
"Rania,kenapa belom tidur? Tuh, sudah jam 11 malam". Kata Aldo, menatap lekat wajah cantik Rania. Wajahmu tidak berubah sama sekali, Rania. Masih cantik seperti dulu, bibirmu yang candu untukku.
Aldo, merasa senang karena seranjang dengan Rania dan anaknya. Karena Nick, meminta orangtuanya untuk menemaninya tidur.
Rania, pasrah dan menuruti kemauan sang anak. Ini adalah yang di inginkan sejak lama, di temani tidur bersama papah dan bundanya.
"Masih belum ngantuk". Jawab Rania,tak sedikitpun memandang wajah Aldo. Dia beranjak turun dari ranjang, berniat untuk tidur di sofa. Huuuff....Jangan sampai kamu luluh Rania, astaga jantungku berdetak kencang. Tidak bisa kompromi dengan situasi saat ini, berharap Aldo tidak mengetahuinya.
Aldo, ikut-ikutan beranjak berdiri dan berjalan mendekati Rania. "Lihatlah,anak kita Rania. Dia menginginkan orangtuanya utuh,". Berlahan-lahan Aldo,menarik Rania ke dalam pelukannya. Aku yakin sekali, pelan-pelan pasti mendapatkan Rania lagi.
"Tanpa kita bersama-sama,dia memiliki orangtuanya utuh. Asalkan orangtuanya, berlaku adil terhadapnya". Jawab Rania, merasakan kehangatan dalam pelukan Aldo. Sesosok tubuh yang di rindukannya setiap hari, sesosok pria yang di bencinya juga. Rania,jangan hilang kendali karena perlakuan Aldo.
"Tapi,aku ingin memiliki mu Rania. Bukan sekedar Nick, ijinkan aku menjadi seorang suami dan ayah bertanggung jawab atas keluarga kecilnya". Bisik Aldo, hembusan nafasnya terasa di kulit Rania. Lihatlah, Tubuhmu merespon dengan belaian ku sayang.
Rania,yang mematung dan ingin pergi ke pelukannya Aldo. Tetapi,tubuhnya menginginkan lebih. Astaga, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan tubuhku. Hmmmm....Ini memang tidak benar,aku harus apa? Ingin berhenti,tapi tubuhku ingin lebih.
Aldo, membalikkan badannya Rania dan mengangkat dagunya. Tanpa ba-bi-bu lagi, mereka saling berciuman dengan mesra.
Lama-kelamaan ciuman semakin panas,Aldo memberikan jejak di lehernya Rania.
Mereka berdua saling menumpahkan rasa rindu, yang tersimpan selama. Dulu mereka bermesraan selagi, Rania berstatus suami orang.
Sekarang Aldo,masih berstatus istri orang. Walaupun dirinya, sudah mengajukan perceraian di pengadilan agama.
"Aaah....". Des-ah Rania,lolos sudah dari mulutnya. Ketikan Aldo, menggerayangi lekuk tubuhnya. Tangan Aldo,masuk kedalam baju dan mengelus lembut perut Rania dan belakangnya. Tidaaaakkkk....Aku mengeluarkan suara laknat itu, pasti Aldo semakin bersemangat untuk melakukannya.
Ciuman mereka berdua, semakin agresif. Sungguh akal sehat Rania,hilang sudah. Namun bayangan wajah Tama, terlintas di benaknya secepat mungkin dia, menghentikan ciuman panas Aldo.
"Kenapa,sayang?". Tanya Aldo, tersenyum manis. Sial, kenapa Rania berhenti? Sama saja,aku kehilangan kesempatannya. Jalan satu-satunya adalah, menghamili Rania.
__ADS_1
"Hentikan, aku tidak mau mengulanginya kembali". Secepatnya Rania, merapikan penampilan acak-acakannya. Ketika Rania, beranjak berdiri dari sofa. Lagi-lagi Aldo,menarik lengan dan jatuh ke pangkuannya lagi. Kenapa,aku mengingat Tama? Apakah aku benar-benar jatuh cinta,kepasa brondong tetangga ku. Tidak,aku sudah menganggap sebagai adik.
"Lepassss...!". Pinta Rania, menepis tangan mantan kekasihnya itu. Aku mohon,jangan lagi. Jika terjadi lagi, aku benar-benar kehilangan kendali.
"Hussssttttt.... Diamlah Rania,aku tidak melakukan apapun. Cuman ingin tidur bersama mu dan berpelukan. Aku mohon,pliss...". Pinta Aldo, dengan mimik wajahnya yang memelas. Tidak apa gagal kali ini, kedepannya aku tidak akan gagal.
Dengan berat hati, Rania mengangguk kepalanya. Aldo, mengubah posisi tidur Nick agak ke samping.
