
"Mana anakku,Rania?". Aldo, menjauhkan dirinya dari tubuh Rania. Menatap lekat wajah cantik mantan kekasihnya itu, selalu di rindukannya.
Rania, bernafas lega dan memalingkan wajahnya. Mereka berdua masih di dalam toilet,karena Aldo menghalangi jalan pintu keluar.
"Bukan urusanmu,dia anakku. Kau tidak berhak sama sekali, merebutnya dari ku". Tegas Rania, dengan tatapan tajam. "Aku tak melarang mu, untuk bertemu dengannya. Apapun alasannya,kamu ayah kandungnya. Satu hal yang ingin aku katakan,jangan sekarang menemuinya. Karena aku, belum siap menemukan dia dan ayahnya".
Mendengar ucapan Rania,ada senyuman terbit di bibirnya. "Laki-laki apa perempuan, anak kita?". Tanya Aldo, meraih tangan Rania dan langsung di tepis oleh sang empunya.
"Laki-laki, namanya Nick Rivano". Jawab Rania, tidak kuasa untuk memisahkan ayah dan anaknya. Walaupun dia berjuang sendirian, tanpa sesosok Aldo.
"Maafkan aku, Rania". Aldo, berlutut di hadapannya. "Terimakasih, sudah berjuang untuk menjaga buah hati kita. Aku pria brengsek,tega membiarkan mu sendiri dan merawatnya. Walaupun kamu, tidak mengijinkan aku untuk menemui anak kita. Aku ikhlas menerimanya, tidak masalah melihat dari kejauhan".
Rania, mengetahui jika Aldo tengah menangis. Tetapi,dia berusaha untuk mengabaikannya. Matanya sudah berkaca-kaca, mengigit bibir bawahnya. Jangan sampai air matanya,ikutan tumpah.
"Aku bukan seorang ibu,yang jahat kepada anaknya. Tega memisahkan dia, dengan ayah kandungnya. Jika aku melakukan hal itu, memang bisa. Tetapi,aku berpikir panjang lagi. Aku bukan ayahmu,suka kehendaknya sendiri untuk memisahkan orang". Ucap Rania, tersenyum smrik.
Degggg.....
Aldo, menyadari apa yang di ucapkan, Rania. Sampai saat ini, Rania masih membenci ayahnya. "Aku tahu, Rania! Jika kamu, sangat membenci ayahku. Sampai detik ini, ayahku tidak mengetahui kau hamil dan melahirkan anak darah daging ku. Kenapa aku, menyimpan rahasia ini? Karena aku, tidak ingin kalian berdua kenapa-kenapa. Sampai detik ini,aku mencintaimu Rania".
"Ck, jangan berbohong kepadaku. sampai kapan pun,aku tidak mempercayai ucapan mu lagi. Sudah cukup untuk kebohongan mu itu, aku tahu jika dirimu sudah menikah. Cinta?Makan tuh, cinta". Decak Rania, menyunggingkan senyumnya.
"Yah..Aku memang menikah, tetapi aku tidak bisa melupakan mu dan menghilang rasa cinta ku padamu". Kata Aldo, menghapus air matanya. Sampai detik ini,kamu tidak tahu apa-apa tentang ku. Inilah aku Rania,apa adanya dan tersiksa atas kehilangan mu.
"Menyingkir lah Aldo,aku ingin keluar. Apa kata orang lain, melihat kita berdua di toilet". Pinta Rania,masih sama tak memandang wajah mantan kekasihnya itu.
Aldo, memberikan celah untuk Rania keluar. Tiba-tiba saja, Aldo menarik tangannya dan memeluk erat tubuh mantan kekasihnya itu. Tak memperdulikan, Rania memberontak terhadapnya.
Aldo, mencekram dagu Rania dan ******* rakus bibirnya. Selama ini,yang di rindukannya setiap detik.
__ADS_1
Rania,syok berat dengan kelakuan Aldo. Begitu nekat melakukan hal ini,tanpa persetujuan darinya.
Dalam lubuk hati yang paling dalam, Rania memang merindukan kehangatan dari Aldo. Dia berusaha untuk sadarkan diri,jangan sampai terbawa suasana.
"Aaakkhh.... Ssshhhhttt...". Bibir Aldo, langsung berdarah karena di gigit Rania.
Plakkkkk..
Satu tamparan keras untuk Aldo,yang di berikan oleh Rania. "Lancang sekali kamu,kau kira aku siapa ha?". Bentak Rania, mendorong tubuh Aldo dan menyingkir dari depan pintu toilet.
