Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Syok Berat


__ADS_3

"Kamu ngapain ke sini,mas? Pagi-pagi sudah nongol,". Gerutu Rania,sambil menyantap makanannya.


Rania, sengaja tidak mengunci pintu rumah. Karena dia tahu,jika suaminya akan datang.


"Hari ini pertama masuk kerja,masa cutiku habis. Ke sini mau sarapan pagi, karena Shania ngambek gak mau masak. Daripada beli, mendingan ke tempat mu. Biasanya kamu pagi-pagi sudah bikin sarapan,taunya beli". Fahri,duduk d kursi sebelah Rania.


"Ck,pelit sekali kamu mas. Nasi bungkus cuman 10 ribu,doang". Sungutnya Rania, beruntung nasi kuningnya sudah habis.


"Bukannya aku pelit, Rania. Sayangkan aku belanjaan bulanan,bahan ikan dan sayur lengkap. Lalu, tidak di masakan. Sama aja, mubazir jadinya. Kamu kira cari uang gampang,apa? Setiap hari memandang laptop,". Gerutunya Fahri,mengusap wajahnya.


"Ck, makanya mas kalau nikah mikir dulu. Coba aja mas nikah,sama wanita kaya raya. Terus enak masnya,tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah. Uang tetap ngalir deras,ini mala menikah dengan beban". Bentak Rania, menghirup teh hangat.


"Jangan mengatai Shania,beban. Dia adik madumu, tidak bisakah saling berbagi untuk mengurus rumah tangga. Apa lagi kalian 1 atap, pekerjaan rumah pasti ringan". Fahri, ingin menyentuh tangan istrinya.


Lagi-lagi Rania, mengubah posisi dan duduk di kursi sebelahnya. "Uueeekk.... Tak sudi rasanya, berdamai dengan pelakor itu. Bahkan jijik rasanya tanganmu, menyentuh kulit ini".


"Rania,mas mohon kepadamu. Akur lah dengan Shania,dia wanita baik-baik. Secepatnya,dia akan hamil. Ketika Shania hamil,kamu harus ikut menjaganya. Takut kandungnya, kenapa-kenapa. Karena kehamilan Shania, mengubah rumah tangga ini. Kita memiliki keturunan Rania, sayangilah seperti anak sendiri". Pinta Fahri, membuat Rania muak mendengarnya.


"Ck, ogah banget mas. Aku mengurus pelakor itu, sampai kapanpun aku tidak sudi. Kamu paham gak sih,apa perlu aku saring otakmu mas". Bentak Rania, menatap tajam ke suaminya.


"Rania,stop! Jangan membuat keributan,aku berbicara baik-baik saja. Tidak mengeluarkan emosi, mampu aku menahannya". Fahri, menggaruk-garuk kepalanya.


"Aku tidak mau menuruti perintah mu,jika tidak suka dengan sikapku. Talak aku mas,aku ikhlas sekali". Sahut Rania,mencuci piring kotornya tadi.


"Sekalian buatkan mas kopi panas,". Pinta Fahri, tersenyum manis. "Rania, maafkan mas selama banyak salah kepadamu. Ini semua karena mas, menginginkan keturunan. Aku harap, kamu memahami segalanya".


Rania, tersenyum smrik dan mengaduk-aduk kopi panas untuk suaminya. "Ini mas kopinya,". Rania, meletakkan kopinya di meja.


"Terimakasih, Rania. Maaf,". Ucap Fahri, menghirup kopi panas buatan sang istri. "Ueeeekk....Uhukkk...Uhukk...Ck,kurang ajar kamu. Istri durhaka kamu, Rania. Membuatkan kopi untuk suami,malah asin". Teriak Fahri, langsung berlarian ke Wastafel.

__ADS_1


"Loh,kenapa marah mas? Bukankah kamu, memintaku membuatkan kopi! Ya itu,aku buatkan dengan sepenuh hati dan jiwa ku. Tapi sayang,aku mencampuri dengan garam beberapa sendok. Jangan lupa mas,surat perjanjian kita. Semua tugas kewajiban sebagai istri,aku serahkan semuanya kepada pelakor itu". Rania, sudah geram terhadap suaminya. Matanya menyeringai tajam, ingin memangsa korbannya.


"Cukup, Rania! Kamu selalu menguji kesabaran,ha". Fahri, mencekram lengan Rania.


Tetap Rania, menahan rasa sakit cengkeramannya. Dia malah balik menatap tajam, ke arah suaminya. "Kenapa mas,kamu marah? Oh, seharusnya aku yang marah. Sudah di beri enak hidupmu,naik jabatan. Malah menikah dengan beban,coba menikah itu jauh lebih bagus dari ku mas. Minimal lebih kaya raya,jadi enak gak sekarang".


"Fahri, lepaskan anakku!". Teriak pak Harto,sepagi ini berkunjung ke rumah anaknya.


