
"Aahh....Aaahh... Uughh.... Hhmmmmm...yes...yes.." Racau Kanaya,duduk di atas tubuh Tama. Dia sengaja mengeluarkan suara desa-han,cukup keras.Untuk meyakinkan orang di depan pintu kamar, sedang menguping. Kamar Kanaya,sengaja tidak di lakukan kedap suara.
Tubuh Tama, sudah berpeluh keringat karena push up di atas tubuhnya ada sang istri. Setelah ini, dia berpura-pura keluar dari kamar dan membiarkan keringatnya.
Agar kedua mertuanya itu, mempercayai mereka telah melakukan hubungan intim. Kanaya, cekikikan menahan tawanya. Mau-maunya sang suami, berolahraga malam-malam.
Ada senyuman kecil di sudut bibirnya, mengingat Tama memberikan jejak di lehernya.
"Aaaahhh....!" Des-ah Tama, tersenyum kecil. Dia berlalu pergi ke arah pintu dan membukanya.Berniat untuk turun ke bawah dan minum di dapur. Cepat-cepat kedua mertuanya, bersembunyi di balik tembok.
Orangtuanya Kanaya,masih mengintip dan mengacungkan jempol satu sama lainnya. Sekarang mereka percaya,anak dan menantunya bercinta. Tak sabar untuk menimang cucu, yang di nantikan.
Setelah selesai minum di dapur,Tama langsung balik ke dalam kamar. Tak lupa membawa sebotol minuman,di ambilnya dalam kulkas.
"Minumlah,". Tama, menyodorkan botol minum kepada sang istri.
Kanaya, tersenyum dan mengambilnya. "Makasih,Tam. Maaf,demi meyakinkan orangtua kita. Kamu sampai segini nya, berolahraga malam-malam".
"Tidak apa, sekarang tinggal 1 untuk menyakinkan lagi. Di sprei harus ada darah,bertanda kau..". Tama, memotong perkataannya dan melirik ke arah Kanaya.
"Uhukkk....Itu,itu,kita bisa mencari bahan pewarna merah misalnya". Kanaya, terkejut mendengar ucapan suaminya dan membuang muka. Memalukan sekali, bisa-bisanya mengatakan hal itu.Batinnya Kanaya, tersenyum kecil.
"Jangan, pasti mereka mengetahuinya.Kita harusnya melakukannya dengan darah asli,". Kata Tama, calingukan mencari sesuatu yang di inginkannya. "Apa kamu punya silet atau benda tajam lainnya?". Tanya Tama,kepada Kanaya.
"Hmmmm... Sepertinya ada,". Kanaya, beranjak dan mencari sesuatu di laci. "Ini ada pisau kecil,buat apa sih?". Kanaya, penasaran apa yang di lakukan suaminya.
Tama, langsung mengambil pisaunya tanpa menjawab pertanyaan sang istri.
Sreett...
__ADS_1
"Tama..!" pekik Kanaya, melihat suaminya melukai tangan dan meneteskan darah ke sprei.
"Astaga,apa yang kamu lakukan ha? Kamu tidak perlu melakukan ini,jika aku tahu! Mending aku saja". Kanaya, langsung khawatir dengan suaminya dan bergegas menghentikan darah di tangan Tama.
Melihat wajah istrinya panik,dia tersenyum. Ada desiran aneh di hatinya, melihat Kanaya langsung sigap mengobati luka kecil di tangan.
Tama, membenarkan rambut Kanaya dan menyelipkan ke telinga. Sontak membuat Kanaya, merasa gugup dan jantungnya berdegup kencang.
"Tama, bolehkah aku bertanya?". Tanya Kanaya, duduk di samping suaminya itu.
Jam dinding menunjukkan pukul 12 malam,namun mereka berdua tidak ada tanda-tanda ngantuk.
"Boleh, tanyakan saja". Jawab Tama, beranjak berdiri. "Kita berbaring di atas ranjang yan,biar bisa tidur. Lihatlah jam dinding, sudah larut malam".
Kanaya, mengangguk dan mengikuti perkataan suaminya. "Apa wanita tadi siang,membawa suami dan anaknya. Dia adalah wanita, yang susah kamu lupakan?".
Kanaya,merasa sesak di dadanya mendengar jawaban sang suami. Kenapa dengan ku?Apa aku cemburu dengan wanita itu,karena Tama masih memikirkannya dan sudah pasti mencintainya juga.Batin Kanaya,mengubah posisi membelakangi suaminya. Air bening mengalir, segera mungkin di hapusnya.
Tama, kebingungan jadinya. Kenapa Kanaya, tiba-tiba diam dan membelakanginya?.
"Namanya Rania,dia tidak mencintaiku dan pergi bersama pria itu. Aku memanggilnya kak Rania,dia lebih tua dari ku. Dia sesosok kakak yang penuh perhatian,jujur saja dia banyak melakukan apapun terhadap aku dan ibu". Kata Tama,menghela nafas beratnya.
"Lalu,dia pergi bersama pria itu dan menikah?". Tanya Kanaya, membalikkan badan dan berhadapan dengan Tama.
