
Bu Marni dan anaknya Desi. Sudah sampai di perkarangan rumah menantunya, menuju pintu. Akan tetapi, pintu rumahnya terkunci.
Sedangkan di dalam, Rania dan Aldo tengah menikmati suasana siang hari. Mereka melakukan aktivitas, olahraga di dapur.
"Ouhhhh.... Hhhmmmpptt....". Lenguhan Rania,saat Aldo bercumbu dengan tubuh kekasihnya.
"Aku tidak kuat,tolong masukin". Cicitnya Rania,tak kuasa menahan permainan Aldo.
"Sabar, sayang. Aku tengah menikmati lekukan tubuh mu ini,". Kekehnya Aldo, sangat suka mengerjai Rania.
Tubuh polos Rania,di angkat ke atas meja makan.Terpampang nyata, pemandangan milik Rania. Sesekali Aldo, memainkan lidah dan mengecup di daerah tersebut. Membuat Rania,menggelinjang hebat. Meliuk-liuk merasakan sensasi, yang berbeda.
Aldo, mengarahkan benda tumpul berurat, mencoba memasukkannya.
Berlahan-lahan maju mundur, menciptakan gesekan dan suara meja.
Keringat bercucuran membasahi tubuh mereka berdua, tidak memperdulikan jam berapapun mereka bercinta.
Rania, berpegangan pada lengan kekar Aldo. Menerima setiap sang kekasih,menghujam tubuhnya.
Mereka berdua saling berciuman dengan mesra, sungguh nikmat tiada duanya.
Mereka berdua bebas, apapun yang di lakukan. Tidak ada yang tahu, oleh siapapun.
Ting... Nong....Ting... Nong....
Bunyi bel rumah berbunyi, entah siapa bertamu. Rania, melonjak terkejut mendengar bel berbunyi.
"Aaahh...Bang,stop.... Hmmpptt....Ada tamu,bang. Sudah bang, hentikan...!". Pinta Rania,masih menikmati benda tumpul berurat keluar masuk.
"Aaahh... Nanggung sayang, gak mau berhenti". Aldo, menciumi seluruh leher Rania.
"Ssshhhhttt....Bang,bel nya berbunyi lagi. Plisss...". Cicit Rania, dengan tatapan sendu.
Aldo, mencabut miliknya. Pasrah dan menurut kepada, Rania.
"Malas sayang,nanti kita lanjut lagi". Rania, mencium sekilas bibir kekasihnya. "Cari aman dulu,kamu bersembunyi atau pulang". Kekehnya Rania, tersenyum kecil.
"Baiklah, sebagai gantinya karena sudah berhenti di tengah jalan. Harus memberikan kepadaku, beberapa ronde". Kedip mata Aldo, cengengesan.
__ADS_1
Rania, langsung mencibir bibirnya dan memakai baju. Akan tetapi, tidak mengenakan pakaian dalam. Karena Aldo, membawanya dan masuk kedalam saku celananya.
Dengan pasrah saja, Rania melenggang pergi ke pintu.
Sebelum itu, Rania sempat mengintip siapa bertamu? Matanya melotot sempurna, rupanya ibu mertua dan kakak ipar. "Ngapain mereka berdua,ke sini? Huuu... Ganggu aja,
ibu dan anak,memang bersifat gak benar,". Gerutunya.
Rania,lupa membersihkan daerahnya. Sungguh tidak nyaman di rasakan, berusaha bersikap santai.
Ceklekk.....
Rania, tersenyum manis dan menyambut kedatangan ibu mertua dan kakak iparnya itu.
Tatapan Desi, begitu sinis dan menyelonong masuk kedalam. Begitu juga dengan ibu mertuanya, membuat Rania mual.
"Ngapain aja,kamu di rumah? Enak bener,kaya ratu aja". kata Desi, Calingukan lihat-lihat sekililing.
"Takut ada kucing garong, naik tanpa permisi". Jawab Rania, langsung. "Mau kemana mbak, duduk saja. Biar aku, membuatkan minuman dan cemilan". Cegah Rania, karena di dapur masih berantakan.
"Terserah aku,mbak. Aku ini kakak iparmu,sana temanin ibu. Karena ibu,mau ngomong sama kamu". Desi, sedikit mendorong tubuh Rania.
"Nanti dulu,bu. Aku buatkan minuman, sepertinya ibu haus". Alibi Rania, langsung menyelonong mengikuti kakak iparnya ke arah dapur.
"Raniaaa...! Ck, menantu kurang ajar". Akhirnya bu Marni, beranjak berdiri dan mengikuti langkah mereka.
Satu harapan Rania, semoga sana Aldo sempat membersihkan meja makan. Takutnya ada cairan percintaan mereka tadi,jangan sampai ada tanda-tanda mencurigakan.
