
Shania, tidak sadarkan diri. Beruntung sekali ada seseorang yang menemukannya,lalu membawa ke rumah sakit terdekat.
Orangtuanya Shania, langsung menemui anaknya itu. Sungguh sangat memperihatinkan keadaannya,ada luka lembam kemerahan di sekujur tubuhnya.
Bukan hanya pemerkosaan terhadap Shania, melainkan kekerasan yang di alaminya.
"Pasien mengalami pemerkosaan dan kekerasan. Maaf,ada luka sobekan di bagian miliknya. Bukan satu,tapi keduanya. Karena mengalami kekerasan seksual, pasien mengalami keguguran dan banyak kehilangan darah". Sang dokter, menjelaskan semuanya.
Mendengar ucapan sang dokter,sang ibu syok berat dan tak sadarkan diri.
Fahri, mendengar dari kejauhan tampak senang dan tersenyum. Dia puas sekali memberikan pelajaran kepada mantan istrinya, lebih baik mati sekalian.
Mantan mertuanya seringkali menghubungi Fahri, tetapi di tolak dan menjawab. Bahwa dirinya tidak ada sangkut pautnya, bahkan lepas tanggung jawabnya.
Fahri, terbilang perhitungan terhadap uang. Sebaik mungkin untuk menggunakan uang hasil, merampas milik Shania. Dia membeli mobil dan rumah baru. Walaupun tidak besar,yang penting ada tempat tinggal sementara. Dia sangat kesusahan mencari pekerjaan, yang kantoran. Akhirnya bekerja menjadi taksi online, lumayan tidak capek-capek.
Fahri, mendapatkan pelanggan yang aneh-aneh. Membuat dirinya menggeleng kepalanya,ada yang menjadi simpanan bos-bos dan istri diam-diam. Ada yang cantik dan ada juga yang standar,namun hari ini dia ketiban sial. Mendapatkan pelanggan yang suka dengan sesama jenis, langsung bergidik geli.
Pria itu, diam-diam melirik Fahri dan senyum-senyum sendirinya."Kenalkan mas, nama ku Fauzan. Mas, ganteng deh dan pengen nyicipin".
"Apaan sih, jangan sentuh-sentuh gue. Jijik tau,gue gak suka sama berbatang dan sukanya yang berlobang. Jauhkan tanganmu,dasar homo". Ucap Fahri,kurang fokus menyetir dan sesekali menepis tangan pria itu.
"Iiisss...Punyanya mas, besar juga. Pengen deh,aku cicipin". Fauzan, mengigit bibir bawahnya.
"Dasar gila!Turun sana,turuuun..!" Teriak Fahri,yang sudah ketakutan. Jujur saja, badannya kecil di bandingkan badan Fauzan.
"Boleh, asalkan aku mencicipi milikmu". Goda Fauzan, tangannya langsung di tepis oleh Fahri.
Fahri, menepikan mobilnya di pinggir jalan. Jalan yang sangat sepi, tidak ada penghuni rumah orang lain. Tanpa ba-bi-bu lagi, Fahri menarik lengan pria tersebut. Agar keluar dari mobilnya, dengan rasa ketakutannya.
"Brengseeekk....Kamu berani menyuruh saya turun,atau mau saya perkosa". Fauzan, langsung mencekram kerah baju Fahri.
"Ampuuun... lepassss...Saya akan mengantar Anda,tolong maafkan saya". Pinta Fahri, ketakutan sudah.
"Makanya jangan sok belagu,badan kurus kering sok berani". Bentak Fauzan, matanya menatap tajam ke arah Fahri. Dia melepaskan sabuk pengaman, mengeluarkan senjatanya.
__ADS_1
Fahri, langsung di tekan untuk membungkuk badannya ke bawah. "Cepat,**** punya saya. Atau aku lempar ke jurang ini. Biar mampus kamu,".
Fahri,yang sudah gugup dan ketakutan. Memasukkan benda tumpul berurat ke dalam mulutnya, rasanya mau mual karena sampai ke tenggorokan.
"Hahahaha... Awas kamu gigit,begini caranya untuk melayani penumpang. Hahahaha...". Fauzan, mencekram kepala Fahri dan memaju mundur. "Aaahhh... Oouughh...Enak sekali,yah... Ssshhhhttt...". desa-han Fauzan,tak menghiraukan Fahri yang mual-mual dan mendapatkan sodokan di mulutnya.
Ueeeekk....Ueeekkk...
setelah selesai, Fahri langsung muntah dan meras jijik dengan mulutnya. "kurang ajar sekali,aku terkena sial". Gumam Fahri,dia tau Fauzan belum mencapai klimaksnya.
"Sini kamu,kita belum selesai sayang". Fauzan, menarik paksa tangan Fahri dan memintanya untuk menungging.
