
Rania,terjaga di malam harinya. Masih tidak percaya dengan pertemuannya dengan, Aldo. Sekian bertahun-tahun, tidak ada kabar darinya. Tiba-tiba di pertemukan lagi, semakin syok berat. Karena Aldo,berani menyentuhnya. Sedangkan dirinya, memiliki seorang istri.
"Aaarghhh ....Kalau aku tahu,siapa pemilik perusahaan itu. Aku tidak akan pernah ke sana,". Gerutu Rania, mondar-mandir di dalam kamarnya. Menatap lekat ke wajah,anak semata wayangnya. "Maafkan bunda,nak. Ayahmu, ada di sini". Air matanya luruh sudah, begitu berat hati melihat sang anak. Tidak pernah bertemu dengan ayahnya sendiri.
"Setidaknya aku lega,karena orangtuanya Aldo tidak tahu soal cucu mereka. Apa yang terjadi,jika mereka tahu? Tidak,aku tidak akan membiarkan mereka merampas anakku. Yah, aku meminta bantuan kepada Tama. Mengurus hak asuh anak,aku ibunya yang melahirkan dan membesarkan. Enak saja, mereka mengambil alih anakku". Rania, mengepalkan tangannya.
"Lalu, apakah mereka tinggal di kota ini? Atau, cuman acara tertentu. Setelahnya mereka pulang ke kota asal, astaga". Rania, benar-benar kebingungan. Pikirannya berkecamuk kemana-mana, sangat takut kehilangan buah hatinya.
"Nick, tidak boleh kemana-mana. Dia harus berada di rumah ini, takutnya Aldo mengincar anakku. Dia sangat mudah menemukan keberadaan ku,karena Tama. Aaaargghhh....Kenapa seperti ini? Ujian apa lagi,Tuhan". Rania, berbicara dengan sendirinya. Rasa kekhwatiran dan ketakutan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sedangkan Aldo, senyum-senyum sendiri. Sekian lama tidak bertemu, akhirnya bertemu dengan mantan kekasih. Bahkan dia begitu nekat, memeluk dan menciumnya dengan rakus. "Rania, apapun yang terjadi. Aku akan merebut mu,dari pria itu". Gumam Aldo, menyusun rencana liciknya.
"Aaahh... Sangat mudah sekali, membawa Rania ke pelukkan ku. Apa lagi ada anak di antara kita,kau tidak bisa berkutik Rania. Pria itu, harus di beri pelajaran. Berani sekali dia, menyentuh kekasih ku". Kata Aldo, rahangnya mengeras seketika. Masih teringat jelas, bagaimana Rania merangkul lengan Tama.
"Beruntung sekali,aku ikut ke sini dan mendapatkan bonus terbaik. Merayakan ulangtahunnya perusahaan,ayah. Rupanya ada dia, apakah kami memang di takdir dalam 1 hati? Aahh.... Rania,kamu semakin cantik dan seksi. Tidak sabar untuk memiliki mu lagi, tidak perduli dia suamimu. Aku akan memisahkan kalian,". Gumam Aldo, tersenyum smrik.
Sebuah pesan masuk di ponselnya, Aldo mendapatkan informasi tentang Rania dan Tama.
"Yes! Sudah aku duga, Rania mana mungkin menikah dengan pria lain. Karena dia hanya mencintai ku, tidak bisa melupakan ku. Tama, sialan dia tetangga Rania. Aaaarrgghh.... Tidak mungkin, Rania menjadikan Tama seperti kami dulu. Tetapi, Tama lebih muda dari Rania. Aaakkhh.... Tidak mungkin, Rania menjadikan Tama kekasihnya". Aldo, semakin gelisah gusar.
Sangat takut sekali,jika Rania tergoda dengan tetangganya. Lalu, bermain-main dengannya dan bermadu kasih. Tepatnya seperti dulu,di saat mereka masih tetanggaan. Apa lagi Rania,cukup lama bertetangga dengan Tama. Sudah pasti Rania, kepincut dengan brondong.
Aldo, semakin frustasi karena memikirkan Rania. Terbayang-bayang,ketika 1 ranjang berduaan dan saling memberikan kehangatan.
__ADS_1
****************
Pagi harinya Rania, menyiapkan keperluan sang anak. Sebelum dia berangkat bekerja, biasanya mencek supermarketnya.
"Bu,kalau ada apa-apa hubungi Rania,". pinta Rania, tersenyum.
"Iya, Nick tidak apa tinggal dengan ibu. Kamu hati-hati di jalan yah,lagian ada Tama bantuin jaga". Bu Yati,paham dengan perasaan Rania.
