
"Hahahhaa....Hahahha.... Rania, lihatlah mantan suamimu". Kata Aldo,dia malah tertawa terbahak-bahak. Bukan ketakutan karena berduaan dengan, Rania. Tepatnya di dalam kamar, di pergoki Fahri.
Mendengar perkataan Aldo,sontak membuat Rania penasaran. Dia bergegas keluar kamar, terlihat jelas mantan suaminya yang babak belur.
“Ya ampun mas, subhanallah. Mukamu,lucu sekali. Hahahaha....Hahahha...". Rania, ikut-ikutan tertawa lepas. Bagaimana tidak lucu,wajah Fahri babak belur tak karuan.
"Kalian berdua, ngapain di kamar ha? Apa jangan-jangan,kamu menjalin hubungan dengan dia. Setelah kita berpisah, Rania! Tega sekali kamu, apakah karena dia? Sehingga kamu, bersikukuh untuk berpisah dengan ku". Bentak Fahri, tidak terima atas perlakuan mantan istrinya.
"Mas Fahri,kita bukan suami-istri lagi. Lalu, tidak pantas kamu ada di rumah ini. Apa lagi menyelonong masuk kedalam,sama saja dengan pencuri". Ucap Rania,tak kalah nyaringnya.
"Kenapa, kamu cemburu melihat kami dekat?Hmmm...". Aldo, langsung merangkul pinggang Rania.
Api cemburunya Fahri,berkobar-kobar. Tangannya mengepal erat, tetapi nyalinya ciut mengahadapi Aldo. "Rania,jauhi pria mesum ini!".
"Yang ada kamu mas, jauh-jauh sana. Ngapain lagi sih,kamu ke sini? Gak jelas banget,mau aku teriak-teriak pencuri". Kata Rania, tersenyum smrik.
"Rania,aku ingin kita rujuk lagi. Kita bercerai secara hukum, secara agama kita belum bercerai". Fahri, melemahkan suaranya.
"Tidak bisa mas,aku tidak mau bersama mu lagi. Intinya kita sudah bercerai, tidak ada hubungan apa-apa lagi. Keluar dari rumahku,mas!". Tegas Rania, menatap tajam ke mantan suaminya.
"Rania,apa kamu tidak kasian kepada ha? Aku sangat mencintaimu, sumpah. Pasti karena papah, memaksakan mu untuk berpisah kan. Ayolah,aku tahu jika kamu mencintai ku. Ingatlah Rania, amanah Alm.ibumu". Fahri, mencoba membawa amanah ibu kandungnya Rania.
Deggg...
Hati Rania,terasa teriris-iris mendengar ucapan mantan suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca, sekuat tenaga menahan air matanya.
"Alm.ibunya, Rania. Lebih sakit hati dan menyesali,karena menantu pilihannya seperti dirimu. Pria tidak tahu diri, mementingkan diri sendiri. Aku yakin sekali,alm.ibunya Rania. Merasa senang atas perpisahan kalian,karena anaknya tidak bersama pria bejat seperti mu". Sahut Aldo, langsung.
"Apa yang di katakan bang Aldo,memang benar mas. Akunya yang bodoh,selama ini selalu bertahan dengan sikapmu. Saat ini aku benar-benar, menyesali karena menyia-nyiakan waktu bersama pria buaya darat sepertimu". Rania, menatap jijik dengan mantan suaminya.
"Rania, suatu hari nanti kamu akan menyesal. karena sudah meninggalkan ku,pria mana yang mau dengan wanita mandul. Sebentar lagi, Shania akan hamil. Di situlah aku, mentertawakan dirimu". Fahri, menyunggingkan senyumnya. Berlalu meninggalkan sepasang kekasih itu.
__ADS_1
Rania, menghela nafas panjang dan menatap intens ke arah Aldo. "Bang,aku....".
"Huusssstttt....Aku yakin sekali,jika kamu bisa memiliki anak. Apapun aku tetap bertahan dengan mu,tidak akan mengecewakan perasaan mu sayang". Aldo, langsung memeluk tubuh kekasihnya. "Setelah masa idah mu selesai,kita akan menikah secepatnya. Aku takut sekali,ada buah hati kita tumbuh di sini".
Degggg....
Aldo, mengelus lembut perut Rania yang masih rata. Mulutnya kelu tak bisa berkata,yang sebenarnya. Karena belum saatnya, memberitahu kepadanya.
Rania,diam dan mematung seketika. Ada senyuman kecil di sudut bibirnya,merasa bahagia atas perlakuan Aldo.
Selepas dari rumah mantan istrinya, Fahri memutuskan untuk pulang saja.
Kepala Fahri,terasa ingin pecah. Tiba di rumahnya,di sambut oleh orangtuanya.
