Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Keputusan


__ADS_3

"Kenapa kamu mengijinkan Fahri, untuk menikah lagi? Kamu ini mau, memiliki madu!". Tanya bu Marni, mertuanya Rania.


"Rania, coba kamu pikir baik-baik. Dia suamimu,". Pak Eko, tidak habis pikir jalan yang di pilih menantunya itu.


"Gak papa,bu,pak. Daripada mereka melakukan zinah, tanpa ada ikatan pernikahan. Rania, ijinkan saja mereka menikah. Asalkan semua tugas untuk mas Fahri,aku tidak ingin mengerjakan. Sudah aku alihkan kepada maduku,ada beberapa perjanjian yang aku ajukan kepada mas Fahri". Jawab Rania, begitu entengnya.


"Tapi,ibu tidak setuju Rania. Tolong jangan mengambil keputusan secepatnya, setidaknya kamu berpikir ulang lagi". Kata bu Marni, memohon kepada menantunya.


"Tidak apa,bu. Rania, sudah ikhlas dalam-dalam. Untuk apa juga,bu. Rania, tidak memberikan restu kepada mas Fahri. Sedangkan mas Fahri, sudah nekat seperti ini". Rania, berusaha keras membujuk ibu mertuanya.


"Sudahlah,bu. Asalkan Rania,mau Shani menjadi madunya. Tidak masalah Fahri, menikah lagi. Setidaknya, Rania tetap bertahan". Akhir pak Eko, mengalah saja.


"Gak, pokoknya ibu tetap gak setuju. Cuman kamu Rania, menantu ibu. Gak mau mengakui Shania, walaupun dia nanti hamil". Sahut bu Marni, dengan nada kesal. "Ck, beruntung sekali karena kamu memiliki Rania. Mampu menerima madunya,jika kamu merepotkan menantu ibu. Siap-siaplah, mengahadapi ibumu sendiri. Ibu,yakin sekali Fahri. Shania,cuman memanfaatkan dirimu saja. Karena kamu, seorang manager keuangan".


"Iya, Fahri janji. Tidak akan merepotkan Rania,karena aku sangat mencintainya. Anggap saja Fahri menikahi lagi, hanya menginginkan keturunan.Akan berbuat adil terhadap istri-istri, Fahri". Ucap Fahri, menggenggam jemari tangan istrinya.


Cuihh...Jijik sekali aku, mendengar ucapan mu. Mana mungkin bisa,kamu akan berbuat adil mas. Terutama aku,yang jijik dengan mu. Batin Rania, menghela nafas beratnya


"Ibu,pegang perkataan mu Fahri. Jangan sampai mengecewakan ibu,apa lagi kehilangan Rania". Ancam bu Marni, dengan nada tingginya.


"Ya sudah,kalau begitu. Ayo,kita pulang. Ada janjian dengan Rt,sore ini". Ucap pak Eko, mengajak istrinya pulang


Selepas kepergian kedua orangtuanya, Fahri. Keadaan rumah,jadi sunyi senyap.


"Rania, terimakasih sudah merestui pernikahan ini. Seandainya saja,kamu hamil. Gak mungkin aku menikah lagi,jadi kesalahan ada dirimu". Kata Fahri, tersenyum kecil.


Rania, menyipitkan matanya dan mendekati suaminya. "Baiklah,jangan menyesal nantinya. Aku akan memberikanmu perjanjian nanti,aku harap kamu bisa memenuhinya".


"Tenang saja,aku akan siap memenuhi perjanjianmu. Asalkan jangan ada perceraian,di antara kita". Tegas Fahri,dia langsung percaya diri.


"Jangan percaya diri dulu, mas. Perceraian kita,pasti ada. Gak mungkin,kita tidak ada masalah nantinya. Siapa tahu aja, istrimu ngelunjak". Sahut Rania, tersenyum smrik.

__ADS_1


"Apapun terjadi,aku tetap tidak akan melepaskan mu. Ingat itu, Rania!". Fahri, langsung mengepalkan kedua tangannya.


"Kamu ingin menikah kan,mas? Silahkan,minta ijin kepada papahku". Rania, tersenyum kecil. Sudah pasti Fahri,tak sanggup meminta ijin kepada ayah mertuanya.


Fahri,mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kebingungan harus berkata apa, takutnya akan menjadi masalah besar.


"Sebenarnya,aku bisa membantu mas". Rania,sengaja memancing suaminya. Ini adalah sebagai senjatanya,nanti.


"Apa itu, Rania? Katakan kepada,mas." Fahri, sudah mulai merasa lega.


"Nanti mas, untuk saat ini aku simpan dulu. Aku bersiap untuk mencatat apa saja, perjanjian yang harus di penuhi oleh mu". Rania, melongos masuk kedalam kamar.