"Iya,kak. Mau ajak Nick, jalan-jalan. Gak jauh,cuman di taman". Kata Tama, mendekati Rania.
"Iya,jaga Nick. Anak bunda,jangan merepotkan om Tama. Apa yang di katakan Om,nurut yah". Rania, mencium kening anaknya.
"Oke,bunda.Nick, selalu menurut apa kata Om". Nick,membalas mencium pipi sang ibu.
"Alahhh... Nick, sudah aku anggap keponakan sendiri. Senang sekali malahan,ada yang di ajak main-main". Jawab Tama, tersenyum sumringah.
"Benar, semenjak kalian ada.kehidupan ibu, berubah dan bertambah bahagia". Bu Yati, mengelus lembut rambut
Rania, pamit pergi dulu. Karena ada masalah di supermarket, terpaksa harus meninggalkan anaknya. Sebenarnya,dia sangat was-was jika Aldo tiba-tiba ada.
**************
"Kapan kita pulang? Aku bete di sini,". Tanya Rossa, mengeluh karena tidak ada tanda-tanda pulang ke kota asalnya. "Bukankah acaranya sudah selesai,kamu ikut pulang atau tinggal?". Tanyanya lagi, kepada Aldo.
__ADS_1
"Yah... Mungkin hari ini,bisa jadi aku ikut pulang. Ada sesuatu yang harus dilakukan,agar mangsaku tidak bisa berkutik lagi". Jawab Aldo, tersenyum smrik dan mengeluarkan asap rokok di mulutnya.
"Payah, kamu bisa mendapatkan dengan cara licik. Misalnya, mengancam akan mengeluarkan pria itu. Aku tidak sabar untuk cepat-cepat bercerai, aku tidak sanggup dengan omelan ibumu". Decak Rossa, mematikan potong rokoknya.
"Ck, seharusnya kamu senang menikah dengan ku. Bisa menutupi skandal mu itu,suka sama sesama jenis". Aldo, bergidik ngeri.
"Tetapi,aku tiba-tiba cemburu melihat mu mengejarnya. Apa jangan-jangan,aku sudah mulai berubah menjadi lebih baik. Sumpah,ada rasa janggal dengan ku". Kata Rossa, tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Ck,buang rasa sukamu padaku. Sampai kapan pun,aku tidak pernah sedikitpun suka terhadap kau dan menggantikan posisi Rania. Jika kamu main-main,atau menghalangi ku. Berisap-siaplah untuk hancur segalanya, termasuk reputasi mu dan ketenaranmu". Ancamnya Aldo, tidak main-main.
Glekkk..
Rossa, langsung bungkam oleh Aldo. Dia pun kebingungan dengan perasaannya, tiba-tiba sesuatu yang tidak rela. Apa jangan-jangan aku sudah mulai menyukai, Aldo? Aaahh... Itu tidak mungkin,lalu bagaimana dengan Bunga? Tidak mungkin cinta segitiga.Batin Rossa,masih memandang ke arah Aldo.
Aldo, memang makhluk hidup yang sangat sempurna. Postur tubuh yang kekar, rahangnya keras, sixpack perutnya,hidung mancung dan tatapan matanya sangat tajam. Benar-benar menggoda Rossa, biasanya dia tidak goyang terhadap pria manapun.
"Berhentilah untuk memandangi ku, Rossa. Takutnya kelainan mu, benar-benar berubah. Lalu, bagaimana dengan Bunga? Dia sangat cinta mati, kepadamu". Kata Aldo, tersenyum smrik.
"Ck,kita sudah lama menjadi sepasang suami-isteri. Bertahun-tahun tidak melakukan hubungan itu, bisakah aku mencicipinya". Rossa, mendekati Aldo dan membuka kancing bajunya.
Aldo, mendorong tubuh Rossa dan menjauhkan dirinya. Hanya Rania,yang boleh menyentuh tubuhnya itu. Selama ini, selalu menjaga dirinya demi wanita yang di cintainya.
"Jangan main-main dengan ku, Rossa. Walaupun dirimu, telanjang bulat di hadapan ku. Tidak akan membangunkan gairahku,cuman Rania yang mampu". Tegas Aldo, menyeringai tajam.
__ADS_1
"Maaf". Lirih Rossa, membenarkan pakaiannya dan tidak berani lagi mendekati Aldo. Rossa, ingin sekali berubah menjadi lebih baik dan seorang istri yang di inginkan setiap wanita. Memiliki suami seperti Aldo, memang sangatlah beruntung. Tetapi, hatinya sekeras batu dan bersikukuh menjaga hatinya untuk Rania.