
"Rania,jangan lupa pulang siang nanti. Ibu, sengaja memasak sop ayam kesukaan mu. Pulang yah,makan bersama kita". Kata bu Yati, menemui Rania di teras rumah.
Rania, tersenyum dan mengingat kembali tentang rencana licik mereka. "Bisa bu, tapi kalau gak sempat makan bersama. Sisihkan untuk ku,kangen dengan masakan ibu". Alibinya.
"Eeee...Harus yah, jangan ada alasan apapun. Kangen sama makan bersama, seperti dulu". Kekehnya bu Yati, menyentuh lengan Rania. "Ya sudah,ibu mau pergi ke pasar dulu. Mau membeli bahan-bahannya". Pamitnya bu Yati, melenggang pergi.
Tidak masalah mengeluarkan uang banyak,demi mendapatkan mangsa yang lebih berharga.
Rania, menyunggingkan senyumnya."Jangan harap rencana kalian, bisa berhasil. Ck, sok-sokan ingin mengerjai ku". Gumamnya.
Terlihat Tama, keluar dari rumah sambil memegang ponselnya. Sepertinya dia tengah main game online, mulutnya mengoceh tembak-tembak katanya.
"Tama, kamu main game?". Tanya Rania, takutnya salah tebakan.
"Iya,kak. Maun FF nih,". Jawab Tama, bersantai fi kursi depan.
Rania, mengerutkan keningnya. "Sejak kapan, Tama suka main game online? Bukankah dulu,dia tidak menyukai. Katanya membuang-buang waktu,jadi malas". Gumamnya Rania, mendekati Tama.
Benar sekali Tama, tengah bermain game online. Rania, menyunggingkan senyumnya dan menebak jika Tama kecanduan main game. "Tama,gak cari kerjaan. Gak baik loh,main game online. Takutnya malas ini,itu".
"Eeee...Kan ada kak Rania,carikan kerjaan kaya dulu. Jadi enak kerja di kantor,bisa berleha-leha dan main game". Jawabnya Tama,masih asyik main game.
"Gak bisa gitu dong,Tam. Bekerja harus konsisten,main game ada waktu luang. Jangan kamu ikut campur dalam pekerjaan,nanti dapat teguran loh". Rania, menasehatinya.
"Berisik!Aku main game,bisa melupakan cintaku padamu kak. Jadi jangan salahkan aku main game online, salahkan dirimu kak". Jawab Tama, sedikit membentak.
"Loh,kenapa jadi salahku? Seharusnya,kamu berubah menjadi lebih baik lagi. Malah jadi hancur,sama aja aku bersyukur karena tidak menerima mu. Karena aku bisa menilai keburukan ke depan nanti,jika kamu pemalas seperti ini. Jangan terus-terus main game online,cari kerja sana. Aku cuman membantu sedikit saja,jika tidak ada gak bisa di paksakan". Kata Rania, tersenyum sinis.
"Sial, kalahkan mendengar ocehan kak Rania. Apa salahnya aku minta bantuan, mencarikan pekerjaan. Aku sibuk main game online,malas untuk pergi". Tama,masih melanjutkan game onlinenya.
__ADS_1
Rania, menggeleng kepalanya karena perubahan Tama. Sungguh miris baginya,umur sudah tua dan kembali seperti bocah. "Tidak ada lowongan,aku sudah bertanya kepada temanku".
Mendengar ucapan Rania, Tama mendelik ke arahnya. Dia menghela nafas panjang dan meletakkan ponselnya. "Jangan bohong kak, carikan pekerjaan yang bagus. Menimal di kantoran,gajih gede". Pintanya tak masuk akal.
"Ada kok,kerja di kantoran. Mau jadi OB ha? Kalau mau, besok bisa mulai bekerja". Rania, langsung mengusulkan pekerjaan yang tepat untuk pemalas.
"Apa? Jangan membuatku malu,kak. Apa kata teman-temanku nantinya,jika aku seorang OB. Gak,aku gak mau". Bantah Tama, seakan-akan Rania seperti kakak kandungnya.
"Tama! Aku ini bukan kakak kandungmu, ingat itu. Mau kamu kerja atau gak,aku tidak perduli! Ancaman kan itu,". Rania,tak kalah membentak keras kepada Tama.
Mulut Tama,kelu tak bisa berkata apa-apa lagi. Sorotan mata Rania, menyeringai tajam dan berlalu pergi meninggalkannya.