Mereka berdua saling pandang tanpa berkedip, seakan-akan waktu berhenti sejenak.
"E'ehmmm...!" Tama, mencairkan suasana canggung. "Kak Rania, dulu berstatus istri orang. Karena Suaminya berselingkuh dan menikah lagi. Jadinya kak Rania, menjalin hubungan dengan tetangga sebelahnya. Tercipta buah hati mereka berdua,lalu kak Rania bercerai. Karena cinta mereka tak direstui,kak Rania kabur ketika hamil. Kak Rania, bertetangga dengan kami. Penuh canda tawa dan gurauan,aku sudah menganggap anaknya seperti anakku sendiri. Entahlah, sejak kapan cinta itu tumbuh berlahan-lahan? Akan tetapi,5 tahun kemudian. Mereka berdua di temukan, walaupun pria itu sudah menikah. Ketika orangtuanya pria itu, mengetahui punya cucu. Jadilah cinta mereka di restui dan menikah.Aku beberapa kali mengungkap cintaku,tetap saja aku di anggap seorang adik tak lebih. Sangat sakit hati, kecewa dan berubah benci Kau lihat sendirikan, mereka penuh kebahagiaan dalam membina rumah tangga". Tama, menceritakan semuanya kepada sang istri.
"Buset dah! Wanita itu, memang hebat sekali. Tama, lupakan kak Rania mu itu. Ikhlaskan semuanya, biarkan dia mencari kebahagiaan sendiri. Termasuk kamu,mencari kebahagiaan juga dan mencari wanita yang mencintaimu". Kata Kanaya, tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Kanaya, maukah kamu membantuku untuk membuka lembaran baru. Kamu sudah sah menjadi seorang istri ku, sebisa mungkin untuk mencintaimu. Jika kamu mau?". Kekehnya Tama,melirik sekilas ke arah istrinya. Mana mungkin kamu mau? Aku bukan tipemu kan,cuman pelampiasan semata. Aku yakin sekali, jika kamu mendapatkan pria yang kamu inginkan. Pastilah aku yang tersingkirkan, seperti debu.
Mendengar ucapan Tama, membuat dirinya tak karuan. Jantungnya berdegup kencang, napas seakan memburu. Kanaya, mengigit bibir bawahnya. Bingung harus menjawab apa,karena dia takut hatinya terluka lagi. Kanaya, pernah gagal dalam cinta dan menemui kekasihnya berselingkuh dengan sahabat sendiri. Dari situlah dia tidak mempercayai cinta pria, baginya sama saja.
"Aku bukan tipe idamanmu kan? Makanya tidak menjawab pertanyaan ku,mau atau gaknya". Kata Tama, tersenyum kecil. Hatinya terasa teriris-iris,niat ingin benar-benar merajut cinta lagi. Tetap,sang istri tidak menjawabnya.
"Tama,kamu salah menilaiku. Aku takut Tam,karena hatiku sudah terluka lebar. Itulah sebabnya,aku takut menjalin hubungan serius lagi. Aku serahkan semuanya kepada orangtuaku,". Kata Kanaya,isak tangisnya terdengar oleh Tama.
Tama, tidak menyangka jika Kanaya seorang wanita cantik dan kaya raya. Di matanya tidak ada kekurangan apapun, tetapi masih ada pria yang menyia-nyiakan dirinya.
Tama, menghapus air mata istrinya yang mengalir deras. Lalu, membawanya ke dalam pelukan. "Jujur saja Kanaya,kamu cantik, pintar,anak tunggal dan orangtuamu kaya raya. Tapi,masih saja pria itu menyia-nyiakan mu". Tama, seakan-akan meledek istrinya.
"Iiissshhh.... Menyebalkan sekali,kamu bisa-bisanya meledek ku ha! Bagaimana dengan mu, jatuh cinta dengan wanita lebih tua darimu. Lalu,punya anak lagi dan cintamu bertepuk sebelah tangan". Kanaya, membalas ledekan suaminya.
Hening seketika mereka berdua, saling pandang dan tersenyum. "Hahahaha.. Hahahahha...!". Keduanya tertawa terbahak-bahak dan menyadari kebodohan mereka berdua.
Tama, berjanji untuk berubah menjadi suami yang baik. Begitu juga Kanaya,membuka pintu hatinya untuk sang suami.
Walaupun mereka dijodohkan oleh orangtua masing-masing, seiring waktunya berjalan tumbuhlah benih-benih cinta.
Tama,merasa senang memiliki istri seperti Kanaya. Tidak ada rasa canggungnya, mereka berdua saling berbagi cerita tentang masa lalu.
Sampai jam 3 dini hari,baru merasakan kantuk. Terlelap dalam tidur,sambil berpelukan dengan mesra.
Tama, sudah mengikhlaskan kepergian Rania. Sudah waktunya melepaskan wanita yang di cintainya selama ini, tidak mau menyakiti hati sang istri.
Kanaya, berjanji untuk membantu sang suami melupakan masa lalunya. Dengan kehadiran dirinya di setiap hari-hari,Tama.
******************TAMAT ******************
__ADS_1