GURUKU ISTRIKU

GURUKU ISTRIKU
26


__ADS_3

**


sebulan berlalu.


Arja sudah mulai masuk kuliah didekat rumahnya yang baru.


Dan Tiara juga sudah mengajar seperti biasanya, hanya dia setiap hari akan diantar jemput oleh suaminya.


Arja hanya membantu papanya saat senggang dan dia juga sudah menjadi pemegang saham di perusahan besar. jadi dia nggak perlu khawatir kalau nggak bisa menafkahi Tiara walaupun kuliah, dan dapat meluangkan banyak waktu untuknya.


" Ja. kamu tahu nggak.? Violin Lalita yang sekelas dengan kita dulu yang suka ngejar kamu walaupun kamu tolak. kabarnya dia akan masuk jurusan yang sama dengan kita.!" kata Bayu yang tengah duduk disebelah kursi Arja.


" terus Kenapa.? jangan-jangan kamu mau selingkuh ya..? aku aduin Amel Lo.!" ujar Arja mengancam Bayu yang sudah bertunangan dengan Amel 2 Minggu lalu.


" kamu ini gimana sih.! yang seharusnya dikhawatirkan itu kamu.! jika Violin itu ngedeketin kamu lagi bagaimana.?" kata Arja ancam balik Arja.


" ya... aku jujur saja kalau aku sudah menikah.!!" balas Arja dengan wajah polosnya.


" ahhh terserah kamu saja.! tapi aku peringatkan, wanita bisa gila bila tidak dapat apa yang mereka inginkan.!" kata Bayu mengingat film sinetron di televisi.


Arja hanya diam karena malas meladeni Bayu yang ngomongnya mulai ngelantur.


Ring.... Ring...


" baiklah anak-anak kita kedatangan teman yang baru daftar karena sebelumnya dia pergi keluar negeri. Kamu perkenalkan diri.!" kata dosen yang mengajar.


" terima kasih pak. perkenalkan nama saya Violin Lalita saya berumur 18 tahun. Saya baru masuk kelas karena ada urusan diluar negeri. mohon teman-teman bisa membantu saya.!" kata Violin ramah.


" baiklah Violin. kamu duduk dimana ada bangku yang kosong.!" perintah dosen tersebut.


" em." angguk Vio berjalan ke bangku kosong didepan Arja.


" hai Ja.. udah lama nggak ketemu.!" sapa Vio begitu duduk di bangkunya.


" oh. iya.!" singkat Arja malas meladeninya.


Violin kesal karena sikap Arja yang gak berubah.


Selesai kelas Arja ingin langsung pulang.


" eh Ja.. boleh pulang bareng nggak. tadi aku diantar soalnya.!" pinta Violin.


" oh... tapi bangku ku cuma dua, nggak muat kalau harus ngantar kamu.!" balas Arja menolak.


" mendingan kamu telpon keluargamu.!" imbuh Arja pergi.


" ish.." kesal Violin sambil menghentakkan kakinya ke tanah.


Arja menelpon istrinya terlebih dahulu.


" halo Ra. kamu udah pulang ? aku jemput ya.?"

__ADS_1


" maaf anda siapa ya..?" tanya seorang pria.


" eh... ini dengan siapa ya.? kok hp istri saya bisa ada di anda.?" tanya Arja panik.


" oh.. Anda suaminya.! itu istri bapak dipuskesmas. tadi pingsan saat ngajar.!" jawab pria asing itu.


" APA.!! baiklah saya akan segera ke sana. mohon bapak temanin dia dulu ya..!" kata Arja mulai menghidupkan mobilnya dan melaju ke Puskesmas denkat sekolah.


Arja memarkirkan mobilnya didepan lobi Puskesmas dan berlari ke dalam Puskesmas.


" maaf pak.! mohon parkirin mobil saya!" pinta Arja menyerahkan kunci mobilnya.


" eh... baik tuan muda.!" balas satpam itu, karena dia tahu kalau Arja yang membangun Puskesmas itu.


" maaf istri saya di ruang mana ya..? namanya Tiara.!" tanya arja pada resepsionis.


" diruang 5 tuan muda.!" jawab resepsionis itu


" terima kasih!" ucap Arja langsung berlari ke ruang 5.


"Ra kamu kenapa.!" kata Arja menghampiri Tiara yang sudah sadar yang duduk di bangsal sambil memegangi secarik kertas dan meneteskan air mata.


" kamu kenapa nangis..?" khawatir Arja, melihat kertas yang di pegang Tiara.


" kamu..kamu.. hamil Ra..!!?" tanya Arja girang.


