


Rania, menatap intens ke arah seorang pria yang mengatakan dia adalah ayah kandungnya Aldo. Ada terlintas di pikiran,dia pernah melihat pria di hadapannya. Tetapi dimana,lalu kapan? Wajahnya memang sangat tidak asing,tapi dia lupa.


Bang Aldo, rupanya berbohong tentang pak Randy.Lalu,beliau siapanya.Batin Rania, mengundurkan langkah kakinya.


Ada rasa sesak di dadanya, sungguh bentakkan ayahnya Aldo menusuk hatinya.


Meremas ujung bajunya,lalu berbalik badan dan pergi tanpa sepatah katapun.


"Maafkan mommy,nak. Jika kamu tumbuh,tanpa sesosok Dady. Tapi, mommy janji tidak akan membiarkan kurang kasih sayang untuk mu". Rania,menyeka air matanya dan menuju ke parkiran mobil. "Maafkan aku, bang. Aku pulang dulu, kapan-kapan aku ke sini". gumamnya pelannya, meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


***************


Aldo,di pindahkan ke ruangan inap lainnya. Sudah pasti ruangan VIP, sangat luas dan mewah.


Karena kecelakaan tidak terlalu parah, Aldo seakan-akan tidak terjadi apapun. Hanya kepalanya saja, menggunakan perban.


"Apa ayah, mengusir Rania?". Tanya Aldo, menatap tajam ke ayahnya yang duduk di sofa. Aldo,belum menceritakan tentang kehamilan kekasihnya itu.


"Hmmmm...Dia tidak pantas di pertahankan,ayah tidak sudi memiliki menantu seperti Rania. Apa kamu tidak berpikir jernih, siapa ayahnya ha! Memalukan Aldo,". Bentak pak Giro, langsung. "Ayah, tidak masalah kamu menjalin hubungan dengan siapapun. Asalkan dari keluarga baik-baik, tidak keturunan keluarga penyelundupan narkoba dan senjata".


"Yah, Rania tidak tahu apa-apa. Dia tidak mengetahui pekerjaan haram ayahnya,aku mohon. Jangan pisahkan kami,Yah". Pinta Aldo, meminta iba kepada ayahnya.


"Tidak Aldo, ini mempertaruhkan nama keluarga besar kita. Ayah dan ibumu, tidak sudi memiliki menantu dari keturunan penyeludupan benda haram itu". Tegas pak Giro, matanya melotot sempurna."Apa jadinya Aldo,kamu seorang agen rahasia. Tapi, menyembunyikan penyeludupan benda haram itu. Sama saja, menyembunyikan kejahatan. Ayah tau,kamu mengetahui siapa dalang penyeludupan ini. Yaitu ayah kandung kekasihmu kan, pantesan saja tidak tertangkap sampai sekarang. Malah dia, mengibarkan sayapnya".


"Ayah,aku mohon jangan sampai Rania mengetahui sesuatu. Aku belum siap, memberitahu tentang kebenarannya". Aldo, ingin memberitahu masalah pekerjaan ayahnya. Tetapi,itu tidak mungkin terjadi. Apa lagi Rania, tengah hamil muda.


Sedangkan di ambang pintu, Rania sudah menangis dan mendengar semuanya. Bersandar pada dinding,tak kuat menopang tubuhnya lagi. Kakinya sudah lemas, hidupnya hancur berkeping-keping.


Rania, berlahan-lahan keluar dari rumah sakit. Mengurung niatnya untuk bertemu dengan, Aldo.


"Ya Tuhan,apa yang di pikiran papah". Rania,masih tidak percaya dengan pekerjaan ayahnya. pantesan saja Aldo, menanyakan tentang pekerjaan sampingan papahnya. Rupanya Aldo, mengetahui yang sebenarnya.


"Aaaaaa...... Aaaaakkkkhh....". Rania, memukul setir mobilnya. Meluapkan emosi dan amarahnya.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Rania langsung pulang ke rumah dan menemui ayahnya untuk meminta penjelasan.


******************


Sedangkan Aldo, meneteskan air matanya. Haruskah berakhir sudah, di sisi lainnya memikirkan sesosok wanita yang sudah melahirkannya.


"Pikirkan ibumu, Aldo. Jika ibumu, tidak mengetahui kebenarannya. Ayah, merestui hubungan antara kalian. Tetapi,ibumu mengetahui siapa Rania? Sama saja,kamu membunuh ibumu sendiri". Kata pak Giro, memandang ke arah anaknya.


"Aku sangat mencintainya,ayah. Dia segalanya untuk ku, demi dia dan rela menutup segalanya. Hampir setahun,aku belum menyelesaikan misi ini". Kata Aldo, membuang muka ke arah lain.

__ADS_1


"Ayah tau, ini berat untuk mu. Rania, tidak keberatan jika kamu melakukan kebenaran. Sudah sewajibnya,pak Harto di tangkap dan di beri hukuman. jika kamu, membiarkan Semuanya. Sama saja,kamu merusak dunia ini". Kata pak Giro, memejamkan matanya dan menghela nafas beratnya.


Lagi-lagi Aldo, bungkam dan kepalanya terasa sakit. Harus berbuat apa, akankah Rania memaafkan kesalahannya.


__ADS_2