
"Ada apa, emangnya siapa bertamu?". Tanya Aldo, tiba-tiba Rania menyeret paksa keluar pintu belakang. Saat dia tengah menyantap sarapan pagi,nasi goreng spesial dari Rania.
"Papah,papah yang datang. Ayo, cepetan sana!". Pinta Rania,syok berat karena kedatangan ayahnya sepagi ini."Bawa aja nih,sama piringnya. Maaf bang,aku ngusir kamu". Rania,cengir kuda.
"Oke,aku keluar. Sana pergilah, temui papahmu". Aldo, mencium sekilas bibir Rania. "Astaga,hampir saja tersedak tadi". Gumamnya.
Rania, tersenyum manis dan melambaikan tangannya. Bergegas menuju luar dan membukakan pintu untuk ayahnya.
Senyum sumringah terbit di bibirnya, Rania. "Papah...!". Dia langsung berhamburan ke pelukan ayahnya.
"Rania,anak papah". Pak Harto, langsung menyambut pelukan anaknya.
"Papah,bohong sama Rania. Katakan sore datang,taunya pagi". Rania, memasang wajah cemberut. Huuuff... Hampir saja, ketahuan.
"Loh,gak suka papah datang cepat?". Pak Harto, mengerut keningnya.
"Yeee... Jadinya Rania,gak bisa nitip beli makanan favorit". Gerutunya, tersenyum kecil. "Masuk pah,". Menarik lengan ayahnya.
"Ada,mana mungkin papah lupa. Parno,bawa semua yang ada di mobil!". Perintah pak Harto,kepada sopir pribadinya.
"Sekalian bangku sama setirnya,mang Parno! Kata papah,semua yang ada di mobil. Gak sekalian mobilnya, masuk". Kekehnya Rania, mendapatkan cubitan dari ayahnya.
"Baik, Tuan!". Jawabnya Parno, cengengesan.
Mendengar perkataan ayahnya, Rania tersenyum dan senang. Walaupun hatinya, was-was.
Rania, membuatkan minuman dan cemilan setelahnya duduk, menemani ayahnya.
"Mana Fahri,hari ini liburkan?". Tanya pak Harto, menatap tajam ke arah anaknya. Sedari tadi, tidak ada batang hidung menantunya itu.
Aduhh... Sudah aku duga,papah mencari suamiku.Batin Rania, tersenyum. "Mas Fahri, kerumah orangtuanya pah. Katanya ada sesuatu,cuman sebentar kok".
"Sejak kapan kamu berbohong, Rania?". Delik mata ayahnya, sangat tajam.
__ADS_1
Glekkkk....
"Bohong? Bohong apa,pah? Rania, tidak paham. Hehhee...". Kekehnya, berusaha untuk santai.
"Yakin, tidak mau jujur? Diam-diam papah, mengetahui apa yang terjadi". Kini pak Harto,mulai meninggikan suaranya.
"Pah, Rania cuman...".
"Cuman apa, Rania? Suamimu itu, sudah keterlaluan sekali kepada anak papah. Dia harus di berikan pelajaran, termasuk orangtuanya. Kalau tidak papah, memberikan modal usaha kepada bapak mertua mu. Mana mungkin, mereka hidup enak. Sekarang apa, Rania? Orangtuanya saja, tidak perduli dengan Fahri. Memang benar, bahwa mereka cuman enaknya saja. Cukup Rania! Papah,akan mengurus surat perceraian kalian. Enak saja,kamu di manfaatkan oleh keluarga suamimu". Ucap pak Harto, amarahmya menggebu-gebu disaat ini.
Rania,diam dan tidak berani menatap ayahnya.
"Lihat saja,nantinya. Papah,akan melakukan apapun untuk membayar sakit hati mu. Ini semua karena mamah mu, selalu menuruti kehendaknya. Papah, sudah lama menilai mereka semua. Demi kebahagiaan mama mu,anak sendiri di jadikan korban". Gerutu pak Harto, memijit pelipisnya. Air matanya menetes,sejak dulu selalu menuruti perkataan sang istri. "Maafkan papahmu, Rania. Terlalu mencintai mamahmu, sehingga menurut apa perkataannya. Bahkan kamu, menjadi korban".
"Papah,jangan menangis". Rania, langsung memeluk tubuh ayahnya. "Aku ikut apa yang di katakan,papah.Siap untuk melepaskan, mas Fahri. Jujur saja, sampai detik ini. Aku belum bisa mencintai,mas Fahri". Kata Rania, tertunduk sedih.
