Godaan Tetangga

Godaan Tetangga
Surat Perceraian


__ADS_3

"Papah!masuk pah," Ucap Fahri, terkejut dengan kedatangan ayah mertuanya itu.


"Ck, tidak perlu Fahri. Aku ke sini ada perlu dengan mu, tandatangani surat perceraian ini. Aku beri waktu 3 hari,jika belum di tandatangani atau di sobek. Bersiap-siaplah, keluar dari perusahaan. Termasuk istri muda mu,itu." Ancam pak Harto, dengan tatapan tajam.


"Tapi,pah. Aku tidak mau kehilangan, Rania. Fahri, sangat mencintainya. Walaupun Rania, selalu memperlakukan aku sebagai suami tidak baik. Aku mohon pah,jangan pisahkan kami. Akan membahagiakan istri-istri, Fahri dan berbuat adil. Tapi, Rania selalu menolakku mentah-mentah pah. Selama ini,aku sabar menghadapi sikapnya". Fahri, menggeleng kepalanya dan memasang wajah sedih.


"Seharusnya kamu sadar, Fahri. Kenapa anakku, berubah sifat seperti itu? Karena dia, tidak membutuhkan dirimu lagi. Jangan cinta, mengakui bahwa kamu suaminya saja enggan". Pak Harto,berdecak kesal.


"Pah,jangan memaksakan kami berpisah. Awalnya saja, Rania sok-sokan tidak menyukai aku menikah lagi. Lama-kelamaan akan menerima Shania,adik madunya. Apa lagi,jika Shania hamil dan melahirkan. Otomatis Rania,juga akan merasa jadi seorang ibu. Karena dia, tidak sempurna untuk menjadi seorang ibu". Kata Fahri, begitu santainya.


Plakkk...


"Lancang sekali kamu, Fahri. Sama saja, kamu mengatai anakku mandul. Asal kamu ketahui , anakku tidak memiliki kesalahan apapun. Jangan-jangan kamu,yang memiliki kesalahan. Buktinya, istri barumu mana hamil? Nyatanya,tak kunjung hamil juga". Pak Harto, menampar wajah menantunya itu. Emosinya menggebu-gebu disaat ini,apa lagi selalu membantah perkataannya.


"Pah, kami baru menikah. Wajarlah Shania, belum hamil. Kami akan berusaha lagi, pokoknya aku tidak mau berpisah dengan Rania. Jangan harap papah, menginginkan aku untuk tandatangani". Tegas Fahri, tersenyum smrik.


"Baiklah,kalau tidak mau. Bersiaplah,kalian berdua akan keluar dari perusahaan itu." Pak Harto, menyunggingkan senyumnya.


"Loh,gak bisa gitu dong pah. Enak saja,main ancam-mengancam segala. Ini namanya pemaksaan kehendak papah,bukan kehendak kami". Bantah Fahri, langsung.


"Asal kamu tahu, Fahri. Rania, sudah mendatangani surat perceraian kalian. Dia sudah tak tahan lagi, mempertahankan rumah tangganya". Ucap pak Harto, dengan mata nyalangnya.


"Tidaaaakkkk....Itu, tidak mungkin". Fahri, menggeleng kepalanya.


"Mas,aku gak mau kita sampai di pecat. Tandatangan saja, surat perceraian itu. Yang penting kita,masih memiliki pekerjaan yang bagus". Ucap Shania, langsung.


"Ingat Fahri,3 hari surat perceraian itu harus di tandatangani. Jika tidak juga, detik itu juga. Kalian berdua akan di tendang, dari perusahaan itu". Tegas pak Harto, sebelum pergi. "Secara tidak hormat, sudah pasti nama baik kalian tercoreng. Mana mau perusahaan lain, menerima kalian lagi".


"Mas,kamu dengarkan gak sih? Kalau kita, sampai kehilangan pekerjaan ini. Bersiaplah mas,aku akan pergi dari hidupmu. Tidak sudi memiliki suami, pengangguran. pahamkan apa perkataanku? Ayolah mas,jangan jadi pria goblok sedunia ini". Shania, benar-benar geram kepada Fahri.

__ADS_1


"Diam, Shania! Asal kamu tahu, Rania sangat berarti bagi ku. Jangan ikut campur dalam urusan ku, sana masak yang enak". Bentak Fahri, langsung mengambil kunci mobilnya.


1 tujuan adalah menemui Rania, meminta maaf dan tidak membujuk dirinya. Agar tetap mempertahankan rumah tangga mereka, tanpa ada kata perpisahan.


************


Rania, tengah sibuk membersihkan piring kotor.


Sampai-sampai lupa mengunci pintu rumahnya, sudah pasti Fahri menyelonong masuk kedalam.