Terpaksa Fahri, bersabar lebih dulu. "Untuk saat ini,kamu masih bisa tertawa. ketika Shania,hamil. Di situlah aku akan, mengejek-ejek mu Rania". Gumam Fahri, menyunggingkan senyumnya.


***************


Glekk....


"Kenapa harus tidur berpisah,aku masih suamimu? Sudah sewajibnya, memberikan nafkah batin". Kata Fahri, begitu banyak perjanjian yang harus di lakukan.


"Untuk apa,aku melayani mu? Toh,ada istri baru mu. Ogah banget,bekas wanita lain terus ke milikku. Gak mau,mas. Takutnya kena penyakit menular,iiihh...!". Rania, bergidik geli.


"Tapi,......".


"Gak usah tapi-tapian, mas. Jika mas, membantah perjanjian itu. Lebih baik kita, berpisah. Atau gak usah nikah sekalian,mas. Jangan mau enaknya doang,". Bentak Rania, tersenyum smrik. "Pokoknya, semua kewajiban sebagai istri. Aku serahkan semuanya, kepada istri barumu. Intinya aku,lepas tangan mas". Sambungnya lagi, dengan suara kerasnya.


"Kenapa kamu harus,kerja? Apakah, tidak cukup kebutuhan sehari-hari mu. Semua persediaan di rumah ini, sudah aku belikan". Fahri, menggaruk-garuk kepalanya. Kebingungan dengan perjanjian, untuknya.


"Terserah aku,mas. Itu sama aja, persyaratan untuk mu nikah lagi. Jangan ganggu gugat yah, dengan penghasilan ku". Jawab Rania,bodo amat. Yang penting dia,bebas dari jeratan suaminya.


Fahri, menghela nafas panjang. Lalu, menyetujui perjanjian dari istrinya. Demi memiliki keturunan,karena Rania tak mampu memenuhi keinginannya.

__ADS_1


Rania, tersenyum smrik. Saat melihat suaminya, sudah mendatangani surat perjanjian tersebut.


************


"Kenapa sedih,hemm?". Tanya Aldo, melihat Rania menjemur pakaian.


"Suamiku mau nikah lagi,". Jawab Rania, tersenyum manis.


"Ha? Jangan ngawur, Rania." Aldo, tidak percaya dengan jawaban Rania.


"Aku serius bang,tau gak alasannya apa? Dia ingin memiliki keturunan, sedangkan aku tak kunjung hamil. Padahal aku sudah cek kesuburan, tidak ada masalah apapun. Karena dia tidak percaya,jadi mau nikah lagi". Rania, mengulum senyumnya. Begitu miris dalam rumah tangganya,demi seorang anak. Sang suami, ingin menikah lagi.


"Uhukk....Uhukk... Astaga,itu adalah alasan basi Rania. Kamunya aja, sudah di bodohinya. Kenapa tidak meminta cerai?". Tanya Aldo, penasaran.


"karena suamiku, tidak mau melepas ku. Apapun yang terjadi,dia tetap mempertahankan pernikahan ini. Aku sudah membuat surat perjanjian, untuknya. Kita lihat aja nanti, kemungkinan aku berpikir lagi. Cepat atau Lambat, rumah tangga ini. Tidak akan bertahan lama,". Jawab Rania, matanya mulai berkaca-kaca


"Tapi, kamu nampak biasa saja. Maksudnya, tidak mengamuk-ngamuk. Apa sang suami, menikah lagi. Bagaikan perang dunia ke lima,". Kekehnya Aldo, melirik ke arah istri tetangganya.


"Jujur saja,bang. Cintaku tak sedalam lautan samudra, untuk suamiku. Ogah banget, ngamuk-ngamuk gak jelas. Emangnya pria cuman dia aja,aku bisa mencari pria manapun". Jawab Rania, dengan santainya.


"Hahahaha.... Lucu aja,lalu apa selanjutnya. Aku yakin sekali,kamu memiliki rencana lain". Aldo, menaruh rasa curiga. Mencondongkan tubuhnya agak mendekati, Rania.


Sontak membuat Rania, terkejut dan jantungnya berdegup kencang. Mulutnya kelu tak bisa berkata apa-apa, kakinya terasa berat untuk mengundurkan langkahnya.


Lagi-lagi Aldo, terpesona dengan kecantikan Rania. Ada desiran aneh menjalar di sekujur tubuhnya, apa lagi menatap ke bibir Rania.


Wajah Aldo, semakin dekat dan dekat. Bahkan deru nafas Aldo, terasa di kulit wajah Rania. Berlahan-lahan mata Rania,mulai terpejam.


"Rania..! Kami dimana?". Teriak Fahri, begitu keras.


Rania dan Aldo, langsung gelabakan dan syok mendengar teriakkan Fahri.

__ADS_1


__ADS_2