"Aaarghhh....". Tama, mengacak-acak rambutnya dengan kasar. "Loh,kenapa gak mau login? Sial,sial,paket internetnya habis". Gerutu Tama,meraih kunci mobil dan pergi.
Sedangkan Rania, melihat kepergian Tama. Dia langsung ke sebelah rumah, melalui pintu belakang.
Karena dia mencari obat tidur yang di berikan Tama, kepada ibunya. Semoga saja obat tersebut,di taruh di dalam laci tidak di pindah oleh bu Yati.
Sebuah jus jeruk di dalam kulkas,ads ide cemerlang terlintas di benaknya. Rania, menuangkan cairan pencuci perut. Membiarkan bu Yati dan Tama, kesakitan perut.
"Untungnya aku menyiapkan semuanya, rasakan lah senjata makan tuan". Gumam Rania, berlalu pergi kerumahnya dengan perasaan gembira.
Nick, tengah asyik bermain dengan mainannya. "Bunda,lama sekali papah pulang. Aku kangen loh,".
"Sabar yah, doakan semoga papah cepat pulang. Biar nanti kita bisa main-main ke pantai, jalan-jalan kemana". Rania, mengelus lembut kepala anaknya.
"Oke,bunda. Kata Oma,umur Nick 5 tahun boleh masuk sekolah. Boleh yah,bunda". Rengeknya Nick, duduk di pangkuan sang ibu.
"Boleh,mau sekolah dimana sayang?". Tanya Rania, membelai lembut pipi anaknya.
__ADS_1
"Mau 1 sekolah sama teman Nick bund, Oma sudah tau dimana sekolahnya". Jawab Nick, tersenyum.
Rania, mengangguk kepala dan menuruti kemauan sang anak. Kebahagiaan anak, adalah kebahagiaan dirinya juga.
"Bunda,aku mendengar ucapan nenek sama om Tama loh. Kata Om Tama,dia sedih karena kehilangan uangnya. Di tipu katanya,apa itu di tipu bund?". Tanya Nick,mimik wajah polosnya.
Degggg....
Rania, terkejut mendengar ucapan anaknya. Apa benar Tama,habis di tipu. Kok bisa, sampai di tipu? Apa ada hubungannya, mereka balik ke dini.Batin Rania, penasaran.
"Apa yang kamu dengar,jangan bilang-bilang sama siapapun yah. Kecuali cerita sama bunda,kamu paham". kata Rania,yang langsung di angguki oleh anaknya.
***************
Aroma sop ayam tercium aromanya ke hidung, Rania. Dia bergegas ke sebelah rumah,niat untuk membantu bu Yati.
"Biar Rania,bantu yah". Ucap Rania, tersenyum manis.
"Eee...Gak perlu nak,kamu tidak bekerja kah? Jadi ngerepotin kamu,loh". Kekehnya bu Yati, kebingungan jadinya. Waduhh...Gimana caranya, untuk memasukkan obat tidur? Gagal deh,rugi di aku untung di Rania.
Rania, melihat ke arah Tama yang ngoceh sambil main game. "Bu, coba nasehati Tama. Jangan main game online terus. Bagaimana dia bekerja, bahkan belum dapat pekerjaan. Sepertinya dia malas,".
"Loh, bukankah kamu yang akan cari pekerjaan untuknya. Jelaslah Tama, santai-santai aja". Sahut bu Yati, entengnya.
"Tidak ada lowongan pekerjaan,di perusahaan temanku. Ada sih,tapi Tama gak mau jadi OB.Setidaknya berusaha bu, jangan mengharapkan diriku. Karena aku juga sibuk,mana mengurus anak dan pekerjaan". Rania,menghela nafas dan mengontrol dirinya.
"Alahhhh...Jangan putus asa dong, carikan yah. Kasian Tama, tidak ada pekerjaan. Lalu, bagaimana dengan kehidupan kami?". Bujuk bu Yati, tersenyum sumringah.
"Seharusnya Tama,yang berusaha bu. Bukan ongkang-ongkang kaki di rumah,tanpa mencari ke sana kemari. Mau enaknya aja,aku sibuk dan tidak ada waktu banyak". Rania, berniat tidak menuruti kemauan mereka lagi.
__ADS_1
Bu yati, terkejut mendengar ucapan Rania.Tidak seperti biasanya,mau saja tanpa ba-bi-bu dan alasan apapun.