
"Tidak ada urusannya dengan Aldo,Tama. Apa yang aku katakan, murni dari mulut ku". Tegas Rania, tersenyum kecil.
"Kak Rania, pasti taukan. Sudah mematahkan semangat dan cintaku. Tidak bisakah memberikan kesempatan," Pinta Tama, menyentuh tangan Rania.
Rania, langsung menepis tangan Tama. Lebih baik menghindari dirinya, walaupun tidak tega. "Maaf,aku tidak bisa Tam. Aku sudah menganggap dirimu, sebagai adikku. Mana mungkin bisa, perasaan ini akan berubah".
"Baiklah,aku berusaha keras untuk menghilangkan perasaan ku". Gumam Tama, beranjak pergi meninggalkan Rania.
Rania, memandang kepergian Tama dan menghilang di balik pintu. "Maafkan aku,Tam. Aku tidak pantas untuk mu,apa lagi status janda dan lebih tua. Aku yakin sekali, pasti ada wanita yang mencintai mu,". Lirih Rania, melanjutkan sarapan paginya.
Tama,yang duduk lemas di kursi dan memandang ke arah ibunya.
"Ibu, mengetahui semuanya. Jik kamu menyukai Rania, tetapi di tolak". Kata bu Yati, mendekati anaknya. "Awalnya ibu, menyetujui hubungan antara kalian. Makin ke sini,ibu membencinya. Rania, tidak tahu terimakasih kepada kita. Sudah lama bersama dan mengurus Nick. Ibu, sudah menganggap dirinya seorang anak. Lalu, mencampakkan perasaan mu. Jujur saja,ibu tidak terima kamu di sakiti".
Mendengar ucapan sang ibu, memang ada benarnya. Bertahun-tahun lamanya bersama, tapi yang di dapat sakit hati. "Iya,bu. Seakan-akan kita di manfaatkan oleh, Rania. Selama ini kita baik, berusaha memahaminya dengan ikhlas. Nyatanya aku di tolak mentah-mentah, sakit bu".
"Aku mendapatkan informasi,ada lowongan kerja di kota lain. Informasi dari teman bu, gajihnya lumayan besar. Kita pindah yuk, sekalian mau menghilangkan rasa cintaku". Ucap Tama, mengajak ibunya.
"Boleh deh,ibu sudah muak melihat sikap Rania. Sok belagu banget,suka sekali pergi kediaman ayahnya Nick. Rumah ini, bakalan ibu jual atau gak yah?". Bu Yati, langsung menyetujuinya.
"Jangan dulu bu dan simpan untuk tabungan kita, sebelum pindah nanti. Mintalah uang kepada Rania, alasan apa kek". Entah kenapa,Tama berubah benci dengan Rania.
Rania, mendengar pembicaraan mereka. Niat untuk memberikan sup ayam tadi,tapi menghentikan langkah kakinya. Lalu, menguping percakapan menyebut namanya juga.
Setelah mendengar pembicaraan mereka, jujur saja Rania langsung membencinya. Kebaikan mereka selama ini, tidak ikhlas. Apakah mereka lupa, bahwa Rania seringkali membantu.
__ADS_1
"Ck, kalian bilang aku memanfaatkan kebaikan. Lantas,bagaimana dengan kebaikan ku selama ini? Membayar cicilan rumah yang kalian tempati, sampai lunas. Lalu,membayar rumah sakit suamimu bu Yati. Setelahnya, aku mencari pekerjaan yang baik untuk Tama dan membantu cicilan mobil. Mana pernah aku pelit kepada kalian, selalu berbagi. Nyatanya kalah dengan perasaan,". Gumam Rania, langsung pergi ke rumahnya.
Sakit rasanya mengetahui, mereka diam-diam membencinya. Rania, menghapus air matanya dengan kasar. Jangan sampai ketahuan Aldo, bisa habis Tama di tangannya.
Rania, tiba-tiba Jijik sekali. Ketika Tama, pernah menciumi bibirnya dengan rakus.
Berisap-siap untuk melihat supermarketnya, sebelum mendatangi Nick. Tiba di teras rumah, melihat bu Yati duduk santai. Hati Rania, bergemuruh dan ingin memaki-maki. Tetapi dia berusaha untuk santai, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
"Rania,mau ke supermarket yah? Ibu,boleh gak titip bahan di kamar mandi. Semua serba habis,sama beras 1 karung". Pinta bu Yati, tersenyum. Dulu memang seringkali Rania,membawa apapun yang di inginkan bu Yati. Jumlahnya hampir 1 juta, tetapi tidak ada niatan untuk membayarnya. Lagi-lagi Rania, mengusap dada dan anggap sebagai ucapan terimakasih telah menjaga Nick.