"Papah tau,kamu masih mencintai nak Aldo. Jika kalian memang berjodoh, pasti akan bersatu nak. Karena papah, tidak akan melarang kebahagiaan kalian". Pak Harto, tidak pernah ikut campur dalam urusan percintaan anaknya.
"Oke,kalau ada apa-apa. Katakan kepada papah,jangan sungkan." pak Harto, mengelus pucuk kepala anaknya
"Serahkan semuanya,kepadaku.Papah, tinggal beresnya saja". Kata Rania, cengir kuda.
"sudut bibirmu,kenapa? Kok,lembam kemerahan dan kebiruan. Apa jangan-jangan, Fahri yang melakukannya". Tanya pak Harto, dengan mata nyalang nya.
"Iya,pah. Tapi, sudah Rania balas". Jawab Rania, berusaha menenangkan ayahnya. "Sudahlah pah,aku bisa kok jaga diri. papah, jangan memikirkan keadaanku".
"Baiklah,papah mau pulang dulu. Dahlia, sudah menunggu papah". Pamit pak Harto,kepada anaknya.
"Hati-hati pah,". Rania, mengantar ayahnya sampai ke pintu mobil.
Selepas kepergian ayahnya, Rania berniat untuk melakukan hal sesuatu. Pintu rumah langsung di kunci,mencari beberapa kardus dan kresek lumayan besar.
Hap.....
__ADS_1
Aldo, memeluk tubuh Rania dari belakang. Memberikan kecupan di lehernya, hembusan nafas Aldo membuat bulu halus seketika berdiri.
"Mau ngapain, sayang? Kayanya, sibuk sekali". Bisik Aldo, lagi-lagi mengecup bibir Rania.
"Mau memasukkan semua pakaian, suamiku. Karena aku, tidak mau mengurusnya lagi. Aku serahkan semuanya,kepada istri barunya". Jawab Rania, tersenyum smrik.
"Dengan senang hati, kekasih mu ini. Siap membantu,sayang". Aldo, langsung bersemangat.
Rania dan Aldo, beraksi memasukkan satu persatu pakaian Fahri ke dalam kardus. karena tidak cukup, di masukan ke dalam kresek.
Ada canda tawa bersama, terlihat tanpa ada beban sama sekali. Rasa lelah di bayar, dengan keromantisan berdua.
"Aku tidak sabar lagi, bagaimana reaksi mas Fahri? Melihat pakaian dan miliknya,aku kirim ke rumah orangtuanya Shania". Ucap Rania, menikmati secangkir jus buah.
"Tentu saja dia syok berat,sayang. Aku sudah menelepon orang yang akan mengirim barang ini,kamu tinggal beresnya saja". Aldo, merangkul pinggang Rania.
"Hahaha.....Hahahah...". Rania dan Aldo, tertawa lepas.
***************
"Ada apa, Shania? Jangan teriak-teriak, emangnya di sini hutan". Fahri, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bagaimana aku tidak teriak,mas? Kata bapak,ada seseorang mengirim banyak barang kerumah. Kata sang pengirim, barang mas semua. Setelah di buka, isinya pakaian mas". Kata Shania, sontak membuat Fahri terkejut.
"Apa? Gak mungkin, Rania mengusirku. Aaaarrgghh...Mana aku di blokir, Rania". Gerutunya Fahri, mengacak-acak rambutnya.
"Terus, kenapa Mbak Rania melakukan hal itu? Mana tidak menggunakan koper,malah menggunakan kardus dan kresek. Sekarang kedua orangtuaku, sangat malu. Atas perlakuan mbak Rania,gak mau tau mas. Kamu harus memberikan pelajaran,kepada istri pertama mu itu". Tegas Shania,geram kepada Rania.
"Mana mungkin aku, memarahi Rania. Sedangkan dia, termasuk menantu kesayangan ibuku". Bantah Fahri,cuman beralasan saja. "Asal kamu tahu,aku menampar wajahnya kemarin. Lalu,dia membalasnya juga."
"Apa? Segitunya kah, Mbak Rania kepadamu mas. Ceraikan saja, tidak pantas menjadi seorang istri. Masa berani sekali, menampar suami". Kata Shania,duduk di samping suaminya. "Bapak ngomel-ngomel segala,karena para tetangga mencurigai mas. jika mas,bukan orang kaya dan bekerja di kantoran. Pokoknya,masa harus membelikan rumah jauh lebih besar dari rumah Rania." pinta Shania,tanpa ba-bi-bu lagi.
Mendengar ucapan Shania, membuat Fahri tercengang. Belum apa-apa, Shania sudah meminta ini,itu. Tidak seperti Rania, menurut apa yang di katakannya. Walaupun mereka seringkali bertengkar, berkata kasar.
__ADS_1