"Tidaaaakkkk...Aku tidak mau, Lepasssss....!". Fahri, memberontak terhadapnya. Entah kenapa,dia kalah dan kalah.
Buughhh.... Bughhh....Bughhh...
Darah segar keluar dari sudut bibirnya, tersungkur di semak-semak. "Aaaarrgghh.... Ssshhhhttt...". Fahri, merasakan perutnya kesakitan.
"Hahahaha....Hahaha...". Fauzan, langsung menarik paksa celana Fahri. Lalu, menyodok dari belakang.
Fauzan, habis-habisan memperkosa Fahri yang sudah terkapar dan sesekali di tampar wajahnya. Setelah puas menggaulinya, Fauzan mengikat tubuh Fahri dan membawanya ke rumah miliknya.
Tiba di rumah, Fahri di berikan obat perangsang dan teman-temannya Fauzan datang berbondong-bondong. Sudah pasti memperkosa Fahri, beramai-ramai. Mereka semua minum-minuman keras dan tertawa terbahak-bahak. Mendapatkan Santapan lezat sekali,di hadapan mereka.
Fahri, meneteskan air matanya dan pasrah menerima semuanya. Tidak mampu berbuat apa-apa,hawa panas menjalar di sekujur tubuhnya.
***********
Sudah 5 hari ini, Rania tidak mendapatkan kabar tentang Aldo.
Beberapa kali mencoba menghubunginya, tetapi nomor tidak aktif. Rania, mondar-mandir tak karuan. "Segitunya kah,bang Aldo marah. Apa aku harus mencari dia,lalu meminta maaf". Gumam Rania, langsung menyambar tas dan pergi meninggalkan rumah ayahnya.
Beberapa menit kemudian, Rania sampai di rumah lamanya dulu. Sudah lama tidak di tempati, matanya tertuju ke sebelah rumah. Terlihat jelas sangat sunyi dan gelap.
"Bu Etty,ada liat bang Aldo? Kok rumahnya,sepi". Tanya Rania, penasaran.
__ADS_1
Bu Etty, tersenyum kecil. "Semenjak kamu pindah ke rumah bapakmu,nak Aldo juga tidak terlihat lagi".
"Ha? Masa sih,bu! Kata bang Aldo,masih tinggal di sini". Rania, kebingungan jadinya.
"Kalau gak percaya,tanya aja sama yang lain. Kami sudah lama tidak melihat Aldo, untuk apa juga kami bohong". Jawab bu Etty.
Rania, terdiam dan syok mendengarnya. Dia masih ingat sekali, pernah bertanya kepada Aldo waktu itu.
"Bang, lagi dimana? Apa masih tinggal di tempat lama,di sebelah rumah ku itu". Tanya Rania, melalui teleponnya.
(Di sini hujan sayang, coba ada kamu. Sudah pasti aku langsung ke sebelah, untuk mencari kehangatan).
"Apa mungkin,bang Aldo berbohong? Aah... Itu tidak mungkin,aku baru bertanya beberapa hari lalu". Gumam Rania,air matanya menetes di pipinya.
Ada rasa sesak di dadanya, jika sang kekasih berbohong. Tanpa memikirkan lagi, Rania langsung menuju ke kampus. Dimana sang kekasih menjadi dosen dan mengajar di sana.
Beberapa menit kemudian, Rania tiba di kampus. Matanya calingukan mencari sesuatu,masuk kedalam kantor. Dimana para dosen, berkumpul bersama.
"Maaf,mau cari siapa?". Tanya seorang wanita, mendekati dirinya.
Mata mereka tertuju kepada Rania, membuat dirinya gugup tak sekira jadinya. Di antara mereka, tidak ada sesosok pria yang di carinya. "Maaf,pak Aldo ada". Tanya Rania, tersenyum.
Wanita itu, terheran-heran mendengarnya. "Maaf,pak Aldo siapa?".
"Loh,pak Aldo. Katanya dia seorang dosen, mengajar di kampus ini". Jawab Rania, dengan perasaan campur aduk.
"Maaf,di sini tidak ada dosen namanya pak Aldo". Jawab wanita, langsung.
Deggg....
"Apa? tidak ada,". Rania,syok dan terduduk lemas di kursi. Kakinya lemah,tak mampu menopang tubuhnya lagi. Air matanya luruh sudah, hatinya terasa teriris-iris.
"Tidak mungkin, tidak". Kata Rania, menggeleng kepalanya.
"Maaf,kenapa yah?". Tanya wanita itu,yang keheranan. Rania, menepis tangan wanita tersebut.
__ADS_1
Lalu, bangkit dan keluar dari ruangan tersebut. Orang lain yang kebingungan melihat sikap, Rania.