Mata Fahri, tertuju pada sofa. Dia terkejut bukan main, tangannya menyentuh pakaian pria tertinggal di sofa. "Tidak,aku tidak akan mempercayai ini. Aku yakin sekali, Rania memainkan trik murahan. Seakan-akan dia berselingkuh,lalu pura-pura meninggalkan pakaian pria ini. Bau parfum sangat menyengat, tetapi baunya familiar sekali". Gumam Fahri, menuju ke arah dapur.


"Rania!". Fahri, memanggil namanya.


Sontak Rania, langsung menoleh dan terkejut. Karena di tangan suaminya,baju milik Aldo. Astaga,bang Aldo benar-benar ceroboh.Batin Rania, tersenyum kecil.


"Oh,apa kamu terkejut melihat baju di tanganku ha? Hahahaha....Rania, Rania,trik murahan ini tidak mempan bagiku". Kekehnya Fahri, tersenyum sumringah.


"Aku mengetahui trik mu ini,kau meletakkan baju pria di atas sofa. seakan-akan kamu berselingkuh dengan pria lain,lalu aku percaya begitu! Setelahnya,aku mendatangani surat perceraian kita. Oh, sayang sekali istriku sayang. Aku tidak mempercayai trik murahan mu ini,". Fahri,mulai mendekati tubuh Rania.


"Terserah apa katamu,mas. Aku memang benar, berselingkuh. Kenapa marah,yah? Oh, baguslah mas. Hmmmm.... Lebih cepat lebih baik, kamu tandatangani surat perceraian kita. Aku sangat bosan menjalin rumah tangga ini,". Rania, menatap tajam ke suaminya. Baguslah, jika mas Fahri mempercayai ku.


"Tidaaaakkkk... Aku tidak mau mendatangani surat perceraian itu,kamu cuman milikku". Fahri, mencekram dagu Rania.


Fahri, menyudutkan Rania ke dinding dan menguncinya. Berusaha untuk menciumnya, tetapi Rania menolak dan memberontak.


"Aku sudah lama tidak mencicipi tubuh mu, Rania. Kamu harus melayani ku,ini kewajiban sebagai istri". Bentak Fahri,yang susah menaklukkan Rania.


Aldo, melihat pemandangan tak senonoh. Langsung menarik kerah baju, Fahri.

__ADS_1


Buughhh.... Buughhh....


Buughhh.... Buughhh...


Aldo, menampar perut dan wajah, Fahri. tersungkur di lantai, meringis kesakitan.Sudah lama yang di inginkan,Aldo. "kurang ajar sekali,akan aku adukan kepada pak Harto. Kamu sudah berani berbuat kasar kepada, Rania". Teriak Aldo, menggelegar.


Rania, langsung berhamburan ke pelukkan Aldo. Tidak memperdulikan tatapan Fahri,yang masih berstatus istrinya. "Rania, istri durhaka kamu ha! Berani sekali, berpelukan di hadapan ku". Darah segar mengalir,di sudut bibirnya.


"Ck,jangan pernah kamu menyentuh kulit Rania. Aku sudah di tugaskan untuk menjaganya,atas nama pak Harto". Ucap Aldo,penuh penekanan pada katanya.


"Aaaarrgghh....Rania,aku tidak akan pernah berpisah dengan mu". Teriak Fahri,yang kesal.


"Silahkan mas,aku akan melaporkan ke polisi. Apa kamu ingat, pernah menampar wajah ku. Aku sudah melakukan visum, berisap-siaplah untuk masuk kedalam penjara". Rania, tersenyum smrik.


"Lalu, berisap-siaplah untuk keluar dari perusahaan papahku". Sambungnya Aldo, cengengesan.


"Kurang ajar sekali,kalian! Rania, menjauhlah dari pria mesum itu". Fahri, tidak terima istrinya di peluk.


"Kenapa mas, kamu marah? Melihat aku di peluk pria lain,lalu bagaimana dengan mu? Bercinta dengan wanita lain, sebelum jadi istri". Sahut Rania, menyunggingkan senyumnya.


"Jangan bilang,jika pria itu wajar melakukan hal itu. Jika kamu berkata seperti itu, Rania juga berhak bercinta dengan pria lain". Sambungnya Aldo, memanasi perasaan Fahri.


"Kurang ajar..!". Fahri, bangkit dan ingin menampar Aldo. Secepatnya Aldo, menangkis lalu menendang Fahri.


Fahri, terjungkal ke belakang dan terbentur tembok. "Aaakkkhh.... Sakiiitttt.... ssshhhhttt... Rania, tolong mas". Dia meringis kesakitan, tetapi Rania bodo amat.


"Cuiihh....Aku malah menikmati kamu kesakitan, mas". Rania, tersenyum smrik. Duduk santai di kursi,bersama Aldo.


Aldo, mengupas buah apel dan memakannya bersama Rania.

__ADS_1


Fahri, semakin murka kepada mereka berdua. Ingin melawan, tetapi tidak ada kekuatan.


__ADS_2