
Aldo,membawa tubuh Rania ke dalam sebuah kamar. Sudah lama tidak menyentuh Rania, menelusuri lekuk tubuhnya.
Berlahan-lahan merebahkan tubuh Rania,tanpa harus melepaskan ciuman mereka. Gai-rah sudah memuncak di ubun-ubun,tak sabar ingin lebih dan lebih.
Dengan lemah lembut, Aldo melepaskan dress yang melekat di tubuh sang tunangan. Sedangkan dirinya, sudah bertelanjang dada.
"Uughhh....". Lenguhan kecil, lolos di mulut Rania. Mendongakkan kepalanya,agar Aldo leluasa menciumi lehernya.
Aldo, memberikan jejak di leher sang tunangan dan turun ke bawah. Dress Rania, sudah lepas dan di lempar sembarangan arah.
Rania, tidak tahu kapan terakhir aset pribadinya di bungkus. Segitiga dan kacamata, sudah lepas berserakan di lantai.
Dua melon bergelantungan bebas, sudah di kuasai oleh Aldo. "Aaaahh... Ssshhhhttt...". Des-ah Rania, menjambak rambut Aldo yang menyusu seperti bayi dan silih berganti.
Mendengar desa-han Rania, membuat Aldo semakin bersemangat untuk menjalankan aksinya. "Mende-sah lah sayangku, sangat merdu sekali". Bisik Aldo, memainkan lidahnya di dua melon bergelantungan.
Sedangkan Tama, mengendap-endap naik ke kapal pesiar dan ingin mengganggu kesenangan mereka berdua.
Tama, mendapatkan jet sky board dan mengambil begitu saja. Dia melewati sebuah kamar dan terdengar samar-samar desa-han, sudah pasti mereka berdua.
Hati Tama, bertambah memanas karena dugaannya benar. Rania, akan melakukan hubungan intim dengan Aldo.
Bruaakkkkkkk....
Tama, mendobrak pintu kamar cuman 1 kali tendangan. Amarahnya sudah mendidih sejak Rania pergi,tangannya mengepal kuat. Tama, membulatkan matanya dengan sempurna. Ketika pemandangan di hadapannya, semakin murka lah dia. Seorang wanita yang di cintai,berada di bawah Kungkungan pria lain.
"Aaaakkhh....". Rania, langsung berteriak dan menutupi seluruh tubuh polosnya. "Tama!". Lirihnya, tidak percaya dengan kedatangan Tama. Dia begitu nekat mengikuti sampai ke tengah laut.
Sontak Aldo, beranjak dari ranjang dan siap untuk menerkam mangsanya hidup-hidup."Waw... Begitu sangat berani sekali, menyusul kami ke tengah laut". Terdengar suara gertakan tulang-belulang tangannya,Aldo. Tidak ada sedikitpun rasa takut menghadapi,Tama.
"Brengseeekk....Dia milikku, lihatlah Rania! Dia bukan pria baik-baik, ingin menikmati tubuhmu sebelum menikah". Teriak Tama, matanya memerah sudah.
"Dia tunangan ku,besok kami menikah". Sahut Aldo, tersenyum smrik.
"Brengseeekk...". Tama, langsung menyerang Aldo dengan pukulan. Tetapi, Aldo sigap menangkis pukulannya.
Bagi Aldo,Tama bukanlah lawan sebandingnya. Sangat mudah untuk di taklukkan.
__ADS_1
Braakkkk...
Tama,di lempar ke atas meja kaca dan pecah. Dia meringis kesakitan,karena tertusuk kaca di belakangnya. "Aaaarrgghh...". Tama, mencoba bangkit lagi.. "Aaaaakkkkhh...". Teriak Tama,ketika kakinya di injak oleh Aldo.
Rania, yang menyaksikan perseteruan al mereka berdua. Sambil memungut pakaiannya, yang berserakan dimana-mana.
"Aldo, hentikan! Dia bisa mati,jika kamu pukul terus. Aldo, hentikaaaan..!". Teriak Rania, ketakutan.
Bughhh.... Bughhh... Bughhh...
Aldo,memukul Tama membabi buta tanpa ampun. Sangat marah karena mengganggu kesenangan bersama,Rania. Inilah akibatnya, bermain-main dengan Aldo. "Ini akibatnya berani mengusik ketenangan ku, dan mengganggu calon istri ku". Bentak Aldo,sekali menendang perut Tama.
"Aaaarrgghh....". Tama, merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya.
Tama, sudah tepar dan tidak berdaya lagi. Beruntung Rania, mencegah Aldo jangan sampai lawannya mati. Sungguh miris bagi Tama,belum apa-apa sudah kalah dengan Aldo. Lantas bagaimana, untuk mendapatkan Rania? Dirinya sudah di buat malu, seakan-akan tidak ada harga dirinya lagi.
"Sudah,jangan memukulnya lagi. Aku tidak mau,dia sampai mati. Lalu,kita tidak jadi menikah karena kamu masuk penjara". Cegah Rania, memeluk erat tubuh Aldo. Untuk menenangkan dirinya, menyadarkan perasaan Aldo.