Tetapi, untuk kali ini Rania tidak mau lagi. Sudah mendengar pembicaraan mereka tadi, sungguh memuakkan baginya.
"Kalau gak lupa,bu". Jawab Rania, tersenyum.. "Gak sekalian uangnya dulu,biar karyawan yang menyediakan semuanya".
"Eee...Nanti sajalah,sama kamu". Kekehnya bu Yati, menggaruk kepalanya.
"Oh,uang arisan di rumahnya bu Rt. Mau di titipkan gak,biar ibu yang bayar". Entahlah alasan apa lagi,yang di buat oleh bu Yati. Biasanya Rania, menitipkan uang arisan kepadanya. Lagi-lagi ada alasan, uangnya di pake atau hal lainnya.
"Sudah di bayar bu,". Jawab Rania, tersenyum manis. Jangan harap mereka berdua, menikmati uangnya lagi."Bu,aku sering kali menginap di rumah orangtuanya Aldo. Listrik mau habis, isikan yah. Takutnya bu Yati, kegelapan malam ini".
Karena bu Yati,mengait listrik di rumah Rania. Jadi suka kehendaknya, menggunakan listrik karena dia tidak membayarnya. Sontak membuat bu Yati,sok mendengarnya. "Loh, bayarin Rania. Masa kamu tega melihat rumahmu, gelap gulita".
"Gak papa bu, sesekali bayar loh. Biasanya aku yang bayar,hampir bertahun-tahun. So, santai-santai aja". Kekehnya Rania, langsung melambaikan tangannya.
"Lah, kenapa Rania berubah? Biasanya tidak seperti ini,". Gumam bu Yati, menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ada apa,bu?". Tanya Tama,baru keluar dari rumah dan melihat mobil Rania sudah tidak ada. "Sialan, pasti kerumahnya Aldo".
"Nanti isikan pulsa listrik,kata Rania mau habis. Entah kenapa,gak mau di isikan". Kata bu Yati,menghela nafas beratnya.
"Ha? Tumben sekali kak Rania, menyuruh kita mengisi pulsa listrik". Tama,jadi keheranan jadinya. "Sudah di tolak mentah-mentah,mana di suruh lagi. Huuuu... Menyebalkan sekali,jadi nyesal baik dulu".
"Sekalian beli bahan kamar mandi sudah habis sabun-sabun,sama uang arisan 1 juta". Bu Yati, meminta uang kepada anaknya.
"loh, biasanya Rania membayar uang arisan untuk ibu. Terus,kenapa beli bahan kamar mandi sabun-sabun? Minta saja sama kak Rania,gak perlu keluar uang". Tama, menggaruk-garuk kepalanya.
"Masalahnya Rania,tidak mau. Katanya sibuk,uang arisan sudah di bayar. Gak tau juga, Rania tiba-tiba berubah. Cepat mana uang arisannya,". Bentak bu Yati.
Terpaksa Tama, mengeluarkan dompet dan memberikan uang kepada ibunya.
Ting..
Sebuah pesan masuk dari, Rania.
[Aku sudah transfer uang, menggantikan semua barang yang kamu belikan untuk Nick. Aku hitung-hitung,gak nyampe 10 juta. Aku takutnya saja,di bilang macam-macam nantinya].
Rania, mengirim uang dengan jumlah 15 juta. Karena Tama, membelikan barang kepada Nick. Tidak terlalu mahal, apapun yang di belikan bu Yati dan Tama. Nick, selalu memberitahunya.
Degggg....
Tama, semakin keheranan jadinya."Loh,kenapa Rania tiba-tiba seperti ini? Ada sesuatu yang janggal, apa jangan-jangan terpengaruh oleh Aldo. Brengseeekk....Awas kamu, Aldo".
__ADS_1
[Aku kirim balik uangnya kak, gak enak jadinya]. Balas Tama, semoga saja Rania tidak mengambil uangnya lagi. Itu semuanya cuman akal-akalan saja."Lumayanlah dapat uang 15 juta,sayang sih Rania tidak mau dengan ku. Enak punya istri banyak uang dan memiliki usaha sendiri". Gumamnya.