
Karena Rania, sangat kesal dengan sikap bu Yati. Selalu membela anaknya,yang malas dan main game online.
"Cukup! Aku tidak akan mencarikan pekerjaan untuk, Tama. Dianya saja tidak berusaha, mengharapkan ku yang sibuk ini". Bentak Rania, nafasnya mulai memburu.
Dia langsung pergi meninggalkan rumah bu Yati, tidak memperdulikan memanggil namanya.
"Rania!Rania! Rania! Menyebalkan sekali,kenapa dia berubah menjadi seperti ini? Lalu, masakan ku gimana. Sial,gagal deh". Gerutu bu Yati, rencananya kali ini gagal.
Rania, terkejut mendapatkan paket yang di terima anaknya. Dia membuka paket tersebut, terlihat sebuah dress selutut berwarna biru malam. Alamat tertera memang benar, penerima Rania dan yang mengirim atas nama Aldo. Sontak membuatnya terheran-heran, takutnya nama Aldo yang lain.
Ting...
Sebuah pesan masuk, tertera nama Aldo. Senyum merekah terlihat di bibirnya, Rania. Hatinya sangat berbunga-bunga, rupanya Aldo sudah datang dari tugasnya.
Air mata mengalir di kedua pipinya,betapa senang hatinya. Atas kedatangan orang yang di sayanginya,selama ini
[Pakailah gaun itu, jam 7 malam nanti. Ada seseorang menjemputmu, siang ini Nick di ambil oleh Omanya]
Rania, cengengesan dan kegirangan loncat-loncat. Senyum-senyum sendiri, sangat tidak jelas. Tetap,dia berusaha mengontrol dirinya. Seakan-akan dirinya, tidak merindukan sesosok Aldo di hadapannya nanti.
[Baiklah].
Rania, membalas pesan dari Aldo dan jantungnya berdegup kencang. Tidak sabar lagi, untuk malam ini.
"Sayang, siap-siap yah. Kamu nanti di jemput Oma,". Kata Rania, menyiapkan keperluan yang di bawa anaknya.
"Oke,bund". Jawab Nick, betah berlama-lama di rumah Omanya. Karena ada teman sebayanya di sana, sangat dekat dengan rumah Omanya.
Jam siang tiba, Nick di bawa Omanya pergi.
"Bersenang-senang lah". Bisik bu Ara,kepada Rania.
Rania, menahan rasa malu dan pipinya memerah seperti tomat masak. Cuman bisa mengangguk kepala, cengengesan tak jelas. "Dahhh....". Rania, melambaikan tangannya ke arah Nick.
Selepas kepergian anaknya,dia langsung pergi ke salon dan spa. Demi sang ayang,dia harus perawatan maksimal. Tidak mungkin bertemu dengan Aldo,seadanya saja.
__ADS_1
*************
Malam harinya, tepat jam 7 malam. Sebuah mobil berhenti di perkarangan rumahnya,Rania bergegas ke luar rumah. Jantungnya berdegup kencang, pikirannya berkecamuk kemana-mana.
Tama,yang terpesona dengan kecantikan Rania. Malam ini, Rania nampak sangat cantik dari biasanya. Gaun yang di keenakan sangat pas, tentu saja pilihan Aldo.
"Kak Rania,kamu sangat cantik sekali. Mau kemana kak? Apakah mau menghadiri pesta". Tebak Tama, berharap dia di ajak.
"Makasih atas pujiannya,aku mau kemana. Itu tidak ada urusannya dengan mu,". Jawab Rania, tersenyum smrik.
"Kak Rania,jika menghadiri pesta kolega bisnis dan lainnya. Ajak aku kak,siapa tahu ada pekerjaan untuk ku". Kata Tama, sudah bersemangat untuk ikut.
"Hahahaha... Masalahnya aku mau dinner,sama pria". Rania, tertawa renyah melihat wajah masam Tama.
"Dinner? Kenapa dengan pria lain? sedangkan aku, selalu di tolak. Itu tidak adil". Tama, kesal kepada Rania.
"Eeee....Gimana yah,mau aja sih dinner sama kamu. Tetapi,kamu kere dan pengangguran. Gak mungkin kan,aku membayar tempat dan makan malamnya". Rania,memutar bola matanya memelas.
Tama, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa yang di katakan Rania,memang benar sekali. "Itu salah kak Rania, tidak mencarikan aku pekerjaan kantoran".
