
"Apa benar kamu, ingin bercerai dengan Fahri? Intinya ibu, tidak setuju". Kata bu Marni, sudah tidak sabar untuk bertanya dari tadi. Semua ini gara-gara Fahri, aaaarrgghh....
Rania, tersenyum smrik mendengar ucapan ibu mertuanya. "Aku cuman ikut pendapat papah,mana yang baik untuk ke depannya. Untuk apa juga, bertahan dengan suami pelit dan selingkuh". Kenapa gak dari dulu,aku berpisah saja. Sungguh memuakkan bagi ku.
"Rania,ibu tidak setuju kalian bercerai. Terimalah madumu, hiduplah dengan akur dan damai". Bantah bu Marni, inilah yang di takutkan nya.
"Gak,bu. Aku sudah memikirkan secara matang, berpisah adalah jalan terbaik kami". Jawab Rania, sambil mengupas buah jeruk dan memakannya.
"Rania,apa kamu tega menghancurkan dua keluarga. Sudah pastilah,papahmu tidak mau dekat dengan keluarga kami. Ayolah,pikir lagi. Jangan gegabah mengambil keputusan,selagi Fahri adil sama istri-istrinya". Desi, mencoba membujuk adik iparnya itu.
"Lalu, bagaimana dengan mu mbak? Seandainya kita tukar posisi, pasti memilih untuk bercerai kan! Pastilah,setara masih cantik,muda dan memiliki papah kaya raya. Banyak pria di luaran sana,yang mengharapkan ku". Ucap Rania, tersenyum kecil
Desi, bungkam di buatnya. Apa yang di katakan Rania,memang benar. Karena dia, memiliki segalanya. Untuk apa bertahan dengan pria seperti, Fahri.
"Rania, maafkan atas kesalahan ibu. Tolonglah,ibu tidak sanggup kehilangan menantu sepertiku mu. Sampai detik ini,ibu tidak menganggap Shania". Bu Marni,meraih jemari tangan menantunya.
Rania, langsung menghindarinya. Tidak akan pernah luluh, dengan kata-kata manis mereka.
"Sudah cukup sakit hati,bu. 1 tahun lebih, bertahan dalam rumah tangga. Tanpa ada saling mencintai,". Rania, sudah siap untuk pergi dari kehidupan suaminya.
"Rania,jangan buat ibuku kecewa. Aku mohon". Pinta Desi,mengiba.
"Lalu,anak ibu sendiri yang membuat ku kecewa. Aku masih bersabar menghadapi sikap,mas Fahri. Tetapi,aku tidak akan bersabar karena selingkuh dan menikah lagi". Tegas Rania, dengan tatapan sinis nya.
"Rania,jangan menuruti egois mu. Apa salahnya, menjalin rumah tangga bersama-sama. Ibu,yakin sekali bahwa Fahri mampu adil". Bu Marni, menggeleng kepalanya dan mengubah wajahnya menjadi sedih.
"Asalkan ibu,tau. Aku jijik melihat mas Fahri,apa lagi di sentuhnya. Siapa tau aja,ada penyakit menular. Iiihh...". Rania, bergidik geli.
Bu Marni dan Desi,tak henti-hentinya membujuk Rania.
Sedangkan Rania, sudah sakit kepala memikirkannya. "Oke, Rania bakalan berpikir lagi. Jadi, silahkan ibu dan Mbak Desi pergi. Aku butuh istirahat, capek meladeni kalian".
Mendengar ucapan Rania,bu Marni dan anaknya. Beranjak berdiri, menghentak kakinya dan penuh kekesalan.
__ADS_1
Selepas kepergian mereka, akhirnya Rania sudah bernafas lega.
Rania, menutup pintu rumah dan menguncinya.
"Mereka tidak akan tinggal diam, pasti memiliki rencana lain". Ucap Aldo, dari arah belakang.
"Sudahlah,bang. Kepalaku sakit memikirkannya,". Rania, bersandar di dada bidang Aldo.
"Aku ingin ngomong sesuatu,sayang. Beberapa hari ini,aku sibuk mengajar. Ada pelajaran tambahan, untuk mahasiswa ku. Biasanya pulang jam 2,bisa pulang jam 4 sore". Aldo, memeluk erat tubuh kekasihnya.
"Hmmmm...Aku paham kok,sayang. Sebagai seorang dosen,harus memperhatikan mereka". Rania, mengelus rahang leher kekasihnya.
"Gak papakan,aku jarang ada. Kapan-kapan kita temui mamahku, bagaimana? Sebenarnya,mamah merindukanmu". Aldo, mengecup kening Rania.