Rania, menepuk keningnya. Benar saja, meja makan sangat berantakan sekali.
Beruntung, Aldo sudah tidak ada. Semoga saja kakak ipar dan ibu mertuanya, tidak menuduhnya macam-macam.
"Apa yang terjadi,kenapa meja makan berantakan sekali?". Desi, menaruh rasa curiga kepada adik iparnya.
"Meja makan milikku,mbak. Terserah akulah,tadi tidak berantakan kok.Mau membersihkannya,bekas kucing garong kawin di meja makan. Takut ngusir mbak,sama aja aku mengganggu kesenangan mereka". Jawab Rania, tersenyum manis.
"Tapi,gak berantakan seperti ini juga. Masa kucingnya kawin,seheboh sejagat raya". Sungutnya Desi, menggeleng kepalanya.
"Namanya juga kucing,ngereok dulu. Terus berantem segala,baru enak-enak". Kekehnya Rania,mendelik ke arah ibu mertuanya.
__ADS_1
"Terus, kenapa gak di bersihkan? Kamu itu,gak ada kerjaan loh. Jangan di biarkan seperti ini, takutnya jadi kebiasaan". Sahut ibu mertuanya.
"Hmmmm...Emang,mau membersihkannya. Tetapi,ibu dan mbak Desi keburu datang. Jadi tertunda deh,". Jawabnya Rania, cengengesan.
"Ck, kerjaan mu selalu jawab perkataan ibu mertua. Gak baik Rania, hormati aku seperti ibumu". Bentak bu Marni,duduk di kursi.
"Iya, dengarin apa perkataan ibuku. Jangan ngelunjak Rania, sekarang kamu mendapatkan karmanya. Fahri, menikahi mantan kekasihnya. Karena kamu,tak kunjung hamil". Ucap Desi, tersenyum samar.
Rania, tidak memperdulikan ocehan kakak iparnya itu. Dia mengambil minuman di dalam kulkas dan cemilan. Itu adalah oleh-oleh dari ayahnya,tadi pagi.
Desi,membuka pintu belakang. Terlihat jelas sesosok Aldo, tengah menjemur pakaian. Desi, langsung terpesona dengan ketampanan Aldo.
Sedangkan Aldo, mengangguk dan tersenyum. Membuat Desi, malu-malu kucing.
"Ck, mau-maunya Fahri membelikan kue mahal ini". Decak bu Marni,mencomot sepotong kue.
"Mana ada,mas Fahri, membelikan kue itu. Kue ini adalah oleh-oleh dari papah,pagi tadi. Papah, sangat mengenali dan tau apa kue favoritnya". Rania, langsung membantah perkataan ibu mertuanya.
"Oh, pasti ada oleh-oleh untuk ibu. Biasanya papahmu, selalu membagikan kepada kami. Toh, papahmu baru pulang dari luar negeri kan. Mana oleh-olehnya,jangan enak sendirian kamu".
Rania,menghela nafas beratnya. "Papah, tidak ada menitipkan oleh-oleh untuk kalian. Buat apa juga, kalian mana pernah berterimakasih. Melainkan, semakin ngelunjak seperti ini".
Mendengar ucapan sang menantu, membuat bu Marni semakin geram. Ingin sekali memaki habis-habisan, tapi di tahan dulu.
"Rania, siapa pria tetangga mu ini? Tampan sekali, badannya sangat kekar". Tanya Desi, penasaran.
"Oh,dia tetangga baru mbak. Namanya bang Aldo, sudah punya pacar. Pacarnya galak dan suka cemburuan". Jawab Rania, tersenyum smrik.
"Sangat tampan sekali, sayangnya aku sudah menikah". Sungutnya Desi, nampak kecewa karena memiliki pacar.
"Apa dia sering main ke rumah ini,siapa tau aja kamu haus belaian dan berselingkuh di belakang Fahri. Toh, Fahri jarang ada di rumah". Bu Marni, mencoba menuduh menantunya.
"Jangan asal tuduh bu,gak papa kali yah. Kalau aku selingkuh dan membutuhkan kehangatan. Karena suamiku, pelit dan menikah lagi. Toh,apa salahnya kan. Siapa dulu, yang mulai bermain-main". Jawab Rania, dengan santainya.
"Rania, jangan kurang ajar kamu. suami boleh memiliki istri dua,". Sahut Desi, langsung.
"Benarkah,mbak! Lalu, bagaimana jadinya jika mbak di posisi ku. Termasuk ibu,berasa di posisi ku. Memiliki madu dan di nomor duakan". Bentak Rania,cukup keras.
"Raniaaa! Tidak pantas kamu, berbicara seperti itu ". Bu Marni, langsung menunjukkan jarinya ke wajah Rania.
__ADS_1
Rania, menyunggingkan senyumnya. Mana mungkin dia kalah,apa lagi di rumah miliknya sendiri.