Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Memberikan Kehangatan


__ADS_3

Jangan di tanyakan lagi, bagaimana keadaan Fahri. Dia sudah gelisah gusar, mendapatkan informasi dari anak buahnya. Karena Rania, menghilang dari pandangan mereka.


Sontak membuat Fahri,murka dan memerintahkan untuk mencari istrinya itu.


Acara akad nikah berjalan dengan lancar,di hadiri oleh kedua orangtuanya saja.


Tidak ada raut wajah bahagia,di antara bu Marni dan pak Eko. Mereka berdua, memasang wajah biasa saja.


Bu Marni,enggan berkomentar apapun. Bahkan tak sudi, bersalaman dengan menantu barunya itu.


Tiba malam harinya, Fahri masih mondar-mandir di dalam kamar. Pikirannya tertuju pada, Rania. Sudah lama juga, tidak ada tanda-tanda kepulangan istrinya.


"Kemana kamu, Rania?". Gumamnya, mengacak-acak rambut dengan kasar.


"Ngapain sih,mas? Kamu,malah mengkhawatirkan Mbak Rania. Apa jangan-jangan mbak Rania, jalan-jalan sama pria lain". Shania, semakin mempengkruh keadaan ini suaminya.


"Shania! Jangan berbicara macam-macam, terhadap Rania. Karena dia, bulan tipe wanita seperti itu". Bantah Fahri, langsung.


"Buktinya saja,dia tidak ada kabar sama sekali. Apa lagi kamu suaminya,mas. Begitu lancang sekali,kepadamu. sudahlah mas, ceraikan saja dia. Masih ada aku, selalu ada untukmu". Bisik Shania, melepaskan kancing bajunya.


"Aaaarrgghh....Mana mungkin, Shania. Aku juga, mencintainya. Sama seperti aku, mencintaimu. Pokoknya kalian berdua adalah milikku,titik". Tegas Fahri, menelan ludahnya. Saat melihat pemandangan indah, tepat di hadapannya. Karena Shania, sudah tidak mengenakan pakaian apapun.


Jiwa Fahri, meronta-ronta ingin menyentuh dan memainkannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, menyambar tubuh istrinya.


Dering ponsel Fahri, berbunyi nyaring. Rupanya anak buahnya, memberitahu kepadanya. Jika Rania, sudah pulang dan banyak belanjaan.


Akhirnya Fahri, sudah lega dan menikmati malam pengantin dengan istri barunya.


Shania, memegang kendali malam ini. Dia tersenyum sumringah dan mengirim beberapa foto dan suara desa-han mereka. Dia ingin membuat Rania, seperti cacing kepanasan.


Jangan di tanyakan lagi, Rania jijik mendengar suara desa-han mereka. Apa lagi foto-foto Shania dan suaminya,tanpa sehelai benang pun.


"Hahahaha... Lihatlah,maduku ini. Dia sangat percaya diri sekali, bahwa aku akan menangis meraung-raung. Ck,malah aku jijik melihatnya". Kata Rania, berbaring di samping Aldo.


Kemungkinan besar suami dan madunya itu, berpikiran. Rania,akan kesepian dalam kedinginan. Namun, mereka salah menerkanya. Malam ini, adalah malam panjang bagi Rania dan Aldo. Saling memberikan kehangatan dan kenikmatan tiada tara. Di tambah lagi dengan hujan deras,diluar sana.

__ADS_1


Hawa dingin, berubah menjadi hawa panas. Rania, tidak akan kesepian sendirian. Walaupun sang suami bersama istri barunya.


"Oouhhh.....!" Lenguhan panjang, untuk mengakhiri permainannya mereka. Dengan telaten Aldo, membersihkan sisa-sisa cairan di tubuh Rania. "selamat tidur, sayangku". Bisik Aldo, memeluk erat tubuh sang kekasih. Memejamkan matanya dan terlelap dalam tidurnya, sungguh bahagia karena bisa tidur bersama dengan wanita yang di cintainya.


**************


Ting....Nong.... Ting....Nong


Rania, terbangun dari tidurnya dan mendengar suara bel rumah berbunyi. Sontak membuat dirinya, langsung gelabakan. Apa lagi pakaian berserakan dimana-mana,ada rasa lega karena Aldo tidak ada. Cepat-cepat Rania, mengenakan pakaian dan merapikan tempat tidur.


Tergesa-gesa keluar dan menuju pintu rumah. Tiba pintu terbuka lebar, terlihat sesosok sang suami. "Lama sekali,membuka pintu. Kemana saja,ha?".


"Aku baru bangun mas, karena kecapean tadi malam. Maksudnya, capek nangis mas". Lagi-lagi Rania, hampir kecoplosan.


