
"Makasih yah,bang. Sudah membelikan martabak daging untuk ku,". Ucap Rania, menikmati martabak yang di bawa sang kekasihnya.
"Sama-sama, sayangku. Makan yang banyak,biar dede nya sehat terus". Aldo, mencium perut Rania yang masih rata.
Kata Aldo, calingukan mencari sesosok yang di carinya. "Papahmu,mana? Kok gak ada,". Tanyanya, sambil menyuapi Rania dengan martabak.
"Eee...Gak tau,bang. Papah, memang seringkali gak ada di rumah. Kemungkinan menjalin bisnis, dengan rekan kerjanya". Jawab Rania, dengan entengnya.
"Emangnya,kamu tidak mencurigai papahmu? Maksudnya, pekerjaan sampingannya". Tanya Aldo, tersenyum dan mengelus pipi Rania.
"Gak bang,yang penting papah sehat dan selamat pulang ke rumah. Emangnya, kenapa bang? Bukankah orangtuanya Abang,menjalin kerjasama dengan papahku". Kata Rania,sontak membuat Aldo tercengang.
"Eee.... Iya, sayang. Rania,aku sangat mencintaimu". Aldo, mencium sekilas bibir kekasihnya.
"Aku tau,bang. Seperti aku mencintaimu,". Kata Rania, memandang wajah tampan kekasihnya.
"Rania,satu pintaku padamu". Aldo, menggenggam jemari Rania dan meletakkan di perutnya. "Berjanjilah padaku,sayang. Tolong,jaga anak kita. Apapun yang terjadi,".
Rania, awalnya tersenyum dan kini senyumnya memudar. "Bang, ngomong apa sih? Sudah pasti aku selalu menjaga anak kita,".
"Sayang,kita bisanya cuma berencana saja. Aku ingin tanya kepadamu,jawab dengan jujur". Aldo, mencolek hidung mancung Rania. "Seandainya,aku pergi dan tidak ada kabar? Apa yang kamu lakukan,hmmm".
"Bang,kenapa membicarakan tentang itu? Aku gak mau,loh. Ngapain juga,kamu pergi tanpa kabar. Bukankah kamu, menginginkan untuk membina rumah tangga bersama". Rania, semakin bete di buatnya.
"Plissss...Jawab dulu, sayang". Pinta Aldo,menarik lengan Rania dan jatuh ke pelukkannya.
"Oke,aku akan mencari dirimu kemana pun. Termasuk papahku, membantu ku". Jawab Rania, tersenyum.
"Benarkah, bagaimana jika papahmu memintaku untuk menjauhi mu? Apa yang kau lakukan,hmmm...". Tanya Aldo,lagi.
Rania, tidak menaruh curiga dengan Aldo. Dia menganggap bahwa
ini,sebagai lelucon semata-mata.
"Tidak mungkin,karena papahku. Menyukai mu dulu dan sekarang,sayang". Jawab Rania, langsung di angguki Aldo.
__ADS_1
"Kau benar sekali,aku beruntung memiliki mu dan papahmu menyukai ku. Itu dulu, tidak sekarang sayang". Kata Aldo, sontak membuat Rania kebingungan.
"Maksudnya apa,bang? Pliss... Jangan menutup apapun kepadaku,dari tadi omongan mu melantur kemana-mana. Aku tidak menyukainya, tidak bisakah kamu memikirkan perasaan ku dan anak kita". Rania, menatap intens ke arah Aldo.
"Tidak ada,aku cuman bercanda saja". Jawab Aldo, mengulum senyumnya.
"Tidak,aku percaya kepadamu. Maka dari itu,aku tahu dirimu dalam keadaan tidak baik-baik saja". Bantah Rania, menatap manik-manik mata Aldo.
"Tidak ada,aku cuman banyak pikiran masalah mengajar di kampus. Cuman itu saja,". Aldo, langsung menarik lengan Rania dan membawanya ke pelukan.
"Bang, jangan tinggalkan aku. Ingat anakmu, berharap perasaan mu tidak berubah". Kata Rania, meneteskan air matanya. Kenapa aku merasakan sesuatu yang tidak beres? Perasaan aneh apa ini, berharap tidak terjadi apa-apa.
"Tidak akan,sayang". Jawab Aldo, segera menghapus air matanya. Berharap sang kekasih, tidak melihatnya.
"Pulanglah bang, sepertinya kamu ada masalah yang harus di selesaikan. Raut wajah mu, sangat jelas memikirkan sesuatu". Kata Yasmin, melerai pelukannya.
"Rania,kamu bicara apa? Aku tidak memikirkan apapun,". Bantah Aldo,menarik lengan Rania dan tepis sang empunya.