Bagaimana mungkin,sang ibu menangis kesegukan. Sontak membuat Fahri, kebingungan jadinya.
Bahkan Kakaknya,ikut serta berkumpul. Perasaannya bercampur aduk, mulai tak nyaman. Tatapan tajam ke arah Fahri, dari pak Eko.
Fahri, sangat yakin sekali. Ada sesuatu yang tidak beres, apakah ada sangkut pautnya dengannya? Atau jangan-jangan mereka, meminta uang lagi.
Baru saja duduk beberapa detik, Fahri sudah di suguhkan ocehan dari ibunya. Belum lagi yang lain, kepalanya semakin berat.
Sedangkan Shania,diam dan mematung. Kedua pipinya memar, kemungkinan di tampar oleh kakak iparnya.
Orangtuanya tak henti-henti, menyalahkan Fahri. Mengejek-ejek Shania,dia adalah wanita pembawa sial. Bahkan banyak lagi, membuat Fahri ingin pingsan saja. Namun sayang,Tuhan berkehendak lain. Dengan lapang dada dan membiarkan kupingnya membara.
Shania,geram dengan suaminya. Tidak ada pembela yang keluar dari mulut, Fahri. Saat ingin menjawab perkataan mereka, lagi-lagi Desi menampar wajahnya.
*************
Beberapa hari kemudian, Rania mengantri untuk USG. Apakah benar dia hamil, atau tidak. Sampai dia takut untuk, melakukan testpack.
__ADS_1
Tibalah saatnya dia di panggil dan masuk kedalam, beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh dokter kandungan. Dengan santainya, Rania menjawab pertanyaan tersebut.
"Alhamdulillah,aku benar-benar hamil". Buliran bening mengalir, di sudut matanya. Dia di nyatakan hamil, walaupun usia kandungannya masih sangat muda.
"Alhamdulillah, selamat bu. Anda di nyatakan hamil. Usia kandungannya 4 mingguan,masih muda yah. Saya sarankan, setiap bulannya cek kandungan yah. Jangan lupa minum obat vitamin dan lainnya". Saran dokter kandungan, yang di angguki Rania.
"Terimakasih,dok". kata Rania, menghapus air matanya.
Selesai dengan semuanya, Rania termenung sejenak di mobilnya. "Jika aku hamil, berarti ini anak bang Aldo. Astagfirullah,apa benar mas Fahri tidak subur. Buktinya aku tak meminum penunda kehamilan,selama 1 tahun. Nyatanya aku gak hamil-hamil, setelah dengan bang Aldo. Aku tiba-tiba hamil,". Gumamnya.
Rania, begitu sangat senang dan bahagia. Tak sabar untuk memberitahu kepada Aldo, pasti kekasihnya itu sangat bahagia.
***************
Sore harinya Aldo,ke sebelah rumah. Melalui pintu belakang rumah,ada kresek di tangannya.
Rania,yang penasaran langsung menghampiri kekasihnya. Tak lupa mereka berdua berciuman dengan mesra, melepas rindu sesaat.
"Mangga muda? Untuk apa,". Rania, terheran-heran dengan kekasihnya.
Aldo, terkekeh dan tersenyum. "Mau pencoklah,sayang. Gak tau kenapa, pulang tadi tu. Aku melihat buah mangga di depan rumah orang,jadi berhenti mau beli. Eee... Malah di kasih,gak sabar pengen nyicipin".
"Ha? Ini pasti masem sekali,bang. Enak sih,bikin ngiler jadinya. Ya sudah,aku kupas dan potong-potong". Rania, merebut kresek berisi buah mangga itu. Tetapi, Aldo langsung mencegahnya.
"Jangan sayang,kamu siapin bumbunya. Aku yang ngupas dan potong-potong buahnya. Aku sangat takut,jika kamu terluka nantinya". Kekehnya Aldo, mencubit pipi Rania.
"Iiissshhh.... Ada-ada saja kamu,bang. Ya sudah aku bikin bumbu untuk cocolannya,yang pedas". Kata Rania, menyiapkan semua bahan-bahannya.
Aldo, langsung mengupas mangga mudanya. Tak sanggup menahan dirinya, sesekali masuk ke dalam mulutnya. Dia tidak merasakan rasa masam, melainkan sangat segar sekali.
"Gak masem bang,kaya enak banget makannya". Tanya Rania, ikut-ikutan ngiler jadinya.
__ADS_1
"Hmmmmm....Buueehh...Enak sekali,segar buahnya. Maklumah, baru di petik di pohonnya. Gak sabar, pengen di cocol sama bumbu yang pedas". Jawab Aldo, keenakan mengunyah mangga muda itu.