"Tapi,aku belum siap bertemu dengan beliau. Pasti mamah mu,marah besar terhadap ku." Rania, menggeleng kepalanya. "Takut bang,karena aku sudah mengecewakan beliau. Padahal aku sangat senang, memiliki mertua seperti mamah bang Aldo." Rania, tertunduk sedih.
"Huusssstttt...Mamah, tidak seperti yang kamu pikirkan. Beliau sudah memaafkan semuanya,malahan titip salam untuk mu". Aldo, menangkup wajah Rania.
"Ingat perkataan ku tadi, penuhi keinginan ku yang beberapa ronde". Bisik Aldo, langsung mengangkat tubuh Rania.
"Abang...! iiiihhhh....". Gerutu Rania, pintu kamar tertutup rapat. Entah apa yang di lakukan, sepasang kekasih itu.
*******************
"Mas Fahri,". Lirih Rania, terkejut saat membuka pintu rumah. Rupanya sang suami, sudah berdiri di balik pintu.
Rania, gelabakan karena Aldo berada di dapur dan memasak nasi goreng.
"Eeee...Mas Fahri, kapan datang? Bukankah,masih berbulan madu". Ucap Rania, sedikit keras. Agar Aldo, mendengar ucapan Rania.
"Gara-gara kamu,aku pulang secepat ini". Bentak keras Fahri, langsung.
"Loh, kenapa jadi salah aku? Yang meminta mu pulang,siapa ha? Ck, tidak tahu diri". Hardiknya Rania, menatap tajam ke arah suaminya.
__ADS_1
"Papahmu, sudah mengurus surat perceraian kita. Asal kamu tahu, Rania! Sampai kapan pun,aku gak akan menalak dan mendatangani surat perceraian itu. paham kan,". Tegas Fahri, rahangnya mengeras seketika.
"Mas,aku punya bukti-bukti kuat kok. Untuk mengancam mu,mas". Gumam Rania,pelan.
Samar-samar Fahri, mendengar gumam sang istri. "Kamu ngomong apa tadi,ha? Suka sekali mengumpat suami sendiri,kualat kamu".
Fahri, menuju ke arah dapur. Sontak membuat Rania, gelabakan dan ketakutan. Semoga saja, tidak ada hal yang aneh dan mencurigakan.
"Nasi goreng,kamu belum makan? Tapi,kenapa ada dua piring yang sudah tersedia? Terus,kamu mau makan sama siapa?". Tanya Fahri, mendelik ke arah istrinya.
Aduhh...Apa yah, alasanku. Sialan, batin Rania. "Oh,itu cuman nasi goreng tambahan. Malas bolak-balik ke sana". Alibinya.
"Jangan banyak alasan kamu, Rania. Apa jangan-jangan,". Fahri, bergegas menuju pintu halaman belakang .Sontak membuat Rania, menepuk keningnya.
"Mas,kamu mau kemana?". Cegah Rania,dia mengetahui maksud Suaminya.
"Jangan mencegah ku, Rania. Aku mencurigai mu, ingin makan bersama duda karatan itu kan. Oh,atau jangan-jangan ada main di belakang ku". Fahri, mencekram lengan Rania.
Plaaakk....
Rania, menampar wajah suaminya itu. "Jangan kurang ajar,mas. Aku bisa melakukan hal yang sama,yang kamu lakukan. Agar kita impas,aku bisa menghempaskan mu detik ini juga. Kamu tidak apa-apanya,tanpaku mas. Sesuka hati ku,mau ngapain". Kata Rania, tersenyum smrik.
Fahri, melepaskan cengkraman tangannya. Menatap tajam ke arah, Rania. Bukan berarti, Rania takut dengannya. "Rania, maafkan aku sudah menuduh mu macam-macam. Oke,aku salah sayang".
Rania,menipis tangan suaminya. Lalu, mengetuk pintu belakang rumah Aldo. "Aku akan memaafkan mu,mas. Asalkan aku makan bersama bang Aldo, rasakan bagaimana rasa sakitku". Alibi Rania, menyunggingkan senyumnya.
Hahahaha.... Amit-amit jabang bayi,aku sampai sakit hati dan cemburu kepada mu mas.
"Maaf,ada apa Rania? Eee..Mas Fahri, bagaimana dengan istri baru? Apakah lancar, pastilah iyakan". Kekehnya Aldo, menepuk pundak Fahri. "Tumben sekali,kita berkumpul di halaman belakang". Kekehnya lagi.
Rania, menatap tajam ke arah suaminya. Membuat Fahri,tak berkutik apapun lagi.
"Bang Aldo,makan sama-sama yuk". Ajak Rania, sontak membuat Aldo terkejut dan garuk-garuk kepalanya.
__ADS_1