Tama, menggeretakkan giginya dengan keras. Dia berniat untuk mengikuti Rania, sudah pasti menghancurkan acara dinner dengan pria lain. Hatinya terasa sakit, karena cemburu buta. "Tidak akan aku membiarkan mu, bersenang-senang Rania. Kamu cuman milikku,".
**************
Rania, takjub melihat sebuah kapal pesiar mewah. Di hiasi lampu-lampu yang indah dan di hiasi bunga-bunga mawar warna-warni.
Dia mengulum senyumnya, tidak menduga Aldo akan seromantis ini. Jantungnya semakin berdebar kencang, tubuhnya gemeteran sudah.
Rania,di persilahkan duduk di kursi. Matanya celingukan melihat-lihat sekeliling dan mencari sesosok tubuh yang di rindukannya.
Angin sepoi-sepoi,kapal pesiar sudah mulai berlayar.
Tama, menghentakkan kakinya. Matanya tertuju pada kapal pesiar, sudah jauh berlayar.
Berpikir keras bagaimana,dia bisa pergi ke sana.
__ADS_1
Alunan musik sudah di mulai, terlihat Aldo mendekati Rania dan membawa sebuket bunga mawar merah.
Rania, tersenyum kecil dan berekspresi biasa saja. Dalam hatinya kegirangan tak karuan, ingin sekali berteriak keras. Tidak mungkin dia, memperlihatkan kepada Aldo. Sama saja dia, merendahkan harga dirinya.
Aldo, tersenyum manis. Lalu, memeluk erat tubuh Rania. "Aku sangat merindukanmu, sayang".
Rania, mengangguk kepalanya dan mencium maskulin menyengat penciumannya. "Terimakasih, sudah merindukan ku". Jawab Rania,sok jual mahal.
"Kau tidak merindukanku,hemmm...". Aldo, mencium sekilas bibir Rania. Walaupun sang empunya, tidak meresponnya dan mengalihkan pandangannya.
"Tidak,biasa saja. Nick,yang merindukan mu. Selalu menanyakan,kapan kamu pulang? Kapan dan kapan". Jawab Rania, tersenyum manis.
Aldo,yang sudah tergoda dengan bibir Rania langsung melu-mat habis-habisan. Sangat agresif ciuman mereka berdua, entah kenapa Rania membalas ciumannya? Mencoba untuk mengontrol dirinya, tega tak bisa. Jujur saja dia sangat merindukan,Aldo.
Aldo, melepaskan ciumannya dan berlutut di hadapan Rania. Mengeluarkan sebuah kotak keci,dari saku celananya. Lalu, membuka dan terlihat sebuah cincin berlian.
"Menikah dengan ku, Rania". Kata Aldo, tersenyum dan mengharapkan diterima oleh calon istrinya.
Rania, menutup mulutnya dengan tangan. Karena tidak menduga Aldo, melamarnya sekarang juga. "Aku mau". Jawab Rania, sudah memikirkan secara matang.
Mendengar jawaban Rania, Aldo langsung memeluk tubuh Rania dan memutarnya.
Tidak memperdulikan, teriakkan Rania yang terkejut dengan sikap Aldo."Aaaaaaaa... Hahahaha...". Mereka berdua saling tertawa lepas.
"Terimakasih, sayang". Aldo, menurunkan tubuh Rania dan memasang cincin di jari manisnya.
"Sangat indah". Kata Rania, menanting cincin di jari manisnya. Ada senyuman kecil di sudut bibir, hatinya berbunga-bunga.
"Kau jauh lebih indah,". Bisim Aldo, mencium kening Rania. "Ayo, kita makan sama-sama". Membawa Rania,duduk di kursi dan memberikan kode mengantar hidangan pertama.
Rania,yang malu-malu kucing. Sesekali melirik Aldo,yang sedari tadi menatapnya. selalu menggenggam jemari Rania, seakan-akan Aldo tak ingin melepaskannya.
Makan malam bersama, berjalan dengan lancar. Tepat di tengah lautan,yang indah di dalam hari. Malam yang di penuhi bintang,di atas langit.
Rania dan Aldo,berbaring di atas kapal. Menumpahkan rasa rindu, selamat ini. Ciuman mereka berdua, semakin panas dan ingin lebih.
__ADS_1
Sedangkan Tama, memukul setir mobilnya. Ingin menyewa kapal atau lainnya,mana mampu karena uangnya sudah menipis. Dia berusaha berpikir lagi,keluar dari mobil dan berjalan ke pinggir pantai.Berharap ada sesuatu yang bisa di gunakannya.