Barulah mereka berdua terbaring bersama, saling berpelukan dengan mesra. Tangan Aldo, mengelus pucuk kepala anaknya yang terlelap.
Rania, meneteskan air matanya. Menahan isak tangisnya, membenamkan wajahnya di dada bidang Aldo. Ya Tuhan,rasa rindu ini sudah terobati.Batin Rania, meremas baju Aldo.
Aldo, tersenyum sumringah dan tidak menyangka malam ini. Dia tidur bersama Rania dan Nick, sungguh menyenangkan baginya.
Beberapa menit kemudian, terdengar dengkuran halus. Rupanya Rania, sudah tertidur pulas.
Ini adalah kesempatan emas untuk Aldo, memotret posisi tidur mereka berdua. Foto tersebut akan di kirim ke,Tama. Ingin melihat bagaimana, reaksi bocah itu? Karena Tama, bukanlah tandingannya.
Begitulah Aldo, mengirim pesan kepada Tama. Tak lupa beberapa foto kebersamaan, bahkan memperlihatkan jejak di lehernya Rania. Diam-diam Aldo, melakukan rekaman video ciuman mereka berdua tadi. Tanpa sepengetahuan Rania,yang sudah di rencanakannya.
Tama, mengepalkan kedua tangannya dan meninju dinding kamar. Hatinya memanas membara, berniat untuk menantang Aldo. "Kau sudah mengibarkan bendera perang,mana mungkin Rania menyerahkan tubuhnya kepadamu. Aku akan memberikan pelajaran kepada mu,pak Aldo. Aku bisa lebih baik, untuk Rania". Ucap Tama, rahangnya mengeras seketika.
***********
Rania, mengerjapkan bola matanya beberapa kali. Rupanya sudah pagi, bahkan dia kesiangan bangun.
Matanya melihat ke samping kanan dan kiri. Aldo dan anaknya, sudah tidak ada. "Kemana mereka berdua? Tidak mungkin, Aldo membawa anakku". Kata Rania, cepat-cepat keluar kamar. Dia sudah ketakutan,mencari sesosok anaknya.
Matanya tertuju ke arah sebuah ruangan,terbuka lebar. Terlihat Aldo dan anaknya, bermain-main di sana.
__ADS_1
"Bunda, sudah bangun". Kata Nick, melihat sang ibu mendekati mereka berdua. "Karena bunda,masih tertidur pulas. Papah,membawa Nick bermain di sini". Nick, tersenyum sumringah.
"Agar kamu tidak terganggu tidurnya, aku tahu jika kamu kelelahan". Aldo,mengelus rambut Rania.
Sontak Rania, membulatkan matanya dan menepis tangan Aldo langsung.
"Jaga sikapmu,di hadapan Nick". Kata Rania, dengan tatapan tajam.
"Kemarin kita berciuman dengan mesra,jangan bilang kamu lupa? Ingatlah bahwa kamu, sudah sah menjadi kekasih ku". Bisik Aldo, tersenyum manis.
"Ck,tak sudi aku mengikuti kemauan mu. Siapa juga,yang mau jadi kekasih mu". Tolak Rania, langsung.
"Bunda, mandi sana. Aku sudah mandi tadi, barengan sama papah". Suruh Nick,kepada ibunya.
"Sana, mandi dulu. Bau tau,". Kekehnya Aldo,yang di ikuti cekikikan tawanya Nick.
"Awas yah,kalian berdua". Rania, langsung keluar dari kamar dan segera mandi.
"Sayang,kamu taukan? Jika papah dan bunda, tidak bersama". Tanya Aldo, berharap anaknya bisa bekerjasama dengannya.
"Tau,pah. Karena bunda, marah dan benci,kepada papah. Selama ini, sudah mengabaikan kami". Jawab Nick, sambil bermain.
"Nick, maukah kamu membantu papah. Agar bunda, tidak marah dan benci,lalu bersama-sama lagi". Pinta Aldo, tersenyum. Ketika Nick, memandang wajahnya.
"Tidak mau,pah. Berjuanglah untuk meluluhkan hati bunda,jangan meminta bantuan kepada ku. Anggap saja, pelajaran untuk papah. Jangan sampai Om Tama,yang di pilih bunda". Jawab Nick,menolak kerjasama Aldo.
Glekkkk....
Aldo,mengusap wajahnya dengan kasar. Sedangkan anaknya tidak berpihak kepadanya,malah berpihak kepada Tama.
__ADS_1
"Loh, emangnya mau Om Tama jadi papahnya Nick? Lalu, bagaimana dengan papah". Tanya Aldo, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Gak papa,Om Tama baik selama ini. Selalu ada buat Nick, tidak seperti papah". Jawabnya Nick,lagi. Bertambah besar lah, Aldo frustasi.