Aldo,masih mematung melihat kepergian Rania. "AAAARGGHHH.....!". Aldo, mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Menampar dinding toilet beberapa kali, hatinya memanas mengingat Rania akan menemui pria tadi.
Saat keluar toilet wanita, Aldo bertemu dengan wanita tadi. "Mas, ngapain di toilet wanita?".
"Bukan urusanmu, Rossa". Tegas Aldo, langsung melongos melewatinya. Rossa, mengikuti dari belakang.
Benar sekali Rania, bergabung dengan Tama dan temannya. Aldo, mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali menggendong Rania dan membawanya pulang.
Sedangkan Rania,acuh terhadap mantan kekasihnya. Karena dia juga bisa, seperti itu
Malam semakin larut,pesta ulangtahun perusahaan. Yang di hadiri orang dewasa, semakin menjadi-jadi. Aldo, berusaha mendekati mantan kekasihnya itu.
Sesekali Aldo,meraih tangannya dan lagi-lagi di tepis Rania. Ketika Rania dan lainnya, berjoget-joget. Sudah pasti tidak ada ada yang memperhatikan gerak-gerik Aldo, apa lagi lampu mulai gelap dan alunan musik .
Tepat pukul 12 malam,Rania dan Tama pulang lebih dulu. Mereka berdua tidak mabuk, seperti yang lainnya. Rania dan Tama, enggan untuk meminum alkohol.
"Serukan kak,gak rugi aku bawa". Kekehnya Tama,di angguki Rania.
"Hmmmmm... Menyenangkan sekali, berasa muda lagi". Kekehnya Rania, tersenyum manis. Lagi-lagi Rania, terngiang-ngiang dengan ciuman di toilet tadi.
__ADS_1
Tama, menoleh ke arah Rania yang terdiam dan menatap lurus ke depan. "Kak Rania,kak!".
"Eeee....Apa,Tam?". Tanya Rania, membuyarkan lamunannya. Tama, tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
*************
Di tempat lainnya,pak Giro dan Aldo tengah duduk di sebuah ruangan.
"Ayah, tidak menduga bahwa bertemu dengan Rania". Pak Giro,membuka suaranya.
"Lalu,kenapa Yah? Jangan bilang untuk mengusik kehidupannya lagi, sudah cukup kita membuat dirinya kehilangan segalanya". Aldo, langsung melirik tajam ke arah ayahnya.
Pak Giro, tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. "Baguslah,jika Rania memiliki pasangan yang baru. Jadi kalian memiliki pasangan masing-masing,".
"Asalkan ayah tahu,aku masih mencintai Rania sama seperti dulu". Tegas Aldo, menyeringai tajam. "Aku menikahi Rossa, karena Mamah. Begitu juga dia,mau menikah dengan ku karena hutang budi. Ada sesuatu yang ayah, tidak tahu? Selama ini,aku menyimpan rahasia ini. Tetapi, sampai kapanpun aku tidak akan memberitahunya. Mulai detik ini,aku berjuang untuk mengambil hati Rania".
Pak Giro, bungkam tak berbicara apapun lagi. Membiarkan anaknya pergi,lalu menghilang dari pandangannya.
Sudah 3 tahun Aldo dan Rossa menjalin hubungan suami-istri. Tetapi, tidak layak seperti pernikahan umumnya.
Sampai saat ini, Aldo tidak pernah menyentuh Rossa. Karena Aldo,jijik dengannya ada sebuah rahasia tersembunyi.
Aldo,masuk kedalam kamar dan matanya tertuju kepada Rossa. Rupanya sedang menelpon, seseorang dan terdengar cekikikan tertawa.
"Eeee... Apakah wanita tadi,mantan kekasihmu? So,dia sangat cantik". Ucap Rossa, bibirnya di poles lipstik merah menyala.
"Jangan menyentuhnya,kau mengerti". Ucap Aldo, dengan tatapan tajam.
"Ck,mana mungkin aku menyentuhnya. Karena dia,bukan tipeku. Semoga beruntung, memiliki dia kembali". Kata Rossa, tersenyum sumringah. "Besok ada pemotretan di villa Kitty, kemungkinan dua hari. Tolong beritahu kepada mamah mu,yang cerewet itu".
__ADS_1
Rossa, terbilang tinggi akur dengan ibu mertuanya. awalnya baik-baik saja, lama-kelamaan menjadi berantakan. Karena Rossa, tak kunjung hamil-hamil. Bukankah pernikahan mereka,sudah terbilang lama.
Lagi-lagi Rossa,menyahut untuk tidak hamil dan bisa merusak tubuhnya yang seksi. Takut badannya melar,lalu kehilangan pekerjaan yang diimpikannya itu.