
Rania, tidak putus asa mencari sang kekasih. Bahkan pergi kediaman orangtuanya, itupun hasilnya nihil.
Pergi ke perusahaan ayahnya Aldo, lagi-lagi mendapatkan kabar yang tidak memuaskan.
Tiba waktunya, Rania berhenti di sebuah rumah. Dia berniat mencari informasi tentang Aldo,dari teman dulu.
"Maaf, semenjak kalian memutuskan hubungan. Sejak itulah aku, tidak tahu dan berkomunikasi hilang". Jawab teman Aldo,yang di kenali Rania.
Kali ini Rania, pergi lagi dan menemui teman kekasihnya yang lain.
Ke sana kemari Rania, mencari informasi dari teman kekasihnya. Hingga malam hari, tetap tidak ada yang tau.
Mobilnya berhenti di distrik militer,salah satu temannya ada di sini. Semoga saja, mendapatkan informasi yang memuaskan.
Rania, menghapus air matanya sedari tadi luruh sudah.
Mata Rania, tertuju pada seorang pria yang tidak di kenalnya. Bernama Jordan,katanya teman dekat Aldo.
Distrik militer, heboh karena kedatangan seorang wanita cantik. Apa lagi bertemu dengan seorang pria, terbilang dingin dan tertutup.Seorang militer, yang memiliki pangkat lumayan tinggi.
"Maaf,siapa Anda? Malam-malam begini,mencari saya". Tanya Jordan, dengan nada tegasnya.
"Maaf,aku minta maaf kepada anda. Malam-malam begini, menemui Anda. Saya Rania, ingin mencaritahu tentang Aldo Barreto". Jawab Rania, dengan tatapan tajam.
Jordan, menyipitkan bola matanya dan tercengang mendengar ucapan wanita di hadapannya.
"Untuk apa,mencari informasi tentang Aldo? Ada hubungan apa, dengannya". Tanya Jordan, dengan wajah datar.
"Saya kekasihnya, Aldo. Tolong beritahu semuanya, tentang Aldo". Pinta Rania, matanya sudah berkaca-kaca.
"Maaf, informasi seseorang tidak boleh di sebar luaskan. Privasi,kau paham". Jordan, beranjak berdiri.
__ADS_1
"Aku mohon,ada apa dengannya? Lalu, apa yang terjadi padanya. Aku tengah mengandung anaknya, Aldo". Kata Rania, tertunduk dan menangis kesegukan.
Jordan, terkejut mendengar ucapan wanita yang di hadapannya. Dia mulai duduk kembali, tidak tega melihat Rania menangis.
Jordan, meminta Rania untuk menceritakan semuanya. Bagaimana bisa, mereka menjalin hubungan dan menghasilkan buah hati.
Rania, tidak ada yang di tutupinya. Entah kenapa,dia langsung percaya dengan Jordan. Tidak lupa juga, memperlihatkan sebuah foto dan video bersama Aldo. Isi percakapan di WhatsApp, sontak membuat Jordan terkejut.
"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, kami sama-sama masuk anggota militer secara bersama. Ada sesuatu yang tidak beres, seketika Aldo menghilang begitu saja. Banyak orang mencurigai dirinya,dia menjadi agen rahasia. Hanya itu yang ku tau, kemungkinan dia menjalani tugasnya. Anda nona, bersabarlah dan menunggu kedatangannya. Jangan memikirkan apapun,". Kata Jordan,yang terngiang-ngiang di otaknya.
Setelah menemui Jordan, mendengar semua ceritanya. Ada rasa pedih di hatinya,kenapa sang kekasih berbohong dan tidak jujur.
"Aaaaaaaaa..... Pembohong..!Kamu memang pembohong...!" Teriak Rania, sangat kecewa dengan sikap Aldo.
Rania, berteriak sekencang mungkin. Mengeluarkan unek-uneknya, yang di rasakannya. Melempiaskn semua kekesalan dan sesak di dadanya.
Rania,syok berat mendapatkan kenyataan yang begitu pahit. Dia baru tau,jika sang kekasih anggota militer. Lalu mengubah dirinya, menjadi agen rahasia.
Pikirannya berkecamuk kemana-mana, sudah pasti Aldo menyimpan banyak kebohongan.
Rania, duduk manis di ruang tamu dan ingin meminta kejelasan kepada ayahnya. Ada rasa sesal di benaknya,jika tau seperti ini. Kemungkinan Rania, tidak memberitahu jika dirinya hamil.