Aldo, ngos-ngosan mengatur nafasnya dan meminta maaf kepada Rania. "Maafkan aku,sayang".
Kapal pesiar sudah menepi di pelabuhan, Aldo membawanya pergi. Berhenti di sebuah hotel, sudah pasti melanjutkan acara tertundanya tadi.
Rania,masih mengobati calon suaminya itu. Lagi-lagi Aldo, membangkitkan gairahnya.
"Aaahhh.... Sshhhttt... Aldo,aaahh...". Rania, menggelinjang hebat. ketika Aldo, bermain-main di tempat pribadinya itu. "Oouughh...Aaahhh.... Sshhhttt....Aaahhh...". menggeleng kepala,ke kanan dan kiri. Aldo, semakin bersemangat memainkan jarinya.
"Aaaarrgghh..... Ssshhhhttt....". Beberapa detik, akhirnya Rania mendapatkan pelepasan pertamanya. Tubuhnya seketika lemas, mengatur nafas.
Aldo, tersenyum sumringah dan siap meluncurkan miliknya. Tak lupa menggesek-gesek,terasa geli bagi Rania.
"Aaakkhh... Ssakkkiiitt...". pinta Rania, miliknya sudah lama tidak di masukin benda tumpul berurat. Seakan-akan seperti perawan lagi,terasa perih jadinya.
Blesss....
Akhirnya masuk sepenuhnya,karena sudah basah dan licin. Aldo, tersenyum dan menyambar bibir ranum Rania. Untuk menenangkan dirinya, karena meringis kesakitan.
"Aaahh... Aahhh...Ouughh.... Sshhhttt...". Suara desa-han saling bersahutan, permainan semakin panas. Keringat bercucuran membasahi tubuh mereka berdua, tidak ada yang menggangu lagi.
__ADS_1
Rania, tidak memikirkan bagaimana keadaan Tama? pikirnya sudah di kuasai oleh, Aldo.
Hujaman Aldo, semakin cepat dan dalam. Sekujur tubuhnya bergetar hebat,karena mendapatkan pelepasan lagi dan lagi.
Tenaganya benar-benar terkuras habis, berusaha menyeimbangi permainan Aldo. Bermacam-macam gaya, yang di lakukan Aldo. Sangat puas menggempur pertahanan tubuh, Rania.
***************
Pagi hari yang cerah, menyinari seluruh semesta. Dering ponselnya Rania, terus-terusan berbunyi. Tertera nama bu Yati, sudah pasti memberikan kabar tentang anaknya itu.
"Aaahhh....". Des-ah, Rania yang mendapatkan tusukan dari belakang tiba-tiba.
"Rupanya kamu masih memiliki tenaga,sayang. Masih sempat-sempatnya, mengambil ponsel. Hemmm... Hari ini,kamu milikku selamanya. Main sebentar lagi, setelahnya pulang. Mamah, sudah menyiapkan semuanya. Tinggal akad nikah,kita sah jadi suami-istri ". Bisik Aldo, mengigit telinga Rania.
Rania, mengangguk kepalanya dan merem melek. Ketikan Aldo,mulai maju mundur menciptakan suasana yang nikmat lagi.
"Aaahh.....Aaahhh....Hmmmmtt....Sssttt...". Rania,terus mende-sah tanpa jeda.
***************
Bu Yati,yang syok mendengar kabar soal anaknya. Tama,di bawa ke rumah sakit terdekat. Beruntung sekali, Aldo masih berbaik hati. Memerintahkan anak buahnya, membawa ke rumah sakit.
Beberapa kali bu Yati, menelpon Rania. Namun tak kunjung di jawab,karena Rania tengah main kuda-kudaan.
Sudah jelas bagi Rania,dia tidak ada hak untuk bertanggung jawab terhadap Tama dan ibunya. "Sial,kemana Rania? Di saat kami mendapatkan musibah,dia tidak ada". Gerutu bu Yati, terus-terusan menghubunginya.
Keadaan Tama, sangat memperihatinkan keadaannya. Seluruh wajahnya,di perban dan kakinya juga.
"Bu!". Lirih Tama, pelan. Akhirnya dia sudah sadarkan diri, beruntung masih selamat.
"Tama,kamu sadar nak. Bagaimana bisa,kamu seperti ini? Berantem sama siapa,nak?". Tanya bu Yati, menghapus air matanya
"Bu,mana Rania?". Tama, tidak melihat sesosok wanita yang di cintainya itu. Bu Yati, menggeleng kepalanya.
Tama, semakin frustasi karena memikirkan Rania. Sudah pasti mereka berdua, melalui malam panjang dan saling menghangatkan. "Aaaarrgghh.... Tolonglah bu, hubungi Rania. Mereka akan menikah,bu". Tama, tiba-tiba memberontak di atas ranjang pasien.
Bu Yati, kewalahan menghadapi anaknya. Lalu, meminta bantuan kepada dokter. Seorang perawat lainnya, langsung menyuntikkan obat penenang. Akhirnya Tama,tak sadarkan diri lagi.
__ADS_1