" huhu.. iya Ja.. aku hamil. sudah 3 Minggu.!" balas Tiara memeluk Arja.


" Terima kasih Tuhan.." syukur Arja.


" jadi kamu suaminya Bu Tiara. padahal dulunya kan, kamu juga muridnya.?" bingung kepala sekolah.


" iya pak. satu bulan lalu saya menikah dengan bu tiara karena dijodohkan.!" jujur Arja sambil memeluk istrinya.


" oh.. jadi Arja itu kamu ya... maaf ya. bapak nggak bisa menghadiri pernikahan kamu karena waktu itu bapak harus keluar kota.!" kata pak kepala Sekolah.


" nggak papa pak. yang penting doanya saja.!" ucap Arja.


" em.. baiklah. karena kamu sudah disini. bapak pamit pulang dulu. melihat kalian berdua begitu saya jadi rindu istri saya.!" sindir pak kepala sekolah.


" eh.. baik pak.. sekali lagi terima kasih.!" ucap Arja bersalaman dengan kepala sekolahnya dulu.


" ya sudah. sama-sama!" ucap pak kepala sekolah pergi keluar dari ruangan.


" hei..kamu mau nangis sampai kapan.? bajuku penuh dengan liurmu tuh.!" goda Arja.


" apaan sih. siapa yang nangis.!" elak Tiara mengusap air matanya.


" ya sudah. aku telpon Mama dulu ya.!" kata Arja mengeluarkan telponya.


" baiklah. telpon bunda juga.!" perintah Tiara.

__ADS_1


" iya.!" jawab Arja.


" halo ma. mama bisa ke Puskesmas nggak. Tiara hamil ma.!" ucap Arja dengan nada yang bahagia.


" APA!! yang benar.? syukurlah.. mama punya cucu lagi. ya sudah mama bersiap kesana.!" kata mamanya segera menutup telpon.


" halo ma.ma. haiz.. memangnya tahu ya dimana Puskesmasnya.?" heran Arja dengan mamanya.


Arja juga segera menelpon bunda lati.


" halo bun. apa kabar.?" tanya Arja sopan.


" kabar baik nak Arja. tumben telpon jam segini. ada apa.?" tanya bunda lati.


" ini bun. Tiara tadi pingsan saat ngajar. setelah dicek ke Puskesmas, hasilnya hamil.!" kata Arja menjelaskan.


" oh.. hamil. Untung ada kamu yang menjaganya.!" kata bunda lati yang belum sadar.


" APA!!! HAMIL.!! Kamu serius ja..!" teriak bundanya lati yang baru sadar.


" ah iya.. bun Arja serius.!" kata Arja segera menjawab karena ia kaget dengar teriakan bunda lati.


" wah... syukurlah. akhirnya bunda punya cucu. nanti bunda usahain kesana. kamu tolong jaga Tiara ya... anak itu nggak bisa jaga dirinya sendiri soalnya.!" pinta bunda lati.


" baik. bun. bunda tenang saja. Arja akan cuti seminggu buat ngejaga Tiara." ucap Arja.


" baiklah. kalau gitu bunda ngabari pakli dulu.!" pamit bunda lati segera menutup telpon.


" baik..bun..!" ucap Arja.


" aku sudah ngabarin Mama sama bunda. Mama bentar lagi kesini.!" ujar Arja memberi tahu.


" baiklah. um.. Ja bisa.. belikan nasi kucing nggak.?" tanya Tiara ragu.


" hah... baiklah. tapi nunggu Mama sampai disini ya.. aku nggak tenang kalau ninggalin kamu sendirian.!" balas Arja.


" tapi... aku pengen sekarang... di luar ada yang jual kok sepertinya.!" rengek Tiara sambil memeluk tangan Arja.


" um... ya sudah... tapi kamu jangan kemana-mana dulu.. ya. tunggu aku.!" kata Arja berdiri.


" iya.iya." nurut Tiara.


sebelum Arja meninggalkan Tiara dia menyuruh sapah satu perawat untuk menjaganya karena dia masih belum tenang.


Arja mencari penjual nasi kucing yang dimaksud Tiara. diapun bertanya pada pak satpam.


" maaf pak. pujual nasi kucing dimana ya..?" tanya Arja pada satpam tersebut.


" oh.. itu. ada disana tuan muda.!" jawab satpam itu menujuk ke penjual nasi kucing.


" oh.. terima kasih pak.!" ucap Arja bergegas ke penjual.

__ADS_1


" mbak. nasi kucingnya tiga bungkus ya..!" ujar Arja.


" oh. baik mas.!" balas penjual tersebut segera membuat pesanan Arja karena sepi.


__ADS_2