"Ck,aku tidak perduli Rania. Aku ke sini,cuman mengambil beberapa baju. Karena aku dan Shania,mau bulan madu". Fahri, menuju ke kamar


matanya tertuju pada tempat tidur, sangat berantakan sekali.


Rania, Calingukan lihat-lihat sekililing dan menggaruk kepalanya. "Kenapa bengong,mas? Katanya mau ambil baju, buat pergi bulan madu". Membuyarkan lamunan suaminya.


"Oh,malam tadi banyak nyamuk mas. Tidurnya gak karuan,makanya sprei lecet-lecet begini". Jawab Rania, padahal habis bercinta tadi malam.


Tanpa ada sahutan dari Fahri, langsung menuju ke arah lemari dan memasukkan beberapa lembar pakaian dalam koper.


"Berapa hari, bulan madunya? Jangan lupa oleh-oleh, katanya mau adil sama istri". Sindir Rania, sebenarnya tak sudi mendapatkan oleh-oleh. Anggap saja, basa-basi.


"Semenjak ada perjanjian gila mu itu,adil terhadap istri-istri ku hilang sirna. Sudah tidak bisa hamil, belagu lagi". Kata Fahri, langsung.


Rania, mengepalkan kedua tangannya. Ketika mendengar ucapan suaminya sendiri, berusaha untuk sabar.


"Oh,jadi mau perhitungan sama istri mas. Silahkan,aku jabanin dengan senang hati mas". Bentak Rania, tersenyum smrik.


"Jadi seorang istri,gak bisa hamil. Harusnya ngaca Rania, jangan songong kepada suaminya . Untuk saja aku, tidak menceraikan dirimu. Mana ada pria lain yang mau, karena kamu tidak bisa hamil". Fahri, seakan-akan merendahkan harga diri Rania.


"Ck,awas kamu mas". Gumam Rania, untuk kali ini dia mengalah saja. Menyingkap rambutnya ke belakang, terlihat ada jejak kemerahan di leher. Rania,memang sengaja melakukannya. Agar suaminya, tidak berpikir karuan.

__ADS_1


"Lehernya kamu kenapa, Rania? Ada kemerahan,". Tanya Fahri, ingin melihat lebih jelas lagi.


Rania, langsung menepis tangan suaminya itu. "Bekas nyamuk mas,karena nyamuknya ganas sekali. Jauhkan tanganmu itu,dari kulitku. Tak sudi rasanya di sentuh,karena tanganmu bekas menjamah tubuh pelakor itu". Kini Rania,mengatai madunya.


Jujur saja, Fahri tidak terima atas tuduhan sang istri kepada Shania. "Shania, wanita baik-baik dan jauh lebih sempurna darimu". Tunjuk Fahri, tepat di depan wajah Rania.


"Baik-baik darimana,mas? Mau menikah dengan suami orang, sungguh murahan sekali. Yakin Shania, wanita lebih sempurna dari ku!Darimana kelebihannya,mas? Atau goyangannya hebat, seperti ******". Rania,tak segan-segan mengejek madunya.


"Rania, cukup! Jangan sesekali kamu, merendahkan harga diri Shania. Tiba nanti,dia hamil anakku. Di situlah aku, mengolok-olok diri mu yang mandul". Bentak Fahri, rahangnya mengeras seketika.


"Aku yang mandul,mas? Hahahah... Tidak salah, buktinya saja kamu tidak mau periksa kesuburan . Selalu ada alasan, hati-hati saja mas. Takutnya Shania,hamil bukan anakmu". Kata Rania, menyunggingkan senyumnya.


Plakkkkk....


Cukup sudah kesabaran Fahri,dia langsung menampar wajah istrinya. Darah segar keluar dari sudut bibir, Rania.


Tangan Fahri, bergetar hebat.Setelah menampar wajah istrinya, emosinya sudah memuncak.


Plakkk.... Plakkk...


Dua tamparan keras, mendarat di pipi suaminya. Mana mungkin sesosok Rania, kalah dengan pria buaya darat.


"Terimakasih,atas tamparan mu". Rania,malah tersenyum manis.


"Rania,aku....Aku, minta maaf". Fahri, syok berat. Sepenuhnya,dia tidak sengaja. Lagi-lagi Rania, menepis tangan suaminya. Sialan,perih juga tamparan kerasnya.


"Keluarrrrr......!". Teriak Rania, sangat keras. "Tak Sudi aku, di sentuh oleh mu. Kamu jahat mas,jahat". Teriak Rania, langsung mengusir suaminya keluar rumah.


Sudah pasti, menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar. Sedangkan Fahri, mengusap rambutnya ke belakang.


Braakkkk....


Pintu rumah tertutup sangat nyaring, Aldo yang mendengarnya terkejut-kejut.


"Aaaarrgghh....". Fahri, sudah sangat bersalah kepada Rania. Kedua pipinya Fahri, terlihat memerah bekas tamparan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2