"Pergilah bang, ponselmu terus menyala dan di abaikan. Itu telpon dari ayahmu,kenapa tidak di angkat? Pergilah bang,aku tidak mau anak dan ayah dalam masalah". Rania, lagi-lagi menepis tangan kekasihnya.
"Kamu mengusir ku, sayang. Palingan cuman hal biasa, ayahku menelpon". Aldo, memeluk kekasihnya dari belakang.
Aldo, langsung pergi meninggalkan kediaman pak Harto. Matanya terpejam rapat dan menghembuskan nafas beratnya.
Sedangkan Rania,menangis kesegukan di kamar. "Kenapa berbohong kepadaku,bang. Jika ayahmu, tidak menyukai diriku yang berstatus janda ini. pantesan sekali,ayahmu nampak biasa saja. Ketika di pertemuan itu,lebih asyik berbicara dengan papah".
Rania, samar-samar mendengar pembicaraan di luar. Sepertinya sang ayah, kembali pulang. Berlahan-lahan Rania, keluar dari kamar dan melihat dari atas.
"Tuan,apa kita harus melakukannya". Ucap Parno, asisten pribadi ayahnya. Yang selalu di percaya oleh pak Harto, melebihi apapun.
"Pulanglah,jangan membahas tentang ini di rumah. Takutnya Rania, mendengar pembicaraan kita. Besok kita akan menyelesaikan semuanya,". Tegas pak Harto, dengan mata nyalang.
"Kenapa,papah berbicara seperti itu? Emangnya,papah memiliki pekerjaan sampingan apa? kok aku,merasa sesuatu yang janggal". Gumam Rania, langsung bersembunyi karena ayahnya melihat ke atas.
Mata Rania, membulat sempurna ketika ayahnya memberikan pistol kepada Parno.
__ADS_1
Lagi-lagi Rania, menepis kecurigaannya. Wajar saja papahnya, membawa pistol. Demi keselamatan,dan berjaga-jaga. Menangani bisnis, tidak semudah yang dibayangkan.
****************
Fahri dan shania, benar-benar di pecat tak terhormat dari perusahaan.
Mereka berdua di seret paksa keluar dari perusahaan, sungguh membuat pak Randy murka karena ulah mereka.
Fahri dan Shania,di pecat secara tak hormat di perusahaan.
Shania,di pecat tidak masalah baginya. Sangat gampang mencari uang, sedangkan Fahri luntang-lantung kemana-mana dan pergi ke club malam.
Mata Fahri, tertuju kepada Shania yang mabuk berat.
"Mas Fahri,aku kangen". Lirih Shania, dengan langkah gontai.
Fahri,membawa mantan istrinya ke sebuah gudang belakang. Langsung mengambil ponsel dan mengirim balik uang yang di ambilnya.
Mata Fahri, berbinar seketika melihat nominal uang mantan istrinya. 1M lebih, langsung ludes semua. "Makanya jangan sok-sokan dulu, melawan ku Shania. Besok paginya,kamu akan kehilangan semua hartamu".
"Mas,panas". Lirih Shania, sudah melepaskan dress nya.
Fahri,yang sudah di selimuti gairah. Langsung mengambil kesempatan untuk menghu-jam tu-buh mantan istrinya.
Terdengar suara desa-han,di kegelapan. Cahaya lampu,yang tidak terang. " Hahahaha ... Rasakan sodokan aku, Shania. Setelah selesai,aku akan membawa pria lain untuk menikmati tubuh ini".
Fahri, berniat untuk menjual tubuh Shania. kepada pria yang ada di club ini, lumayan untuk tambahan uangnya.
Setelah puas menikmati keindahan tubuh mantan istrinya, bersiap-siap untuk melancarkan aksinya.
Tidak berapa lama kemudian, Fahri mengumpulkan 10 pria hidung belang.
"Oke,300 ribu sepuasnya. Lihatlah badan mulus, tidak lecet-lecet". Ucapnya, langsung di setujui oleh mereka.
Satu persatu satu,pria itu membayar kepada Fahri. Mereka semua, melepaskan pakaian dan mulai meraba-raba tubuh Shania.
__ADS_1
Sedangkan Fahri, tersenyum puas dan mengibas-ngibas uang di tangannya. "Hahahahha... Rezeki nomplok ini, rasakannya dendamku Shania". Fahri, menyunggingkan senyumnya dan meninggalkan gudang tersebut.
Samar-samar mendengar suara desa-han menggema, sungguh luar biasa. Bagaimanakah, keadaan Shania? Ketika dirinya di perkaos, ramai-ramai.