
"Aku akan menikahi mu, Shania. Jika kamu, mengandung anak ku". Ucap Fahri, membuat sang kekasih tercengang.
"Apa? Gak mau mas, takutnya kamu bohongin aku". Tolak Shania, langsung. Seringkali kami melakukan hubungan intim, tetapi aku tak kunjung hamil. Aaarghhh.. Apa mas Fahri, tidak memiliki kesalahan? Lalu,kenapa dia meminta aku hamil.
"Lakukanlah apa yang aku katakan, Shania. Aku ingin membungkam mulut Rania, sudah menuduhku macam-macam. Bersikukuh untuk memeriksa kesuburan ku,". Fahri, ingin membuktikan ucapannya kepada sang istri.
"Ha? Aku takut kamu berbohong,mas. Nikahi aku, walaupun nikah sirih". Pinta Shania, menatap lekat ke wajah Fahri.
"Baiklah,tapi janji kamu jangan menunda kehamilan. Rania,bisa jadi berbohong kepadaku. Katanya tidak meminum penunda, nyatanya setahun lebih tak kunjung hamil. Jika kamu benar-benar,hamil. Aku yakin sekali, Rania yang mandul. Hasil cek kesuburannya,di ubah. Kamu kan tahu, ayahnya kaya raya. Bisa saja, ayahnya memalsukan hasil pemeriksaan Rania. Karena takut kehilangan menantu sepertiku,". Ucap Fahri, menaruh rasa curiga kepada keluarga Rania.
"Aku setuju,janji akan hamil anakmu mas". Shania, tersenyum sumringah. Ketika sang kekasih, mengajaknya menikah. Bagaimana ini,aku harus hamil? Selama ini aku, berhubungan dengan mas Fahri. Tidak ada tanda-tanda kehamilan,apa jangan-jangan? Astaga,batinnya.
Selesai mengantar Shania, Fahri melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Sesampai di rumah, lagi-lagi Rania tidak menyambut kedatangannya. Malah sibuk menonton televisi,tak menghiraukan sang suami.
Awas saja kamu, Rania. Aku akan membungkam mulut mu itu,jangan main-main dengan ku Rania.Batin Fahri, tersenyum smrik.
"Sudah datang,mas! Besok jangan lupa,kita ke rumah sakit untuk cek kesuburan masing-masing. Aku sudah mengatur segalanya,". Kata Rania,sengaja memancing emosi suaminya.
"Ck,aku tidak ada kesalahan apapun Rania. Lagi pula,besok aku sedang sibuk dan banyak pekerjaan. Sudah pasti, tidak akan boleh di tinggalkan". Lagi-lagi Fahri, menolak ajakan istrinya.
"Gak bisa gitu dong,mas. Bukankah,kita sudah mengatur rencananya. Kenapa kamu, tiba-tiba membatalkan seperti ini? Kenapa sih,kamu enggan memeriksa kesuburan mu ha? Aku capek mas, terus-terusan mendengar ocehan ibu dan mbakmu itu. Kupingku sangat panas,mas". Gerutu Rania, beranjak berdiri.
__ADS_1
"Tenang saja Rania,aku akan membuktikan sesuatu kepadamu. Jika aku memang subur, jangan-jangan kamu yang mandul. Setarakan adikmu seorang dokter,bisa jadi kalian sekongkol untuk memalsukan hasil pemeriksaan mu". Ucap Fahri, menyunggingkan senyumnya.
"Astagfirullah,mas. Kenapa kamu,malah menuduh adikku? Adikku tidak ada hubungan apapun, lagipula aku memeriksa di rumah sakit lain". Bantah Rania, menggeleng kepalanya. Hatinya terasa teriris-iris, mendengar tuduhan sang suami. Air matanya luruh sudah,dadanya sesak.
"Ck,air mata buaya. Walaupun beda rumah sakit,bisa jadikan. Papahmu meminta seseorang, memalsukan hasil pemeriksaan mu. Kamu kira aku, bisa di bodohi ha? Oh, tentu tidak Rania. Kamu salah menilai ku,". Kata Fahri, sambil memainkan jarinya.
"Cukup,mas! Kamu jangan pernah menuduh papah ku,beliau tidak ada sangkut pautnya dengan rumah tangga kita. tidak seperti ibumu,yang ikut campur. Lalu,jika kamu bosan dengan ku. Turuti saja jalan pikiran mu,yang mengatakan aku mandul. Ayo,kita bercerai!". Rania, tidak sanggup untuk bertahan lagi.
"Tidak, Rania! Sampai kapan pun,aku tidak akan menceraikan mu. Ingat itu, Rania". Fahri, menunjukkan jarinya ke arah Rania. "Karena aku sangat mencintaimu,". Lirihnya pelan,masih terdengar oleh Rania.