Ada beribu-ribu kenangan manis,di saat bersama dengan Aldo. Ada beribu-ribu pertanyaan di otaknya, kenapa sang kekasih melakukan hal ini? Apakah untuk balas dendam,karena sudah meninggalkannya dulu. Atau ada penjelasan lainnya,lalu sampai kapan kecewa ini hilang? Air matanya mengalir deras, mengelus perutnya.
Malam semakin larut, tidak ada tanda-tanda kedatangan ayahnya. Dering ponselnya berbunyi, tertera nama Aldo.
Degggg....
Rania, gemetaran ingin menyentuh Ponselnya di meja. Ada rasa senang dihatinya, sudah beberapa hari tidak ada kabar dari sang kekasih. Lagi-lagi Rania, menepisnya dan mengabaikan panggilan tersebut.
"Rania, kamu belum tidur nak? Ini sudah jam 12 malam,". Pak Harto, terkejut melihat anaknya yang masih terjaga.
__ADS_1
Rania, langsung Berhamburan ke pelukan ayahnya dan menangis sejadi-jadinya. Sontak membuat pak Harto, terkejut dan amarahnya sudah memuncak. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, seketika kepikiran dengan pelayan kediamannya.
"Nak,kenapa menangis? Hussssttttt...Jangan seperti ini nak,". Pak Harto, menghapus air mata anaknya. Sebagai seorang ayah, khawatir dengan putrinya.
"Bang Aldo, berbohong kepadaku pah. Hiks...Hikss...". Isak tangisnya, Rania.
"Ayo, ceritakan semuanya kepada papah. Siapa tahu papah bisa membantumu". Bujuk pak Harto,kepada anaknya.
Lagi-lagi Rania, menggeleng kepalanya. Entah kenapa, dia tiba-tiba tidak yakin menceritakan semuanya kepada sang ayah. "Aku,aku ingin mengakhiri hubungan kami". Jawab Rania, tidak memperdulikan dirinya tengah hamil.
"Rania, apa yang kamu katakan? Jangan aneh-aneh, ingatlah kamu akan menikah dengan Aldo. Selepas masa Iddah mu,". Pak Harto, kebingungan dengan keputusan anaknya. Di sudut bibirnya tersenyum kecil, merasa senang mendengar ucapan anaknya.
Parno, ikut-ikutan tersenyum dan mengangguk kepala. Seperti ada sesuatu yang tidak beres,yang di rencanakan.
"Rania,jangan mengambil keputusan sendiri. Coba katakan kepada papah, kenapa kamu ingin memutus hubungan dengan Aldo?". Tanya pak Harto, penasaran. Apakah Rania, mengetahui sesuatu tentang Aldo? Mana mungkin bisa,tau darimana dia? Apa jangan-jangan, Aldo memberitahunya.Batin pak Harto, sangat penasaran sekali.
"Rania, tidak bisa menceritakan semuanya. Karena ini privasi pah,aku sudah memikirkan secara matang. Aku terlanjur kecewa berat, dengan bang Aldo. Sakit pah, sangat sakit". Jawab Rania, memalingkan wajahnya.
"Oke,papah tidak bisa berbuat apa-apa. Papah, menyerahkan semuanya kepada mu. Demi kebahagiaan mu, apapun itu". Pak Harto, mengelus pucuk kepala anaknya.
"Aku pamit dulu,pah. Mau menenangkan pikiran dan hati ku,". Rania, beranjak berdiri. Ada perasaan aneh, tiba-tiba tak mampu menceritakan siapa Aldo.
Selepas kepergian Rania,pak Harto tersenyum sumringah. sedangkan Rania,masih mendengar ucapan ayah dan asisten pribadinya di bawah.
"Sekarang kita tidak ada halangan apapun, Parno. Aku sudah menduga,jika Rania akan mengetahui siapa sebenarnya Aldo. Jika tidak memandang kekasih anakku, sudah aku habisi dia". Kata pak Harto, tersenyum smrik.
Rania, terkejut mendengarnya dan menutup mulutnya dengan tangan. "Apa yang terjadi? Apa yang di sembunyikan papah,selama ini. Apa hubungannya papah dan bang Aldo? Aaaarrgghh....Apa yang harus aku lakukan,". Gumam Rania, memijit pelipisnya.
"Benar, Tuan. Siapa suruh macam-macam, kepada Anda. Lalu, mengusik pekerjaan kita selama ini" Sahut parno,di samping pak Harto.
"Pekerjaan? Apa yang di kerjakan papah!apa yang di katakan bang Aldo,tentang pekerjaan sampingan papah. Tunggu dulu,aku harus mencari tahu semuanya. Iyah,biar aku tidak salah paham lagi". Rania, berniat menyelidiki pekerjaan ayahnya. Dia sudah menduga ada kaitannya, dengan Aldo.
__ADS_1