Glekkk...


Fahri, gelabakan karena kepergok mertuanya. Secepatnya, melepaskan cengkraman tangan. "Papah,ini tidak seperti yang di pikirkan". Sialan, kenapa aku tidak menyadari kedatangan papah Rania. Aaarghhh....jadi semakin rumit ini.


Fahri, merasakan hawa dingin dan mencekam. Tatapan tajam pak Harto, begitu menyeramkan.


Bukan pak Harto,yang datang. Melainkan Aldo, menyusul di belakangnya.


Rania, membulatkan matanya sempurna. Rupanya sang ayah, sudah mengetahui jika sebelah rumahnya adalah Aldo.


"Jangan lancang kamu, Fahri. Aldo, adalah anak teman bisnis papah. Jangan macam-macam kamu, asal kamu tahu. Tempat kamu bekerja,milik orangtuanya". Tegas pak Harto, matanya melotot sempurna.


"Apa? It-itu... Tidak mungkin,". Fahri, menggeleng kepalanya dan syok berat.


Rania, tidak terkejut sama sekali. Karena dia, mengetahui lebih dulu. "Aduhhh.... Siap-siap loh,di pecat". Bisik Rania, menyilang tangannya ke depan.


"Pah,aku tadi cuman bercanda dengan Rania. Biasalah, suami-istri pah". Kekehnya Fahri, membujuk mertuanya.


Plakkk....


Tamparan keras mendarat di pipi, Fahri. Di berikan oleh mertuanya, sedangkan Rania senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Begitu juga Aldo, mendekati Rania. Membiarkan pak Harto, memberikan pelajaran kepada Fahri.


"Bang, kenapa secepat ini? Kamu menampakkan diri kepada papahku,aduhh...". Rania, menepuk keningnya dan berbisik.


"Tidak apa,aku kangen dengan papahmu. Dulu kami 1 pemikiran loh,". Kedip mata Aldo, tangannya kebelakang dan mengelus lembut punggung Rania.


Rania, melorotkan matanya. Sungguh Aldo, benar-benar nekad melakukan hal itu.


"Papah....". Lirih Fahri, terkejut mendapatkan hadiah tamparan keras.


Plakkkkk....


Pak Harto, menampar sebelah pipi menantunya itu. Ada tatapan tajam yang ingin menghabisi nyawa,Fahri.


"Kamu memang pantas mendapatkan tamparan keras, Fahri. Masih untung tamparan,bukan bogem mentah dari pak Parno. Pasti taulah, bagaimana rasanya di bogem mentah? Menantu tidak tahu diri, termasuk orangtuamu itu". Ucap pak Harto, kesabarannya melampaui batas.


"Pah,aku minta Maaf sebesar-besarnya". Fahri, menunduk kepalanya.


"Masih untung aku, berbaik hati kepada keluarga mu. Untuk kali ini,aku tidak akan membantu mereka dalam kesulitan apapun. Dulu karena aku memandang besan,kali ini tidak ada lagi. Tinggal menunggu waktu saja, surat perceraian akan datang. Apapun terjadi,kamu harus mendatangani surat itu". Perintah pak Harto, sudah tak sanggup mengahadapi sikap menantunya.


"Apa? Pah,aku tidak mau kehilangan Rania. Aku sangat mencintainya,tolong jangan pisahkan kami". Pinta Fahri, menggeleng kepalanya.


"Hahaha....Apa katamu,cinta? Kalau kamu memang mencintai anakku, mana mungkin kamu menikah lagi. Sedalam apapun mencintai seseorang, sudah pasti menerima apa adanya. Demi sebuah keturunan, sebagai alasan. Apa jangan-jangan,kamu yang mandul. Memeriksa kesuburan saja tidak mau, menantu laknat". Teriak pak Harto, dadanya naik turun mengontrol emosi.


"Apa kamu senang, melihat wajah suamimu ketakutan?". Bisik Aldo, menggigit bibir bawahnya.


"Jangan berekspresi seperti itu,bilang saja mau menggodaku. Hmmm... Senang sekali melihatnya,sok belagu. Nyatanya takut menghadapi papah, rasakan". Bisik Rania, tersenyum manis.


"Pah,aku baik-baik saja dan aku yakin sekali itu. Tolong pah, jangan ikut campur dalam rumah tangga kami. Rania, tidak masalah jika aku menikah lagi. Asalkan aku,adil terhadap istri-istri ku". Kata Fahri,memasang wajah sedihnya.

__ADS_1


"Adil darimana,mas? Ngaca dulu,jangan berbohong dengan papahku". Sahut Rania,yang geram kepada suaminya.


Fahri, menoleh ke arah Rania. Memberikan kode, meminta belaan untuk melawan papahnya. Lagi-lagi Rania, mengangkat kedua bahunya. Tidak perduli dengannya lagi, membuat Fahri melemas jadinya.


__ADS_2