"Bohong mas, kamu tidak mencintaiku. Nyatanya kamu,mana pernah membelaku. Bagaimana dirimu, membuktikan tidak mandul? Jangan bilang kamu,akan menikahi Shania. Lalu, membuat dia hamil untuk membungkam mulutku". Tebak Rania, sudah pasti raut wajah Fahri menegang.
"Kenapa diam, mas? Benarkan apa yang aku katakan, jika kamu ingin menikah lagi. Oh, silahkan mas. Jika kamu benar-benar menikahi, Shania. Detik ini juga,kamu jangan pernah menyentuh ku". Mata nyalang Rania,siap menerkam mangsanya hidup-hidup.
"Egois kamu,mas". Hardiknya Rania, meninggalkan suaminya dan masuk kedalam kamar sebelah. Rania, sempat kebingungan dengan suaminya. Kenapa Fahri, tidak mau menceraikan dirinya? Pasti ada sesuatu, yang di rencanakan. "Aku akan cari bukti,kenapa mas Fahri tidak mau pisah denganku". Gumamnya.
Braakkkk.....
****************
Sesuai perkataan Fahri, langsung menemui kedua orangtuanya. Untuk meminta izin menikahi, Shania.
"Apa? Ibu tidak setuju,kamu menikah dengan Shania. Ngapain kamu, menikah dengan wanita itu. Tidak jelas asal usulnya, mendingan sama Rania. Asal usulnya, sangat jelas". Bu Marni, langsung tidak merestui pernikahan anaknya lagi.
__ADS_1
"Jangan gila kamu, Fahri. Apa kata pak Harto,tentang kamu menikahi wanita lain. Bapak malu, Fahri". Pak Eko, langsung tidur setuju.
"Ogah banget punya adik ipar seperti, Shania. Yang ada jadi beban, Fahri. Apa kami bisa,cari wanita yang berkelas lah. Seperti Rania,atau lebih". Kakak pertamanya, ikut-ikutan tidak setuju.
Fahri, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana jadinya,karena keluarga tidak setuju.
"Bisa jadikan, Rania mandul bu. Karena dia keluarga terhormat, sudah pasti papahnya memalsukan hasil pemeriksaan Rania. Aku juga pengen, memiliki keturunan". Kata Fahri, memasang wajah sedihnya.
"Gak ada,gak ada. Mendingan kamu tidak memiliki anak, daripada menikah dengan Shania. Mau taruh dimana wajah ibumu, Fahri". Bu Marni, walaupun dia seringkali menyudutkan Rania. Sebagai ibu mertuanya,masih menyayangi. Beruntung Rania,anak orang kaya dan terhormat. Seandainya tidak,bisa jadi Rania di buang sejak dulu.
"Seharusnya kamu hati-hati, Fahri. Jangan sampai membuat kesalahan apapun,bisa jadi kamu akan kehilangan pekerjaan". Pak Eko, mencoba menegur anaknya.
"Aaakkkhh... Kalian ini, selalu saja tidak menuruti kemauan ku. Dulu kalian bersikukuh untuk menikahi, Rania. Sekarang aku ingin menikahi kekasih ku,karena ingin memiliki keturunan. Tetapi,kalian malah tidak menyetujuinya. Sedangkan Rania, menyetujui pernikahanku". Ucap Fahri, dengan lantang.
Keluarga Fahri, langsung terkejut mendengar ucapannya. "Apa? Rania, menyetujui pernikahanmu. Alah...Jangan bodoh kamu, Fahri. Bisa jadi,ini cuman akal-akalan saja. Agar dia,bisa lepas dari mu". Bantah bu Marni,mana mungkin kehilangan sesosok Rania. Bagaimana emas berjalan, untuk nya nanti.
"Terserah apa yang bapak,ibu,dan lainnya bilang apa. Aku butuh restu dari Rania,saja. Jika dia, menyetujui pernikahan aku. Sudah pasti aku, tidak kenapa-kenapa. Toh,papahnya Rania tidak ikut campur dalam rumah tangga kami. Karena Rania, sudah menyetujuinya". Fahri, bertekad bulat untuk menikah lagi.
Plakkk....
Satu tamparan keras, mendarat di pipi Fahri. Yang di berikan oleh ibunya sendiri,sontak membuat yang lainnya terkejut.
"Aku akan berbicara dengan, Rania. Jangan harap kamu, mendapatkan restu dari Rania". Tegas bu Marni, menatap tajam ke arah Fahri. "Ayo,pak. Bawa ibu ke rumah menantu kita,".
__ADS_1
Tanpa ba-bi-bu lagi,pak Eko dan istrinya berangkat ke rumah Rania. Sudah pasti, Fahri langsung gelabakan dan secepatnya menyusul.